ME VS MY BROTHER

ME VS MY BROTHER
Episode 25


__ADS_3

Matahari sudah turun dan langit mulai


menggelap tanpa adanya bintang sama sekali. Mendung, ya sama dengan perasaan


Icha saat ini.


Gadis itu sejak tadi duduk bersimpuh di


dalam masjid, ditemani seorang wanita berumur sekitar 30an dengan kerudung


syar’inya.


“Jadi Icha mau ngobrol


apa nih, sampe telepon aku”


“Uhm, maaf Icha ganggu waktu istirahatnya


ya ka”


“Gak apa-apa kok, malah aku mau minta maaf


sama Icha, soalnya telat datengnya”


Icha tersenyum manis, gadis itu kini


bersama seseorang yang dia anggap sebagai mentornya, ka Diah namanya. Gadis ini


sudah kenal cukup lama dengan wanita itu, mereka bertemu 3 tahun lalu saat Icha


ikut pengajian di masjid dekat rumahnya.


“Jadi gimana nih, ada yang di galauin


ya???” goda Diah kepada Icha, yang dibalas gadis itu dengan anggukan.


“Jujur Icha bingung ka, Icha hari ini


bener-bener lagi emosi banget”


“Kok bisa?”


“Uhm jadi…”


Icha menceritakan seluruh kejadian yang


terjadi padanya dan Reiki, saat siang hari tadi, bagaimana perasaannya saat


mengetahui bahwa Reiki merencanakan hal yang buruk, dan apa saja yang ia


katakan pada pria itu.


“Hmmm aku boleh tanya gak sama kamu?”


“Iya ka…”


“Hubungan kamu sama yang namanya Reiki ini


gimana?”


Gadis itu terdiam, dia memang tidak punya


hubungan khusus dengan Reiki, dibilang sahabat juga bukan, disebut kenalan juga


mereka terlalu dekat untuk dikategorikan seperti itu.


“Di bilang teman bukan, di bilang sahabat


juga gak, tapi yang pasti Icha ngerasa peduli sekali sama orang ini. Icha juga


ga paham sama perasaan Icha sendiri ka…” seru Icha sambil menunduk.


Diah tersenyum, sepertinya Icha memang


gadis yang sangat polos, dia bahkan tidak sadar kalau sebenarnya dia menganggap


Reiki itu spesial.


“Icha…Icha…hahaha, sekarang aku mau tanya


lagi sama kamu, kalau kamu ketemu sama cowo yang namanya Reiki ini, perasaan


kamu gimana, maksud aku sebelum kamu tau dia merencanakan sesuatu yang ga baik”


Pertanyaan sulit, Icha hanya bisa diam,


dia tertegun atas pertanyaan mentornya itu, baginya setiap bertemu dengan Reiki

__ADS_1


hatinya berdebar dengan sangat kencang, dia sudah seperti itu sejak kelas 1


SMP.


Jika diingat-ingat, Icha merasakan


perasaan aneh kepada pria itu, sejak dia Reiki, menolongnya saat hampir


tertabrak karena ingin menyelamatkan anak kucing. Tidak sampai disitu, Reiki


bahkan mengadopsi anak-anak kucing yang Icha tolong saat itu. Secara garis


besar, gadis ini mengagumi sosok Reiki yang tidak ragu untuk menolong orang


lain.


“Kamu ga bisa jawab pertanyaan aku ya?”


Icha menggeleng, dia memang tidak punya


kalimat balasan untuk mendeskripsikan perasaannya.


“Tadi kamu bilang, cowo itu tunangannya


temen kamu kan ya?”


“Iya ka”


“Kalo liat mereka berduaan dada kamu nyeri


gak?”


Mata Icha membelalak, bagaimana bisa Diah


tau kalo sering sekali dadanya tiba-tiba sakit saat melihat Claudia bersama


dengan Reiki.


“Kok…kok kakak bisa tau?”


“Kamu tuh ya, bener-bener deh Cha.


Kebangetan polosnya, tapi bagus sih jadi kamu ga terkontaminasi sama hal-hal


yang diharamkan agama hahaha…mau aku kasih tau ga, kamu tuh kenapa?”


kali.


