
Claudia turun dari mobil Shiva, gadis itu
memutuskan ingin kerumah Icha duluan, karena mendengar dari Alif bahwa ayahnya
sudah ada dirumah mereka, jadi lebih baik Claudia pergi menemui Zen terlebih
dahulu. Karena saat itu mereka sudah tahu Icha baik-baik saja, jadi Alif dan
yang lain sudah tenang.
Berhubungan dengan apa yang dikatakan
sahabatnya itu, tentu dengan senang hati Claudia setuju, ia sangat rindu
ayahnya bagaimana bisa ia menolak apa yang dikatakan oleh Alif.
“Apa gak mau kita anterin aja kerumahnya
Alif, Di?” ujar Yudha yang khawatir pada sahabatnya, karena posisinya juga
sudah agak malam.
“Gaklah, santuuuuy bro, masih rame ini, gw
naik ojek onlen aja, udah sana cepet ketempatnya Alif, tar si Eros di hajar
sama Alif berabe lagi…”
“Bener nih Di, gpp? Gw takut abis si Icha,
lo lagi yang ilang…amit-amit ya Allah, jangan sampe deh, udah cukup gila
hambamu ini ya Rab…” Shiva menatap Claudia dengan serius.
“Dasar, lo kok jadi doain yang gak enak
gitu. Insyaallah gpp gw, doain aja. Udah sana gw malah lebih khawatir sama
Melvin, tar kalo dia udah masuk Rampage mode on, susah dijinakinnya. Kasian
Rima sama Icha, tar jadi rempeyek lagi si Eros” Claudia tertawa, Shiva dan Yudha
hanya geleng-geleng, Claudia memang sadis kalau sudah berhubungan dengan Eros.
“Eh abang ojek gw udah deket nih, sana
udah cepet pergi…hush hush…” Claudia menggerakan tangannya seperti mengusir.
“Siaul lo…hahaha yaudah kita cabut, tia
ati nona cantik. Pake masker lu sana, banyak debyuuu, tar anaknya nyonya besar
sakit lagi” goda Shiva, sedangkan Yudha menghidupkan kembali mobilnya. Claudia
hanya tertawa lalu pergi keujung jalan sambil melambaikan tangannya.
Yudha tidak langsung jalan, ia menunggu
sampai Claudia naik ke ojek onlinenya. Setelah itu baru mereka berangkat menuju
tempat Icha.
Di perjalanan banyak hal yang dipikirkan
oleh Claudia, hal-hal bodoh menurutnya, tapi ia sangat senang sampai ingin
menangis. Apa yang akan diucapkan pada ayahnya saat bertemu, atau apa boleh ia
menangis di depan orang yang sangat ia rindukan itu. Selama 10 tahun lebih ia
merindu, tentu bukan hal mudah untuk mengekspresikan semuanya.
Karena jalan relative tidak macet, Claudia
lebih cepat sampai dari perkiraan, begitu masuk dia di sambut oleh pak satpam
yang berjaga di rumah Icha, memang semenjak Eros menerobos rumah Icha, Bima
membangun pos satpam dan memperkerjakan 2 orang yang bertugas menjaga rumah
mereka, bukan apa-apa, kalau seseorang yang tidak lihai seperti Eros saja,
dengan mudah bisa menorobos masuk kerumah mereka, lalu bagaimana dengan
orang-orang yang terbiasa melakukan hal buruk, pasti akan lebih mudah bagi
mereka.
Keselamatan anak dan istrinya
dipertaruhkan, apalagi Alif sering tidak dirumah karena lepas sekolah biasanya
dia akan pergi kerumah kakeknya, belajar tapak suci atau mengaji, kadang dia
juga diminta kakeknya mengurus tambak ikan dan kebun yang ada dipesantren
kakeknya. Sedangkan Bima, karena perusahaannya mengurus banyak proyek,
seringkali dia tidak pulang, tentu jadi kekhawatiran sendiri baginya,
meninggalkan istri dan anak perempuan satu-satunya tanpa ada yang menjaga.
Satpam yang berjaga kenal baik dengan
Claudia, bagai pengunjung tetap dengan mudah Claudia bisa mengakses seluruh
bagian rumah Icha. Bima mengenalkan gadis itu pada para pekerja, sebagai
keponakannya dan Mey, jadi tidak heran bila, mereka tidak asing dengan Claudia.
Dengan hari yang berdebar, Claudia masuk
ke pekarangan rumah Bima, dia merasa seperti jantungnya mau berhenti,
langkahnya berat karena ia takut ayahnay tidak mengenalinya lagi. Sudah 10
tahun, tentu banyak yang berubah dari dirinya, apalagi dia juga tidak tahu, apa
ayahnya sudah menikah lagi, dan dia punya adik atau tidak dari ayahnya. Semua
pikiran buruk dan baik bersatu padu di pikiran Claudia.
