ME VS MY BROTHER

ME VS MY BROTHER
Episode 77


__ADS_3

 


 


Memasak, mungkin adalah hobi bagi Claudia selama beberapa tahun lalu tapi saat ini memasak adalah obat penenangnya. Karena itulah Claudia memilih untuk lebih mendalami seluk beluk dalam memasak.


 


 


Seperti saat ini misalnya, dirinya sedang tidak mood untuk melakukan apapun akibat Shiva dan Yudha marah padanya. Claudia tahu wajar jika para sahabatnya itu kesal, karena walaupun sudah tahu Yudha dan Shiva menikah, Claudia tetap tidak berani untuk pulang.


 


 


Alasan gadis ini bermacam-macam namun semua sahabatnya tahu kalau ini lagi-lagi ada hubungannya dengan Aksa.


 


 


Gadis ini menghela nafasnya pelan, ia segera bergegas keluar dari kamarnya lalu menuju ke dapur. Ia langsung mengeluarkan semua hal yang ia butuhkan untuk membuat makanan manis.


 


 


Ya, saat ini Claudia sungguh membutuhkan makanan manis untuk membuatnya kembali bersemangat.


 


 


Satu hal yang tidak disadari oleh Claudia adalah Reiki tengah memperhatikannya sedari tadi.


 


 


Sebenarnya Reiki sudah menyapa Claudia sebelumnya, namun gadis itu sama sekali tidak menyadari bahwa Reiki mengajaknya bicara. Claudia masih sangat kepikiran dengan kemarahan sahabatnya itu, karena posisinya dia memang tidak bisa pulang.


 


 


Namun yang di pikirkan oleh Reiki berbeda, ia tahu soal Shiva yang akan menikah dan keinginan Claudia untuk hadir di pernikahan sahabatnya itu. Reiki juga paham kenapa Claudia tidak bisa pulang dan alasannya itu jujur saja terasa membunuhnya secara perlahan.


 


 


Ia merasa sangat sulit untuk menerima bahwa sampai akhir pun Claudia masih saja tak bisa melupakan kakak tirinya itu. Apa kurangnya Reiki? Dia berusaha keras mencari alasannya.


 


 


Melihat Claudia yang menderita bukannya tak membuat hatinya sakit, ia juga sedih tapi tak bisa di pungkiri bahwa ia juga tak ingin gadis yang dicintainya itu pulang kembali ke Indonesia, berat baginya menerima semua ini.


 


 


“Apa kakak kira Claudia senang kakak berbuat begini? mau seberapa banyak lagi hidup orang lain yang kakak hancurin cuma untuk memuaskan obsesi kakak yang gak sehat itu???”


 


 


Mata Reiki membelalak, kenapa disaat seperti ini dia malah ingat apa yang telah diucapkan oleh Icha beberapa tahun yang lalu, ini benar-benar tidak adil pikirnya.


 


 


‘Gak Cha, apa yang aku lakukan sekarang itu untuk kebahagiaan sahabat kamu sendiri. Aku berusaha melindungi Claudia, aku mengusahakan yang terbaik untuk perempuan Claudia, kenapa kamu gak bisa ngerti’ gumam Reiki dalam hati, berusaha membenarkan apa yang ia lakukannya.


 


 


“Kakak ngomong semua ini, seakan kakak yang paling tahu segalanya yang terbaik buat Claudia. Tapi apa pernah kakak tanya sama dia, apa pernah kakak melindungi dia tanpa harus menyakiti Claudia dan orang lain terlebih dahulu?”


 


 


 


 


Reiki terdiam, ia menatap punggung mungil milik Claudia. Apa salah jika ingin memiliki orang yang kita cintai?. Seumur hidup Reiki cuma bisa memikirkan masa depan bersama Claudia, hanya dia satu-satunya perempuan yang dinikahinya. Ia melakukan apapun untuk menyenangkan hati Claudia. Tapi ingatannya tentang ucapan Icha beberapa tahun lalu itu membuatnya kembali berpikir, apa ia memang sudah menyakiti Claudia.


