ME VS MY BROTHER

ME VS MY BROTHER
Episode 95


__ADS_3

“Non Haaanaaaaaaa !!! Non Hanaaaaaaa !!!”


Suara teriakan memanggil nama gadis kecil yang selalu tampak sedih itu menggema dimana-mana.


5 jam yang lalu Hana tiba-tiba saja menghilang, dicari ke tempat biasa dia sembunyi pun hasilnya nihil. Rasa panik pun melanda keluarga Priambudi.


Bahkan Silvana sudah menangis, ketakutan kalau cucunya itu hilang atau kenapa-kenapa saat bermain.


‘Bagaimana kalau Hana diculik?’


‘Jangan-jangan Hana tak sadarkan diri disuatu tempat!!’


‘Apa mungkin Syakila datang dan membawa Hana ?’


Berbagai macam pikiran buruk itu tak ada hentinya lalu lalang, di dalam benak seluruh orang. Mereka sangat khawatir sesuatu yang buruk terjadi pada gadis kecil itu.


“Sebenernya terakhir itu, kamu ninggalin Hana dimana sih ?!” Tanya Silvana kepada pengasuh Hana. Dirinya sedikit kesal, karena Lala pengasuh Hana, sama sekali tidak tahu kemana perginya gadis itu.


“Maaf bu...tadi saya cuma sebentar ninggalin non Hana buat ambil cemilan yang di buat sama mba Claudia...saya gak tau kalau non Hana bakal hilang begini...” ucap Lala sambil menangis. Dia juga khawatir pada Hana, bagaimana pun baginya Hana sudah seperti anak sendiri, karena sejak kecil gadis itu dialah yang mengasuhnya.


“Ya Allah, Hana ada dimana” Silvana terduduk sambil menangis.


Tiba-tiba suara yang memanggil nama Silvana terdengar.


“BUNDAAAAAAAA !!!!!!!!”


Aksa berteriak sekencang-kencangnya. Ia berlari sambil membawa tubuh Hana yang telah terkulai lemah.


“HANA ?!!!!!!”


Semua penghuni rumah itu berteriak disaat yang bersamaan. Mereka terkekut saat melihat Hana berada di dalam pelukan Aksa dalam kondisi tak sadar.


“Kok bisa begini?!” Tanya Silvana panik.


Aksa menggelengkan kepalanya. Ia sama sekali tidak tahu kenapa putri kecilnya itu tergeletak tidak bergerak sama sekali.


“Aksa dimana Claudia ?” Tanya Bram yang tidak melihat putri sambungnya sedari tadi.


Kali ini Aksa terdiam, dia tak tahu apa yang harus di katakannya. Lidahnya keluh begitu saja.


Hana pun di baringkan di kamarnya, dan segera di periksa oleh Silvana.


Disaat semua orang panik karena melihat Hana pingsan, hanya Nesya yang menyadari gelagat aneh dari Aksa.


“Ka sini dulu sebentar, eyang mau ngomong” Nesya menepuk pelan pundak Aksa, meminta pria itu mengikutinya keluar kamar.


“Eyang...” ucap Aksa lirih.


Dari sorot matanya Nesya tau betul ada yang tidak beres. Dalam benaknya, ia berpikir kalau hilangnya Hana tadi, bisa saja ada hubungannya dengan Claudia.


“Sekarang kamu cerita kemana Claudia?, kami semua terlalu fokus nyariin Hana, sampai ga ada yang sadar kalau Claudia ga ada disini!!”


“Eyang...Aksa...”


“Kamu harus jawab eyang !! Bukan cuma kamu yang anggap kalau Claudia itu penting!...sudah susah-susah eyang minta tolong Nico buat bawa anak itu pulang, kalau sampai kamu bikin dia ga betah disini, gimana eyang mau bantu kamu dapetin hatinya lagi Ka?!”


Seperti tertampar, apa yang di ucapkan oleh eyangnya memang benar, bagaimana caranya dia bisa merebut hati Claudia lagi, kalau gadis itu memutuskan untuk pergi.


Aksa terdiam, ia berpikir apa yang salah sebenarnya. Jika diingat lagi beberapa saat yang lalu semuanya tampak baik-baik saja, sampai....


