
A/N
Halo semuanya, hehehe gimana dengan 2 episode kejutan yang di up bersamaan minggu ini? apa semuanya senang hehehe...
oh iya, tangal 25 hari sabtu kami juga bakal up lagi, kebetulan itu hari libur kan ya?
Jadi selamat menikmati liburan, semoga semuanya bisa menikmati chapter demi chapter yang sudah author buat...
Jangan lupa baca juga cerita kami Tsundere boy and Otaku girlya...
Buat yang mau tanya-tanya soal cerita ini bisa mampir ke ignya author, @momijileaves
Once again, selamat berlibur dan selamat membaca semuanya...
XOXO MOXYAAL
------------------------------------------------------------------------------------------
Reiki memacu mobilnya dengan sangat cepat, ia bahkan tak peduli jika dirinya tertabrak atau menabrak orang lain. Saat ini ia sangat gusar, dan jelas sangat marah.
Saat berkunjung tadi kerumah Claudia ia merasa bersalah karena kondisi Claudia menurun daripada sebelumnya, terlebih tadi ia tak diperbolehkan menemui Claudia oleh Silvana, padahal ia berniat melihat tunangannya, setelah seharian mencari Claudia seperti orang bodoh.
Beruntung Melvin menghubunginya dan langsung memberitahu dimana tunangannya itu. Saat mengetahui Claudia berada dirumah calon ibu mertuanya Reiki langsung ngebut, dia tak ingin Aksa berada di tempat yang sama dengan Claudia.
Ketakutan terbesarnya adalah jika Claudia menyadari bahwa dia memang tak bisa melupakan Aksa, tapi perasaannya masih sedikit lebih tenang karena masalah video itu.
Baginya, video itu menjadi jaminan baru bahwa tak akan mudah bagi Claudia untuk menerima Aksa kembali, setelah ia tahu betapa bejatnya perilaku kakak sambungnya.
Keadaan seperti ini seperti berjudi bagi Reiki, ia paham benar bahwa walaupun kemungkinan besar Claudia akan membenci Aksa, tetapi masih tetap ada kemungkinan dimana Claudia bisa dengan mudahnya memaafkan Aksa.
__ADS_1
Apalagi jelas bagi Reiki, tunangannya masih ada rasa yang cukup besar kepada kakak sambungnya. Dengan kejadian tadi malam memperparah posisi Reiki yang semakin tak pasti.
Ia teringat pembicaraannya tadi dengan Silvana.
“Reiki lebih baik kamu pulang aja, sekarang Claudia lagi tidur…besok lagi kalau kamu mau kesini ya…” Seru Silvana dengan tegas, berusaha menyuruh Reiki pulang secara halus.
“Tapi tante, Reiki mau ketemu Claudia sebentar aja….Reiki khawatir sama kondisi Claudia, om Zen juga pasti sama….” Jelas Reiki, dia benar-benar ingin bertemu dengan tunangannya.
“Reiki…tante mohon, untuk saat ini kamu pulang dulu. Sekarang Claudia lagi sama Aksa, tante bener-bener gak mau ada keributan lagi di rumah, udah cukup Claudia sakit gara-gara kelakuan kalian berdua…apa gak bisa kalian itu lebih nurunin ego kalian buat Claudia?! Anak tante jadi korban, sampe badannya tinggal tulang gitu, kalian masih mau main tarik-tarikan begini, udah cukup ya saat ini masing-masing intropeksi diri dulu…” Silvana sudah muak, ia sama sekali tak senang melihat kondisi putrinya yang bukannya makin bahagia bersama Reiki, tapi semakin terlihat menderita.
Tubuh Claudia sangat kurus, ia yakin putrinya pasti susah makan saat bersama mantan suaminya itu. Dan dengan pasti ia yakin penyebabnya karena pikiran. Jujur saja Silvana merasa kecewa pada Reiki, yang nampaknya terlalu fokus dalam mengikat Claudia, hingga tak memperhatikan perubahan fisik Claudia.
Reiki dilain pihak akhirnya memilih menyerah. Setelah mendengar ucapan Silvana, ia merasa semakin kesal. Bukan marah pada Silvana, tapi Reiki kesal pada kondisi yang di alaminya sekarang, dan juga ia marah pada dirinya sendiri.
Bagaimana bisa ia lalai memperhatikan kesehatan Claudia, seharusnya ia paham makan teratur saja tak cukup, Claudia sejak kecil memang punya fisik yang cukup ringkih, karena itulah Silvana setuju melanjutkan pelatihan Judo untuk Claudia.
Sayangnya, tubuh Claudia masih saja ambruk jika sudah stress berlebihan. Reiki juga merasa salah, karena ia terlalu terpaut dalam membuat rencana menjatuhkan Aksa hingga tak sadar Claudia sudah diambang batasnya, ia tak akan mampu menahan beban tambahan ‘itu’ secara tiba-tiba, sungguh bad timing, ia terlalu tamak dan ingin semuanya segera cepat selesai.
Ia kalut, baru kali ini Reiki tak tahu harus melangkah kearah mana. Namun ada satu hal yang menjadi pemberatnya, apabila memilih berhenti dari langkahnya saat ini.
Jika Silvana pada akhirnya memutuskan untuk mendukung Aksa, maka jalan untuk menuju pelaminan dengan Claudia pastinya akan semakin sulit. Reiki mungkin mau tak mau harus mengorbankan kekasih hatinya itu.
Reiki terus komat kamit sendiri di dalam mobilnya. Saat datang berkunjung tadi ke rumah Silvana, tak salah memang jika orang lain menilai dia punya niat lain. Reiki memang sekalian ingin melihat reaksi calon mertuanya.
