
Alunan musik klasik berkumandang keseluruh ruangan, sebuah restaurant yang mewah untuk kalangan kelas atas itu tampak sangat elegan. Menyantap makan siang disana pasti menyenangkan dan juga menenangkan, sayangnya itu tidak terjadi pada Aksa.
Iya Aksa Faresta Priambudi, pria yang kini ketakutan kekasih hatinya menikah dengan orang lain. Saking menggilanya, Aksa kini sudah standby duduk manis menunggu mantan kekasihnya Syakilla.
‘Syakilla dimana sih, lama banget !’ gumam Aksa sambil mengecek ponselnya.
Sudah 1 jam dia menunggu Syakilla, tapi perempuan itu belum kelihatan batang hidungnya sama sekali. Tentu saja ini membuat Aksa menggila dia benci jika harus menunggu, apalagi menunggu perempuan yang tergila-gila padanya itu, Satu-satunya orang yang boleh membuat Aksa menunggu itu jelas saja hanya Claudia.
Tanpa pria itu tahu, sebenarnya Syakilla sudah ada disana sejak 1 jam yang lalu, perempuan ini tersenyum. Pertanyaannya kenapa Syakilla tidak langsung mendatangi mantan kekasihnya itu?.
“Hmmmm, ya kayanya sih memang dia serius, mas Aksa itu benci banget nunggu, kalau dia ga bener-bener butuh dia ga akan mungkin mau berlama-lama duduk disitu…Hmmm Ok, aku bakalan kasih tahu ke kamu gimana kelanjutannya nanti, bye” ucap Syakilla pada seseorang di teleponnya.
Syakilla bukan orang bodoh, dia tidak mungkin langsung mendatangi Aksa begitu saja, perempuan ini harus tahu berapa besar keinginan Aksa untuk meminta bantuannya, sebagai jaminan bahwa Aksa tidak akan berhenti menjalankan rencana mereka di tengah jalan.
‘Ayo kita mulai permainannya sayangku’ gumam Syakilla dalam hati sambil tersenyum sinis, ia pun berjalan mendatangi Aksa.
Disisi lain Zen kini sedang termenung di dalam kantornya, ia mengingat apa yang terjadi saat Claudia mendengar semua yang di katakan oleh Silvana.
“Ayah…” jawab Claudia lemah.
“Sayang…” Zen memeluk erat putri kecilnya yang kini telah menjadi gadis remaja, dia menciumi pucuk kepala Claudia sembari menangis.
Pemandangan haru itu pun sukses membuat orang-orang yang ada disitu menangis, wajar saja ini adalah kali pertama Zen bertemu kembali dengan Claudia, setelah 10 tahun tidak bisa memeluk putrinya dengan bebas.
Tanpa banyak bicara kedua orang itu hanya saling berpelukan sambil menangis, semua rasa rindu yang tersimpan membuat mulut keduanya kelu. Terlalu sulit untuk di ungkapkan dengan kata-kata, itulah yang terjadi saat ini.
Nesya yang senang melihat cucunya bertemu dengan ayahnya, merasa ini semua adalah keajaiban. Akan tetapi jam sudah menunjukan pukul 11 malam, sudah terlalu larut bagi keduanya untuk mulai berbincang, menyadari itu Eyang dari Claudia ini langsung menepuk pundak Zen
“Zen sekarang udah malem, gimana kalau nanti jadwalin lagi aja untuk ketemu Claudia…” seru Nesya hingga membuat Zen merenggangkan pelukannya pada putri kesayangannya itu.
Sayangnya gadis itu tidak senang saat Nesya memintanya untuk pulang kerumah, padahal Claudia masih ingin bersama dengan ayahnya.
“GAK MAU…” seru Claudia sambil menangis histeris, gadis ini sejujurnya takut dia tidak bisa bertemu lagi dengan ayahnya.
