ME VS MY BROTHER

ME VS MY BROTHER
Episode 50


__ADS_3

Silvana kini berdiri memperhatikan monitor


cctv yang ada dikamarnya, ia merasa gusar karena anaknya Aksa belum pulang juga


sejak kemarin malam.


“Sayang, udah gak usah ditungguin, percuma


Aksa pasti hari ini pun gak akan pulang” seru Bram sambil merangkul pundak


istrinya itu.


“Ini udah jam 3 pagi mas, aku khawatir


sama Aksa” Silvana memang tidak bisa menghubungi Aksa sama sekali sejak kemarin


malam, ia juga tidak tahu putra sambungnya dimana sekarang.


Bram cuma bisa terdiam sesaat, ia tahu istrinya


itu sangat menyayangi Aksa, tapi mereka bisa apa?. Ia juga sejujurnya merasa


menyesal sudah berkata seperti itu pada “Dia udah dewasa bukan anak-anak lagi,


lebih baik sekarang kita urusin masalah Claudia sama Reiki”


Lusa memang kedua keluarga sudah berencana


untuk saling bertemu, tapi entahlah apa ini waktu yang tepat, sedangkan


posisinya Aksa sudah 2 hari tidak pulang ke rumah, Nesya juga masih menginap di


rumah Zen, karena ingin menyiapkan acara ulang tahun Claudia.


Bram juga sudah menghubungi Zen tentang


masalah ulang tahun dan juga prihal lamaran Claudia. Tapi yang di dapati oleh


Bram adalah jawaban yang tidak pasti dari seniornya sewaktu kuliah itu.


Tentu saja ini membuat Bram jadi bingung,


entah kenapa firasatnya mengatakan bahwa jawaban kompak kedua orang tua kandung


Claudia ini, juga masih ada hubungannya dengan Aksa.


“Sejujurnya aku malah bersyukur Aksa ga


pulang sekarang” seru Bram tiba-tiba.


Silvana langsung melepaskan rangkulan


suaminya, perempuan ini lalu memasang wajah tidak senang, entah apa yang


membuat Bram berpikir bahwa lebih baik Aksa tidak pulang. “Mas kok ngomongnya


gitu” ucap Silvana dengan nada kesal.


Bram menghela nafas, ia yang sudah tahu


bahwa putranya itu ada rasa sejak dahulu pada Claudia tidak bisa berkomentar


banyak. Satu sisi ia merasa ini semua salah, bagaimana pun posisinya Aksa


tetaplah putranya, kebanggaannya, sedangkan Claudia adalah putri sambungnya,


sejak awal hubungan ini sudah salah.


Tapi disisi lain Bram juga merasa berdosa,


seandainya dia tahu bahwa Aksa ada rasa dengan Claudia, sejak awal dia tidak


akan menjalankan wasiat Aini, walaupun disaat Aini mendekatkan dirinya dengan


Silvana, pria ini sejujurnya sudah mulai timbul rasa kembali. Namun, jika saja


ia tahu pastinya Bram akan mengalah untuk Aksa.


Nasi sudah jadi bubur sekarang, apa yang


telah terjadi tidak bisa di putar lagi. Masing-masing dari mereka harus terus


menjalankan hidupnya, ini pilihan hidup yang sulit namun memang harus di jalani


dengan ikhlas.


“Apa kamu mau lihat Aksa pukul-pukulan

__ADS_1


lagi sama Reiki?”


Yang di khawatirkan Bram adalah jika Aksa


ada di tempat mereka membicarakan lamaran Claudia, bukan tidak mungkin Aksa memulai


perkelahian kembali. Masalahnya bagi Bram bukan siapa yang memulai, namun siapa


yang mengangkat tangannya terlebih dahulu.


Silvana terdiam, memang ada kemungkinan


Aksa menggila dan mengacaukan acara pertemuan kedua keluarga. Dari yang dilihat


perempuan itu sepertinya Aksa pun sudah tidak sanggup menahan semua perasaannya


pada Claudia.


“Aku bingung kita mesti gimana mas…kanan


kiri sama-sama anak, aku juga ga bisa dukung Reiki 100% karena gimana pun Aksa


juga sayang sama Claudia, dan mereka suka sama Claudia juga udah dari lama”


Silvana berjalan kearah tempat tidurnya, ia lantas duduk disana sambil menutup


wajahnya dengan kedua tangan.


“Kita ga perlu lakuin apapun Na, mungkin


memang yang terbaik jalannya seperti ini, Reiki dengan Claudia dan Aksa dengan


Syakilla”


Ucapan Bram kontan membuat Silvana


mendelik, kenap harus bawa-bawa Syakilla sih pikir perempuan itu. Sejak awal


melihat Syakilla, ibu dari Claudia ini sudah paham seperti apa karakter mantan


pacar Aksa itu.


