ME VS MY BROTHER

ME VS MY BROTHER
Episode 89


__ADS_3

Halo readers, berjumpa kembali dengan Author hahaha


sehat kan kalian semua?


 


Author mau promosi nih, selain me vs my brother, author juga punya novel lain lho judulnya Tsundere boy and Otaku girl, ceritanya di jamin menghibur !!! terus juga ada LOVE FROM STALKER, semuanya author sajikan cuma untuk pembaca setia.


 


jadi jangan lupa mampir dan vote novel author yang masih satu universe dengan ME VS MY BROTHER YAAAA....


 


SELAMAT MEMBACA...


 


 


 


 


 


   ***


 


 


Hidup itu bagaikan sebuah kapal yang terbawa arus, jika kamu tidak punya kendali yang kuat atas dirimu, maka bersiaplah untuk tenggelam.


 


 


Namun apa yang terjadi jika kita punya kendali yang kuat atas diri sendiri, tetapi tidak punya arah tujuan yang pasti ?, tak perlu ditanyakan kapal pun pasti karam.


 


 


Kedua hal diatas mencerminkan betapa pentingnya logika namun harus pula di barengi dengan empati juga simpati, sayangnya kedua hal itu sangat mudah tertimbun dengan perasaan yang penuh akan keegoisan.


 


 


Tapi ya begitulah manusia…


 


 


Ketika hidup tidak seindah yang terlihat, tidak sebaik yang di impikan, dan tidak sehebat yang dicita citakan, maka akan banyak pertarungan yang ber gejolak didalam hatimu.


 


 


Saat itulah dibutuhkan keikhlasan, keberanian, dan kejujuran, untuk memaafkan diri sendiri, menerima kenyataan dan kondisi sekitar, dan memulai menyusun tujuan hidup yang baru.


 


 


Salah satu manusia yang akhirnya berada di kapal tanpa masa depan adalah Reiki, dia punya perahu yang besar punya kendali yang hebat dan juga punya sokongan yang kuat untuk menyongsong masa depan yang baik.


 


 


Yang kurang dari dirinya hanyalah kemampuan untuk menerima kenyataan, bahwasanya perjalan hidup tidak akan selalu lurus lurus saja.


 


 


Tapi dengan tekad yang kuat Reiki berusaha untuk bangkit, beberapa minggu ia kembali dengan sekuat tenaga ia berusaha membereskan masalah yang ia timbulkan.


 


 


Termenung di sebuah café, setelah bertemu dengan pengacara pribadinya, Reiki memilih untuk tidak langsung pulang.


 


 


Rasa bersalah yang cukup besar membuatnya tidak nyaman berada disekitar kedua orang tuanya. Ia berpikir setidaknya sampai masalah yang ia timbulkan teratasi setengahnya, perasaan tak nyaman itu pasti akan terus menghantuinya.


 


 


‘Apa aku bisa ya selesein semua masalah ini? Aku bener-bener gak yakin…’ ucap Reiki dalam hati.


 


 


Dalam pikirannya itu Reiki merasa seperti tenggelam, ia mulai tak mempedulikan sekitar. Menenangkan diri ia pun menutup matanya.


 


 


Sesaat ketenangan yang mulai ia rasakan mulai sedikit terganggu, Reiki mengernyitkan dahinya.


 


 


Dari jauh terdengar suara yang tidak asing baginya, semakin lama suara itu semakin mendekat membuat Reiki akhirnya semakin tidak fokus.


 


 


 


 


Apa yang di rasakan Reiki tidak salah memang, dari jauh Icha sambil mendorong troli belanjaannya terlihat kebingungan.


 


 


Icha seharusnya pergi bertiga bersama Shiva dan Melvin, tapi karena ternyata Yudha yang kini telah jadi suami dari Shiva pulang kantor lebih awal, jadilah Shiva pamit lebih dahulu meninggalkan Melvin dan juga dirinya.


 


 


Tidak sampai disitu, Melvin tiba-tiba saja menghilang saat Icha dan sahabatnya itu tengah berbelanja makanan untuk anak-anak di yayasan milik keluarga Icha.


 


 


Karena pada akhirnya dia tertinggal sendirian di mall tanpa tau apa-apa, Icha memilih untuk menyudahi belanjanya dan mencoba menghubungi


“Seriusan?!!! Uhm yaudah aku nanti pulang sendirian aja…iya, yaudah nanti kita ketemuan aja di café…ya…ya gak apa-apa Vin, kamu kejar aja dulu si Rima…ya ok…”


 


 


Reiki langsung membuka matanya, dan segera bangkit dari duduknya.


 


 


“Icha…”panggil Reiki lirih.


