
“Muka lecek amat Di…kenapa lo?” tanya Alif pada Claudia, saat ini semua teman-teman Claudia tengah berkumpul di kantin. Jam istirahat siang memang selalu digunakan oleh teman-temannya itu untuk kumpul.
Claudia cuma bisa terdiam, melihat lurus dengan tatapan kosong, beberapa kali gadis cantik ini menghela nafasnya dengan berat, membuat semua teman-temannya khawatir.
Lain dengan Alif yang telah mendengar cerita dari Icha, ia cuma bisa mengerutkan dahi, sebenarnya Alif ingin bersikap netral tapi melihat temannya lesu begitu, entah kenapa dia jadi ingin mendukung Aksa.
“Hufft ga ngerti Lif” Claudia langsung melipat tangan diatas meja kantin, seraya menempelkan kepala diatas tangannya.
Alif sepertinya sadar, sejak pulang dari puncak Claudia terlihat lebih lesu daripada sebelumnya. Bukan cuma Alif namun yang lain juga, Shiva, Yudha, Icha, Melvin hingga Rima semuanya sadar bahwa Claudia yang mereka kenal sekarang telah berubah. Sahabat mereka itu tidak seceria biasanya.
“Lo ga ngerti apa gak mau ngerti Di, itu beda lho…Jujur sama diri aja kenapa sih? Ribet banget hidup lo Di” seru Alif sambil memainkan ponselnya.
Mendengar Alif menyatakan bahwa dirinya ribet, Claudia langsung mengangkat kepalanya sambil cemberut, tentu saja. “Heh Alif Rizki Adhitama, lo kejam banget sih jadi orang. Dengerin ya kalau hidup gw segampang itu, gw ga mungkin milih yang ribet kaya gini” tutur Claudia sambil mendengus kesal.
Bukannya tidak tahu kalau hidup Claudia itu sudah ribet bin ruwet, tapi sebenarnya kalau gadis itu mau jujur dan menerima perasaannya sendiri, hidup Claudia akan lebih mudah, itulah yang dipikirkan oleh Alif.
Shiva, Yudha, Melvin dan Rima tidak ingin banyak berkomentar, begitu pula Icha. Mereka merasa percuma jika ikut dalam perbincangan antara Alif dan Claudia, yang biasanya berujung dengan adu mulut. “Abisnya lo penyakit cari sendiri sih…” seru Alif dengan nada datar.
Claudia cuma bisa melirik Alif dengan wajah kesal. Masalahnya yang di bilang sahabatnya ini memang ada benarnya. Tapi mau bagaimana lagi, Claudia mana bisa menikah dengan kakaknya sendiri, walaupun mereka berdua tidak punya hubungan darah sama sekali “Alif please gw gak mau bercanda” seru Claudia kesal.
Sahabatnya itu mendengus, Alif kali ini benar-benar serius, menurutnya Claudia kini tengah membohongi dirinya sendiri. “Ente kira ane bercanda. Gini aja Di lo udah jelas cintanya sama bang Aksa, tapi lucunya lo malah iya iya aja dilamar sama bang Reiki. Itu apa namanya kalau bukan cari penyakit sendiri”
Kalau ditarik pangkal masalahnya mungkin lebih baik jika sejak awal Claudia tidak memilih siapapun, namun dia tidak bisa berpikir dengan benar. Apalagi alasannya kalau bukan karena Reiki menjanjikan untuk bisa bertemu dengan Zen, dan juga setelah mendengar semua kegilaan yang terjadi di keluarganya, rasanya cuma dengan Reiki saja hidup Claudia bisa sedikit menjadi lebih normal.
Claudia meradang, ia mengepalkan tangannya erat-erat. Semua yang dikatakan Alif ia paham benar maksudnya, namun semua sudah terlambat. Gadis ini harus bertanggung jawab atas pilihan hidupnya itu “Lif lo ga ngerti…” ucap Claudia sambil menunduk.
Alif langsung menatap menepuk pelan pundak sahabat karibnya itu, ia heran kenapa selalu saja sahabatnya tertarik mengambil jalan yang berliku ketimbang yang mudah.
