
1 bulan setelah kejadian Video Aksa dan Syakila, semuanya tampak tenang. Tidak ada ribut-ribut, kecuali satu hal yang membuat Reiki sempat pusing karena Icha.
Ulang tahun Claudia pun berlangsung dengan sederhana, walaupun pada akhirnya Zen tetap memperkenalkan Claudia pada rapat pemegang saham.
Reiki juga tidak banyak bicara, ia sudah tahu alasannya. Karena dialah yang memulai semua kekacauan itu.
Kini Pria itu termenung, ia sedang berada di dalam sebuah ruangan besar, dengan nuansa putih bersih. Sangat elegan, tanpa banyak barang didalamnya.
Di meja kerja terpampang kolase foto dalam satu pigura, foto seorang gadis cantik yang selalu membuat hati Reiki bahagia.
Claudia, mendengar namanya saja sudah cukup membuat Reiki berdebar. Debaran yang tak pernah hilang, bahkan sampai saat ini, sejak pertama kali menggenggam tangan mungil Claudia yang baru saja lahir, Reiki bersumpah untuk menjaga gadis itu.
Iya, ia berusaha menjaga Claudia dari orang-orang yang ingin merusak dan mengkontaminasi pikiran gadis kesayangannya itu, dengan hal-hal buruk juga kotor.
Untuk itu, Reiki tidak keberatan jika dialah yang harus menanggung semua dosanya, melakukan pekerjaan kotor hanya untuk melindungi gadis yang sangat ia kasihi itu.
Dalam kamusnya, semua hal yang ia kerjakan hanya untuk Claudia. Bahkan pekerjaan yang dilakoninya saat ini sebagai seorang dokter juga karena Claudia pernah bilang, ia mengagumi pekerjaan seorang dokter.
Seremeh itu memang, tapi jika Claudia berucap semuanya menjadi sesuatu yang harus Reiki wujudkan.
Padahal Reiki juga sudah super sibuk, sejak kecil ia dipersiapkan oleh keluarganya untuk menjadi pewaris. Bolak balik perusahaan dan rumah sakit jadi keseharian pria ini.
Lelah sudah pasti, namun disaat-saat ia merasa tak berdaya Reiki akan mengingat apa yang dikatakan Claudia, saat dia hampir menyelesaikan kuliah kedokterannya.
Reiki pernah tumbang, karena memaksakan diri sendiri ia kelalahan. Dan pada saat ia harus dirawat, Claudia yang baru masuk SMP berusaha menyemangati Reiki.
“Kakak hebat, aku selalu bangga sama kakak. Kakak gak pernah nyerah untuk nyelesein sesuatu yang udah kakak mulai. Apapun yang kakak lakukan, aku akan selalu dukung kakak. Kakak semangat, aku yakin kakak bakalan jadi bos dan dokter yang hebat” ucap Claudia, saat Reiki masuk rumah sakit akibat tifus.
Senyum merekah diwajah Reiki ketika mengingat kenangan tentang masa lalu, ia menatap wajah polos Claudia, semua ekspresi yang Reiki sukai sungguh terpatri dengan baik di dalam foto.
Akan tetapi senyuman, kebahagiaan, dan perasaan rindu yang di rasakannya menghilang begitu saja. Sorot matanya menggelap, senyum yang pudar berganti jadi tatapan sinis.
Ingatannya akan Aksa yang mencium Claudia membuat Reiki mengepalkan tangannya dengan erat. Ia memendam rasa kecewa, marah, benci, tidak percaya dan sedih bercampur menjadi satu, lebih dari setengah tahun ia berjuang untuk melawan balik.
Bagaimana bisa dia menerima, semua hal yang dilakukan oleh Aksa pada gadis kesayangannya itu. Ia tak rela Claudia yang selama ini ia jaga baik-baik, di rusak begitu saja.
Dari sinilah ia berpikir, bahwa selain dirinya tidak ada satu pun yang mampu menjaga Claudia. Jika di biarkan gadis yang ia cintai itu akan jadi makin tak karuan.
__ADS_1
‘Kamu pernah bilang akan selalu bangga sama aku. Iya Di, akan aku pastikan kamu juga akan mendukung apa yang aku lakukan saat ini. Semuanya cuma untuk kamu Di, buat kamu.” ucap Reiki seraya menutup matanya.
Selama beberapa saat Reiki termenung, ia masih memikirkan Claudia yang ada dirumah Silvana. Sedang apa gadis itu saat ini, sudah hampir 3 minggu dan dia benar-benar ingin bertemu. Sayangnya, Silvana pasti tidak akan membiarkan Reiki.
Alasan sederhana, calon mertuanya itu ingin Claudia menenangkan pikirannya terlebih dahulu. Sialnya, alasan Silvana masuk akal sehingga Reiki tak bisa membantah ucapannya.
Pikirannya yang fokus akan Claudia buyar, ada seseorang yang menghubunginya dan itu adalah Syakila. Dengan cepat Reiki langsung mengangkat panggilan dari rekannya tersebut.
Syakila ; “Reiki, kita sukses !!!”
Reiki mengerutkan dahinya, ada apa dengan perempuan ini. Suaranya benar-benar menunjukan bahwa ia sedang sangat bahagia. Sampai-sampai, Syakila lupa untuk menarik nafas saat bicara.
Reiki ; “Bisa pelan-pelan gak ngomongnya? Saya gak paham sama sekali kamu itu ngomong apa!!”
