
Zen dan Silvana terperanjat, mereka
bergegas kearah sumber suara, dan betapa terkejutnya mereka, saat melihat
Claudia sudah ada di pojokan sambil menangis.
Belum sempat mereka mendekati Claudia,
gadis ini berdiri. Karena cukup gaduh akhirnya Bima, Mey dan Nesya berlari
kearah ruang tamu. Disana mereka kaget, karena melihat Claudia yang sudah
terlihat berantakan dan hilang kontrol.
“Claudia…kamu gak apa-apa kan?”
Suara itu milik Aksa, pemuda ini mendekati
Claudia. Dia cemas melihat kondisi gadis yang ia sayangi itu.
Tapi yang didapatkan oleh Aksa adalah
tatapan penuh kebencian, tidak seperti biasa, saat ini Aksa dapat merasakan
bahwa adik tirinya ini tidak dalam kondisi yang seperti biasanya, sehingga
langkahnya untuk menyentuh Claudia berhenti.
“Aa…” seru Mey.
“Tenang-tenang sayang, aa hadepin…” Bima
dan Mey jelas tahu, apa yang terjadi, mereka khawatir pada Claudia.
Bima langsung melangkah mendekati Claudia,
begitu pula Mey. Saat Bima berusaha menenangkan semuanya Icha dan yang lainnya
juga sampai, mereka kebingungan dengan apa yang terjadi.
Mey yang takut Claudia hilang kendali
langsung memeluk Claudia dan meminta Icha untuk mengikutinya. Icha mengangguk,
lalu menggenggam tangan Claudia, lalu mengajaknya ke kamar Icha.
“Nah, anak-anak udah pada capek kan ya,
kita makan dulu yuk..” seru Bima sambil tersenyum.
Mereka semua mengangguk dan memilih untuk
tidak bertanya lebih lanjut, karena semua sadar waktunya tidak tepat.
Nesya melihat kearah Silvana yang terdiam
sambil menangis, dan juga Zen yang berusaha menenangkan Silvana. Aksa juga tak
luput dari perhatiannya, sejujurnya Nesya sangat prihatin ia bersedih, tapi ini
kehidupan yang harus ia jalani, bagaimana pun sudah takdir tuhan bahwa hidup
anaknya seribet ini.
“Ana, Zen semuanya kita pindah aja yuk ke
ruang keluarga, biar lebih santai, udah aku buatin teh juga...”
Zen melihat kearah Aksa, pemuda ini
sepertinya tidak asing, ia kenal tapi siapa.
“Aksa ayo kak, kita pindah keruang
keluarga” Nesya menarik tangan Aksa.
‘Aksa?, astaga…Aksa yang waktu itu?...ya
Tuhan apalagi ini’ gumam Zen dalam hati.
“Bu, maaf kalau boleh, Zen mau bicara
dengan Aksa”
Aksa yang masih shock, dengan apa yang
dilihatnya tadi, jadi dia tidak terlalu memperhatikan bahwa ada Zen di
depannya, sedangkan Nesya mengangguk, nampaknya memang lebih baik Zen bersama
Aksa sekarang, akhirnya Nesya, Silvana dan Mey pergi meninggalkan kedua orang
itu, Zen dan Aksa.
“Aksa, ayo kita ngobrol diluar aja” seru
Zen
“Iya…” jawab Aksa dengan lesu.
‘Claudia kenapa tatapan matanya begitu
benci, apa yang salah, padahal tadi masih baik-baik aja’ gumam Aksa.
Saat mereka sampai di taman dan duduk di
kursi taman, Aksa bahkan masih tidak sadar, pikiran pemuda ini penuh dengan
segala kemungkinan kenapa Claudia menampakan hal seperti itu padanya.
“Claudia cuma butuh waktu..”
Aksa terkejut, ia akhirnya menatap wajah
pria yang ada disampingnya. Semakin kaget, karena ia baru menyadari, lelaki
berbadan tegap itu adalah seseorang yang pernah ia temui 12 tahun lalu.
“A….anda….” Aksa terbata-bata, kaget tentu
saja. Walaupun dia sudah menyiapkan mental, ingin bertemu dengan Zen.