Perempuan yang mungkin saja terlihat manis


dan santun, tapi hatinya tidak begitu. Syakilla terlihat seperti berdiri di


menguntungkan dirinya, dalam hal ini karena dia merasa Aksa adalah jodohnya


tentu saja dia berusaha sekuat tenaga, agar Aksa bisa jadi miliknya.


Akan tetapi menurut Silvana, perempuan


seperti Syakilla adalah type perempuan yang tidak bisa tulus mencintai


seseorang, setidaknya sampai saat ini cinta perempuan itu semu. Ia sedikit


banyak melihat dirinya saat muda pada sosok Syakilla. Seperti halnya Silvana


yang sudah sejak kecil di cuci otak bahwa Bram adalah jodohnya, Syakilla pun


mengalami hal yang serupa.


Perbedaannya adalah, Syakilla tidak bisa


move on dan menjadi tertantang untuk mendapatkan Aksa, maka Silvana memilih


melepas Bram dahulu, karena menyadari dia tidak akan berbahagia dengan


seseorang yang tak memilihnya sejak awal.


“Kok jadi Syakilla sih mas? Lagi ya aku


heran sama kamu, kenapa sih kamu kayanya getol banget mau jodohin Aksa sama


dia, padahal jelas-jelas Aksa itu udah nolak mati-matian, apa kamu sekarang ga


nyium gelagat aneh dari anak sodara kamu itu hah?” Silvana mendelik, dia tidak


suka Bram selalu menyebutkan Aksa dan Syakilla secara bersamaan.


Bram menatap wajah istrinya itu, mungkin


saat ini Silvana harus tahu alasannya, kenapa ia terlihat seperti menyodorkan


Aksa pada keluarga Syakilla.


Kesal dan marah tentu saja, pada intinya

__ADS_1


ia ingin Bram berhenti untuk menjodoh-jodohkan Aksa dengan Syakilla. “Mas, Aksa


itu pasti bisa dapet yang lebih baik dari Syakilla, jadi kenapa seakan-akan ga


ada lagi perempuan yang pantas buat Aksa selain dia?”


Bram menggeleng pelan membuat Silvana


bingung, suaminya itu lalu lanjut bicara “Ga bisa Na, aku memang berharap Aksa


jadi sama Killa sampai pelaminan, semua itu ada alasannya…”


Silvana membelalakan matanya, iya tidak


menyangka kalau Bram punya rencana lain di balik hubungan kedua orang itu.


Sepertinya badai jilid dua akan segera menerpa keluarga mereka. “Maksud mas


apa, alasan? Alasan apa mas???…”


“Alasan aku ingin Aksa menikah dengan


Syakilla karena aku ingin Aksa jadi pewaris ku Na” ucap Bram pelan.


Silvana bingung, karena dia sama sekali


tidak tahu menahu dengan hal ini. Bram juga tidak ada cerita apapun padanya,


hingga sekarang ini. Suaminya itu pun melanjutkan penjelasannya “Syarat mutlak


dari mami, supaya Aksa bisa jadi pewarisku itu cuma dengan menikahi Syakilla…”


“Apa…tunggu mas bilang apa tadi? Syarat


mutlak dari mami? Apa-apaan ini mas, kenapa kamu ga cerita sama aku?!”


Mami? Jadi Indah masih juga berlaku tidak


adil begitu pada Aksa, semua ini membuat kepala Silvana tambah sakit.


“Mami pengen Aksa menikah dengan Syakilla,


karena gimana pun juga Syakilla masih keponakan aku juga” jelas Bram pada


Silvana.


Silvana sunguh ingin bicara langsung pada


Indah, dia harus bisa menerima bahwa Aksa adalah anak dari Bram, lagipula


persetan dengn masalah ‘sedarah’, apa nilai-nilai keluarga yang dianut oleh


Indah serendah itu. “Mas….ini semua ga bener, kita mesti ambil sikap. Lagipula


apa mas kira Aksa bakalan mau jadi penerusnya mas kalo ada syarat macem begini.


Kita semua juga tahu Aksa bener-bener gak suka sama Syakilla”


Satu hal pula yang tidak diketahui oleh


Bram, Aksa sudah jauh-jauh hari membangun bisnis sendiri, kurang lebih pasti


karena dia sudah tahu bahwasannya jadi pewaris dari Bram pasti ada bayarannya.


Bram cuma bisa menunduk, ia tidak bisa


berkata-kata lagi. Sedangkan Silvana, dia berpikir harus turun tangan untuk


kali ini. Secepatnya ia harus menemui Indah dan menyelesaikan perkara ini


sebelum semakin melebar.


Ditempat lain….


Syakilla kini tengah menghubungi


seseorang, perempuan ini sepertinya baru saja melakukan sesuatu seperti yang di


perintahkan Reiki.


“Halo…hmmm iya…semuanya udah selesai.


Segera aku kirimin videonya sama kamu, Reiki….”


‘Ding dong ding... game over Claudia…’


Syakilla tertawa, saat ini dia punya senjata yang bisa membuat semua ini

__ADS_1


langsung, game over.


__ADS_2