Motto hidup Alif adalah ‘Hidup sudah sulit jangan makin dipersulit’ karena itulah ia tidak bisa memahami kemelut yang di hadapi sahabatnya.
“Yang gak ngerti itu lo Di, apa sih yang lo takutin? Omongan orang?” Alif berusaha bicara selembut mungkin, suatu hal yang bahkan membuat teman-temannya bingung.
__ADS_1
Bukan apa-apa, Alif terkenal selebor, semaunya sendiri dan juga nyablak. Ia tidak peduli orang tersinggung atau marah karena ucapannya, yang ia pedulikan adalah kebenaran dari ucapannya.
Lebih baik minum obat yang pahit ketimbang minum racun yang manis, itulah mengapa cara Alif yang persuasive pada Claudia saat ini adalah suatu kejadian yang langka.
Omongan sahabatnya seperti dentuman yang keras bagi Claudia. Dia tidak menampik bahwasannya ada ketakutan dengan omongan orang diluar sana, tepatnya ia takut perilakunya akan berdampak pada keluarganya.
“Kalo lo dengerin omongan orang mah ya Di, sampe lebaran monyet juga gak akan ada habisnya, ikutin aja kata hati lo” Alif kemudian menghela nafas kasar, terbesit rasa kasihan pada kawan masa kecilnya. Tubuh Claudia bahkan jadi lebih kurus daripada sebelumnya. Yang membuat Alif kesal, apa Reiki yang seorang dokter tidak menyadari semua perubahan pada diri Claudia?.
Bahkan dengan berat hati, teman-temannya terpaksa manggung tanpa Claudia, karena gadis ini memutuskan untuk keluar dari sekolah musik yang diikutinya bersama yang lain, tepat 3 hari sebelum hari-H. Sekali lagi bukan sesuatu yang wajar dilakukan oleh gadis itu, karena Claudia tidak suka melepas tanggung jawab begitu saja.
“Di, gw rasa yang dibilang sama Alif itu ada benernya sih” ujar Rima secara tiba-tiba, mulut gadis ini akhirnya tak tahan juga untuk berkomentar.
Claudia hanya menggeleng, ini sia-sia, pembicaraan ini semuanya sia-sia. Apa yang bisa ia lakukan, semua sudah berjalan seperti rencananya dia awal bersama Reiki.
“Lif, Rima…gw paham apa yang kalian omongin ke gw itu benar, dan sejujurnya hati gw juga ngerasain ada yang salah…tapi semua udah terlanjur, gak ada yang bisa di batalkan ataupun di undur lagi…” Air mata Claudia mulai mengalir, dia bukannya menyesal atas pilihannya, tapi lebih kearah bingung, apa yang harus ia lakukan untuk melupakan Aksa.
“Pertunangan gw sama ka Reiki….bakal dilaksanain setelah acara ulang tahun gw” seru Claudia sambil menunduk.
Shiva langsung menggenggam tangan Icha dan tersenyum kearahnya. Tangan Icha sudah sangat dingin, namun adik dari Alif itu masih berusaha untuk tersenyum manis. Entah masa depan seperti apa yang akan menghampiri teman-teman baiknya itu, Shiva cuma bisa memanjatkan doa kepada Tuhan.
Melvin disisi lain langsung menaruh gadget yang tengah dia mainkan, pemuda ini lantas dengan santai menyambung omongan teman-temannya.
“Terus kalo udah terlanjur dan gak bisa di undur, emangnya hidup lu berakhir bakalan berakhir Di?” jawab Melvin dengan santai.
“Oi wibu, kok lu ngomongnya gitu sih?!!” tukas Rima sambil mencubit Melvin.
“Lah sekarang gini aja, Claudia kan belum jadi istrinya bang Reiki ya bilang aja sama bang Reiki kalo lu belum bisa nerima dia sepenuhnya. Dengan kondisi begitu dia masih mau gak nerima lo sebagai calon istrinya?. Lu bilang juga Di sama dia, kalau lo cinta mati sama bang Aksa, udah gitu aja kelar, ribet banget sih idup lu. Kalo dia waras mah dia pasti mundur”
Melvin tahu bahwa Reiki adalah pria yang serakah jika sudah menyangkut tentang Claudia, jelas bagi Melvin bahwa Reiki tidak akan menyerahkan sahabatnya itu jika bukan Claudia sendiri yang pergi darinya.