 


 


Di pundak gadis mungil itu, membawa beban yang sangat berat. Claudia mau tak mau harus terseret di dalam arus rivalitas antara kedua orang yang amat sangat berarti baginya. Seharusnya diumurnya yang masih muda Claudia bisa menikmati hidupnya, dan tak harus mengurusi hal-hal seperti ini.


 


 


Pria itu mulai melunak, Reiki mulai memikirkan tentang dirinya yang bisa saja salah langkah seperti apa yang diutarakan oleh Icha. Egonya yang tak ingin menyerahkan Claudia membuat semua ini justru semakin berat untuk gadis itu.


 


 


‘Gak sekarang…aku gak bisa Di hidup tanpa kamu…gak untuk saat ini Di’ ucap Reiki dalam hati sembari menatap Claudia yang masih sibuk mengolah bahan-bahan untuk membuat


 


 


Reiki menghela nafasnya, mungkin Claudia benar saat ini lebih baik menunggu dan tak membahas apapun soal hubungan mereka. Mungkin juga hal terbaik yang bisa dilakukannya sekarang adalah bersabar dan memikirkan lebih lanjut apa yang akan dilakukannya nanti.


 


 


Pria ini pun memilih untuk merubah ekspresi wajahnya, seakan tidak tahu apa-apa ataupun merasakan apapun, Reiki berjalan menghampiri Claudia yang tengah memanggang hasil karyanya.


 


 


“Ade lagi bikin apa?” tanya Reiki sambil tersenyum.


 

__ADS_1


 


Claudia menoleh lalu ia tersenyum sambil menunjukan cake yang tengah di panggangnya.


 


 


“Baked Cheese Cake kak….” Ucap Claudia tersenyum lalu menundukkan kepalanya. Entah bagaimana caranya Claudia membuat dessert kesukaan Aksa, syukurlah Reiki tidak tahu soal ini pikirnya.


 


 


“Ade masak apa? Harum banget sampe kemana-mana” seru Zen tiba-tiba masuk kedalam dapur.


 


 


 


 


“Ada deh hehehe…ayah tunggu aja….duduk sini yah, ade bikinin minumannya…kopi atau teh??”


 


 


“Kopi aja…” seru Zen sambil menarik kursi.


 


 


“Kalo ka Reiki ? pasti earl grey kan? Tambah susu sama gula 2 sendok….” Ucap Claudia yang disambut anggukan oleh Reiki.


 


 


‘Di, kalau kamu kaya gini gimana caranya aku ngelepas kamu…cuma kamu yang tau hal yang aku suka dan ga aku suka…aku gak bisa menyerah gitu aja soal kamu Di…’ gumam Reiki.


 


 


Tanpa disadari Zen memperhatikan gerak-gerik Reiki, ayah dari Claudia itu menghela nafasnya pelan, menyadari bahwa Reiki sepertinya belum menunjukan tanda-tanda bahwa dirinya akan menyerah soal putri kesayangannya.


 


 


 


 


 


 


 


 


Tak terasa cake yang tengah di panggang oleh Claudia pun sudah selesai, ia mengeluarkannya dari panggangan dan membiarkannya agar tidak terlalu panas. Setelah itu ia menyajikan teh dan kopi untuk Reiki juga Zen, ketiganya berbincang dengan kegiatan masing-masing, tiap minggu hal seperti ini selalu dilakukan oleh mereka.


 


 


 


 


“Enak gak kak?” tanya Claudia penasaran.


 


 


“Banget, enak banget Di…tapi sedikit agak manis sih kalo buat aku…” seru Reiki sambil tersenyum.


 


 


Claudia mengangguk, ia senang Reiki selalu memberikan kritik tanpa harus menyakiti perasaannya, lagi pula cake ini memang sedikit lebih manis dari biasanya.


 


 


 “Kalo menurut ayah gimana?”


 


 


“Sama kaya yang di bilang Reiki…”


 


 


Ah ya, Reiki dan Zen tak terlalu suka manis, kalau untuk ukuran mereka cake ini sedikit kelewat standar manis mereka.