 


 


Sontak Icha menoleh, pupil matanya membulat saat ia menyadari siapa yang memanggil namanya dengan suara lirih.


 


 


“Ka..kak Re…Kak Reiki…”


 

__ADS_1


 


“Cha…apa boleh aku minta waktu kamu sebentar?”


 


 


Icha menunduk, kenapa disaat ia tengah meyakinkan dirinya untuk menerima pinangan Eros, ia harus bertemu dengan pria yang begitu dicintainya.


 


 


“Icha aku ngerti kalau kamu ga bisa dan ga mau ngobrol sama aku. Setelah semua kebodohan yang pernah aku lakuin, kamu benci sama aku pun, aku paham Cha. Tapi aku beneran harus ngobrol sama kamu”


 


 


“Silahkan duduk ka…”


 


 


“Makasih Cha”


 


 


Reiki tersenyum lebar senang akan permintaannya yang dikabulkan oleh Icha, begitu berbanding terbalik dengan Icha yang terlihat muram.


“Apa yang mau kakak omongin sama aku?”


 


 


“Uhm, aku…aku mau minta maaf sama semua perilaku aku di masa lalu, berkali-kali dengan sadar aku menampik uluran tangan kamu, semua cuma karena ego ku lebih tinggi sampai-sampai aku enggan buat melihat kenyataan, aku sungguh-sungguh minta maaf Cha…”


 


 


“Aku udah maafin kakak sebelum kakak minta maaf. Aku pikir kakak lebih baik meminta maaf sama orang-orang yang udah kakak sakitin, kakak gak perlu pikirin Icha”


 


 


Icha tersenyum tipis, meyakinkan Reiki bahwa dia tak punya dendam sama sekali kepada pria itu.


 


 


Reiki mengangguk, ia pun memperhatikan wajah ayu dari Icha yang menunduk. Selama ini kenapa dia tidak menyadari bahwa Icha tidak kalah cantik dan manis dari Claudia, terlebih sikapnya yang begitu lembut dan penuh kasih sayang.


 


 


Tiba-tiba saja Reiki merasakan debaran yang aneh di dalam hatinya, ia merasa tubuhnya seperti terkena sengatan listrik hanya dengan menatap wajah gadis yang ada di hadapannya itu.


 


 


“Ka? Kakak gak apa-apa? Kakak demam?”


 


 


“Eh? Gak..aku gak apa-apa kok…”


 


 


“Kakak yakin ? muka kakak merah banget..”


 


 


Merah?! Apa maksudnya dia bersemu malu? Yang benar saja, pertama kali ia merasakan hal itu adalah saat ia menerima ciuman dari Claudia, dan sekarang di hadapannya Icha bahkan tak melakukan apapun, kenapa debaran jantungnya semakin kencang ketimbang sebelumnya.


 


 


 


 


“Aku gak tau kakak kenapa? Tapi kayanya lebih baik kita ke rumah sakit, mungkin kakak kecapean, atau mungkin kakak salah makan, ayo kak Icha temenin ke rumah sakit kalau kakak gak keberatan”


 


 


Reiki tersenyum memperhatikan gadis yang begitu lancar mempertanyakan kondisinya, padahal sebelumnya ia tahu benar bahwa gadis itu sangat pemalu.


 


 


Namun kini Icha terus mengoceh karena khawatir pada Reiki, ia tidak berhenti menanyakan apa yang tengah dirasakan oleh pria itu, apa kepalanya sakit? Atau perutnya mungkin? Pertanyaan itu terus dilontarkan Icha berkali-kali.


 


 


“Atau mungkin kakak mau…”


 


 


Reiki tersenyum, dan memotong pembicaraan Icha.


 


 


“Cha…”


 


 


“Ya kak???” Icha menatap Reiki dengan ekspresi super khawatir.


 


 


“Kamu mau gak nikah sama aku?”


 


 


Reiki terkejut dengan ucapannya sendiri, kenapa bisa-bisanya dia melamar Icha. Tentu saja ia juga bingung, apa selama ini Icha lebih dari sekedar adik?. Ucapannya yang begitu spontan itu pun memang datangnya dari hati, tapi ia tidak sadar jika mengatakannya begitu keras.


 


 


Disisi lain Icha membatu, sama terkejutnya dengan Reiki, gadis itu cuma bisa terdiam. Tak pernah Icha bayangkan bahwa dirinya akan berada di posisi yang sama dengan sahabatnya, apalagi melibatkan pria yang jelas-jelas sangat ia sayangi.


 


 


Bohong jika Icha tak senang mendengar ajakan menikah dari Reiki, tak pernah dalam hidupnya ia berpikir akan datang saat dimana Reiki mengatakan niat untuk mempersuntingnya.


