
Silvana kini berdiri memperhatikan monitor
cctv yang ada dikamarnya, ia merasa gusar karena anaknya Aksa belum pulang juga
sejak kemarin malam.
“Sayang, udah gak usah ditungguin, percuma
Aksa pasti hari ini pun gak akan pulang” seru Bram sambil merangkul pundak
istrinya itu.
“Ini udah jam 3 pagi mas, aku khawatir
sama Aksa” Silvana memang tidak bisa menghubungi Aksa sama sekali sejak kemarin
malam, ia juga tidak tahu putra sambungnya dimana sekarang.
Bram cuma bisa terdiam sesaat, ia tahu istrinya
itu sangat menyayangi Aksa, tapi mereka bisa apa?. Ia juga sejujurnya merasa
menyesal sudah berkata seperti itu pada “Dia udah dewasa bukan anak-anak lagi,
lebih baik sekarang kita urusin masalah Claudia sama Reiki”
Lusa memang kedua keluarga sudah berencana
untuk saling bertemu, tapi entahlah apa ini waktu yang tepat, sedangkan
posisinya Aksa sudah 2 hari tidak pulang ke rumah, Nesya juga masih menginap di
rumah Zen, karena ingin menyiapkan acara ulang tahun Claudia.
Bram juga sudah menghubungi Zen tentang
masalah ulang tahun dan juga prihal lamaran Claudia. Tapi yang di dapati oleh
Bram adalah jawaban yang tidak pasti dari seniornya sewaktu kuliah itu.
Tentu saja ini membuat Bram jadi bingung,
entah kenapa firasatnya mengatakan bahwa jawaban kompak kedua orang tua kandung
Claudia ini, juga masih ada hubungannya dengan Aksa.
“Sejujurnya aku malah bersyukur Aksa ga
pulang sekarang” seru Bram tiba-tiba.
Silvana langsung melepaskan rangkulan
suaminya, perempuan ini lalu memasang wajah tidak senang, entah apa yang
membuat Bram berpikir bahwa lebih baik Aksa tidak pulang. “Mas kok ngomongnya
gitu” ucap Silvana dengan nada kesal.
Bram menghela nafas, ia yang sudah tahu
bahwa putranya itu ada rasa sejak dahulu pada Claudia tidak bisa berkomentar
banyak. Satu sisi ia merasa ini semua salah, bagaimana pun posisinya Aksa
tetaplah putranya, kebanggaannya, sedangkan Claudia adalah putri sambungnya,
sejak awal hubungan ini sudah salah.
Tapi disisi lain Bram juga merasa berdosa,
seandainya dia tahu bahwa Aksa ada rasa dengan Claudia, sejak awal dia tidak
akan menjalankan wasiat Aini, walaupun disaat Aini mendekatkan dirinya dengan
Silvana, pria ini sejujurnya sudah mulai timbul rasa kembali. Namun, jika saja
ia tahu pastinya Bram akan mengalah untuk Aksa.
Nasi sudah jadi bubur sekarang, apa yang
telah terjadi tidak bisa di putar lagi. Masing-masing dari mereka harus terus
menjalankan hidupnya, ini pilihan hidup yang sulit namun memang harus di jalani
dengan ikhlas.
“Apa kamu mau lihat Aksa pukul-pukulan
__ADS_1
lagi sama Reiki?”
Yang di khawatirkan Bram adalah jika Aksa
ada di tempat mereka membicarakan lamaran Claudia, bukan tidak mungkin Aksa memulai
perkelahian kembali. Masalahnya bagi Bram bukan siapa yang memulai, namun siapa
yang mengangkat tangannya terlebih dahulu.
Silvana terdiam, memang ada kemungkinan
Aksa menggila dan mengacaukan acara pertemuan kedua keluarga. Dari yang dilihat
perempuan itu sepertinya Aksa pun sudah tidak sanggup menahan semua perasaannya
pada Claudia.
“Aku bingung kita mesti gimana mas…kanan
kiri sama-sama anak, aku juga ga bisa dukung Reiki 100% karena gimana pun Aksa
juga sayang sama Claudia, dan mereka suka sama Claudia juga udah dari lama”
Silvana berjalan kearah tempat tidurnya, ia lantas duduk disana sambil menutup
wajahnya dengan kedua tangan.
“Kita ga perlu lakuin apapun Na, mungkin
memang yang terbaik jalannya seperti ini, Reiki dengan Claudia dan Aksa dengan
Syakilla”
Ucapan Bram kontan membuat Silvana
mendelik, kenap harus bawa-bawa Syakilla sih pikir perempuan itu. Sejak awal
melihat Syakilla, ibu dari Claudia ini sudah paham seperti apa karakter mantan
pacar Aksa itu.
Perempuan yang mungkin saja terlihat manis
dan santun, tapi hatinya tidak begitu. Syakilla terlihat seperti berdiri di
menguntungkan dirinya, dalam hal ini karena dia merasa Aksa adalah jodohnya
tentu saja dia berusaha sekuat tenaga, agar Aksa bisa jadi miliknya.
