
Sebelum teman-teman membaca chapter ini ada yang mau author sampaikan....
Pertama maaf karena menulis ini di chapter 47, semuanya karena author menyadari bahwa reader ga akan ngecek pengumuman dari Author di kolom komentar. Author berterima kasih karena banyak pembaca yang menantikan kelanjutan cerita ini, sekali lagi terima kasih banyak.
Namun, sehubungan dengan rencana kami untuk pindah platform atau mencetak versi cetak & e buku dari cerita ini, mungkin saja kedepannya kami akan membuat pengumuman hiatus kembali.
Kami pun memutuskan untuk update lebih cepat karena kami sangat menghargai pembaca yang terus menanyakan kapan kelanjutan cerita ini di update. Jadi kami mohon bantuan untuk vote cerita ini ya.
Yang kedua, cerita ini akan update setiap seminggu sekali, tepatnya setiap hari minggu bersamaan dengan cerita kami yang lainnya, 'Tsundere boy & Otaku girl' teman-teman boleh cek ya....
Akhir kata terima kasih sekali kami sampaikan kepada para pembaca setia, mohon maaf apabila ada salah-salah kata, lalu kedepannya kami mengharapkan dukungan para pembaca agar kami tetap bisa menyugguhkan cerita-cerita kami lainnya, Selamat membaca semuanya.
XOXO MOXYAAL
--------------------------------------------------------------------------------------
Aksa mendorong pelan tubuh Aini yang
tengah memeluknya dengan erat. Anak ini langsung menunduk, mengigit bagian
dalam mulutnya.
Wajah murung Aksa membuat Aini bingung,
sesaat tadi ia yakin benar, kalau Aksa sangat senang ikut dengannya.
Akan tetapi dalam hitungan menit, semua
berubah dengan cepat. Kebahagiaan itu sirna dari wajah Aksa.
“Aksa kenapa, kok tiba-tiba murung?. Aksa
ga seneng ya…” tanya Aini.
Anak lelaki yang biasanya selalu tersenyum
kepada Aini itu, hanya bisa menunduk lesu.
“Aksa mau di buang kemana lagi tante….”
Suara Aksa bergetar hebat, anak ini sudah tak bisa menahan airmatanya lagi.
Melihat anak lelaki yang ada di depannya
begitu rapuh, Aini jadi turut menangis. Betapa beruntungnya Aini dahulu, jika
di pikir-pikir.
Nesya tidak pernah meninggalkan dan
menelantarkannya sedikit pun, kini giliran Aini melakukan apa yang dahulu,
dilakukan oleh bibinya itu.
Dengan lembut, perempuan yang dianggap
Aksa sebagai sosok pengganti ibunya itu, memeluk tubuh kecilnya yang bergetar
hebat, karena takut tak punya tempat untuk kembali pulang.
“Kata siapa Aksa mau di buang…” Aini
menciumi pucuk kepala Anak lelaki yang kini tengah menangis di hadapannya itu.
Aksa terisak, dia takut hidup seorang diri
di jalanan lagi, ia takut bertemu dengan para preman yang memaksanya untuk
mengemis, ia juga takut di jual lagi seperti dahulu oleh para kerabat ayahnya.
“Bu’de bilang, Aksa itu anak buangan…”
jelas Aksa sambil menunduk.
Aini mengerutkan dahinya, sembari menghla
nafas. Ia mengelus pelan tubuh anak kecil yang kini tengah dalam dekapannya
itu.
“Shhhh itu gak bener…”
“Tapi waktu itu semua orang ribut soal mau
buang Aksa kemana…Aksa takut tante…”
Aini tahu akan hal itu, para kerabatnya
tidak ingin terbebani atas kehidupan Aksa. Sejak dahulu semua kebutuhan adik
dan kakak dari ayah Aksa, di topang oleh mendiang ayahnya itu.
Mereka bagaikan benalu yang bahkan hanya
terus menempel bagai lintah. Selama kebutuhan mereka terpenuhi, mereka bersikap
__ADS_1
baik pada Aksa kecil. Saat ayah Aksa terbujur kaku pun, Aini tahu keluarga
besarnya itu malah ribut soal harta warisan yang tak seberapa harganya,
ketimbang mendiskusikan soal masa depan Aksa.
Saat Bram memberikan uang duka, mereka
semua juga ribut tentang bagian siapa yang paling besar, dan sekali lagi tanpa memperdulikan
bagaimana nasib Aksa kedepannya.
“Yaudah sekarang gini aja, Aksa jadi
anaknya tante mau??”
Aini melepaskan pelukannya, ia tersenyum
lalu menghapus air mata Aksa yang masih terus berlinang.
“Anaknya tante?” seru Aksa parau, sambil
menghapus air matanya dengan punggung tangan.
“Iya, anaknya tante sama om…gimana?”
Perempuan ini menatap lembut kearah Aksa, berupaya meyakinkan bahwasannya ia
benar-benar berniat menjadikan anak lelaki itu menjadi putranya.
Mendengar apa yang dikatakan oleh Aini
wajah mendung Aksa berubah menjadi cerah, ia tersenyum dan mengangguk beberapa
kali.
“Mau mau mau tante….Aksa mau tante jadi
anaknya tante sama om…” Aksa memeluk erat tubuh Aini, mereka berdua pun
tertawa.
