ME VS MY BROTHER

ME VS MY BROTHER
Episode 18


__ADS_3

Seorang pria yang mengenakan setelan jasnya sedang menonton video, seorang anak kecil dengan kuncir duanya berlari, dan pria itu mengejarnya.


"KENAAAAA....." seru pria itu sambil tertawa, anak perempuan itu pun juga tertawa dengan sangat keras.


Pria itu pun langsung mengelitiki anak kecil itu, mereka berguling diatas daun-daun kuning yang berguguran di atas tanah. Tak lama suara seorang perempuan, dengan lembut terdengar.


"Sayang, udahan mainnya ! Zen tangan aku pegel nih megang handycam gini sambil ngejar-ngejar kalian..." Pria dan anak kecil itu berlari mendekati perempuan itu, mereka semua tertawa.


"Bundaaaaaa" sapa si gadis kecil dengan boneka teddy bearnya itu.


"Nah sini gantian, biar aku yang pegang handycamnya" Pria tadi akhirnya mengambil handycamnya dari tangan si wanita, lalu menyorot wajah cantik wanita itu.


"Istriku cantik banget, pasti seneng ya istriku punya suami tampan kaya aku juga" canda si pria.


"Kebalik ada kamu yang seneng punya istri kaya aku...hahahahahaha".


Suara ketukan membuat pria itu berhenti menonton video lamanya itu. Ia pun mempersilahkan sekretarisnya masuk.


Seorang wanita cantik dengan rambut pirang yang di gerai masuk keruangannya, perempuan itu pun memberi hormat kepada pria itu.


"Sir, I just want to inform you, someone called you several times today."


"Who?" jawab si pria dengan malas.


"She said her name is Silvana, she ask to talk with you as soon as possible, its really important matter she said, bout your daughter, if I'm not wrong"


Pria itu langsung berdiri saat mendengar nama Silvana, ia pun langsung berjalan cepat kearah meja kerjanya, benar saja Silvana berkali-kali menghubungi pria itu. Pria tadi langsung mengecek emailnya.


' Zen, maaf aku ganggu kesibukan kamu. Aku tahu rasanya akan aneh, gimana pun juga aku yang memutuskan akses komunikasi antara kamu dan aku, tapi aku sadar bahwa bagaimana pun hubungan kita berdua, kenyataan bahwa Claudia adalah putri kamu tidak akan pernah bisa di hilangkan.


Hari ini aku ketemu dengan Keiko, aku dapat kabar kamu bakalan ke Indonesia untuk pekerjaan, kalau kamu ga keberatan aku ingin kita ketemu, tentunya tidak berdua saja, tapi dengan Keiko, mas Satyo juga suamiku Bram.


Satu lagi nanti malam, Keiko dan keluarganya akan kesini, mereka berniat untuk melamar putri kita, aku harap kamu bisa segera balas email aku, atau setidaknya telepon Keiko secepatnya'


Silvana


Zen Aramazd Mahendra, pria tampan ini adalah ayah kandung dari Claudia, dia seorang pebisnis yang sangat sukses, sampai sekarang ia tidak pernah menikah lagi, ataupun memiliki hubungan dengan wanita lain. Hanya Silvana wanita yang sungguh-sungguh ia cintai dengan sepenuh hati. Semenjak bercerai dengan wanita itu, Zen hanya menghambiskan waktunya untuk fokus bekerja.


Ketika ia rindu dengan putrinya itu, dia hanya bisa mengulang semua video lama tentang keluarga kecilnya dahulu. Betapa ia sangat merindukan kedua perempuan itu, Silvana dan Claudia. Saat dia tahu Claudia di perbolehkan oleh Silvana untuk menemui ibunya di Singapura, Zen langsung bergegas menyelesaikan semua urusannya lalu terbang untuk menemui putrinya, namun yang ia dapati adalah, Claudia yang pulang ke Indonesia dan kabar bahwa Silvana sudah menikah lagi dengan Bram. Hatinya sangat hancur, ia tidak tahu harus apa, maka pelariannya adalah bekerja.


Lalu sekarang rasanya ia ingin terbang, mendapatkan email dari Silvana berarti dia bisa melihat putri kesayangannya itu, beserta mantan istrinya.


"Anya, tell everyone in our team, I will go to Indonesia tomorrow" seru Zen pada sekretarisnya.


"But sir, how bout our project in here? We still not finish...?"


