
Aksa mengacak-acak rambutnya, ia merasa jadi manusia terbodoh saat ini. “Gila…kenapa bisa-bisanya aku kena jebakan Syakilla…” ucapnya.
“Ka…”
Pandangan Aksa langsung tertuju pada Claudia, gadis yang ia sayangi itu akhirnya sadar juga setelah semalaman tak terbangun. “Di…” seru Aksa sambil membantu Claudia duduk di ranjangnya.
“Kok aku disini ?”
“Kemaren Melvin, Icha sama Rima yang bawa kamu pulang” seru Aksa, sambil memeriksa dahi Claudia. Ia merasa senang karena demam yang di derita gadis kesayangannya itu sudah turun.
“Kamu mau aku buatin teh anget atau aku masakin bubur dulu ya…” Aksa langsung berdiri dan berniat mengambil makanan untuk Claudia, namun tangan gadis itu langsung menarik ujung t-shirt yang dipakai Aksa.
“Kak…video itu…siapa yang sama kakak di dalam video…”
Claudia tak ingin buang waktu, ia harus mengetahui siapa yang ada disana, karena wajah Aksa begitu jelas, sedangkan sosok gadis itu tidak jelas.
Lidah Aksa mendadak keluh, rasanya kini ia yang menderita demam, tetapi ia berusaha tenang, ia ingin membahasnya setelah Claudia sudah lebih sehat. “Di, kita bahas itu nanti kalau kamu udah sehat ya, yang penting sekarang kamu istirahat dulu…” ujar Aksa sambil mengelus pelan kepala gadis itu.
Jawaban dari Aksa sama sekali tak memuaskan, bagaimana bisa ia sehat, sedangkan rekaman video mesum itulah penyebabnya jadi sakit. Jelas Aksa berhutang penjelasan padanya.
“Aku ga akan bisa sehat selama aku kepikiran sama video yang tadi siang dikirim ke aku kak…” tutur Claudia sambil mulai menitikan air mata, hati gadis ini terasa remuk saaat melihat semua adegan ranjang yang dilakukan oleh Aksa.
Aksa mengepalkan tangannya, ia ingin membunuh dirinya saat ini juga. Jelas sekali Claudia hancur karena dirinya, dan ia masih punya rasa bahagia karena merasa perempuan yang ia cintai itu memikirkannya, Aksa memang harus memperbaiki diri secepatnya, sebelum ia jadi lebih egois lagi.
“Claudia…nanti ok…sekarang kamu makan dulu…aku kebawah sebentar ya…” seru Aksa dengan senyuman lemah, ia melepas genggaman tangan Claudia di ujung bajunya.
Claudia ingin berteriak, melempar barang semuanya. Namun apa yang bisa dilakukannya saat ini berlawanan, ia cuma bisa menangis seperti orang bodoh. Walaupun berusaha untuk kuat, pada akhirnya ia tumbang juga.
Hingga akhirnya tangisnya pecah, ia memukul-mukul dadanya yang terasa sangat sesak. Gadis ini merasa bagai di himpit beban berat hingga sulit bernafas.
Namun, semua kesedihannya itu harus terhenti sesaat ketika ponselnya diatas nakas bergetar.
__ADS_1
‘Eros???’ gumam Claudia dalam hati, entah kenapa seniornya itu menelepon pagi-pagi begini.
Namun Claudia memutuskan untuk menerima panggilannya.
Claudia ; “Halo….”
Eros ; “Halo Claudia, ada yang mau gw kasih tau ke lo….ini soal Reiki Delana Alvaro…”
Claudia ; “Tunggu, maksud lo apa, tiba-tiba telepon gw terus mau ngomongin ka Reiki?”
Eros ; “Gw tebak lo abis nangis kan, karena masalah videonya abang tiri lo”
‘Gimana caranya Eros bisa tahu soal video itu, apa jangan-jangan Icha cerita sama dia?’ gumam Claudia dalam hati, ia merasa bingung. Sepengetahuannya Icha tak akan mungkin membicarakan aib orang di belakang, atau video itu sudah tersebar?.
Kepanikan tiba-tiba melanda Claudia, jika Videonya tersebar bagaimana nasib Aksa kedepannya, kehidupan sosial dan pekerjaannya pasti akan berantakan.
Eros ; “Kalo lo berpikir gw tau video itu dari orang lain, lo tenang aja Di dugaan lo salah besar….gwa tau semuanya dari Icha”
Eros ; “ Iya…lebih banyak dari yang lo tau….”
Claudia ; “Maksudnya?”
