
Silvana dan ibunya kini sedang berbelanja dan membeli beberapa keperluan, ini hari sabtu dan dia tidak ada jadwal praktek, niatan awalnya dia ingin mengajak Claudia, tapi Aksa memohon agar putrinya itu ditinggal saja, apalagi Aksa sedang minta di buatkan kudapan, jadilah mereka pergi berdua saja.
"Bu, ini ada brokoli, beli aja kali ya?" tanya Silvana pada ibunya.
"Jangan ah, ade ga suka lho, ganti pokchoy aja sama jamur enoki aja dia kan suka tuh"
"Oh yaudah, Ana cari dulu"
Silvana pun mencari jamur enoki kesukaan putrinya itu, dia berpikir mungkin hari ini masak sukiyaki saja. Saat ingin mengambil sayurannya itu, ternyata ada yang mengambil barang yang sama dengannya. Silvana pun melihat kesampingnya.
"Ana?" Sebut perempuan dengan hijabnya itu.
"Keiko..." jawab Ana terkejut.
"Ya ampun kamu apa kabar? Kok kita bisa ketemu disini ya hahaha, tau gitu aku bawain oleh-oleh buat kamu yang udah kusiapin"
"Aku baik, kamu gimana Kei?. Emang kamu abis darimana??" tanya Silvana heran.
"Reiki gak kasih tau emangnya? Aku baru pulang dari dubai nemenin mas Satyo, karena deket jadi sekalian aja aku umroh" jelas Keiko.
"Iki ga ada kasih tau aku, padahal hampir 3 minggu lalu dia kerumah aku lho, ngurusin Claudi"
Dari jauh Nesya melihat anaknya sedang berbincang dengan seorang wanita, dari sosoknya Nesya tidak asing. Ia pun mendekati kedua orang yang sedang berbincang itu, benar saja ia kenal dengan wanita berhijab pink pastel tersebut. Ia adalah Keiko Alvaro, ibu dari dokter Reiki.
"Lho ada Keiko ? apa kabar kamu nak?" tanya Nesya sambil tersenyum.
"Ya ampun ibu, baik allhamdulillah" jawab Keiko sambil menyium tangan Nesya.
Silvana tersenyum melihat keduanya, ia dan Keiko memang sangat dekat, bahkan kalo ada orang yang bisa dia sebut sahabat, ga lain dan ga bukan itu adalah Keiko.
"Eh mendingan terusin ngobrolnya di luar aja yuk, sekarang belanja dulu" sambung Ana.
"Yuk, aku kangen banget deh sama kamu Na, sekalian mau nanyain kabar calon mantu aku" jawab Keiko seraya menarik tangan Silvana untuk ia gandeng.
30 menit kemudian mereka menyelesaikan belanjanya, baik Silvana dan Keiko saat ini sudah di luar supermarket dan mencari café di dalam mall untuk mengobrol. Setelah menemukannya mereka langsung duduk dan memesan minuman.
__ADS_1
"Aku padahal niatannya nanti malem mau main lho ke rumah kamu Na" jelas Keiko.
"Serius nih ?" tukas Silvana, sambil meminum teh tarik yang baru saja di antarkan pelayan café.
"Iya udah kangen sama gudeg buatannya ibu sebenernya hahaha" jawab Keiko sambil tertawa kecil kearah Nesya.
"Bisa aja kamu nduk, Na ibu mau ke toko obat dulu sebentar situ ya...Kei ibu tinggal dulu" Nesya bergegas pergi ke toko obat, karena vitamin dan obat jantungnya sudah hampir habis jadi dia berpikir untuk menebusnya di toko obat tersebut.
"Iya bu" jawab Silvana, sedangkan Keiko hanya mengangguk sambil tersenyum manis kearah ibu sahabatnya tersebut.
Mereka berdua menatap kearah Nesya yang masih terlihat segar bugar, lalu kembali menikmati minuman mereka yang sudah tersedia di meja.
"Ibu makin muda aja ya Na? hahaha" seru Keiko sambil menyendok es cendolnya.
"Hahaha iya, tau tuh ibu makin aktif aja. Oh iya kamu kapan balik dari Umroh Kei?"
"Baru aja 3 hari lalu"
Silvana hanya ber-oh ria, dan setelahnya menanyakan bagaimana pengalaman Keiko selama beribadah disana, lalu bagaimana perasaannya selama berada disana. Silvana menanyakannya dengan sangat antusias, karena memang ia belum pernah pergi umroh.
Keiko pun tak kalah semangat bercerita tentang apa yang terjadi selama beribadah disana. Setelah selesai bercerita soal umrohnya, Keiko pun langsung menanyakan sesuatu yang membuatnya bingung selama beberapa hari ini.
"Emang kenapa Kei?. Kayanya ga ada yang aneh deh, biasa aja" jawab Silvana santai, karena saat Reiki datang kerumahnya memang tidak ada gerak gerik yang aneh dari Reiki.
"Hmmm masa sih?. Dia terus maksa aku sama mas Satyo buat ngelamar Claudia"
"Lho kok bisa?, Katanya Iki mau nunggu Claudi lulus dulu" Silvana kaget mendengar apa yang dikatakan Keiko, sepengetahuannya Reiki bukan orang yang plin plan, harus ada alasan yang kuat agara Reiki mengubah keputusannya. Keputusan yang Reiki sampaikan dulu adalah dia ingin menikahi Claudia setelah ia menamatkan sekolahnya, lalu kenapa jadi berubah tepat setelah ia kembali dari rumah Silvana.