 


 


Claudia tertawa ayahnya bertingkah seperti Reiki “Dih ayah mah sama-samain aja sih…” jawab gadis ini sambil tersenyum lebar.


 


 


“Kalo kak Aksa pasti su…ka…”


 


 


Seketika itu juga ruangan yang penuh dengan tawa itu senyap, Claudia langsung terlihat tak nyaman. Gadis ini menunduk, seperti menyadari bahwa dirinya mengucapkan sesuatu yang salah.


 


 


“Uhm aku mau ke dapur kotor dulu, permisi…” Claudia bergegas keluar dari dapur bersih yang memang bersebelahan dengan dapur kotor rumah Zen.

__ADS_1


 


 


 


 


Reiki meradang, apa jangan-jangan cake yang tengah dinikmatinya adalah kesukaan Aksa. Kenapa orang itu selalu menghancurkan segalanya, kenapa harus seperti ini. Raut wajah Reiki yang tadinya di penuhi dengan senyuman langsung berubah menjadi muram.


 


 


Zen disisi lain sekali lagi menghela nafas sambil memijat pangkal hidungnya, entah sampaikan ia harus melihat Reiki menyakiti dirinya sendiri karena tak ikhlas membiarkan putrinya bersama orang lain.


“Reiki…” ucap Zen sambil menepuk pundak Reiki pelan.


 


 


“Iya om…”


 


 


“Kamu liat kan ?”


 


 


 


 


Mata Reiki membelalak, ia baru tersadar bahwa Zen adalah seseorang yang sensitive soal keadaan sekitarnya sama persis dengan Claudia. Ia menunduk dan berusaha meyakinkan pamannya itu bahwa semuanya baik-baik saja.


 


 


“Om…” ucap Reiki sambil berusaha tersenyum.


 


 


Zen menggelengkan kepala, ia sebenarnya ingin sekali menghentikan apa yang tengah dilakukan oleh Reiki, bagaimana pun Zen rasa sayang Zen kepada Reiki sudah seperti kepada anaknya sendiri. “Sampe kapan kamu mau pura-pura buta begini…” seru Zen.


 


 


Reiki yang mendengar apa yang diucapkan oleh Zen mengepalkan tangannya erat-erat, ia masih memaksakan untuk tersenyum.


 


 


“Reiki….Reiki ga ngerti maksud om…”


 


 


“Reiki !!…” Zen sedikit meninggikan suaranya, ia ingin Reiki sadar bahwa cintanya hanya akan berakhir dengan tragedi kalau-kalau ia memaksakan perasaannya pada Claudia.


 


 


“Yang Reiki tau, apa yang sekarang Reiki lakukan adalah hal yang terbaik untuk Claudia om…”


 


 


“Kamu mungkin tau yang terbaik untuk Claudia, tapi apa kamu tahu apa yang paling membuat ade bahagia?”


 


 


Reiki diam seribu Bahasa, ia tak ingin menyerah dan tak mungkin menyerah pada keadaan, ia yakin bahwa Claudia menyayanginya dengan tulus.


 


 


“Haaaah, yaudahlah. Berjuanglah Ki, om cuma gak mau liat kamu hidup dalam kepalsuan” seru Zen sambil berlalu pergi meninggalkan Zen.


 


 


 


 


 


 


Disisi lain Claudia membereskan semua kekacauan yang dimulainya. Entah kenapa disaat-saat seperti ini gadis itu justru mengingat masa lalu.


 


 


 


“Suapin aku de…” ujar Aksa sembari kembali bersikap imut.


“Eheheheeh duh duh udah de…sekarang maunya di suapin sama kamu…mau yaaa, kan aku lagi sakit”


 


 


Claudia menghela nafasnya panjang, bahkan tanpa disadarinya membuat makanan yang Aksa sukai, apa segitu rindunya ia dengan Aksa sampai-sampai tubuhnya sendiri ikut bergerak mengikuti memori dimasa lalu.


‘Apa aku harus pulang ke Indonesia setelah wisuda? Apa kalau aku pulang semuanya akan baik-baik aja?’ Claudia menundukan kepalanya, ia mulai ragu akan keputusannya untuk tak pulang.


 


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2