ME VS MY BROTHER

ME VS MY BROTHER
Episode 82


__ADS_3

Halo semuanya apa kabar ????


Hahaha pasti pada kesel ya sama author lol


Maaf ya tiba-tiba ga pernah upload...


Karena ada satu dan dua hal pada akhirnya saya ga bisa melanjutkan untuk menulis cerita beberapa bulan ini...


Tapi karena semuanya juga sudah mulai terkendali, kita lanjutkan lagi ya perjalanan hidupnya Claudia dkk...


Oh ya sebelum itu mohon maaf lahir dan batin lol...


Silahkan menikmati ceritanyaaaaa xP


*_*_*_*_*


Malam sudah hampir berlalu, menjelang pagi walaupun matahari belum menampakan sinarnya. Lelah, namun memang begitulah rutinitas yang Aksa lakukan selama beberapa tahun terakhir.


Ia menyibukan diri agar lupa dengan apa yang di hadapinya. Terobati dengan waktu atas semua derita perasaan yang dirasakannya.


“Aksa?! kamu baru pulang?” Ujar Bram yang baru saja mengambil segelas air dari dapur.


Aksa mengagguk, ia pun melihat kearah jam. Ah, pantas saja ini sudah jam 2.45, ayahnya itu pasti tengah bersiap sholat tahajud.


“Aksa keatas dulu ya pa” seru Aksa sambil tersenyum lemah, dia sudah sangat lelah dan ingin segera membersihkan diri


Saat Aksa hendak pergi Bram cuma bisa menghela nafas, entah sampai kapan putranya itu akan menenggelamkan dirinya dengan pekerjaan.


Bram pun hanya bisa menghela nafas kasar, ia merasa bersalah pada Aksa namun di satu sisi ada perasaan lega karena pada akhirnya Aksa bisa memiliki semua yang sudah menjadi haknya.


Pria paruh baya itu pun berjalan terhuyung kembali ke kamar. Nampaknya cepat atau lambat ia harus segera memikirkan cara lain agar Claudia bersedia kembali ke rumah. Sudah tak ada cara lain untuk membuat Aksa memiliki hidup normal lagi.


“Lho kenapa mas ? Kok kamu pucet gitu ?” Tanya Silvana khawatir dengan kondisi suaminya.


Bram memang sempat sakit beberapa bulan terakhir ini, lumayan parah dan dokter menyatakan bahwa pria ini harus banyak istirahat juga tidak boleh banyak pikiran.


“Aksa baru pulang...” Bram berjalan kearah istrinya yang sedang berbaring di atas tempat tidur.


“Lagi?!” Ibu sambung Aksa ini meradang, putranya sama sekali tak menghiraukan ucapannya.

__ADS_1


“Apa coba aku ngomong lagi kali ya mas sama si kakak?! Kalo gini terus sekuat apapun badannya, pasti nanti bakalan timbul masalah juga”


“Kamu kan udah coba ngomong sama dia, ga ada perubahan juga kan?”


Rasanya sudah lelah Silvana mengomel, mulutnya sudah berbusa mengingatkan putra sambungnya itu agar berhenti melakukan hal yang sudah pasti akan merusak tubuhnya sendiri.


“Kalo gitu aku omelin aja pagi ini !!!” Silvana sudah mengambil ancang-ancang untuk memarahi Aksa, namun suaminya itu menggelengkan kepala perlahan.


Bram pun menghela nafas kasar, Aksa memang tidak pernah melawan apapun yang dikatakan oleh kedua orang tuanya, namun ia juga tak melakukan semua yang d pinta kedua orang tuanya.


Jika sudah begini memaki, bahkan memukulnya agar dia berhenti melemparkan diri sendiri kedalam segudang pekerjaan hanya jadi hal yang sia-sia. Semua itu di karenakan Aksa secara sadar melakukan apa yang ia jalani saat ini.


“Kita juga udah gak bisa omel-omelin dia lagi, Aksa bukan anak kecil yang bisa di tegur terus...” Bram tersenyum lemah.


Ya, inilah harga yang harus dibayarnya. Aksa sudah mendapatkan apapun yang diinginkan oleh semua orang, harta yang berlebih, jabata


“Aku cuma berharap Aksa bisa berhenti melampiaskan penyesalannya dengan cara memforsir diri untuk kerja...aku tau dia mau ngancurin badannya sendiri” Bram terdiam lalu tertunduk, menyesalkah dirinya ? Tidak juga, dia tau Aksa harus melalui ini mau tidak mau.


Di tempat lain...


Claudia menatap Reiki dengan ekspresi kaget, gadis ini tak percaya pada apa yang di dengarnya.


“Kakak udah tau ?” tanya Claudia sambil menaruh cangkir yang tengah ia gunakan untuk minum teh.


Claudia kembali terdiam, gadis ini entah mengapa tak sanggup menatap wajah Reiki.


Bukan karena merasa bersalah, tapi Claudia tak sanggup menatap penyesalan yang ditampakan oleh Reiki.


Dalam lubuk hatinya, gadis ini masih mengharapkan semua yang terjadi padanya selama ini hanya salah paham dan lebih baik lagi jika ia hanya bermimpi.