"I'll take care bout that, you may leave now" seru Zen sambil mengetik nama seseorang di ponselnya.


"Ok Sir" perempuan bernama Anya itu pun akhirnya mengangguk lalu keluar dari ruangan kerja Zen.


Zen memandang foto Claudia bersama dirinya diatas meja kerjanya, ia teringat saat terakhir kali ia mencium putri kesayangannya itu, kejadiaannya sudah hampir 12 tahun lalu.


Saat itu ia dan Silvana dalam kondisi yang kacau, karena tidak ingin Claudia bernasib sama dengan adik Claudia, Zen yang mengamuk membawa pergi Claudia saat sedang bermain dengan seseorang di taman rumah sakit.


12 tahun yang lalu...


Claudia kecil saat itu sedang membuat mahkota bunga dengan seorang remaja, mereka sangat akrab, bahkan remaja itu menyuapi Claudia makan siang.

__ADS_1


"Claudia buka mulutnya...AHHHHM" seru remaja lelaki itu.


Claudia membuka mulutnya , ia dengan lahap menyantap makan siang hari itu, sambil mengunyah tangannya dengan lihai membuat anyaman dari bunga.


Zen yang datang ke rumah sakit, hanya melihat dari jauh. Ia tersenyum melihat putrinya itu. Tak lama Zen pun masuk lagi kedalam ruang rumah sakit.


Hari itu Silvana ada praktek, ia bahkan memaksa bekerja meskipun kondisinya sangat-sangat tidak baik. Semua suster yang ada disitu sudah tau bahwa pria tampan blesteran ini adalah suami Silvana, apalagi dia dan Silvana merupakan pemilik dari rumah sakit tersebut.


"Siska dimana ?" tanya Zen pada suster yang sedang lewat.


"Oh pak Zen, bu Siska lagi nemenin dokter Silvana praktek, mau saya panggilkan ? tapi mungkin bentar lagi ya pak, karena masih ada pasien sih terakhir saya liat" jawab suster itu.


"Yaudah tolong kamu hold satu pasien dulu, saya mau ada urusan penting yang dibicarakan dengan Silvana"


Suster itupun mengangguk lalu berlari masuk ke ruangan Silvana, sedangkan Zen menunggu di ruang tunggu. Tak lama ia pun akhirnya dipersilahkan masuk, dan hanya berdua saja dengan Silvana.


"Kamu mau ngapain disini?" tanya Silvana dengan dingin.


"Aku udah bilang sama kamu buat berenti praktek dulu, kenapa sih susah banget sih bilangin kamu?, Apa buat kamu aku sama Claudia ga penting hah ?!" jawab Zen marah.


"Aku ga bisa ninggalin pasienku gitu aja mereka penting buat aku, kamu tau aku udah disumpah untuk pekerjaan ini, aku ga bisa cuma duduk manis dirumah, semua itu ga akan merubah apapun!!" jawab Silvana datar


"Ok kalau itu yang kamu, aku pengen tau seberapa penting pasien kamu. aku akan bawa Claudia hari ini juga, aku pastikan kalau kamu ga pensiun dini, kamu ga bakalan bisa liat Claudia lagi" dengan nada serius.


"ZEN !!!!!" Silvana berteriak namun tak digubris oleh Zen.


Zen langsung keluar dari ruangan istrinya itu, dengan menahan tangisnya, ia ingin melihat apa istrinya itu akan menyusulnya, apa ia akan memilih dirinya dan Claudia ketimbang pekerjaannya, itulah yang Zen inginkan.


Silvana hanya terduduk lesu, dia saat ini memang lebih memilih pasiennya, karena ia merasa Zen tidak akan mungkin membawa Claudia dari dirinya.


Zen menunggu selama 15 menit, 30 menit, lalu 1 jam. Istrinya itu sama sekali tidak menelepon atau mengejarnya. Dia pun memutuskan untuk membuktikan apa yang dia katakan tadi pada Silvana. Pria itu mengusap air matanya, ia harus kuat ini semua demi putri mereka, Claudia.


Claudia kecil yang melihat ayahnya itu sangat senang, ia sudah seminggu tidak melihat ayahnya, dan gadis kecil itu pun langsung berlari mendatangi Zen, tanpa menunggu aba-aba Claudia melompat di pelukan pria kesayangannya itu.


"Ayaaaaaah....." seru Claudia sambil menghadiahi ayahnya dengan ciuman tanpa henti.


