
Hari berganti hari, terus begitu hingga
terlewatlah 1 tahun yang paling berat bagi Aini.
1 bulan setelah tes yang menyatakan bahwa
dia tak bisa mengandung. Indah ibu mertuanya, datang meminta Bram menceraikan
Aini.
“Mami apa-apaan…” Bram marah pada ibunya,
yang terus memaksanya menikah lagi dan segera menceraikan Aini.
“Menurut kamu apalagi, istri kamu itu gak
bisa kasih keluarga kita keturunan, terus mau di biarin aja gitu?. Coba aja
kamu dulu gak terjerat sama jebakan perempuan satu ini, kamu sama Silvana pasti
udah bahagia sekarang” Indah menunjuk kearah Aini yang kini menahan tangisnya.
Ibu mertua itu hampir tiap minggu datang
kerumah, dan secara terang-terangan menyuruh Bram untuk berpisah dengan Aini,
bahkan beberapa kali wanita itu membawa perempuan, yang entah darimana asalnya.
Bram pasti mengamuk ketika ibunya berlaku
seperti itu. Namun Indah tidak menyerah, dia terus meneror Aini untuk berpisah
dari putranya itu.
“Mi…udahlah…aku nikahin Aini karena aku
cinta sama dia, sampe kapan sih mami mau bawa-bawa…..Ana?” seru Bram dengan
nada bicara yang berubah saat menyebut nama SIlvana.
Indah langsung menyadari kalo ada
penyesalan di hati Bram soal Silvana, dia merasa anaknya itu terlalu bodoh, dia
tahu sejak awal juga punya perasaan terhadap Silvana, namun karena sudah
terlalu nyaman dengan keberadaan gadis itu, pada akhirnya Bram tidak sadar.
“Sampai mami mati pun mami udah bilang,
mami gak bisa ridho kamu nikah sama perempuan ini, liat dia apa yang bisa dia
kasih ke kamu hah?!” sudahlah Silvana tidak jadi mantunya, sekarang dia
terancam tidak punya cucu kandung, tentu saja ini membuat Indah semakin
membenci menantunya itu.
Aini langsung menangis, situasi ini juga
bukannya tidak berat. Ia terus berdoa dan berusaha, agar bisa memiliki keturunan,
akan tetapi saat mencari pengobatan di tempat lain hasilnya pun tetap sama.
Bram tahu ini sangat berat bagi istrinya
itu, dan dia memang menyayangi Aini. Walaupun jujur saja beberapa bulan
terakhir dia sempat kepikiran Silvana, tapi itu sudah jadi masa lalunya, harus
tutup buku.
Mantan tunangannya itu pun sebentar lagi
jadi istri orang, sudah bahagia di jalan masing-masing.
“Mami udah cukup, Bram mohon mi…” seru
Bram sambil memeluk pundak Aini.
“Cukup kamu bilang?, heh Aini sadar gak
kamu ini semua karena apa hah?!...kamu itu kena karma, perempuan gak punya hati
yang bisa-bisanya ngambil tunangan saudara sendiri, yang sudah menampung kamu
saat susah. Tuhan murka tau gak sama kamu?!” seru Indah sinis.
Aini mengepalkan tangannya, dia juga tau
kalo dia salah, tapi mencintai seseorang juga tidak bisa diatur.
Lalu sejak awal dia sudah menolak untuk
menikahi Bram, tapi pada akhirnya sepupunya itu sendiri yang memaksa untuk
menikahkan dirinya dengan Bram.
“Ma, udah cukup. Aku tau aku salah, tapi
sejak awal mama tau aku udah nolak buat menikah dengan mas Bram, jadi aku mohon
jangan terus salahin aku ma….” Aini menangis sejadi-jadinya, ia merasa terlalu
dipojokkan, oleh ibu mertuanya itu.
Indah meradang, bisa-bisanya Aini
menyalahkan Silvana-nya. Gadis itu satu-satunya orang luar yang dianggap Indah
sebagai darah dagingnya sendiri.
Wanita itu berdiri dari duduknya lalu
menampar Aini dengan sekuat tenaga.
Aini yang memang badan dan hatinya sudah
remuk, dengan mudah terjatuh dari kursi.
