ME VS MY BROTHER

ME VS MY BROTHER
Episode 45


__ADS_3

Hari berganti hari, terus begitu hingga


terlewatlah 1 tahun yang paling berat bagi Aini.


1 bulan setelah tes yang menyatakan bahwa


dia tak bisa mengandung. Indah ibu mertuanya, datang meminta Bram menceraikan


Aini.


“Mami apa-apaan…” Bram marah pada ibunya,


yang terus memaksanya menikah lagi dan segera menceraikan Aini.


“Menurut kamu apalagi, istri kamu itu gak


bisa kasih keluarga kita keturunan, terus mau di biarin aja gitu?. Coba aja


kamu dulu gak terjerat sama jebakan perempuan satu ini, kamu sama Silvana pasti


udah bahagia sekarang” Indah menunjuk kearah Aini yang kini menahan tangisnya.


Ibu mertua itu hampir tiap minggu datang


kerumah, dan secara terang-terangan menyuruh Bram untuk berpisah dengan Aini,


bahkan beberapa kali wanita itu membawa perempuan, yang entah darimana asalnya.


Bram pasti mengamuk ketika ibunya berlaku


seperti itu. Namun Indah tidak menyerah, dia terus meneror Aini untuk berpisah


dari putranya itu.


“Mi…udahlah…aku nikahin Aini karena aku


cinta sama dia, sampe kapan sih mami mau bawa-bawa…..Ana?” seru Bram dengan


nada bicara yang berubah saat menyebut nama SIlvana.


Indah langsung menyadari kalo ada


penyesalan di hati Bram soal Silvana, dia merasa anaknya itu terlalu bodoh, dia


tahu sejak awal juga punya perasaan terhadap Silvana, namun karena sudah


terlalu nyaman dengan keberadaan gadis itu, pada akhirnya Bram tidak sadar.


“Sampai mami mati pun mami udah bilang,


mami gak bisa ridho kamu nikah sama perempuan ini, liat dia apa yang bisa dia


kasih ke kamu hah?!” sudahlah Silvana tidak jadi mantunya, sekarang dia


terancam tidak punya cucu kandung, tentu saja ini membuat Indah semakin


membenci menantunya itu.


Aini langsung menangis, situasi ini juga


bukannya tidak berat. Ia terus berdoa dan berusaha, agar bisa memiliki keturunan,


akan tetapi saat mencari pengobatan di tempat lain hasilnya pun tetap sama.


Bram tahu ini sangat berat bagi istrinya


itu, dan dia memang menyayangi Aini. Walaupun jujur saja beberapa bulan


terakhir dia sempat kepikiran Silvana, tapi itu sudah jadi masa lalunya, harus


tutup buku.


Mantan tunangannya itu pun sebentar lagi


jadi istri orang, sudah bahagia di jalan masing-masing.


“Mami udah cukup, Bram mohon mi…” seru


Bram sambil memeluk pundak Aini.


“Cukup kamu bilang?, heh Aini sadar gak


kamu ini semua karena apa hah?!...kamu itu kena karma, perempuan gak punya hati


yang bisa-bisanya ngambil tunangan saudara sendiri, yang sudah menampung kamu


saat susah. Tuhan murka tau gak sama kamu?!” seru Indah sinis.


Aini mengepalkan tangannya, dia juga tau


kalo dia salah, tapi mencintai seseorang juga tidak bisa diatur.


Lalu sejak awal dia sudah menolak untuk


menikahi Bram, tapi pada akhirnya sepupunya itu sendiri yang memaksa untuk


menikahkan dirinya dengan Bram.


“Ma, udah cukup. Aku tau aku salah, tapi


sejak awal mama tau aku udah nolak buat menikah dengan mas Bram, jadi aku mohon


jangan terus salahin aku ma….” Aini menangis sejadi-jadinya, ia merasa terlalu


dipojokkan, oleh ibu mertuanya itu.


Indah meradang, bisa-bisanya Aini


menyalahkan Silvana-nya. Gadis itu satu-satunya orang luar yang dianggap Indah


sebagai darah dagingnya sendiri.


Wanita itu berdiri dari duduknya lalu


menampar Aini dengan sekuat tenaga.


Aini yang memang badan dan hatinya sudah


remuk, dengan mudah terjatuh dari kursi.