Di benaknya sering sekali terbayang saat Reiki mengetahui bahwa dirinya sudah tahu semua keburukan yang dilakukan oleh kakak sepupunya tersebut.


Saat dimana dirinya dan Reiki bisa saling jujur dan menganggap hal yang terjadi hanya ada di masa lalu, melupakan semuanya serta memulai hidup yang baru.


Sayangnya tidak mudah, sangat tidak mudah seperti apa yang kini ia hadapi.


Tidak berlebihan bagi Claudia ketika ia memang berniat menutup rapat-rapat semua rahasia yang diketahuinya sampai kedalam liang lahat.


Lagipula bagi gadis ini hubungannya dengan Aksa pun sudah tak bisa di selamatkan lagi, hubungannya kini dengan kakak sambungnya itu sudah tak ada masa depan, jadi untuk apa ia mengkonfrontasi Reiki disaat ia sudah bertekad untuk membangun masa depan baru tanpa memasukan Aksa juga Reiki dalam daftar calon suaminya di masa depan.

__ADS_1


Fresh start, itulah goals yang ingin ia capai dari awal hingga akhir.


Disaat Claudia sibuk dengan pikirannya sendiri, tiba-tiba Reiki berdiri dari duduknya dan langsung bersujud di depan kaki Claudia.


“Maaf....aku mohon maafin aku....” teriak Reiki histeris.


“Ka.......” Claudia tertegun, air mata yang ditahannya tak lagi bisa terbendung, ia pun ikut menangis.


“Maafin aku Di....aku tau aku ga pantes dapat maaf dari kamu, aku tau tapi aku...”


Claudia menutup mata sembari bangkit dari duduknya. Gadis ini pun turut bersimpuh di hadapan Reiki dan menggenggam kedua tangan pria tersebut dengan perlahan.


“Aku udah maafin kakak...tolong jangan begini ka...” pinta Claudia.


Reiki memberanikan diri untuk mengangkat kepalanya, lalu menatap kearah wajah Claudia.


Betapa terkejutnya Reiki ketika ia menyadari pada akhirnya Claudia memang sungguh memaafkannya, dari wajah gadis itu tak tampak sama sekali dendam, kebencian ataupun amarah, yang nampak hanya kesedihan, rasa bersalah dan juga penyesalan yang teramat dalam.


Reaksi gadis yang dicintainya itu justru malah tambah membuat Reiki semakin terpuruk, walaupun dia tahu bahwa dirinya dimaafkan tapi saat ini justru ia berharap bahwa Claudia marah besar bahkan memukulnya.


Namun apa yang di dapatinya jauh dari itu semua. Di titik ini ia seperti tertampar dengan keras, Claudia yang ada dihadapannya sudah bukan gadis kecil yang selalu mengikutinya kemana pun, yang selalu bergantung padanya, gadis yang selalu berlari menyambutnya.


Tidak Claudia jauh dari itu, gadis ini sudah jauh berlari meninggalkannya tanpa Reiki sadari. Walaupun tau kalau Reiki telah menghancurkan hatinya berkeping-keping Claudia masih bisa memaafkan dirinya, bersikap seakan tak ada apapun bahkan tertawa bahagia ketika bersama dengannya.


“Di-chan...” seru Reiki dengan suara bergetar.


Claudia menggelengkan kepalanya pelan, mengisyaratkan bahwa Reiki harus berhenti meminta maaf.


“Apapun yang terjadi kak, semua sudah jalan yang kakak pilih dan takdir yang harus aku jalani, saat ini aku cuma bisa meminta kakak untuk intropeksi diri dan berhenti menyakiti orang lain…anggaplah untuk semua rasa bersalah kakak, kakak bisa berjanji untuk memperbaiki masalah yang kakak timbulkan…” Claudia langsung memeluk Reiki setelah selesai bicara.


“Aku sayang kakak lebih dari semua kemarahan, benci dan dendam yang aku rasakan…diatas itu semua perasaan sayang dan kasih aku buat kakak punya nilai yang jauh lebih besar…untuk aku kakak adalah segalanya…seperti halnya ayah, bunda, eyang…”


“Hubungan sejajar antara keluarga tanpa Aksa didalamnya kan?” potong Reiki secara tiba-tiba.


Claudia langsung melepaskan pelukannnya dari Reiki lalu menatap pria itu dengan ekspresi sedih dan bingung.


“Kenapa aku ga bisa ada di hati kamu, sama halnya seperti Aksa yang membuat kamu terus menerus memikirkannya” seru Reiki.


Ya, pada akhirnya semua kegilaan yang terjadi tak lebih dan kurang, karena Claudia tak bisa mencintai Reiki layaknya gadis itu jatuh cinta terhadap Aksa.

__ADS_1


“Kenapa Di….” Reiki menangis untuk cintanya yang sejak awal memang sudah gagal. Dalam hatinya ia masih berharap bahwa akan ada keajaiban yang dapat mengubah hati Claudia, akan tetapi impiannya itu hanya akan tetap jadi impian saja nampaknya.


“Ka…maaf….aku ga bisa mencintai kakak seperti halnya aku mencintai kak Aksa…”


__ADS_2