“Hahaha masih inget sama saya?” Zen
tertawa melihat reaksi polos dari Aksa.
“Iya…ayahnya Claudia” Kedua orang itu
akhirnya berjabat tangan.
“Bingo, dari tadi kamu ga sadar toh, saya
kira saya dicuekin, ternyata kamu segitu kepikirannya karena di tatap sama anak
saya” seru Zen sambil tertawa.
“Maaf om saya…” Aksa masih menunduk.
“Gak apa-apa, saya paham kok…”
Aksa hanya diam, ia berusaha untuk
bersikap biasa saja walaupun sulit. Zen lalu menepuk pundak Aksa, berusaha
menyemangati pemuda itu.
“Kamu tahu gak, waktu saya bawa Claudia ke
Amerika, tiap hari dia selalu nanyain kamu, ‘Ayah adek kangen ka Aksa’ itu
katanya sama saya tiap hari, sampai saya bingung kenapa itu anak, segitu
ketergantungannya sama kamu” Zen tersenyum, jika ingat tingkah laku Claudia
yang selalu menanyakan Aksa setiap hari, cukup membuatnya cemburu. Aksa punya
tempat khusus dihati Claudia, dan Zen tahu akan hal itu.
Mendengar apa yang dikatakan oleh Zen,
wajah Aksa yang sedari tadi murung langsung berubah menjadi cerah, ia tersenyum
dengan lebar. Zen sadar pemuda yang ada didepannya ini memang ada hati dengan
putrinya.
__ADS_1
“Claudia bilang gitu om?” tanya Aksa
antusias.
“Iya, dia nangis-nangis tiap malam nanyain
kamu dan bundanya. Tapi saya saat itu juga gak bisa bawa Claudia ketemu sama
kamu, maafin saya ya Aksa, karena kebodohan saya, kalian berdua sekarang harus
menderita begini” Zen menatap Aksa dengan wajah sedih.
“Gak om, memang sudah takdir dan jalan
hidup kita seperti ini. Buat saya, selama bisa ada disamping Claudia itu udah
lebih dari cukup om, saya senang bisa menjaga Claudia” Aksa tersenyum, memang
miris seandainya tidak jadi kakak dan adik, mungkin saat ini Aksa bisa meminta
Zen untuk menikahkannya dengan Claudia, walaupun tidak semudah itu juga, akan
tetapi paling tidak akan lebih simple ketimbanga kondisi mereka saat ini.
“Maaf Aksa, saya boleh tanya satu hal ke
kamu?”
“Iya boleh om”
“Aksa, kamu tau Claudia mau menikah dengan
Reiki kan?, apa yang akan kamu lakuin?”
Aksa terkejut, dia tidak tahu bahwa Zen
tipe orang yang tidak suka berbasa-basi, dia akan langsung tembak jika ingin
bicara sesuatu. Aksa tertunduk beberapa saat, sembari menutup matanya.
“Saya…..” jawab Aksa pada Zen sambil
melihat kearah ayah kandung Claudia itu.
Di tempat lain, saat ini Claudia sudah
bersama dengan Icha, kedua gadis ini diam, hingga Icha berdiri dan mengambil
air dari nakas samping tempat tidurnya.
Melihat Claudia menangis dalam diam
membuat Icha merasa tidak nyaman, ia lebih memilih Claudia menjerit
sekeras-kerasnya, ketimbang Claudia berlaku seperti saat ini. Karena gadis itu
tahu, bahwa sahabatnya pasti sedang sangat tertekan sangat bertindak seperti
ini.
“Claudia, ini minum dulu…”
Claudia masih diam, namun ia tidak menolak
gelas dari Icha. Sedangkan Icha mengelus punggung mungil sahabatnya itu, ia
berusaha menenangkan Claudia yang masih setia dalam diamnya.
“Di….” Panggil Icha lembut, namun apa yang
dilakukan oleh Icha malah membuat Claudia kini cemberut.
“Claudia, jangan marah dong…” seru Icha
sambil tersenyum.
