ME VS MY BROTHER

ME VS MY BROTHER
Episode 47


__ADS_3

Sebelum teman-teman membaca chapter ini ada yang mau author sampaikan....


Pertama maaf karena menulis ini di chapter 47, semuanya karena author menyadari bahwa reader ga akan ngecek pengumuman dari Author di kolom komentar. Author berterima kasih karena banyak pembaca yang menantikan kelanjutan cerita ini, sekali lagi terima kasih banyak.


Namun, sehubungan dengan rencana kami untuk pindah platform atau mencetak versi cetak & e buku dari cerita ini, mungkin saja kedepannya kami akan membuat pengumuman hiatus kembali.


Kami pun memutuskan untuk update lebih cepat karena kami sangat menghargai pembaca yang terus menanyakan kapan kelanjutan cerita ini di update. Jadi kami mohon bantuan untuk vote cerita ini ya.


Yang kedua, cerita ini akan update setiap seminggu sekali, tepatnya setiap hari minggu bersamaan dengan cerita kami yang lainnya, 'Tsundere boy & Otaku girl' teman-teman boleh cek ya....


Akhir kata terima kasih sekali kami sampaikan kepada para pembaca setia, mohon maaf apabila ada salah-salah kata, lalu kedepannya kami mengharapkan dukungan para pembaca agar kami tetap bisa menyugguhkan cerita-cerita kami lainnya, Selamat membaca semuanya.


 


 


XOXO MOXYAAL


 


--------------------------------------------------------------------------------------


Aksa mendorong pelan tubuh Aini yang


tengah memeluknya dengan erat. Anak ini langsung menunduk, mengigit bagian


dalam mulutnya.


Wajah murung Aksa membuat Aini bingung,


sesaat tadi ia yakin benar, kalau Aksa sangat senang ikut dengannya.


Akan tetapi dalam hitungan menit, semua


berubah dengan cepat. Kebahagiaan itu sirna dari wajah Aksa.


“Aksa kenapa, kok tiba-tiba murung?. Aksa


ga seneng ya…” tanya Aini.


Anak lelaki yang biasanya selalu tersenyum


kepada Aini itu, hanya bisa menunduk lesu.


“Aksa mau di buang kemana lagi tante….”


Suara Aksa bergetar hebat, anak ini sudah tak bisa menahan airmatanya lagi.


Melihat anak lelaki yang ada di depannya


begitu rapuh, Aini jadi turut menangis. Betapa beruntungnya Aini dahulu, jika


di pikir-pikir.


Nesya tidak pernah meninggalkan dan


menelantarkannya sedikit pun, kini giliran Aini melakukan apa yang dahulu,


dilakukan oleh bibinya itu.


Dengan lembut, perempuan yang dianggap


Aksa sebagai sosok pengganti ibunya itu, memeluk tubuh kecilnya yang bergetar


hebat, karena takut tak punya tempat untuk kembali pulang.


“Kata siapa Aksa mau di buang…” Aini


menciumi pucuk kepala Anak lelaki yang kini tengah menangis di hadapannya itu.


Aksa terisak, dia takut hidup seorang diri


di jalanan lagi, ia takut bertemu dengan para preman yang memaksanya untuk


mengemis, ia juga takut di jual lagi seperti dahulu oleh para kerabat ayahnya.


“Bu’de bilang, Aksa itu anak buangan…”


jelas Aksa sambil menunduk.


Aini mengerutkan dahinya, sembari menghla


nafas. Ia mengelus pelan tubuh anak kecil yang kini tengah dalam dekapannya


itu.


“Shhhh itu gak bener…”


“Tapi waktu itu semua orang ribut soal mau


buang Aksa kemana…Aksa takut tante…”


Aini tahu akan hal itu, para kerabatnya


tidak ingin terbebani atas kehidupan Aksa. Sejak dahulu semua kebutuhan adik


dan kakak dari ayah Aksa, di topang oleh mendiang ayahnya itu.


Mereka bagaikan benalu yang bahkan hanya


terus menempel bagai lintah. Selama kebutuhan mereka terpenuhi, mereka bersikap

__ADS_1


baik pada Aksa kecil. Saat ayah Aksa terbujur kaku pun, Aini tahu keluarga


besarnya itu malah ribut soal harta warisan yang tak seberapa harganya,


ketimbang mendiskusikan soal masa depan Aksa.


Saat Bram memberikan uang duka, mereka


semua juga ribut tentang bagian siapa yang paling besar, dan sekali lagi tanpa memperdulikan


bagaimana nasib Aksa kedepannya.


“Yaudah sekarang gini aja, Aksa jadi


anaknya tante mau??”


Aini melepaskan pelukannya, ia tersenyum


lalu menghapus air mata Aksa yang masih terus berlinang.


“Anaknya tante?” seru Aksa parau, sambil


menghapus air matanya dengan punggung tangan.


“Iya, anaknya tante sama om…gimana?”


Perempuan ini menatap lembut kearah Aksa, berupaya meyakinkan bahwasannya ia


benar-benar berniat menjadikan anak lelaki itu menjadi putranya.


Mendengar apa yang dikatakan oleh Aini


wajah mendung Aksa berubah menjadi cerah, ia tersenyum dan mengangguk beberapa


kali.


