
Matahari sudah turun dan langit mulai
menggelap tanpa adanya bintang sama sekali. Mendung, ya sama dengan perasaan
Icha saat ini.
Gadis itu sejak tadi duduk bersimpuh di
dalam masjid, ditemani seorang wanita berumur sekitar 30an dengan kerudung
syar’inya.
“Jadi Icha mau ngobrol
apa nih, sampe telepon aku”
“Uhm, maaf Icha ganggu waktu istirahatnya
ya ka”
“Gak apa-apa kok, malah aku mau minta maaf
sama Icha, soalnya telat datengnya”
Icha tersenyum manis, gadis itu kini
bersama seseorang yang dia anggap sebagai mentornya, ka Diah namanya. Gadis ini
sudah kenal cukup lama dengan wanita itu, mereka bertemu 3 tahun lalu saat Icha
ikut pengajian di masjid dekat rumahnya.
“Jadi gimana nih, ada yang di galauin
ya???” goda Diah kepada Icha, yang dibalas gadis itu dengan anggukan.
“Jujur Icha bingung ka, Icha hari ini
bener-bener lagi emosi banget”
“Kok bisa?”
“Uhm jadi…”
Icha menceritakan seluruh kejadian yang
terjadi padanya dan Reiki, saat siang hari tadi, bagaimana perasaannya saat
mengetahui bahwa Reiki merencanakan hal yang buruk, dan apa saja yang ia
katakan pada pria itu.
“Hmmm aku boleh tanya gak sama kamu?”
“Iya ka…”
“Hubungan kamu sama yang namanya Reiki ini
gimana?”
Gadis itu terdiam, dia memang tidak punya
hubungan khusus dengan Reiki, dibilang sahabat juga bukan, disebut kenalan juga
mereka terlalu dekat untuk dikategorikan seperti itu.
“Di bilang teman bukan, di bilang sahabat
juga gak, tapi yang pasti Icha ngerasa peduli sekali sama orang ini. Icha juga
ga paham sama perasaan Icha sendiri ka…” seru Icha sambil menunduk.
Diah tersenyum, sepertinya Icha memang
gadis yang sangat polos, dia bahkan tidak sadar kalau sebenarnya dia menganggap
Reiki itu spesial.
“Icha…Icha…hahaha, sekarang aku mau tanya
lagi sama kamu, kalau kamu ketemu sama cowo yang namanya Reiki ini, perasaan
kamu gimana, maksud aku sebelum kamu tau dia merencanakan sesuatu yang ga baik”
Pertanyaan sulit, Icha hanya bisa diam,
dia tertegun atas pertanyaan mentornya itu, baginya setiap bertemu dengan Reiki
__ADS_1
hatinya berdebar dengan sangat kencang, dia sudah seperti itu sejak kelas 1
SMP.
Jika diingat-ingat, Icha merasakan
perasaan aneh kepada pria itu, sejak dia Reiki, menolongnya saat hampir
tertabrak karena ingin menyelamatkan anak kucing. Tidak sampai disitu, Reiki
bahkan mengadopsi anak-anak kucing yang Icha tolong saat itu. Secara garis
besar, gadis ini mengagumi sosok Reiki yang tidak ragu untuk menolong orang
lain.
“Kamu ga bisa jawab pertanyaan aku ya?”
Icha menggeleng, dia memang tidak punya
kalimat balasan untuk mendeskripsikan perasaannya.
“Tadi kamu bilang, cowo itu tunangannya
temen kamu kan ya?”
“Iya ka”
“Kalo liat mereka berduaan dada kamu nyeri
gak?”
Mata Icha membelalak, bagaimana bisa Diah
tau kalo sering sekali dadanya tiba-tiba sakit saat melihat Claudia bersama
dengan Reiki.
“Kok…kok kakak bisa tau?”
“Kamu tuh ya, bener-bener deh Cha.
Kebangetan polosnya, tapi bagus sih jadi kamu ga terkontaminasi sama hal-hal
yang diharamkan agama hahaha…mau aku kasih tau ga, kamu tuh kenapa?”
kali.