Gadis itu tahu kalau sahabatnya sedang
ngambek, dan juga dia tahu ini salahnya, Claudia pasti sangat khawatir. Bahkan
itu tidak ingin melihat wajah Icha sekarang, rasanya Claudia kesal, tapi satu
sisi ia lega Icha baik-baik saja.
“Claudiaaaaaaa….”
dengan pelan ia mencubit lengan Icha, ia kesal karena sepertinya Icha
menganggap semua main-main. Di sisi lain Icha kaget, walaupun cubitan Claudia
tidak sakit.
“Icha oon, kenapa pergi gak ngabarin aku…aku
benci sama Icha…” seru Claudia menangis lalu memeluk Icha.
“Maafin aku udah bikin kamu khawatir…aku
gak apa-apa, makasih udah khawatir hehehe” Icha bahagia, rasanya ia bisa
melupakan apa yang terjadi tadi siang antara dirinya dan Reiki. Jika mengingat
semua itu rasanya Icha ingin menangis.
“Jangan ketawa…” seru Claudia mencubit
pipi Icha kesal, sembari melepaskan pelukannya.
“Jadi aku nangis aja nih?” tanya Icha
sambil memiringkan kepalanya ke kanan.
“Ya jangan nangis juga…” ujar Claudia
sambil cemberut.
“Ih Di, kamu mah serba salah…hehehe”
“Oon ih, kesel aku sama kamu…” Claudia
menarik kembali tubuh Icha untuk dipeluknya.
“Makasih Di, aku juga sayang sama
Claudia…”
Kedua sahabat itu berpelukan cukup lama,
mereka melepas semua kekhawatiran, hingga Claudia teringat tentang tunangannya
Reiki. Dengan cepat ia melepas pelukannya, hingga membuat Icha bingung.
“Eh, tadi siang, kenapa kamu pergi gitu
aja. Ka Reiki ngomong apa sama kamu?”
Icha terkejut, kenapa bisa Claudia
menyebut tentang Reiki. Padahal dirinya sama sekali tidak ada menyinggung nama
pria itu.
“Hmm, ka Reiki???” tanya Icha berusaha
mengecoh Claudia, dia sebenarnya tidak ingin berbohong, tapi apa yang harus di
lakukannya, opsi yang paling wajar saat ini adalah berpura-pura tidak tahu
apa-apa.
“Iya, kamu berantem sama Ka Reiki kan…”
“Ehm…” Icha membuang muka, ia reflek
melakukan itu, hingga Claudia bertanya-tanya.
“Icha…”
“Oh Iya, tadi itu aku ketemu sama ka
Reiki, tapi ga ada apa-apa kok, cuma ngomong biasa aja”
“Serius Cha?….”
“Iya serius Di, aku cuma tanya kok dia
__ADS_1
ketemu klien perempuan gak sama kamu, terus aku kesel karena perempuannya pake
baju minim banget, agak ribut disitu aja sih. Tapi ka Reiki udah minta maaf
kok”
Icha tidak sepenuhnya berbohong, ia memang
tidak suka melihat perempuan yang bersama dengan Reiki tadi, terlalu sexy
menurutnya.
“Masa sih?, ya ga heran emang banyak yang
ngincer ka Reiki…” seru Claudia sambil mengerutkan dahinya, dalam hati Icha
sedih karena tidak bisa jujur pada Claudia, tapi satu sisi lagi dia merasa
lebih tenang karena sepertinya Claudia percaya pada apa yang ia jelaskan.
“Terus tadi itu kenapa Di…” tanya Icha
yang memang penasaran dengan apa yang terjadi dengan Claudia.
Gadis itu memandang wajah sahabatnya,
dengan pelan tapi pasti Claudia menceritakan semua yang dia dengar tadi, secara
detail.
“Jadi maksud kamu, om Zen cerai sama tante
Silvana karena…”
“Iya, karena papanya ka Aksa, dan juga
ibunya ka Aksa” Claudia mengepalkan tangannya, dia tidak bisa terima kenyataan
keluarganya hancur karena keluarga Aksa.