Namun di hidup ini selalu menyimpan plot twist, tidak ada satu hal pun di dunia ini yang kepastiannya itu sampai 100%, selalu ada kemungkinan-kemungkinan lain yang bisa terjadi tiba-tiba.
__ADS_1
Karena itulah bisa saja walaupun kemungkinan Reiki pasrah adalah 99,9% mustahil terjadi, namun masih ada celah 0.1% untuk menghentikan langkah dari Reiki memaksakan perasaannya pada Claudia.
“Eh uler keket, kalau gitu jatohnya kaya Claudia mainin ka Reiki dong!!” seru Rima sambil melotot kearah Melvin.
Tapi Melvin seakan tidak peduli, buatnya cuma pernikahan yang bisa membuat orang terikat, bukan hubungan yang belum dijanjikan dihadapan Tuhan.
Selama janur kuning belum melengkung berarti semua masih bisa memilih yang terbaik. Sakit memang tapi ya begitulah seharusnya, kehidupan manusia memang tidak ada yang pasti , itulah yang dianut oleh Melvin.
“Gak lah, hidup ini kan pilihan. Kadang ada salahnya sebelum makin parah ya mundur aja. Dengerin gw Di, kalau lu ngerasa hati lu bilang gak seharusnya begini, berhenti sebelum semuanya semakin terlambat. Semua itu resiko yang harus di jalanin, hidup ini emang lebih banyak pahitnya ketimbang manisnya, jadi jangan manja dan ngoyo, cuma karena pasangan yang bahkan belum direstui oleh Tuhan Di…” ucap Melvin santai.
Mendengar ucapan Melvin, dan Alif entah mengapa Claudia menjadi lebih tenang, ia memang harus jujur pada Reiki. Alif yang mendengar apa yang dikatakan oleh sahabatnya itu juga mengangguk tanda setuju.
“Gw bakalan bilang sama Ka Reiki, makasih ya semuanya…” Claudia tersenyum manis, ia sangat senang karena dirinya punya begitu banyak orang yang peduli.
Yudha menepuk pundak Melvin sambil memberikan jempolnya, membuat semua orang mengikuti Yudha kecuali Rima yang masih melirik jutek kepada Melvin. “Numben Vin lu jadi bijak….” Tukas Yudha menambahkan,
“Jadi Melvin teguh yak, zupeeer zekali saudara ku…” seru Shiva sambil tertawa.
Rima tidak senang, entah kenapa gadis ini sepertinya punya dendam terpendam dengan Melvin. Apalagi setelah insiden jidatnya terantuk helm custom milik Melvin, Rima makin kesal saja jadinya. “Eleh, paling dia kalah pas ngebid action figure yang dia mau di situs Jepang sana…”
“Lha kok lu tau Ma, kalo gw baru kalah ngebid kemaren?” tanya Melvin bingung.
Beberapa saat mereka semua hening, hingga Alif dengan segala kearifannya mulai meracau. “Eaaaa udah kawin aja lu bedua, cocok” serunya sambil tertawa, akhirnya semua juga jadi ikut terbahak.
Dilain pihak Melvin dan Rima secara bersama-sama menjitak Alif sambil berteriak “DIAM KAU PENGIKUT KERANG AJAIB!!!!”
Suasana yang ceria itu sesaat membuat beban yang dirasa Claudia menguap begitu saja, gadis ini tertawa tanpa beban. Hingga ponsel gadis ini berbunyi, tanda ada sebuah pesan masuk.
Claudia mengerenyitkan dahinya ketika melihat siapa yang mengirimkan pesan, ia lantas membuka pesan tersebut.
Tak butuh waktu lama, wajah Claudia memucat. Icha yang memperhatikan langsung pindah ke samping Claudia.
__ADS_1
“Kamu kenapa Di?…” ucap Icha dengan wajah yang sekarang juga jadi pucat. Kedua gadis ini saling bertatapan, tak percaya dengan apa yang mereka lihat.