"Nah itu, ini juga aku mau main ke rumah mu karena mau diskusiin dulu sama kamu, kan ga enak main nyelonong aja ke rumah kamu ga kabarin dulu, tau tau lamar Claudia" jelas Keiko.
"Aku ga tau sih Kei, cuman kalo emang Reiki serius mau ngelamar Claudia, kamu harus tanya Zen dulu" Ketika melamar seorang anak perempuan, tentunya harus ada informasi kepada kedua orang tuanya, walaupun Silvana tidak mau bertemu dengan mantan suaminya itu, ia paham hal ini bukan sesuatu yang bisa ia putuskan dengan Bram.
"Aku udah telepon Zen, kata dia minggu depan dia ke Indonesia. Kamu udah tau belum Na?" jelas Keiko.
Silvana yang sedang menggenggam gelasnya langsung menunduk, mantan suaminya mau datang ke Indonesia setelah 10 tahun lebih tak pernah kembali.
__ADS_1
"Ga tau Kei, aku kan udah putus kontak sama dia" jelas Silvana berusaha berwajah setenang mungkin.
"Maaf Na, aku kira kamu udah mulai berhubungan lagi sama Zen. Soalnya dari yang aku denger, sebelum kamu nikah kamu ngirim Claudia ke Singapura tempatnya tante Galina kan?"
"Iya aku emang ngirim Claudia ke Singapura, tapi itu bukan karena aku izinin Zen ketemu sama Claudia" jelas Silvana.
Setelah bercerai dengan Zen, Silvana benar benar menutup pintu hatinya ia tidak mau mendengar apapun tentang mantan suaminya itu, yang jelas ia pun menutup pintu komunikasinya dengan sang mantan. Silvana belum bisa menerima apa yang pernah terjadi Selam 8 tahun pernikahannya.
"Aku tau sih kamu sakit hati banget sama Zen, tapi kamu ga bisa gini terus lho Na. Jauhin Claudia dari ayahnya malah akan bikin Claudia makin pengen pergi dari kamu, coba kamu longgarin dikit aja deh, biarin Claudia ketemuan sama Zen, biar cuma sebentar"
Keiko tahu persis luka hidup sahabatnya ini, dia juga tau bagaimana kisah hidup Silvana, dari dia di tinggal nikah oleh Bram, sampai Zen yang datang kekehidupan Silvana. Tak ada yang tertinggal sedikit pun, karena Silvana tak pernah absen bercerita pada Keiko, apalagi setelah Aini pergi dari rumah dan tinggal bersama Bram, ada masanya Silvana tinggal di apartemen milik Keiko yang saat itu sudah punya Reiki. Satyo, suami Keiko pun malah menyuruh Silvana untuk tinggal bersama Keiko di apartemen, karena dia jarang pulang ke rumah. Jadi kalau Satyo pulang, jadilah Silvana tinggal sendiri di apartemen milik sahabatnya itu.
"Kei, aku takut. Harta ku di dunia ini cuma Claudia, aku cuma punya dia. Kalau dia ninggalin aku juga, aku ga tau masih bisa hidup apa gak" seru Silvana cemas, sedikit air matanya tumpah. Seumur hidupnya ia tak pernah membayangkan hidup tanpa putri kecilnya itu.
"Aku paham Na, yaudah gini aja, coba kamu pikirin pelan-pelan deh saran aku tadi. Tapi kamu harus tau, mau gak mau Claudia pasti harus ketemu sama ayahnya, gimana pun juga dia anak perempuan, kalau nikah butuh wali kan" jelas Keiko seraya menggenggam tangan sahabatnya itu.
"Uhm iya Kei..." tukas Silvana sambil menghapus air matanya dengan tisu.
"Minggu depan kan Zen dateng tuh, kita ketemuan aja ber lima gimana?"
"Nanti malem aku kabarin deh Kei, aku cerita dulu sama suami ku"
"Ok. Nanti jam 7an aku kerumah ya Na...aku mesti balik dulu nih, salamin sama ibu ya" ujar Keiko sambil melihat handphonenya, ternyata ia sudah di telepon beberapa kali oleh Satyo.
"Siap siap, aku tunggu lho ya..." seru Ana, mereka pun berpelukan seraya pamitan satu dengan lainnya.
"Iya Na...yaudah duluan ya..."
"Ati ati Kei" seru Silvana sambil melambaikan tangannya.
Apa yang dikatakan oleh Keiko sepertinya mengena kehati Silvana. Ia memikirkan semuanya dengan serius, memang tidak mungkin membuat Claudia tak bertemu dengan Ayahnya seumur hidup. Akan ada masa dimana Claudia memang membutuhkan ayahnya. Namun Ana masih ragu, dengan apa yang harus ia lakukan.
Saat ia ragu seperti ini cuma Bram yang bisa menjadi tempatnya bertanya, ia pun langsung menghubungi Bram.
"Halo Mas...gak, aku mau tanya kamu bisa ketemu aku di café deket kantor mu ga, ada yang harus aku omongin penting...ya...yaudah aku kesana sekarang, ok mas" Silvana menutup teleponnya itu.
__ADS_1