Sedangkan remaja tadi hanya terdiam, lalu dia mengangguk beberapa kali pada pria itu. Nampaknya pertanyaan pemuda ini tentang darimana wajah cantik Claudia sudah terjawab, Claudia memang sangat mirip ayahnya, mata mereka yang berwarna biru itu sangat serupa. Meyadari pemuda itu sedang memperhatikan wajahnya, Zen hanya tersenyum ramah, pada pemuda yang sudah menjaga putri kesayangannya, Claudia.


"Ayah ayo kita main, ade lagi buat mahkota dari bunga" jawab Claudia senang.


"Bentar ya de..." Zen pun mendekati remaja tadi.


"Makasih selama ini sudah jagain Claudia, saya denger orang tua kamu dirawat disini ya?" tanya Zen.


"Ah iya om, orang tua saya udah hampir setahun dirawat disini..." jawab pemuda itu.


"Duh, cepet sehat ya, oh iya nama kamu siapa?"


"Saya Aksa om, Aksa Faresta..."


"Oh ok, Aksa, kenalkan saya Zen, Zen Aramazd Mahendra ayahnya Claudia" mereka pun saling berjabat tangan.


"Aksa...saya dan Claudia buru-buru, tolong nanti ini saya titip kasih ke suster Siska, kamu tau kan?" seru Zen sambil memberikan sepucuk surat pada Aksa.


"Iya om, nanti saya sampaikan"


"Nah ade, ayo salim sama kak Aksa, soalnya abis ini ade bakalan pergi jauh" jelas Zen pada Claudia yang memasang muka bingung.

__ADS_1


"Pergi jauh? Kemana ayah ?" jawab Claudia sambil memiringkan kepalanya.


"Ade bakalan ikut ayah, tinggal sama ayah ? mau kan ?" seru Zen sambil menciumi gadis kecilnya itu.


"MAU!!! HEHEHE"


Aksa yang mendengar bahwa Claudia akan dibawa pergi jauh langsung pucat, dia tidak bisa bergerak, mau membawa kabur Claudia pun tak mungkin, di depannya kini ada seseorang yang jauh lebih berhak membawa Claudia, ketimbang dirinya yang bukan siapa-siapa.


"O...om...uhm...." Seru Aksa, mencoba mengulur waktu berharap suster Siska segera datang.


"Hmmm...maaf saya ga bisa ngobrol lama, terima kasih selama ini atas bantuan kamu, saya sangat senang Claudia banyak belajar dari kamu, tiap hari juga dia ngomongin tentang kamu, saya harap semua ini jadi kenangan manis untuk kamu dan Claudia ya. Nah de, ayo kita pergi" seru Zen sekali lagi, sambil berbalik arah memunggungi Aksa.


"Ayah nanti dulu..." Claudia berusaha melepaskan pelukan ayahnya, ia pun membuat Zen akhirnya menurunkannya.


"Eeeeeee? Kenapa?" tanya Zen kepada Claudia yang sedang berada di depannya. Claudia hanya melihat ayahnya sambil tersenyum, hingga akhirnya berlari kearah Aksa yang kini sudah menangis tanpa suara, sambil berlutut.


'CUP' Claudia langsung mencium bibir Aksa tanpa basa-basi lagi, ia juga memeluk Aksa dengan erat, hingga Aksa malah tambah menangis.


"Ka Aksa bye bye....besok Claudia main lagi...jangan nangis kan ada Kumacha" Seru Claudia sambil mengacak-acak rambut Aksa. Melihat anak perempuannya begitu sayang pada pemuda itu, Zen juga jadi terharu, tapi hal ini tidak bisa menghentikannya. Ia harus membawa Claudia, agar Silvana sadar atas kesalahannya.


"Iya Claudia...bye bye" jawab Aksa sambil berusaha tersenyum, Claudia pun kembali berlari kepelukan ayahnya, dan di gendong kembali oleh Zen, mereka akhirnya benar-benar pamit dan meninggalkan Aksa sendirian disana.


3 bulan sejak kejadian itu, hidup Zen dan Claudia sudah mulai terta dengan baik, mereka sangat menikmati hidup berdua, walaupun Claudia masih bertanya tentang bundanya dan Aksa, namun masuk bulan ke 2 ia sudah jarang menanyakan kedua orang tersebut, karena terakhir kali Claudia bertanya, Zen hanya memeluk Claudia sambil menangis. Gadis kecil ini sadar bahwa ia membuat ayahnya sedih.