Melihat istrinya di tampar oleh ibunya
__ADS_1
sendiri, Bram langsung membentak ibunya, dia tidak suka dengan Indah yang
sangat mudah main tangan pada Aini.
“MAMI!!!”
“Sekali lagi, sekali lagi kamu bilang
kalau semua ini seakan-akan salah anak ku, Silvana. Habis kamu sama aku nanti…”
Aini hanya memegangi pipinya yang sakit
setelah di tampar oleh Indah, perempuan ini tidak fokus.
Perempuan itu masih ingat saat Silvana
angkat kaki dari rumahnya, pasca Aini melaksanakan ijab kabul.
Silvana hanya diam, lalu mengucapkan
semoga Aini berbahagia, setelahnya sepupunya itu langsung membereskan
barang-barangnya dan pamit kerumah Keiko.
Aini juga tahu, akan sulit mengucapkan
selamat sambil tersenyum, padahal hati tengah remuk. Bukan perkara mudah memang
bagi Silvana, untuk menerima pernikahan Bram dengannya, tapi toh itu juga tetap
menjadi jalan hidup yang mereka pilih.
Hanya saja sepupunya meminta agar baik
Aini maupun Bram, tidak lagi mencari-cari dan menghubungi dirinya. Dia ingin
fokus menata hati dan masa depannya, itulah yang dikatakan oleh Silvana.
“Tapi itu kenyataannya ma, sejak awal aku
gak pernah memaksa mas Bram menikahi aku ma !!, Ana sendiri yang menyerahkan
mas, aku gak pernah merebut….” Aini masih berusaha membela diri, dia tidak
pernah ingin merusak kebahagiaan orang lain.
Indah dengan cepat menyiramkan teh yang ada
didepannya, tepat kewajah Aini. Tentu Bram yang ada disamping istrinya itu juga
terkena siraman dari maminya.
“MAMI UDAH MI…MAMI UDAH KETERLALUAN”
bentak Bram pada ibunya, kelakuan Indah sudah kelewat batas.
“Kamu bilang gak pernah merebut? Dasar
perempuan gak tau diri…kamu dari awal main belakang sama anak bodoh ini, kamu
bilang ga merebut? Otak mu itu di buat dari apa hah?!. Dan kamu Bram, OTAK ITU
saat ini bahkan kalian belum minta maaf kan sama Silvana !!!” seru Indah.
Mata Aini membelalak, ia seketika
mengingat semua omongan orang, tentang dia yang terang-terangan merebut Bram
dari sepupunya sendiri.
Tubuh Aini bergetar hebat, dia menutup kedua
kupingnya sambil menggeleng-gelengkan kepala beberapa kali. Bram semakin
mempererat genggaman tangannya pada Aini. Ya istrinya itu terguncang.
“Bram dengerin mami, kalau kamu tahu
pengorbanan Silvana saat kamu belum siuman, mami yakin pasti kamu akan lebih
memilih Ana, ketimbang perempuan jalang ini” Indah kembali menunjuk-nunjuk ke
arah Aini.
Nasi sudah jadi bubur, Bram memilih Aini
ketimbang tunangannya sejak kecil itu, apalagi yang harus di sesali.
Lelaki ini sudah muak, saat ibunya
berkali-kali mencoba membuat Bram berpikir ulang tentang Silvana. Ia geram,
karena ibunya tidak kunjung menerima kenyataan.
“Mami, aku mohon udah mi…aku gak mau jadi
anak durhaka yang terus membentak maminya sendiri…” Bram menunduk, ia berusaha
untuk tidak menaikan suaranya, tapi melihat perlakuan kejam dari ibunya pada
sang istri apalagi yang bisa di lakukannya.
Aini disisi lain, juga sudah muak dengan
semua omongan dari mertua dan keluarga besar Bram, sejujurnya dia juga berpikir
untuk berpisah dengan suaminya itu, namun dirinya terlalu takut.
Istri dari Bram itu sudah tidak punya
siapa pun, satu-satunya keluarga yang dia miliki hanya Nesya, tapi setelah apa
yang terjadi pada mereka bertiga, walaupun Nesya masih membuka pintu rumahnya,
mana mungkin Aini punya muka untuk minta tolong kepada bibinya itu.
Indah meradang, baginya ketika Bram
memilih melakukan kesalahan dengan menikahi Aini ketimbang Silvana, untuk Indah
putranya itu sudah jadi anak durhaka.