“Kamu yang marah saat lihat dia berbuat


salah, kamu yang tidak terima karena dia melakukan hal yang tidak sesuai dengan


ekspektasi kamu, dan kondisi kamu yang merasa harus ikut campur supaya orang


itu tidak melakukan kesalahan, semua itu karena kamu sayang dan menganggap


orang itu penting untuk kamu. Gampangnya Cinta, kamu itu jatuh cinta sama cowo


itu, dan perasaan sakit yang kamu rasain setiap kali kamu liat sahabat kamu


berduaan sama lelaki itu namanya cemburu”


Icha menangis, dia merasa melakukan


kesalahan. Jatuh cinta?, apa yang harus dia lakukan, ini tidak benar, seumur


hidup Icha hanya ingin jatuh cinta pada calon suaminya kelak. Bagaimana mungkin


dia jatuh cinta pada tunangan sahabatnya sendiri, Icha tidak ingin melakukan


dosa besar.


“Cha kok kamu nangis? Kenapa???” tanya


Diah sambil memberikan tissue dari tasnya.


“Icha….Icha udah berdosa kak….Ga


seharusnya Icha punya perasaan kotor kaya gini…”


“Ichaaaaaa, jatuh cinta itu gak dosa, kamu


ga perlu nangis dan ngerasa udah melakukan kesalahan tak termaafkan”


“Tapi ka…”


“Icha kamu dengerin aku, perasaan manusia

__ADS_1


itu datangnya dari Tuhan, pertemuan, perpisahan itu juga sudah suratan takdir


dari Tuhan. Kamu ga bisa memilih dengan siapa kamu jatuh cinta, tapi kamu bisa


memilih bagaimana cara mencintai orang yang kamu sayangi, selama itu tidak


melanggar apa yang sudah ada di agama kita, Icha ga dosa sayang…”


“Ka Reiki itu tunangan sahabat Icha


ka….Icha sayang banget sama Claudia, Icha udah bersalah karena sudah suka


dengan orang yang seharusnya jadi jodoh Claudia”


“Jodoh dan maut itu rahasia Tuhan, Icha ga


boleh memutuskan semudah itu. Minta petunjuk sama Tuhan, sholat Istikharah.


Kalau Icha juga bingung harus memutuskan untuk kasih tau atau ga ke sahabat


Icha itu, nanti pasti ada jalannya. Yang pasti Cha, kamu jangan bertindak


gegabah, jangan pesimis juga. Karena apa yang kamu dengar ini menyangkut


kehidupan orang lain. Kewajiban kamu sebenarnya sudah selesai, mengingatkan


orang tersebut, tapi kalau kamu mau ikut campur lebih dalam, kamu harus tetap pada


koridor, ingat batasan kamu sebagai orang luar, Icha paham kan maksud ka Diah?”


“Iya kak, Icha paham…”


Kedua perempua itu pun akhirnya


menghentikan obrolannya lalu melaksanakan sholat bersama, sebelum akhirnya


berpisah. Saat Icha melangkah keluar dari masjid langkahnya gontai, walaupun ia


merasa lebih lega setelah mendengar apa yang dikatakan oleh mentornya itu,


namun tetap saja beban ini terlalu berat untuk dirinya.


Ujian dari Tuhan, itulah yang Icha


tanamkan dalam kepalanya. Hidup gadis ini memang tak pernah ada masalah,


keluarganya harmonis, berkecukupan, teman-temannya baik dan sayang kepadanya,


dilingkungan sekolah juga orang-orang tak pernah cari masalah dengannya,


apalagi karena sikapnya yang santun kakak kelas pun sungkan padanya.


Tapi ini mungkin tahap pendewasaan, ini


latihan yang di berikan oleh Tuhan kepadanya agar menjadi pribadi yang lebih


baik, atau mungkin lebih dari itu Tuhan ingin mengetes, seberapa dekatkah Icha


kepada penciptanya.


“Icha……”


Gadis itu langsung mendongakkan kepalanya


yang sedari tadi tertunduk, matanya membelalak saat melihat seseorang, yang


tidak pernah ia bayangkan akan hadir di depannya.


“Kamu…” seru Icha terkejut.


Kedua orang itu hanya saling bertatapan,


sebelum akhirnya Icha mengalihkan pandangannya.


Pria yang ada didepannya tersenyum, ia


karena pria itu ikut mencari Icha sejak siang tadi. Rasa panik dan khawatirnya


hilang di telan bumi, saat melihat gadis itu baik-baik saja.


“Akhirnya…..akhirnya ketemu juga, kamu ga


boleh pergi kemana-mana lagi sekarang Cha…” ucap pria tersebut sambil menghapus


peluh di dahinya.


Icha membatu, dia tak bisa melangkah dari

__ADS_1


tempatnya. Gadis ini terdiam, dia bingung apa yang harus dia lakukan.


__ADS_2