Zen juga tidak menyewa baby sitter, sebisa mungkin ia akan berada dirumah, semua pekerjaannya ia kerjakan dirumah, dan apabila harus ke kantor dia pasti akan membawa anak gadisnya itu. Walaupun kerepotan, tapi Zen sangat menikmatinya, apalagi saat Claudia sudah mulai bersekolah, dia malah rindu dengan kelakuan Claudia yang ajaib. Karena gadis kecil itu masih sering ngotot untuk berlatih judo dengan Zen, itulah asal muasal Claudia belajar judo dan aikido, karena sang ayah tentu saja.


Semua terlihat baik-baik saja, sampai pada bulan ke 6, Zen mendapatkan telepon dari ibunya, Silvana sakit dan sama sekali tidak sadarkan diri. Ibunya meminta Zen untuk membawa Claudia kembali ke Indonesia, dan menyudahi pelarian mereka di Amerika. Awalnya Zen tidak ingin menyerahkan anak perempuannya itu pada Silvana, tapi Claudia yang baru saja berulang tahun ke 6, mendatangi ayahnya itu.


Gadis itu sudah cukup dewasa untuk anak seumurnya, dia tahu ada yang tidak beres dengan ayah dan ibunya. Sejak awal Claudia memang type anak yang menyimpan semuanya sendiri, tapi ia mencuri dengar bahwa ibunya sakit parah di Indonesia.


"Ayah..." Claudia masuk ke ruang kerja ayahnya.


Zen yang sedari tadi tidak menghidupkan lampu diruangan kerjanya terkejut karena Claudia belum tidur, padahal itu sudah jam 1 malam. Gadis kecil itu pun mendekati Zen, lalu duduk di pangkuan ayahnya.


"Ade, belum tidur nak? Ini udah malem lho..." seru Zen yang dibalas dengan gelengan saja oleh Claudia.


"Jadi kenapa? Hmmm ade ga bisa tidur? Ayah temenin ya?" tukas Zen sambil mengelus kepala Claudia, dan sekali lagi anak gadisnya itu hanya menggeleng.


"Ayah ade mau pulang ke Indonesia..." seru Claudia sambil memeluk erat Zen.


"Claudia..." Zen terkejut dengan apa yang ia dengar. Putri kandungnya ini kenapa meminta pulang ke Indonesia?, padahal Zen tahu Claudia sangat bahagia tinggal bersama dirinya.


"Bunda sakit kan ?" tanya Claudia dengan air mata yang mulai berlinang.


"Claudia..." Zen yang sedari tadi bingung, akhirnya mengerti bahwa putri kecilnya ini tahu, jika bundanya sakit. Ia pasti berkali-kali mendengar jika Zen sering bertengkar dengan ibunya di telepon.


"Ayah, ade tau berapa minggu ini ayah ga bisa makan karena mikirin bunda" Tebak Claudia memang tepat, gadis ini tahu ayahnya tidak bisa makan karena mendengar kabar tidak baik dari Indonesia, di mulai dari Silvana yang sering pingsan, hingga puncaknya saat ini dimana Silvana tidak bisa bangun sama sekali.


"Nak...tapi kamu tau begitu kita sampe di Indonesia, ayah pasti..." Zen tidak kuat lagi, ia pun menangis sambil memeluk putri kecilnya itu.


"Ade ga akan pernah lupa kalau ade punya ayah yang baik hati dan kuat, kalo nanti ade sama ayah ga boleh tinggal sama ayah lagi, ade bakalan cari cara supaya bisa ketemu ayah, ade janji" jawab Claudia yang juga kini menangis histeris.


Malam itu mereka habiskan dengan menangis, hingga 1 minggu kemudian Zen membawa pulang ke Indonesia. Disana tentu saja Silvana histeris, memukul Zen bahkan menyiramnya dengan air, melemparinya dengan barang pun diterima Zen dengan tenang. Sampai 1 bulan ia di Indonesia, yang ia lakukan adalah mengurus perceraiannya dengan Silvana.


Semua kenangan itu ia simpan sendiri, hingga saat ini ia sangat ingin tinggal dengan Claudia, karena harapannya untuk bisa bersama Silvana juga kini sudah pupus.


 

__ADS_1


 


__ADS_2