Akan tetapi menurut Silvana, perempuan
seperti Syakilla adalah type perempuan yang tidak bisa tulus mencintai
seseorang, setidaknya sampai saat ini cinta perempuan itu semu. Ia sedikit
banyak melihat dirinya saat muda pada sosok Syakilla. Seperti halnya Silvana
yang sudah sejak kecil di cuci otak bahwa Bram adalah jodohnya, Syakilla pun
mengalami hal yang serupa.
Perbedaannya adalah, Syakilla tidak bisa
move on dan menjadi tertantang untuk mendapatkan Aksa, maka Silvana memilih
melepas Bram dahulu, karena menyadari dia tidak akan berbahagia dengan
seseorang yang tak memilihnya sejak awal.
“Kok jadi Syakilla sih mas? Lagi ya aku
heran sama kamu, kenapa sih kamu kayanya getol banget mau jodohin Aksa sama
dia, padahal jelas-jelas Aksa itu udah nolak mati-matian, apa kamu sekarang ga
nyium gelagat aneh dari anak sodara kamu itu hah?” Silvana mendelik, dia tidak
suka Bram selalu menyebutkan Aksa dan Syakilla secara bersamaan.
Bram menatap wajah istrinya itu, mungkin
saat ini Silvana harus tahu alasannya, kenapa ia terlihat seperti menyodorkan
Aksa pada keluarga Syakilla.
Kesal dan marah tentu saja, pada intinya
__ADS_1
ia ingin Bram berhenti untuk menjodoh-jodohkan Aksa dengan Syakilla. “Mas, Aksa
itu pasti bisa dapet yang lebih baik dari Syakilla, jadi kenapa seakan-akan ga
ada lagi perempuan yang pantas buat Aksa selain dia?”
Bram menggeleng pelan membuat Silvana
bingung, suaminya itu lalu lanjut bicara “Ga bisa Na, aku memang berharap Aksa
jadi sama Killa sampai pelaminan, semua itu ada alasannya…”
Silvana membelalakan matanya, iya tidak
menyangka kalau Bram punya rencana lain di balik hubungan kedua orang itu.
Sepertinya badai jilid dua akan segera menerpa keluarga mereka. “Maksud mas
apa, alasan? Alasan apa mas???…”
“Alasan aku ingin Aksa menikah dengan
Syakilla karena aku ingin Aksa jadi pewaris ku Na” ucap Bram pelan.
Silvana bingung, karena dia sama sekali
tidak tahu menahu dengan hal ini. Bram juga tidak ada cerita apapun padanya,
hingga sekarang ini. Suaminya itu pun melanjutkan penjelasannya “Syarat mutlak
dari mami, supaya Aksa bisa jadi pewarisku itu cuma dengan menikahi Syakilla…”
“Apa…tunggu mas bilang apa tadi? Syarat
mutlak dari mami? Apa-apaan ini mas, kenapa kamu ga cerita sama aku?!”
Mami? Jadi Indah masih juga berlaku tidak
adil begitu pada Aksa, semua ini membuat kepala Silvana tambah sakit.
“Mami pengen Aksa menikah dengan Syakilla,
karena gimana pun juga Syakilla masih keponakan aku juga” jelas Bram pada
Silvana.
Silvana sunguh ingin bicara langsung pada
Indah, dia harus bisa menerima bahwa Aksa adalah anak dari Bram, lagipula
persetan dengn masalah ‘sedarah’, apa nilai-nilai keluarga yang dianut oleh
Indah serendah itu. “Mas….ini semua ga bener, kita mesti ambil sikap. Lagipula
apa mas kira Aksa bakalan mau jadi penerusnya mas kalo ada syarat macem begini.
Kita semua juga tahu Aksa bener-bener gak suka sama Syakilla”
Satu hal pula yang tidak diketahui oleh
Bram, Aksa sudah jauh-jauh hari membangun bisnis sendiri, kurang lebih pasti
karena dia sudah tahu bahwasannya jadi pewaris dari Bram pasti ada bayarannya.
Bram cuma bisa menunduk, ia tidak bisa
berkata-kata lagi. Sedangkan Silvana, dia berpikir harus turun tangan untuk
kali ini. Secepatnya ia harus menemui Indah dan menyelesaikan perkara ini
sebelum semakin melebar.
Ditempat lain….
Syakilla kini tengah menghubungi
seseorang, perempuan ini sepertinya baru saja melakukan sesuatu seperti yang di
perintahkan Reiki.
“Halo…hmmm iya…semuanya udah selesai.
Segera aku kirimin videonya sama kamu, Reiki….”
‘Ding dong ding... game over Claudia…’
Syakilla tertawa, saat ini dia punya senjata yang bisa membuat semua ini
__ADS_1
langsung, game over.