5 jam yang lalu, saat Claudia menyuapi Hana sambil bermain di taman.


“De, apa ga bisa kamu luangin waktu sebentar aja ?” Pinta Aksa.


Claudia menatap sinis kearah Aksa, tidak suka dengan Aksa yang selalu mencari celah, agar bisa bicara dengannya.


Ini sudah kesekian kalinya Aksa berusaha mendekatinya disaat Claudia tengah mengurus Hana. Aksa memang sengaja, karena dia tahu Claudia tak mungkin marah, kalau ada di dekat Hana.


“Bisa gak kakak jangan kaya gini ?! Apa harus banget ya ambil kesempatan tiap kali aku lagi ngurusin Hana ?”

__ADS_1


Claudia melirik kesal kearah Aksa, sedangkan Hana menatap Claudia.


Gadis kecil itu bingung, kenapa perempuan baik hati yang selalu menuruti keinginannya itu, begitu dingin pada papanya.


Tiap kali Aksa mendekati Claudia, gadis itu bertindak defensive. Walaupun Hana masih kecil dia bisa dengan mudah merasakan hawa-hawa permusuhan yang ditampakan tantenya itu.


“Aku tau ini ga baik, tapi kalau aku langsung ajakin kamu ngobrol pasti ujung-ujungnya kamu bakalan kabur. Apa ga bisa kita kembali kaya dulu? Aku tau perasaan kita masih sama Di, aku—“


Claudia melirik Aksa dengan tatapan marah sepanjang pria itu bicara. Disaat Aksa sudah mulai membawa-bawa hubungan mereka di masa lalu, dengan cepat Claudia menutup kuping Hana dan memotong ucapan Aksa.


“Tapi statusnya udah beda !” Seru Claudia, sambil menunjukan rasa kesalnya.


Ketakutan Claudia jelas, bagaimanapun kelakuan Syakila, dia jelas adalah ibu yang melahirkan Hana.


Claudia tidak ingin Hana merasakan sakit hati. Bagaimana pun buruknya Syakila, apa yang diucapkan oleh Aksa bisa membuat Hana merasa ayahnya itu berniat untuk mengganti ibunya.


Hal ini menjadi salah satu faktor pemberat, kenapa Claudia mati-matian menghindar dari Aksa.


Gadis ini merasakan betul perasaan ‘tidak terima’, ketika bundanya memutuskan untuk menikah lagi, tanpa menanyakan pendapatnya.


Pikir Claudia, kalau dia saja yang sudah SMA saat itu, tidak bisa dengan mudah menerima bahwa bundanya memilih untuk menikah lagi ketimbang rujuk, maka bagaimana dengan Hana?.


Bagi gadis sekecil Hana, pasti akan sulit untuk menerima kondisi bahwa papanya berniat menceraikan ibu kandungnya, demi Claudia.


Ya, semua pikiran itu didasari atas ketidak tahuannya, akan perkara yang sebenarnya terjadi, di dalam rumah tangga Aksa.


Disisi lain, Aksa setelah mendengar Claudia berteriak padanya, ia langsung memanggil pengasuh Hana.


Tak lama kemudian Hana langsung dibawa menyingkir dari sana.


“Sekarang udah ga Hana ?! Apa ga bisa kita omongin semuanya baik-baik?” Seru Aksa dengan raut wajah serius.


Ini momen, dia tidak mungkin pasrah lalu menyerah begitu saja.


“Kakak mau denger apa dari aku?!” Claudia langsung menanggapinya dengan ketus, apalagi sebenarnya yang Aksa inginkan. Sudah ada anak, apa pantas masih memaksakan perasaan ?.


Aksa menghela nafasnya kasar, sembari menarik rambut depannya dengan satu tangan. Ia mencoba untuk mengendalikan emosinya.


“Kakak tuh udah gila ya !!! Kakak itu udah punya istri kak !!! Apalagi ada Hana ! Bisa gak kakak ga egois!!!”


Claudia begitu kesal, apa sebucin itu Aksa ?. Padahal saat bersama dengan Reiki, Claudia bisa menahan emosinya, walaupun perbuatan Reiki lebih parah.