Melihat istrinya di tampar oleh ibunya

__ADS_1


sendiri, Bram langsung membentak ibunya, dia tidak suka dengan Indah yang


sangat mudah main tangan pada Aini.


“MAMI!!!”


“Sekali lagi, sekali lagi kamu bilang


kalau semua ini seakan-akan salah anak ku, Silvana. Habis kamu sama aku nanti…”


Aini hanya memegangi pipinya yang sakit


setelah di tampar oleh Indah, perempuan ini tidak fokus.


Perempuan itu masih ingat saat Silvana


angkat kaki dari rumahnya, pasca Aini melaksanakan ijab kabul.


Silvana hanya diam, lalu mengucapkan


semoga Aini berbahagia, setelahnya sepupunya itu langsung membereskan


barang-barangnya dan pamit kerumah Keiko.


Aini juga tahu, akan sulit mengucapkan


selamat sambil tersenyum, padahal hati tengah remuk. Bukan perkara mudah memang


bagi Silvana, untuk menerima pernikahan Bram dengannya, tapi toh itu juga tetap


menjadi jalan hidup yang mereka pilih.


Hanya saja sepupunya meminta agar baik


Aini maupun Bram, tidak lagi mencari-cari dan menghubungi dirinya. Dia ingin


fokus menata hati dan masa depannya, itulah yang dikatakan oleh Silvana.


“Tapi itu kenyataannya ma, sejak awal aku


gak pernah memaksa mas Bram menikahi aku ma !!, Ana sendiri yang menyerahkan


mas, aku gak pernah merebut….” Aini masih berusaha membela diri, dia tidak


pernah ingin merusak kebahagiaan orang lain.


 Indah dengan cepat menyiramkan teh yang ada


didepannya, tepat kewajah Aini. Tentu Bram yang ada disamping istrinya itu juga


terkena siraman dari maminya.


“MAMI UDAH MI…MAMI UDAH KETERLALUAN”


bentak Bram pada ibunya, kelakuan Indah sudah kelewat batas.


“Kamu bilang gak pernah merebut? Dasar


perempuan gak tau diri…kamu dari awal main belakang sama anak bodoh ini, kamu


bilang ga merebut? Otak mu itu di buat dari apa hah?!. Dan kamu Bram, OTAK ITU


saat ini bahkan kalian belum minta maaf kan sama Silvana !!!” seru Indah.


Mata Aini membelalak, ia seketika


mengingat semua omongan orang, tentang dia yang terang-terangan merebut Bram


dari sepupunya sendiri.


Tubuh Aini bergetar hebat, dia menutup kedua


kupingnya sambil menggeleng-gelengkan kepala beberapa kali. Bram semakin


mempererat genggaman tangannya pada Aini. Ya istrinya itu terguncang.


“Bram dengerin mami, kalau kamu tahu


pengorbanan Silvana saat kamu belum siuman, mami yakin pasti kamu akan lebih


memilih Ana, ketimbang perempuan jalang ini” Indah kembali menunjuk-nunjuk ke


arah Aini.


Nasi sudah jadi bubur, Bram memilih Aini


ketimbang tunangannya sejak kecil itu, apalagi yang harus di sesali.


Lelaki ini sudah muak, saat ibunya


berkali-kali mencoba membuat Bram berpikir ulang tentang Silvana. Ia geram,


karena ibunya tidak kunjung menerima kenyataan.


“Mami, aku mohon udah mi…aku gak mau jadi


anak durhaka yang terus membentak maminya sendiri…” Bram menunduk, ia berusaha


untuk tidak menaikan suaranya, tapi melihat perlakuan kejam dari ibunya pada


sang istri apalagi yang bisa di lakukannya.


Aini disisi lain, juga sudah muak dengan


semua omongan dari mertua dan keluarga besar Bram, sejujurnya dia juga berpikir


untuk berpisah dengan suaminya itu, namun dirinya terlalu takut.


Istri dari Bram itu sudah tidak punya


siapa pun, satu-satunya keluarga yang dia miliki hanya Nesya, tapi setelah apa


yang terjadi pada mereka bertiga, walaupun Nesya masih membuka pintu rumahnya,


mana mungkin Aini punya muka untuk minta tolong kepada bibinya itu.