“Kamu yang marah saat lihat dia berbuat
salah, kamu yang tidak terima karena dia melakukan hal yang tidak sesuai dengan
ekspektasi kamu, dan kondisi kamu yang merasa harus ikut campur supaya orang
itu tidak melakukan kesalahan, semua itu karena kamu sayang dan menganggap
orang itu penting untuk kamu. Gampangnya Cinta, kamu itu jatuh cinta sama cowo
itu, dan perasaan sakit yang kamu rasain setiap kali kamu liat sahabat kamu
berduaan sama lelaki itu namanya cemburu”
Icha menangis, dia merasa melakukan
kesalahan. Jatuh cinta?, apa yang harus dia lakukan, ini tidak benar, seumur
hidup Icha hanya ingin jatuh cinta pada calon suaminya kelak. Bagaimana mungkin
dia jatuh cinta pada tunangan sahabatnya sendiri, Icha tidak ingin melakukan
dosa besar.
“Cha kok kamu nangis? Kenapa???” tanya
Diah sambil memberikan tissue dari tasnya.
“Icha….Icha udah berdosa kak….Ga
seharusnya Icha punya perasaan kotor kaya gini…”
“Ichaaaaaa, jatuh cinta itu gak dosa, kamu
ga perlu nangis dan ngerasa udah melakukan kesalahan tak termaafkan”
“Tapi ka…”
“Icha kamu dengerin aku, perasaan manusia
__ADS_1
itu datangnya dari Tuhan, pertemuan, perpisahan itu juga sudah suratan takdir
dari Tuhan. Kamu ga bisa memilih dengan siapa kamu jatuh cinta, tapi kamu bisa
memilih bagaimana cara mencintai orang yang kamu sayangi, selama itu tidak
melanggar apa yang sudah ada di agama kita, Icha ga dosa sayang…”
“Ka Reiki itu tunangan sahabat Icha
ka….Icha sayang banget sama Claudia, Icha udah bersalah karena sudah suka
dengan orang yang seharusnya jadi jodoh Claudia”
“Jodoh dan maut itu rahasia Tuhan, Icha ga
boleh memutuskan semudah itu. Minta petunjuk sama Tuhan, sholat Istikharah.
Kalau Icha juga bingung harus memutuskan untuk kasih tau atau ga ke sahabat
Icha itu, nanti pasti ada jalannya. Yang pasti Cha, kamu jangan bertindak
gegabah, jangan pesimis juga. Karena apa yang kamu dengar ini menyangkut
kehidupan orang lain. Kewajiban kamu sebenarnya sudah selesai, mengingatkan
orang tersebut, tapi kalau kamu mau ikut campur lebih dalam, kamu harus tetap pada
koridor, ingat batasan kamu sebagai orang luar, Icha paham kan maksud ka Diah?”
“Iya kak, Icha paham…”
Kedua perempua itu pun akhirnya
menghentikan obrolannya lalu melaksanakan sholat bersama, sebelum akhirnya
berpisah. Saat Icha melangkah keluar dari masjid langkahnya gontai, walaupun ia
merasa lebih lega setelah mendengar apa yang dikatakan oleh mentornya itu,
namun tetap saja beban ini terlalu berat untuk dirinya.
Ujian dari Tuhan, itulah yang Icha
tanamkan dalam kepalanya. Hidup gadis ini memang tak pernah ada masalah,
keluarganya harmonis, berkecukupan, teman-temannya baik dan sayang kepadanya,
dilingkungan sekolah juga orang-orang tak pernah cari masalah dengannya,
apalagi karena sikapnya yang santun kakak kelas pun sungkan padanya.
Tapi ini mungkin tahap pendewasaan, ini
latihan yang di berikan oleh Tuhan kepadanya agar menjadi pribadi yang lebih
baik, atau mungkin lebih dari itu Tuhan ingin mengetes, seberapa dekatkah Icha
kepada penciptanya.
“Icha……”
Gadis itu langsung mendongakkan kepalanya
yang sedari tadi tertunduk, matanya membelalak saat melihat seseorang, yang
tidak pernah ia bayangkan akan hadir di depannya.
“Kamu…” seru Icha terkejut.
Kedua orang itu hanya saling bertatapan,
sebelum akhirnya Icha mengalihkan pandangannya.
Pria yang ada didepannya tersenyum, ia
karena pria itu ikut mencari Icha sejak siang tadi. Rasa panik dan khawatirnya
hilang di telan bumi, saat melihat gadis itu baik-baik saja.
“Akhirnya…..akhirnya ketemu juga, kamu ga
boleh pergi kemana-mana lagi sekarang Cha…” ucap pria tersebut sambil menghapus
peluh di dahinya.
Icha membatu, dia tak bisa melangkah dari
__ADS_1
tempatnya. Gadis ini terdiam, dia bingung apa yang harus dia lakukan.