“Claudia…” Icha berusaha menenangkan
Claudia, tapi sahabatnya ini sudah terlanjur emosi walau masih bisa
mengontrolnya.
“Aku ga bisa terima ini semua Cha…”
“Aku ngerti Di. Terus kamu mau gimana?”
“Aku pengen bunda cerai sama papa Bram”
jawab Claudia tegas.
Kaget, tentu saja. Icha tidak ingin
Claudia bertindak jahat seperti Reiki, ia hanya ia ingin sahabatnya itu tetap
menjadi pribadi yang baik.
“Tapi Di, kita gak boleh membuat seseorang
becerai, dosa besar itu”
“Aku tau, tapi aku gak sanggup buat liat
mukannya ka Aksa, seandainya gak ada keluarga mereka mungkin sekarang aku punya
adik banyak, hidupku pasti happy Cha”
Icha paham perasaan Claudia, sejak SD impian
Claudia hanya ingin kedua orang tuanya rujuk, tapi sepertinya itu sulit, dan
hampir tidak mungkin lagi di realisasikan.
“Aku paham kalau kamu kecewa, tapi masa
depan itu rahasia tuhan Di, kamu gak bisa jamin juga, kalau om Zen gak cerai
sama tante Ana, mereka bakalan bahagia”
Icha dan Claudia kaget saat melihat pintu
kamar terbuka, tenyata Shiva dan Rima sudah ada didepan kamar, membawakan
pudding untuk kedua temannya.
“Kalau gitu nikah aja secepetnya Di sama
ka Reiki…” seru Shiva sambil duduk di sofa yang ada di kamar Icha.
“Shiva…” Claudia mengerutkan dahinya, ia
berharap bahwa Shiva tidak menceritakan apapun pada Icha sekarang.
“Iya yang di bilang Shiva bener Di. Sorry
kita nguping, jujur kita khawatir banget sama kalian” Rima memberikan pudding
kepada Claudia dan Icha sembari duduk disamping Shiva.
“Rima…”
“Jangan lupa Di, lo gak sendirian, ada
kita bertiga disini + cowo-cowo yang tidak terlalu berguna di bawah itu” seru
Rima sembari memakan ice creamnya.
“Rima kok kamu ngomongnya gitu”
Rima langsung berlari kedepan Icha, lalu
menyibak poninya.
“NIH LIAT CHA, KEPALA JIDAT AKU”
“Jidat kamu emang kena apanya dia Ma?, Ya
Allah Rima wahahahahha”
“Itu ujungnya, dikira dia bisa henshin
jadi kamen rider apa, kesel gw. Udah gw pesenin juga dari rumah pake helm orang
normal aja” seru Rima kesal.
Benjol iya, memang. Karena itu Rima kesal
sekali. Tadi sewaktu di jalan Melvin ngerem mendadak, membuat Rima yang belum
memakai helmnya membentur Helm Melvin yang tidak standar bentukannya.
“wkwkwkwkwkwk….anjir Rima jidat lo…” Shiva
tertawa terbahak-bahak, mereka sakit perut melihat jidat Rima yang seperti
terkena bisul. Masalahnya jidat Rima memang lebar, dan parahnya benjolan yang
di dapat Rima juga tidak normal, karena besarnya hanya seukuran uang koin 500
rupiah.
“Emang dasar si Melvin keparat, sakit tau
gak kepala gw kepentok helmnya dia, udah gw bilang ganti tuh helm kagak jelas”
“Ya
mau gimana lagi Ma, dia kan panik buru-buru dari gereja, lo nauin aja sih”
jelas Claudia masih tertawa, sambil memegang perutnya.
“Iya gw tau kok…” Rima yang kesal
menghentak-hentak kakinya.
Dalam tawa mereka, hanya ada satu orang
yang sesungguhnya tidak benar-benar tertawa. Claudia, dia berpikir apa yang
harus dilakukannya, mungkin mempercepat pernikahan seperti yang di katakan oleh
Shiva adalah yang terbaik. Melihat teman-temannya, gadis ini pun kembali
__ADS_1
tertawa, setidaknya biarkan dia lupa sementara akan hari yang berat ini.