Tapi mungkin ini juga karena perbedaan dalam mengendalikan emosi, Reiki cenderung sangat tenang, seperti air yang menghanyutkan. Sedangkan Aksa, dia begitu ekspresif, seperti api yang membakar kayu.


“Kalau aku tetap berusaha mempertahankan pernikahan aku sama Syakila, itu baru aku egois !!!”


Claudia terdiam, Aksa memang sedikit meninggikan suaranya.


“Apa menurut kamu aku harus tetap bersabar dan berlagak semua baik-baik aja, disaat aku tau kalau setiap harinya, Hana harus menerima siksaan dari ibunya sendiri?!. Apa menurut kamu, aku harus berumah tangga sama perempuan yang berkali-kali mencoba untuk membunuh darah dagingnya sendiri, bahkan sebelum dia lahir ?!”


Aksa mengatakannya sambil menangis, air matanya tumpah saat dengan jelas ia melihat Hana dikurung selama tiga hari tanpa di beri makan sama sekali, bahkan gadis itu harus buang hajat di lantai.


Itulah kali pertama Aksa tau, kalau siksaan istrinya kepada Hana semakin parah, ‘Hukuman’ yang selalu di sebut-sebut oleh Syakila, sudah bukan lagi sesuatu yang normal.


Lalu bagaimana dengan Claudia ?. Gadis ini membelalakan matanya, luar biasa terkejut saat mendengar apa yang dikatakan oleh Aksa.


Sepertinya ini jadi jawaban juga untuknya, karena selama mengurus Hana, Claudia memang menemukan beberapa bekas luka di tubuh Hana, tapi semuanya sudah sembuh.


“Selama ini, Hana sama sekali tidak pernah merasakan kasih sayang dari ibu kandungnya. Yang dia terima hanya rasa sedih, trauma dan luka yang tidak akan pernah bisa hilang”


Ada luka yang amat mendalam bagi Aksa,ia merasa bersalah karena sempat berharap bahwa semuanya akan normal bagi hidupnya, selama berumah tangga dengan Syakila.


Sedangkan bagi Claudia, apa yang terjadi pada keponakannya itu, jelas sangat menyakitkan. Baginya mendengar bahwa, Hana dengan tubuh kecilnya itu, berusaha mempertahankan hidupnya dari ibu kandungnya sendiri, begitu diluar akalnya.


“Tapi semuanya berubah, hanya dengan kehadiran kamu. Aku bisa liat kalau Hana mulai bisa tersenyum, tertawa dengan lepas, bahkan bertingkah seperti anak seusianya. Selama berada di samping kamu, dia juga bisa bersikap manja tanpa menunjukan sorot mata ketakutan, seperti yang biasanya dia tunjukan pada kami semua”


Ya selama ini Hana selalu tertutup, tidak pernah satu kalipun gadis itu tersenyum dan tertawa dengan riang. Hana cuma bisa merengek dan menangis, itupun terkadang tanpa suara.


Dia juga lebih sering bersembunyi saat sedih, semua karena ia takut kalau tangisannya membuat dirinya dipukuli lagi.

__ADS_1


Aksa pun meraih tangan Claudia, menggenggamnya dengan erat, sembari tertunduk ia bahkan bersimpuh di depan gadis yang paling dicintainya itu. Tidak ada penolakan dari adik sambungnya tersebut, membuat Aksa semakin ingin membuat Claudia berada disisinya.


“Apa gak bisa kamu tinggal disini? Demi Hana ? Demi aku ? Demi kita...apa ga bisa kita bekeluarga seperti apa yang kita inginkan dulu?” Ujar Aksa lirih.


Claudia mengernyitkan dahinya, menghela nafas kasar lalu membantu Aksa untuk berdiri.


Tak banyak yang bisa dikatakan oleh Claudia, ia hanya menghapus air mata yang mengalir di pipi kakaknya itu. Entah bagaimana perasaannya sekarang, ia pun sama sekali tak paham.


Yang Claudia tahu, dia hanya tak bisa lari lagi. Mau tidak mau dia harus menghadapi Aksa, dengan segala harapan dan permintaannya.