“Yaudah kalo gitu kita pulang sekarang?”
seru Aini sembari bangkit dari berlututnya, ia lalu mengenggam tangan kecil
Aksa.
“Iya…”
Selama perjalanan pulang, sebenarnya hati
Aini terus dipenuhi perasaan yang campur aduk. Dia senang namun di satu sisi ia
hukum.
Akan tetapi suara Aksa yang sangat gembira
terus menjadi penyemangatnya, ia mengelus pelan pipi tembam anak lelaki itu.
Sesampainya di rumah, Aini meyakinkan
dirinya sekali lagi, jika ini adalah keputusan terbaik yang pernah ia buat.
Dibukanya pintu itu, dan ternyata Bram
sudah menunggu di sambil menontot Tv di ruang tamu.
“Mas…” Aini melangkah dengan pelan sambil tersenyum kearah suaminya itu.
Mendengar suara Aini, Bram pun melihat
kearah istrinya. Ia tersenyum lalu bangkit dari duduknya.
“Sayang kamu darimana aja….lho ada jagoan
ganteng….” Bram sedikit kaget melihat Aksa ada dirumahnya malam-malam begini.
Bukannya apa kalau sudah begini pasti Aini tidak akan memulangkan anak itu
dalam waktu cepat.
Sejujurnya Bram juga sudah mulai
menyayangi Aksa, anak lelaki itu bagai oase bagi rumah tangganya yang sudah di
ujung tanduk, apalagi setelah Aini dekat dengan anak itu, ia justru kembali
ceria seperti saat pertama kali Bram bertemu dengan istrinya itu.
Aksa berlari lalu menerjang tubuh Bram,
hingga kedua orang ini terjatuh ke sofa. Bram tertawa melihat Aksa yang sangat
bersemangat dan lebih ceria daripada biasanya.
“Om Braaaam…..hehehe”
Bram mengacak-acak rambut Aksa, lalu
menggendong anak itu. Melihat keakraban keduanya membuat Aini sangat bahagia,
__ADS_1
mereka terlihat seperti ayah dan anak kandung. Bram memang tidak pernah bilang
pada Aini, tapi perempuan itu tahu bahwa suaminya sangat suka anak kecil, namun
tidak pernah menyinggung tentang keinginannya memiliki anak, karena ingin
menjaga perasaan Aini.
Melihat tatapan mata Aini yang agak kosong
membuat Bram merangkul pundak Aini, sehingga istrinya itu agak terkejut.
“Sayang…” seru Aini, sedangkan Bram
mencium kening istrinya itu, ia sepertinya tahu bahwa perempuan yang dinikahinya
tengah gelisah akan suatu hal.
“Yaudah ayo kita makan, om udah laper
banget ini nungguin kalian….” Bram memandu istrinya keruang makan, sambil masih
menggendong Aksa. Sedangkan anak itu juga sudah kelaparan.
“Ayo ayo makan maleeem hehehe…” ucap Aksa
dengan semangat.
Selama makan malam, Aini terus
memperhatikan suaminya itu. Bram banyak tertawa jika bersama Aksa. Aini
mendambakan suasana seperti saat ini, dimana ada suara tawa anak yang akan ia
dengar tiap harinya.
Selepas makan malam, Aini menidurkan Aksa
dikamar tamu. Melihat anak itu langsung terlelap dengan nyenyak Aini pun
bergegas masuk ke kamarnya.
“Aksa udah tidur?” tanya Bram pada Aini.
Perempuan ini hanya mengangguk, ia pun
mendekati suaminya yang kini tengah membaca buku.
“Mas, aku mau ngomong soal Aksa..” seru
Aini ia kini duduk di ujung tempat tidur mereka. Bram pun meletakan bukunya,
lalu mendekati Aini.
“Aksa kenapa emangnya?” tanya Bram.
Aini menatap lurus kearah suaminya itu, ia
menarik pelan tangan Bram lalu menggenggamnya. Ia berusaha menahan semua
ketakutannya, masalah mengambil anak bukan perkara ringan.
“Aini??? Kamu gak apa-apa sayang??” Bram
menangkup wajah mungil Aini yang tengah dilanda rasa galau.
Entah mengapa lidah perempuan ini keluh,
hanya untuk menyatakan keinginannya ia tak mampu. Rasa takutnya itu berasal
dari pikiran tentang ibu mertuanya yang menyeruak masuk kedalam otaknya.
“Aku mau minta sesuatu dari kamu mas”
“Apa? Kamu mau minta apa sayang?”
Aini mengepalkan tangannya, ia terus
berdoa agar ia dipermudah dalam menyampaikan maksudnya.
“Tapi kamu janji harus penuhin yang aku
minta…”
Tidak biasanya Aini bersikap seperti ini,
membuat Bram heran, pria ini pun mengerutkan dahinya. Ia takut kalau Aini minta
berpisah darinya.
“Ya kamu minta apa dulu sayang…”
“Mas…”
“Iya iya, yaudah sekarang kamu mau minta
apa”
“Uhm…Aku mau minta…aku mau kita adopsi
Aksa mas” Aini menatap lurus kearah suaminya yg kini tengah menampakan wajah
__ADS_1
terkejut.