Gadis itu kini sampai di depan pintu rumah
__ADS_1
Bima, saat ia ingin membuka pintu tersebut, ternyata pintu tidak tertutup
rapat. Gadis ini masuk hingga ia mendengar suara tangisan yang dengan mudah ia
ketahui. Itu suara ibunya, perlahan mendekat kearah lemari buku yang menjadi
pembatas dari pintu kearah ruang tamu.
‘Bunda kenapa nangis gitu, apa bunda
berantem lagi sama ayah ya?’ gumam Claudia.
“Aku tau, aku salah…aku paham tapi ego aku
bilang kamu yang salah, setelah kita kehilangan adiknya Claudia, aku ga pernah
mau ngakuin bahwa itu salah aku, tapi aku paham itu memang perbuatan aku
sendiri, aku tahu bahaya buat anak kita, tapi aku juga gak bisa liat Aini pergi
selamanya saat itu….Aku jahat Zen, gak seharusnya kamu menderita karena aku…”
Claudia menutup kedua mulutnya, ia tidak
mengerti apa yang terjadi. Adik?, apa Claudia pernah punya adik? Claudia tidak
pernah tau soal ini. Lalu siapa itu Aini, Claudia tidak kenal. Tapi yang lebih
penting, soal adiknya, kenapa dia tidak tahu dan juga sama sekali tidak ingat.
Dia anak tunggal, dan tidak punya saudara sama sekali.
Karena ingin tahu, Claudia mencuri dengar.
Ia tahu ini tidak baik, tapi jika bertanya bisa jadi tidak akan ada yang ingin
memberitahu kepadanya. Toh, kenyataannya hingga saat ini Claudia cuma tahu,
ayah dan bundanya bercerai karena Claudia kabur ke Amerika bersama sang ayah.
Gadis ini pun tidak tahu akar permasalahan hingga Zen membawanya, walaupun
sebenarnya ia berhak tahu apa yang terjadi.
“Ana….” Seru Zen pelan.
Jantung Claudia berdetak keras, itu
suaranya, suara manusia yang paling ingin Claudia temui, Zen Aramazd Mahendra,
ayah kandung yang sudah lama tidak berjumpa dengan gadis ini, rasanya ia ingin
sekali melompat dan memeluk ayahnya itu sekarang, tapi waktunya tidak tepat.
“Aini memang udah buat hidupku sempat
menderita, tapi karena dia juga aku bisa ketemu kamu Zen, dan aku merasa selama
hidup aku paling bahagia saat bersama kamu. Aku benci dia, aku marah sama dia,
tapi aku juga sayang sama dia, aku yang gak punya saudara ini cuma punya dia,
aku anggap dia adik kandungku” Silvana terisak, dia teringat tentang Aini yang
walaupun mereka hanya sepupu jauh.
“Dia sama pentingnya seperti hidupku
sendiri Zen, waktu kecelakaan beruntun 15 tahun lalu, aku kaget kenapa bisa
ketemu dia lagi, padahal setelah kejadiaan itu aku putus hubungan dengan Aini. Saat
itu aku kira rasa amarah aku sama dia masih ada, tapi ternyata semua hal yang
negatif tentang dia udah ga bersisa sama sekali. Waktu itu walaupun aku udah
gak marah sama dia, aku sama sekali gak ingin berhubungan lagi dengan
orang-orang itu, kamu tau kan Zen” Silvana masih terisak dengan tangisnya,
sedangkan Zen mengangguk, masih menggenggam tangan Silvana dengan erat. Ia
ingin mendengar semua penjelasan Silvana yang tertunda selama ini.
Sedangkan Claudia, gadis itu masih
kebingungan dengan apa yang dia dengar. Tapi Claudia tidak berhenti, setidaknya
jika semua ini belum jelas, dia bisa mencari tahu nanti.
“Sampai setahun kemudian Aini dateng lagi,
pas disaat aku sedang hamil anak kita. Tadinya aku sama sekali tidak ingin
membantu dia, bagiku sudah cukup yang lalu. Tapi saat dia datang dan minta
ketemu sama aku, saat itu aku melihat kondisinya dia yang tinggal kulit sama
tulang, bener-bener bikin hati aku remuk Zen. Setelah aku tau dia kena kanker
stadium 4, aku sudah minta ke dia pergi ke Onkolog, tapi biarpun dia sudah
kesana tetep aja dia memohon supaya aku juga bantu dia. Saat itu, aku
bener-bener bimbang, di hari dia masuk ICU aku udah nyiapin cuti buat nunggu
kelahiran anak kita. Tapi….”