Syakila ; “Uhm, kamu tahu semua rencana kita berjalan mulus, orang tua ku juga udah ketemuan sama om Bram dan tante Silvana”
Pria ini terkejut, Syakila bekerja dengan sangat cepat dan sungguh diluar ekspektasinya selama ini. Sepertinya dia harus berhati-hati dimasa depan, agar tidak lagi berurusan dengan Syakila baik dalam bisnis atau hal apapun, setelah rencana mereka berakhir.
Reiki menghela nafas, ia masih tidak tenang dengan situasi yang sama sekali tidak menguntungkan, bagi dirinya maupun Syakila.
Ia beranggapan Aksa akan tetap berusaha untuk menolak menikahi Syakila, kalau dia jadi Aksa pun dia akan bereaksi seperti itu. Bukan apa-apa, menikah perempuan seperti Syakila itu seperti bunuh diri.
Reiki ; “Syakila, saya lagi gak mau denger omong kosong kamu sekarang, saya lagi sibuk”
Syakila ; “Hahaha, kamu tenang aja sebentar lagi kamu gak akan pusing kok”
Reiki ; “Maksud kamu?”
Syakila ; “Kamu tau apa yang terjadi, aku baru dikabarin tadi”
Reiki ; “Aksa nolak nikahin kamu?”
Sesaat Syakila terdiam, ia tak langsung menjawab pertanyaan Reiki. Seakan ingin mempermainkan pria itu perempuan ini malah tertawa.
Jangan tanya apa yang dipikirkan oleh Reiki, rasanya dia ingin berlaku kasar pada patner kejahatannya itu, karena dengan sengaja Syakila mempermainkan dirinya, untunglah Syakila perempuan.
Syakila ; “Hahaha kamu tegang banget sih, santai aja….oh ya untuk jawaban kamu….Big No…Aku sama Aksa bakalan nikah…sebentar lagi…yeaaaaaaaay”
__ADS_1
Mendengar apa yang dikatakan oleh Syakila, mata Reiki terbelalak, ia langsung bangkit dari duduknya. Reiki sungguh tidak percaya dengan apa yang ia dengar saat ini.
Reiki ; “Kok bisa??? Caranya?????”
Syakila ; “Karena ada bayi dong di perut aku hahaha…..”
Reiki mengerutkan dahinya, secara umum memang pengecekan kehamilan bisa dilakukan 3 sampai 4 hari setelah berhubungan, tapi ini semua terlalu kebetulan.
Reiki ; “Anaknya Aksa?”
Syakila ; “Ya bukanlah hahaha”
Sungguh gila, Syakila ternyata lebih akut daripada dirinya. Keinginan perempuan itu untuk memiliki Aksa sepertinya lebih besar daripada apapun, ia bahkan rela melakukan hal yang lebih rendah dari apa yang mereka telah rencanakan.
Reiki ; “Kapan kamu siapin semuanya?”
Syakila ; “Pas kamu bilang kita bakalan eksekusi rencana kita soal ngejebak mas Aksa. Makanya aku bilang waktu itu sama kamu, tunggu dulu…”
Seingat Reiki, Syakila memang meminta pria itu menunggu terlebih dahulu, alasannya dia masih halangan. Ternyata gadis ini menunggu masa subur, tidak heran jika pada akhirnya dia bisa hamil.
Tapi ya siapa yang peduli, toh bagi Reiki lagi-lagi yang terpenting adalah rencananya berjalan lancar…ya, lancar.
Kenapa ini?, hati Reiki terasa sakit. Seperti ada gumpalan besar yang menyekat nafasnya. Ia merasa tidak tentram dan tenang, bahkan tanpa diketahui dan disadarinya, perlahan muncul perasaan bersalah.
Ia teringat apa yang diucapkan oleh Icha beberapa hari lalu….
“Kakak bakalan menyesal, sudah melakukan sebuah kejahatan. Kakak dengerin aku, seumur hidup kakak gak akan pernah bisa tenang dan bahagia…Yang kakak usahakan ini cuma nafsu pribadi….Gak akan ada satu pun manusia di dunia, yang bisa berbahagia dunia akhirat setelah menyakiti orang lain, semua perbuatan akan ada balasannya ka….semoga tuhan membuka kan hati kakak supaya kembali ke jalan yang benar…” ucap Icha sambil menangis.
Reiki termenung, ia sempat berpikir untuk berhenti, akan tetapi bayangan Claudia yang ia lihat tengah duduk bersama dengan Aksa disebuah pusat perbelanjaan, membuat pria ini tak bisa menahan emosinya.
Ia tak peduli dengan Aksa, salahnya sendiri karena berani menggaggu Claudia, gadis yang ia cintai seumur hidupnya.
Syakila ; “Reiki???? Halo Reiki???”
Suara Syakila menyadarkannya, Ia yang tak ingin banyak bicara lagi, membuatnya memutuskan untuk mematikan panggilan dari Syakila, tanpa bicara sepatah katapun.
Dia ingin Claudia, dia butuh Claudia, dan kini jiwanya semakin hampa, saat tersadar sekali lagi, bahwa hati Claudia masih terpaut pada Aksa. Jalan yang di tempuhnya sangat berat.
__ADS_1
“Aksa, akan aku pastikan semua rencanaku berjalan…tunggu aku Claudia”