 


 


Tapi bagaimana dengan Eros?, ia tau bahwa Eros begitu menyayanginya, begitu menjaganya, Eros bahkan selalu mendukungnya bahkan disaat pria itu harus berkorban perasaan sendiri, hanya demi Icha ia mampu menahan semuanya.


 


 


Hanya 1 kalimat mampu memporak poranda kan hati Icha. Ini sungguh tidak adil.


 

__ADS_1


 


“Uhm Icha maaf aku tau ini mendadak…tapi…”


 


 


“Aku udah di khitbah kak…”


 


 


“A..apa?”


 


 


“Ka Eros sudah menyampaikan niatannya untuk melamar aku kak…”


 


 


Begitu sakit, iya lebih sakit malah ketimbang saat harus merelakan Claudia, mendengar ada seseorang yang mau melamar Icha.


 


 


Tunggu dulu kenapa hatinya terasa begitu tercabik-cabik?.


 


 


Reiki merasa dirinya sebegitu bodoh, sejak kapan ia mencintai Icha? Ia terlalu terbawa obsesi untuk memiliki Claudia, padahal hatinya sudah memilih Icha sejak awal. Bodoh, iya benar-benar bodoh.


 


 


“Aku…” Reiki tertunduk lemas.


 


 


“Maaf kak…” Icha menunduk air matanya menetes.


 


 


Melihat Icha menangis Reiki tentu saja terkejut, ia sama sekali tidak bisa menggunakan otaknya.


 


 


“Jangan nangis Icha, aku terlalu bodoh untuk menyadari kemana sebenarnya hati aku berlabuh…ini salahku, dan Ketika aku sadar kamu sudah dalam proses jadi milik orang lain..jadi kamu gak perlu nangis karena merasa gak enak sama aku Cha..” Reiki tersenyum sembari menenangkan hatinya yang sedang kalut.


 


 


Icha menatap Reiki, lalu menggelengkan kepalanya.


 


 


“Aku bukannya menangis karena merasa gak enak sama kakak…tapi…”


 


 


Bagaimana bisa ia bilang bahwa dirinya mencintai Reiki? Dan bahwa kenyataannya perasaan itu belum hilang sama sekali.


 


 


“Tapi kenapa Cha?”


 


 


“Gak kak bukan apa-apa…”


 


 


Icha tak bisa mengatakannya, lebih baik dia menutup semua sementara sembari meminta petunjuk kepada Tuhan untuk menunjukan jodohnya yang terbaik, pikir Icha.


 


 


 


 


*












 


 


 


 


PRANG


Pecahan piring dan pajangan kristal berserakan diseluruh ruangan. Suara teriakan histeris pun mengisi setiap sudut rumah, bagaikan sedang tersiksa Syakila tak ada hentinya berteriak dan memaki, ia bahkan tidak ada puasnya juga melemparkan semua barang yang ada dirumahnya, membuat semua pekerjanya kabur ketakutan melihat tingkahnya sudah diluar batas kewajaran.


 


 


“Kila udah nak…mama mohon kamu sudahi semua kegilaan ini, apa kamu gak cape mengejar Aksa yang sudah jelas-jelas menolak kamu ?!”


 


 


“GAAAAAAAAK MAMA GAK NGERTI, AKSA ITU MILIK AKU MA !!!! SELAMANYA DIA CUMA PUNYA AKU !!! KENAPA GAK ADA YANG NGERTIIN AKU ?!! KENAPA SEMUANYA SELALU MENCOBA UNTUK MEREBUT DIA DARI AKU ?! DULU SI SIALAN CLAUDIA ITU, SEKARANG ANAK TERKUTUK ITU JUGA MAU NGAMBIL AKSA DARI AKU !!! SEHARUSNYA MEREKA ITU MATIII MA, MATIIIIIIII !!!”


 


 


Melinda, ibu dari Syakila cuma bisa menangis melihat anak perempuan satu-satunya menggila seperti itu, apa yang salah dari didikannya? Ia tak pernah mengajarkan Syakila kekerasan, tidak pula mengajarkan putrinya menjadi penjahat.


 


 


Sebagai Ibu tentu Melinda paham benar bahwa teriakan anaknya itu bukan hanya ungkapan kosong semata, ia bahkan begidik ngeri karena ia mengetahui kalau Syakila memang benar-benar ingin Hana cucu perempuannya menghilang dari muka bumi.


 


 


“Aku bakalan hancurin kalian…semuanya…tunggu aja nanti…HAHAHAAHAHAHAHAHAHA!!!!!”


 

__ADS_1


 


Syakila sudah punya rencana, ya rencana yang akan membuat Aksa berbalik dari Claudia walaupun saingannya itu memohon untuk bersama dengan Aksa.


__ADS_2