‘Apa-apaan ini, jadi aku batal menjadi
seorang kakak karena perempuan yang namanya Aini?!, bener-bener gak bisa
dimaafkan’ Claudia seketika terbakar emosi, gadis ini sepertinya mulai mendapat
titik terang, atas semua kejadian yang terjadi.
“Aku tau Na, aku paham…” Zen mengelus
pucuk kepala Silvana.
“Zen…”
“Aku gak mendendam, tapi jujur aku juga
__ADS_1
gak bisa bohong kalau aku kecewa, seandainya kamu tidak mengambil langkah
sendirian, sekarang mungkin kita masih bersama dan Claudia gak kesepian, putra
kita pasti juga sudah tumbuh besar sekarang….” Zen menangis sejadi-jadinya, ia
menyesali semuanya, seandainya dahulu dia lebih banyak menghabiskan waktu
dengan Silvana, ini semua tidak akan terjadi.
“Maafin aku Zen…” Silvana juga menangis,
dia paham ini semua kesalahan yang sangat fatal.
“Tapi aku saat itu, masih berharap. Kamu
berhenti mengurus Aini, fokus dengan Claudia, yang membuat aku sangat marah
adalah 3 hari setelah putra kita meninggal, kamu malah masuk kerja karena harus
mengurus Aini, saat itu aku merasa kamu sama sekali tidak peduli denganku
maupun Claudia”
Claudia menangis, ia menahan agar suara
tangisannya tidak pecah. Kebodohan macam apa yang sudah dilakukan oleh kedua
orang tuanya, hingga keluarga mereka hancur berantakan.
“Aku tau Zen, tapi jujur aku juga merasa
bersalah setiap kali kamu gak marah sama aku, dan malah mengurus aku dengan
baik, rasanya aku ingin kamu membentak aku, memaki aku karena sudah membunuh
anak kita demi menyelamatkan nyawa orang lain….”
“Karena itu kamu gak mau tinggal dirumah?”
Silvana hanya mengangguk, semua ini karena
komunikasi mereka buruk. Terlebih keduanya sama sekali tidak jujur pada
perasaan masing-masing.
“Silvana…..” Zen menarik tubuh mantan
istrinya itu, kedalam pelukannya. Ia ingin menjerit sekeras-kerasnya, jika saja
mereka tidak emosi dan menyampingkan egoisme masing-masing, seandainya saja.
“Dasar
bodoh, kamu kira gimana caranya aku memaki kamu, membentak kamu, saat aku tau,
kamulah yang paling menderita saat keguguran seperti itu. Gimana aku bisa
membenci kamu, yang berusaha semaksimal mungkin, untuk menyelamatkan nyawa
orang lain, aku gak mungkin bisa benci sama kamu Silvana. Maafin aku….” Zen
menaikan suaranya, ia semakin mengeratkan pelukannya pada Silvana. Betapa ia
merindukan pelukan hangat istrinya itu, ia rindu dengan masa lalu.
“Maafin aku Zen, maafin aku untuk
segalanya….” Silvana mengeratkan pelukannya pada Zen.
Sedangkan anak mereka, kini ikut menangis.
Semua ini sudah terlambat, tapi setidaknya Claudia masih berpikir, bahwa akan
ada masa depan yang lebih baik untuk semuanya.
Zen dan Silvana melepaskan pelukan mereka,
Zen menyeka air mata dari Silvana, dengan tersenyum ia menggunakan kedua
tangannya untuk memegang wajah Silvana.
“Jangan nangis lagi, yang penting kamu
udah bahagia dengan Bram, buat aku itu yang terpenting” seru Zen lemah.
Bukannya berhenti menangis Silvana justru
semakin menjadi, ia makin terisak. Zen bahkan harus menenangkannya dengan
mengelus punggung Silvana.
“Zen, aku mau kasih tau kamu satu lagi…”
“Kasih tau apa???”
“Aku menikah dengan mas Bram, karena
janjiku pada Aini…aku harus melindungi Aksa, itu yang diminta Aini 3 bulan
setelah kita bercerai”
Zen terdiam, jadi apa masih ada harapan
baginya?, apa lebih baik dia merebut Silvana lagi dari tangan Bram?, itu
pikiran yang normal, tapi apa itu yang terbaik.
Sedangkan Claudia, dia tidak percaya, jadi
semua ini berhubungan dengan Aksa dan Bram papa tirinya. Ini terlalu berat,
bahkan baginya, semua penyebab hancurnya keluarga Claudia karena perempuan yang
bernama Aini, dan semua rasa sedih yang ia tanggung hanya demi Aksa dan Bram.
Marah, kesal, sedih, kecewa dan benci itu semua yang ia rasakan kini.
“Claudia…kamu ngapain disitu??...”
Claudia terkejut, sekarang dihadapannya,
ada orang yang paling tidak ingin ia temui.
__ADS_1