“Mau mau mau tante….Aksa mau tante jadi


anaknya tante sama om…” Aksa memeluk erat tubuh Aini, mereka berdua pun


tertawa.


“Yaudah kalo gitu kita pulang sekarang?”


seru Aini sembari bangkit dari berlututnya, ia lalu mengenggam tangan kecil


Aksa.


“Iya…”


Selama perjalanan pulang, sebenarnya hati


Aini terus dipenuhi perasaan yang campur aduk. Dia senang namun di satu sisi ia


hukum.


Akan tetapi suara Aksa yang sangat gembira


terus menjadi penyemangatnya, ia mengelus pelan pipi tembam anak lelaki itu.


Sesampainya di rumah, Aini meyakinkan


dirinya sekali lagi, jika ini adalah keputusan terbaik yang pernah ia buat.


Dibukanya pintu itu, dan ternyata Bram


sudah menunggu di sambil menontot Tv di ruang tamu.


“Mas…”  Aini melangkah dengan pelan sambil tersenyum kearah suaminya itu.


Mendengar suara Aini, Bram pun melihat


kearah istrinya. Ia tersenyum lalu bangkit dari duduknya.


“Sayang kamu darimana aja….lho ada jagoan


ganteng….” Bram sedikit kaget melihat Aksa ada dirumahnya malam-malam begini.


Bukannya apa kalau sudah begini pasti Aini tidak akan memulangkan anak itu


dalam waktu cepat.


Sejujurnya Bram juga sudah mulai


menyayangi Aksa, anak lelaki itu bagai oase bagi rumah tangganya yang sudah di


ujung tanduk, apalagi setelah Aini dekat dengan anak itu, ia justru kembali


ceria seperti saat pertama kali Bram bertemu dengan istrinya itu.


Aksa berlari lalu menerjang tubuh Bram,


hingga kedua orang ini terjatuh ke sofa. Bram tertawa melihat Aksa yang sangat


bersemangat dan lebih ceria daripada biasanya.


“Om Braaaam…..hehehe”


Bram mengacak-acak rambut Aksa, lalu


menggendong anak itu. Melihat keakraban keduanya membuat Aini sangat bahagia,

__ADS_1


mereka terlihat seperti ayah dan anak kandung. Bram memang tidak pernah bilang


pada Aini, tapi perempuan itu tahu bahwa suaminya sangat suka anak kecil, namun


tidak pernah menyinggung tentang keinginannya memiliki anak, karena ingin


menjaga perasaan Aini.


Melihat tatapan mata Aini yang agak kosong


membuat Bram merangkul pundak Aini, sehingga istrinya itu agak terkejut.


“Sayang…” seru Aini, sedangkan Bram


mencium kening istrinya itu, ia sepertinya tahu bahwa perempuan yang dinikahinya


tengah gelisah akan suatu hal.


“Yaudah ayo kita makan, om udah laper


banget ini nungguin kalian….” Bram memandu istrinya keruang makan, sambil masih


menggendong Aksa. Sedangkan anak itu juga sudah kelaparan.


“Ayo ayo makan maleeem hehehe…” ucap Aksa


dengan semangat.


Selama makan malam, Aini terus


memperhatikan suaminya itu. Bram banyak tertawa jika bersama Aksa. Aini


mendambakan suasana seperti saat ini, dimana ada suara tawa anak yang akan ia


dengar tiap harinya.


Selepas makan malam, Aini menidurkan Aksa


dikamar tamu. Melihat anak itu langsung terlelap dengan nyenyak Aini pun


bergegas masuk ke kamarnya.


“Aksa udah tidur?” tanya Bram pada Aini.


Perempuan ini hanya mengangguk, ia pun


mendekati suaminya yang kini tengah membaca buku.


“Mas, aku mau ngomong soal Aksa..” seru


Aini ia kini duduk di ujung tempat tidur mereka. Bram pun meletakan bukunya,


lalu mendekati Aini.


“Aksa kenapa emangnya?” tanya Bram.


Aini menatap lurus kearah suaminya itu, ia


menarik pelan tangan Bram lalu menggenggamnya. Ia berusaha menahan semua


ketakutannya, masalah mengambil anak bukan perkara ringan.


“Aini??? Kamu gak apa-apa sayang??” Bram


menangkup wajah mungil Aini yang tengah dilanda rasa galau.


Entah mengapa lidah perempuan ini keluh,


hanya untuk menyatakan keinginannya ia tak mampu. Rasa takutnya itu berasal


dari pikiran tentang ibu mertuanya yang menyeruak masuk kedalam otaknya.


“Aku mau minta sesuatu dari kamu mas”


“Apa? Kamu mau minta apa sayang?”


Aini mengepalkan tangannya, ia terus


berdoa agar ia dipermudah dalam menyampaikan maksudnya.


“Tapi kamu janji harus penuhin yang aku


minta…”


Tidak biasanya Aini bersikap seperti ini,


membuat Bram heran, pria ini pun mengerutkan dahinya. Ia takut kalau Aini minta


berpisah darinya.


“Ya kamu minta apa dulu sayang…”


“Mas…”


“Iya iya, yaudah sekarang kamu mau minta


apa”


“Uhm…Aku mau minta…aku mau kita adopsi


Aksa mas” Aini menatap lurus kearah suaminya yg kini tengah menampakan wajah

__ADS_1


terkejut.


__ADS_2