“Aku...aku ga bisa jawab sekarang ka...kakak juga harus tanya Hana, bagaimana pun perubahan di hidup kakak, Hana pasti akan terseret kedalamnya. Lagipula dia itu darah daging kakak sendiri, gak adil kalau kakak memutuskan semuanya tanpa mempertimbangkan keinginan Hana”


Tidak bisa dipungkiri, hari Claudia sedikit melunak, tapi itu bukan berarti cukup memberinya alasan yang kuat, untuk mengabulkan permintaan Aksa.


Perceraian kakaknya itu harus rampung dulu, kemudian Hana juga harus di beri tahu dan di beri pengertian, kalau gadis kecil itu menolak, Claudia tidak mungkin bersedia menerima semua permintaan Aksa.


Di lain pihak Aksa tau kalau Claudia tidak menolak permintaannya, tapi bukan berarti menerimanya. Hanya saja ada satu hal yang mengganjal di hati pria itu.


Kebenaran akan status Hana. Tuan putri kecilnya itu memang anaknya, tapi bukan darah dagingnya. Walaupun rasa sayang Aksa begitu besar pada gadis kecil itu, namun ia merasa Claudia harus tau dulu kebenarannya. Ia tak ingin menutup-nutupi semuanya, sangat tidak adil bagi Claudia, pikir Aksa.


“Apa yang kamu bilang benar, tapi ada satu yang salah...” seru Aksa sambil menarik tangan Claudia dari pipinya, lalu menggenggam dan menciumi kedua tangan gadis itu.


“Salah?”


Claudia tentu bingung, apa yang salah dari ucapannya.


Aksa mengangguk, ia menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskannya dengan perlahan.


“Hana bukan anak kandung aku Di...”


Kaget bukan main, Claudia tidak percaya apa yang dikatakan oleh Aksa. Hana bukan putri kandungnya ? Kalau begitu kenapa Aksa tidak menceraikan Syakila sejak awal, seperti yang dikatakan olehnya dulu.


“Apa...bukan...anak kakak ???”


PLAAAAAAAAAAAK


Sebuah tamparan sekuat tenaga melayang tepat di pipi mulus Claudia.


“DASAR PEREMPUAN ****** !!!” Teriak Syakila dengan penuh emosi.


Terlihat dari jauh pak satpam ketakutan, jika keputusannya membiarkan istri Aksa itu masuk berunjung dengan dirinya di pecat. Iya dia satpam baru, tidak tahu kalau Syakila ini termasuk manusia yang tidak boleh menginjakan kakinya di rumah keluarga Priambudi.


Aksa tanpa basa-basi langsung menarik lengan Syakila, mendorong istrinya itu agar menjauh dari Claudia, yang tengah memegangi pipinya.


“KILA !!! APA-APAAN KAMU !!!”


Adu mulut tak terelakan lagi, Syakila tidak terima saat melihat suaminya tengah menggenggam sambil menciumi punggung tangan Claudia.


Merasa adu mulut suami istri itu akan semakin parah, Claudia lantas menarik tangan Syakila, membuat dirinya terkejut dan berhenti bicara.


“Gak disini...” ucap Claudia sambil menampakan ekspresi datar.


“APA !!!!” Teriak Syakila sekuat tenaga.


“Kalau kamu mau ngomong sama saya, bukan disini tempatnya !, saya ga mau kamu bikin Hana ketakutan lagi. Udah cukup kelakuan gila kamu!!!”


Claudia pun berjalan meninggalkan Aksa dan Syakila. Tak lama gadis itupun membalikan badannya, menatap sinis kearah kakak iparnya tersebut.


“Ayo ikut, mau ngapain kamu disitu. Banyak yang harus kita bicarakan !” Tukas Claudia tegas.


Tentu melihat Claudia ingin bicara empat mata dengan Syakila, membuat Aksa cemas. Istrinya itu sakit jiwa, bagaiman bisa diajak bicara baik-baik.


“Claudia...”


“Ini urusan perempuan, kakak ga perlu ikut campur. Aku titip Hana”


Akhirnya mereka berdua pun pergi, dengan mobil masing-masing Claudia dan Syakila meninggalkan kediaman keluarga Priambudi.


***

__ADS_1


‘Aku bukan anaknya papa ???’


Dan tak lama kemudian, Hana hilang.


__ADS_2