__ADS_1
“Sekarang
kamu bilang gak mau jadi anak durhaka, selama 7 tahun lebih kemana aja kamu”
“Aku sama Ana itu gak berjodoh mi, tolong
pahamin itu…”
“Kalian itu berjodoh mami yakin…” Indah
mendekati Bram, meraih tangan anaknya itu dengan perlahan, ia ingin Bram
secepatnya sadar, dan meninggalkan Aini.
“Mi aku udah memilih Aini, dan yang
dibilang sama istri aku itu bener mi. Silvana sendiri yang meminta kami
menikah…” di dalam suara Bram terdengar sedikit kesedihan, ia merasa tidak rela
Ana menikah. Ya, kita akan tahu seberapa besar cinta dan kasih sayang kita pada
seseorang, setelah orang itu pergi dari kita, itu hal yang wajar.
Apa yang dikatakan oleh Bram seperti petir
disiang bolong bagi Indah. Silvana sudah dilamar orang?.
Seketika emosi Indah kembali memuncak,
hancur sudah harapannya menyatukan Ana dan Bram, berakhir bahkan sebelum di
mulai.
“ITU SEMUA KARENA KAMU GAK TAHU BETAPA
BESAR RASA CINTANYA ANA BUAT KAMU BRAM !!!”
Bagi Indah, Silvana yang sudah di kenalnya
sejak kecil itu, bagaikan putri kandungnya. Terlebih setelah kejadian Silvana
menyerahkan Bram, karena ingin melihat putra dari Indah itu bahagia, hati
wanita itu benar-benar semakin menginginkan bekas calon menantunya itu.
“Asal kamu tahu ya, gak mudah buat seorang
perempuan menyerahkan orang yang dia cintai kepada perempuan lain, tanya Aini
sekarang, dia ga bisa kasih kamu keturunan, bisa gak dia berkorban dan
meninggalkan kamu seperti halnya Silvana?!”
Aini langsung menarik lengan Bram, benar
memang yang dikatakan oleh ibu mertuanya itu. Dia nampaknya tak akan sanggup
berpisah dengan Bram, tidak seperti Ana, yang rela berkorban bagi orang yang ia
cintai.
“Udah
cukup mi bawa-bawa Silvana, Bram mohon sama mami, terimalah Aini. Gak ada
gunanya lagi mi sekarang ini kita sebut-sebut Ana. Biarin Bram bahagia sama
Aini…” Bram memohon kepada ibunya itu, dengan sungguh-sungguh.
Apa hasilnya, tentu saja penolakan dari
Indah. Baginya harga mati agar anak semata wayangnya itu menceraikan Aini.
“Mama gak akan berhenti bawa nama Ana,
mami masih pengen kamu nikah sama dia”
Air mata?, sudah habis. Apalagi yang bisa
di curahkan kecuali perasaan. Di titik ini Aini menyerah, dia sudah tahu sebaik
apapun orangnya, akan tetap jelek di mata Indah.
Yang dinginkan oleh mertuanya itu cuma
Ana, tidak ada lagi.
Bram sudah kesal, dia sudah berusaha
membujuk ibunya dengan cara baik-baik. Istrinya itu juga, terus menerus
berjuang mengambil hati mertuanya, namun sekali lagi nihil hasil.
“GAK BISA MI, WALAUPUN BRAM INGIN BERSAMA
ANA SEKALI PUN, PINTU ITU UDAH TERTUTUP, SILVANA SEBENTAR LAGI MENIKAH DENGAN
ORANG LAIN!!!” Bram berteriak sekeras-kerasnya, hingga membuat ibu dan istrinya
bahkan sampai terperanjat.
Seketika ruangan yang sedari tadi ramai
perdebatan tersebut langsung hening,
Tapi tak lama, karena setelahnya Indah
mendapatkan panggilan telepon.
“Halo….APA?!!!! Di rumah sakit mana. Iya
saya segera kesana…” Suara dan raut wajah Indah yang panik, membuat Bram
khawatir.
“Bram ganti bajumu, om mu kecelakaan…”
seru Indah, dan langsung membuat Bram dan dirinya bergegas menuju ke rumah
sakit.
__ADS_1