Sangat disayangkan, bahwa hasilnya tak sesuai seperti rencana Reiki, ketika Silvana masih membiarkan Aksa berdekatan dengan tunangannya ia langsung menyimpulkan, video itu tak cukup ampuh untuk membuat Silvana berpaling dan mendukungnya 100% untuk menikahi Claudia.
Tak bisa lagi berpikir, Reiki nampaknya harus menggali informasi lebih dari rekannya, Syakila. Ia harus tahu jika ada sesuatu yang bisa menekan Aksa dan Bram, agar segera membuat keputusan. Keputusan untuk menikahkan saingannya itu dengan Syakila.
Reiki lalu memakirkan mobil di pinggir jalan, ia langsung mengambil ponselnya dan menghubungi Syakila, mereka berdua langsung sepakat untuk bertemu hari ini juga, di sebuah café yang tak jauh dari lokasi Reiki saat ini.
Beberapa saat kemudian Reiki sampai duluan, ia tak ingin membuang waktu untuk menunggu begitu saja, maka ia menghubungi orang suruhannya.
Reiki menanyakan banyak hal, tentang kegiatan Claudia hari ini dan juga bagaimana reaksi gadis itu saat mendapatkan video Aksa dan Syakila pada mata-matanya yang ia tempatkan di sekolah Claudia.
“Kamu awasin terus gerak-gerik Claudia, saya gak mau sampai kebobolan lagi seperti hari ini, saya sudah bayar kamu mahal-mahal dan kamu bahkan gak tahu Claudia dibawa kemana hari ini, ingat usaha papa kamu itu ada ditangan saya, dengan mudah bantuan yang sudah saya berikan bisa saya tarik kapanpun, jadi kerjakan perintah saya dengan benar” ucap Reiki dengan nada datar.
Setiap kata yang diucapkan oleh Reiki benar-benar penuh penekanan, ia memang kesal pada informannya yang tak berkompeten itu. Susah-susah dia membuat mencari orang untuk ia gunakan, kerjanya malah sembarangan.
__ADS_1
Ia langsung menutup teleponnya, dan menghubungi nomer lain.
Yang Reiki hubungi adalah salah satu anak buahnya, ia membayar seseorang untuk mengawasi segala gerak gerik seseorang.
“Perkembangan hari ini gimana…..” tanya Reiki.
Tunangan Claudia itu diam beberapa saat, sebelum tiba-tiba mengepalkan tangannya erat-erat.
“Jadi gitu, ok ikutin terus anak itu….gak saya gak mau nyakitin dia, kalau sampai sesuatu yang buruk terjadi sama dia gara-gara kamu, kamu sudah tahu kan apa yang bakal terjadi sama kamu dan anggota geng kamu itu?!....Ok, terus taruh anak buah kamu untuk awasin mereka, dan ingat jangan sampai ketahuan, setiap hari ganti orangnya, paham ?....Iya, bayarannya saya akan lipat gandakan kalau kalian kerjanya bener….Ok”
Reiki memijat pelipisnya, ia memang tak bisa lagi menunda semuanya. Ketakutan terburuknya hampir terjadi, jelas ia harus melakukan tindakan preventif.
“Sorry lama nunggu ya?” tutur Syakila, perempuan itu memekasi jaket dan topi yang menutupi wajahnya.
Syakila memang keluar dari rumah dengan menyamar, pencegahan saja jika kira-kira Aksa menyewa seseorang untuk mengikutinya, maka bertemu dengan Reiki adalah resiko yang amat sangat besar.
“Saya gak mau buang-buang waktu, tapi saya harus kasih tau kamu. Rencana kita hampir gagal…” seru Reiki, ia bahkan tak menyadari bahwa Syakila tengah menyamar, perempuan yang ia perhatikan selain ibunya memang cuam dua orang dan salah satunya adalah Claudia, prioritasnya, hidupnya.
Reiki menceritakan bagaimana tingkah laku Silvana, yang tak terlihat terganggu dengan adanya video itu. Syakila juga cukup kaget, ia tak menyangka rasa percaya Silvana pada Aksa sebegitu tingginya.
“Terus kita harus gimana?” tanya Syakila sambil menampakan ekspresi takut.
“Kita butuh langkah lain, sekarang ini cuma om Bram yang bisa kita push supaya nikahin kamu sama Aksa secepatnya…tapi gimana caranya….” Seru Reiki sambil mengerutkan dahinya.
Syakila juga turut berpikir, walaupun Bram sudah tahu tentang video itu namun memang belum ada langkah nyata dari ayah Aksa itu. Padahal setidaknya Bram bisa menghubungi keluarganya.
Reiki mungkin benar, tidak seperti yang ia pikirkan selama di perjalanan, kalau patnernya itu hanya paranoid saja. Situasinya memang jauh dari perkiraan, terakhir kali dia bicara dengan Aksa pun, mantan pacarnya tersebut lebih takut saat Claudia disebutkan dalam ancamannya, ketimbang ketika Syakila mengucapkan ancaman tentang penyebaran video tersebut di kalangan klien milik Aksa.
Sudah jelas mantan kekasihnya itu, tak takut apapun kecuali yang berhubungan dengan Claudia. Apabila saingannya itu bisa memaafkan Aksa dengan mudah maka usaha mereka akan jadi sia-sia.
‘Ayo Kila…pikir siapa yang bisa bantu kamu…..’ gumam Syakila. Tak lama kemudian ia langsung teringat satu orang yang bisa membantunya.
“Reiki….aku tahu siapa yang bisa bantu kita….” ujar Syakila sambil tersenyum lebar.
“Siapa?” tanya Reiki penasaran.
“Eyang ku….ibunya om Bram….Eyang Indah….”
__ADS_1
Syakila tersenyum penuh dengan kemenangan, ia pasti bisa memanfaatkan perempuan tua itu sebaik-baiknya.