Indah meradang, baginya ketika Bram


memilih melakukan kesalahan dengan menikahi Aini ketimbang Silvana, untuk Indah


putranya itu sudah jadi anak durhaka.

__ADS_1


 “Sekarang


kamu bilang gak mau jadi anak durhaka, selama 7 tahun lebih kemana aja kamu”


“Aku sama Ana itu gak berjodoh mi, tolong


pahamin itu…”


“Kalian itu berjodoh mami yakin…” Indah


mendekati Bram, meraih tangan anaknya itu dengan perlahan, ia ingin Bram


secepatnya sadar, dan meninggalkan Aini.


“Mi aku udah memilih Aini, dan yang


dibilang sama istri aku itu bener mi. Silvana sendiri yang meminta kami


menikah…” di dalam suara Bram terdengar sedikit kesedihan, ia merasa tidak rela


Ana menikah. Ya, kita akan tahu seberapa besar cinta dan kasih sayang kita pada


seseorang, setelah orang itu pergi dari kita, itu hal yang wajar.


Apa yang dikatakan oleh Bram seperti petir


disiang bolong bagi Indah. Silvana sudah dilamar orang?.


Seketika emosi Indah kembali memuncak,


hancur sudah harapannya menyatukan Ana dan Bram, berakhir bahkan sebelum di


mulai.


“ITU SEMUA KARENA KAMU GAK TAHU BETAPA


BESAR RASA CINTANYA ANA BUAT KAMU BRAM !!!”


Bagi Indah, Silvana yang sudah di kenalnya


sejak kecil itu, bagaikan putri kandungnya. Terlebih setelah kejadian Silvana


menyerahkan Bram, karena ingin melihat putra dari Indah itu bahagia, hati


wanita itu benar-benar semakin menginginkan bekas calon menantunya itu.


“Asal kamu tahu ya, gak mudah buat seorang


perempuan menyerahkan orang yang dia cintai kepada perempuan lain, tanya Aini


sekarang, dia ga bisa kasih kamu keturunan, bisa gak dia berkorban dan


meninggalkan kamu seperti halnya Silvana?!”


Aini langsung menarik lengan Bram, benar


memang yang dikatakan oleh ibu mertuanya itu. Dia nampaknya tak akan sanggup


berpisah dengan Bram, tidak seperti Ana, yang rela berkorban bagi orang yang ia


cintai.


 “Udah


cukup mi bawa-bawa Silvana, Bram mohon sama mami, terimalah Aini. Gak ada


gunanya lagi mi sekarang ini kita sebut-sebut Ana. Biarin Bram bahagia sama


Aini…” Bram memohon kepada ibunya itu, dengan sungguh-sungguh.


Apa hasilnya, tentu saja penolakan dari


Indah. Baginya harga mati agar anak semata wayangnya itu menceraikan Aini.


“Mama gak akan berhenti bawa nama Ana,


mami masih pengen kamu nikah sama dia”


Air mata?, sudah habis. Apalagi yang bisa


di curahkan kecuali perasaan. Di titik ini Aini menyerah, dia sudah tahu sebaik


apapun orangnya, akan tetap jelek di mata Indah.


Yang dinginkan oleh mertuanya itu cuma


Ana, tidak ada lagi.


Bram sudah kesal, dia sudah berusaha


membujuk ibunya dengan cara baik-baik. Istrinya itu juga, terus menerus


berjuang mengambil hati mertuanya, namun sekali lagi nihil hasil.


“GAK BISA MI, WALAUPUN BRAM INGIN BERSAMA


ANA SEKALI PUN, PINTU ITU UDAH TERTUTUP, SILVANA SEBENTAR LAGI MENIKAH DENGAN


ORANG LAIN!!!” Bram berteriak sekeras-kerasnya, hingga membuat ibu dan istrinya


bahkan sampai terperanjat.


Seketika ruangan yang sedari tadi ramai


perdebatan tersebut langsung hening,


Tapi tak lama, karena setelahnya Indah


mendapatkan panggilan telepon.


“Halo….APA?!!!! Di rumah sakit mana. Iya


saya segera kesana…” Suara dan raut wajah Indah yang panik, membuat Bram


khawatir.


“Bram ganti bajumu, om mu kecelakaan…”


seru Indah, dan langsung membuat Bram dan dirinya bergegas menuju ke rumah


sakit.

__ADS_1


__ADS_2