Senyap, Eros menghela nafasnya ini saatnya memberitahu semua pada Claudia. Ia yakin jika Icha tak akan sanggup menceritakannya pada sahabatnya walaupun sudah punya bukti nanti.
Eros ; “Dengerin gw baik-baik Di….”
Eros pun mulai bercerita, semuanya. Dari A hingga ke Z, Claudia yang mendengarnya benar-benar ingin pingsan. Ia sama sekali tak menyangka Reiki bisa merencanakan perbuatan keji seperti itu.
Ia merasa di khianati tentu saja, kepalanya benar-benar terasa sakit. Apa sebegitunya Reiki mencintainya hingga merasa baik-baik saja menyakiti orang lain.
Eros ; “Gw ceritain semuanya ke lo, tapi jangan bertindak bodoh Di….lo tunggu sampe gw bisa nemuin semua bukti-bukti keterlibatan Reiki, baru lo bisa konfrontasi dia…”
__ADS_1
Claudia ; “Iya…gw paham…makasih udah mau bantuin gw”
Eros ; “Gw lakuin ini semua buat Icha, gw gak mau lagi liat Icha sedih, jadi pastiin Icha sama sekali gak tahu soal percakapan kita sama sekali, termasuk juga kakak tiri lo itu, gw yakin dia bakalan dateng kerumahnya Reiki bawa parang buat ngebantai itu ******** satu, jadi make sure ga ada yang tahu soal ini….inget bersikaplah biasa, supaya Reiki juga ga curiga sama lo…”
Benar juga pikir Claudia, ia harus tutup mulut dulu sampai semuanya jadi lebih jelas. Lagi pula ia sama sekali tak ingin ada pertumpahan darah, karena masalah ini.
Aksa membuka pintu, membuat mata gadis ini tertuju pada pria itu. Aksa cemberut saat menyadari Claudia sedang menghubungi seseorang.
Claudia ; “Ok….uhm gw tutup dulu ya…thanks Eros….”
Aksa mendekati ranjang Claudia, sambil menaruh nampan berisi bubur dan teh panas yang ia buat untuk gadis kesayangannya itu, tapi ia masih merasa was-was, apa Reiki sudah heboh menyuruh Claudia kembali ke rumah Zen?, cuma ada satu cara untuk memastikannya.
“Uhm….siapa yang telepon kamu Di?” tanya Aksa, sambil mengambil mangkuk bubur yang ia buat sendiri untuk Claudia.
Claudia sudah paham, Aksa pasti mengira Reiki lah yang menghubunginya “Yang pasti bukan ka Reiki, jadi kakak tenang aja….” Seru Claudia, sambil menaruh ponselnya di nakas samping ranjangnya.
Selama beberapa saat tidak satu pun dari mereka yang bertukar kata, hanya diam saja. Aksa juga terus menyuapi Claudia dengan telaten.
Berbeda dengan Aksa, Claudia malah sibuk memperhatikan penampilan Aksa yang nampak tak terurus, keadaan pria itu tak jauh lebih baik ternyata darinya. Aksa jelas kehilangan bobot tubuhnya, kantung mata yang terlihat jelas, juga rambutnya yang semakin panjang tak tertata rapih, membuat Aksa terlihat berantakan.
Perasaan sedih dan rasa bersalah menghampiri Claudia, ia sudah banyak membuat orang lain menderita, Aksa dan Icha salah satunya. Ia berpikir apa masih ada jalan untuk memperbaiki semuanya.
Perlahan Claudia menyentuh tangan Aksa, mendapatkan perlakuan seperti itu tentunya Aksa terkejut. Dalam pikirannya saat ini Claudia sangat marah pada dirinya. Itu tidak salah, Claudia memang murka, tapi tidak setelah mendengakan apa yang dikatakan Eros, rasanya amarah yang ia miliki bisa di pending dulu.
Yang terpenting saat ini berusaha memperbaiki masalahnya dengan Aksa, terlepas dari nanti mereka berjodoh atau tidak. “Kak…kalau aku udah sehat, terus boleh keluar sama bunda…uhm besok mau jalan sama aku gak?” tanya Claudia.
Aksa mebelalakan mata, setelah ia berbuat kesalahan besar seperti itu, apa semudah ini Claudia memaafkannya, ini semua terasa bagai mimpi.
“Ka….ka…kamu serius??…..aku gak mimpi kan???” tanya Aksa sambil menangis. Iya dia menangis saking senangnya.
“Gak kak aku serius….” Jawab Claudia sambil tersenyum.
__ADS_1