Sedangkan Silvana dia ketakutan Claudia tidak mau kembali pulang bersamanya, dan apa yang ia lihat semakin mempertegas kekhawatirannya. Putrinya itu benar-benar tidak ingin meninggalkan Zen sama sekali.
“Claudia” Neneknya mengelus pelan punggung mungil Claudia.
Gadis itu menangis dan memohon kepada Nesya, untuk membiarkannya bersama sang ayah.
“Eyang ade gak mau….ade mau sama ayah”
Silvana meradang, dia sungguh tidak ingin Claudia meninggalkannya. Mungkin saja dia sudah bisa membuka diri pada Zen, tapi trauma di tinggalkan Claudia terlalu berat baginya, dan sama sekali tidak mudah untuk dihilangkan begitu saja.
Perempuan itu pun langsung menarik tangan Claudia secara paksa, tentu saja ini membuat orang-orang yang ada disana terkejut. Silvana bisa bertindak secara agresif seperti itu.
“CLAUDIA…” Bentak Silvana, dan saat ini terjadilah tarik menarik antara ibu dan anak itu.
“Gak, lepasin bunda…ade mau sama ayah…” Claudia berusaha bertahan dengan tetap menggenggam tangan ayahnya itu.
Melihat kekacauan ini, Zen tahu Silvana belum siap untuk membiarkan dirinya bersama dengan Claudia. Luka lebih dari 1 dasawarsa memang tidak mungkin di obati dalam waktu 1 jam. Namun, dia berbohong jika mengatakan bahwa dia tidak ingin menghabiskan waktunya bersama dengan putri kesayangannya itu.
Memilih jalan tengah, tentu saja Zen akan melakukannya, dia perlu membuktikan pada Silvana, bahwa dia tidak akan mengulangi perbuatannya dengan membawa kabur lagi putri mereka, pada akhirnya pria ini ingin hubungannya menjadi lebih baik dengan Silvana maupun Claudia.
Zen pun memeluk Claudia dengan satu tangan, sedangkan tangannya yang lain menepuk pundak Silvana, seakan mengisyaratkan pada manta istrinya itu untuk membiarkan dirinya membujuk Claudia. Silvana pun hanya mengangguk sambil menatap Zen dengan penuh pengharapan, agar putri meraka mau ikut pulang lagi bersama dengannya.
“Ade” seru Zen dengan lembut.
__ADS_1
Claudia hanya bisa menatap ayahnya dengan tatapan sedih, gadis ini mempererat pelukannya pada Zen.
“Sekarang ade pulang dulu sama bunda dan eyang, secepatnya kita ketemuan lagi ya, nanti kalau sempat ade nginep di rumah ayah ya, boleh kan Na?” bujuk Zen, berharap anak gadisnya itu mengerti bahwa dia masih bisa bertemu dengan ayahnya lagi secepatnya.
Menunggu jawaban Silvana, semua orang kini menatap perempuan itu, terlebih Claudia dan Zen, kedua orang ini memandang dengan penuh pengharapan, agar Silvana memberi ijin.
Mendengar apa yang diucapkan Zen, perempuan itu bimbang. Iya, Silvana masih takut jika ia membiarkan Claudia bertemu dengan ayahnya, maka semakin besar keinginan anak mereka untuk meninggalkan Silvana. Tak bisa menjawab, begitulah yang terjadi pada ibunda Claudia.
“Silvana…” Nesya menggenggam tangan putrinya yang benar-benar terasa dingin itu. Terang saja saat ini Silvana sangat panik, namun saat Nesya menatap anaknya sambil mengangguk, wanita yang melahirkan Claudia itu pun hanya bisa mengangguk juga menanggapi ucapan Zen.
“Janji ya bunda….om Bima sama tante Mey saksinya ya, bunda gak boleh bohong sama ade” senyum Claudia berkembang, dia kembali memeluk erat ayahnya itu dengan penuh rasa cinta dan kasih.
Zen menghela nafasnya dengan kasar sambil menutup matanya. Pria ini menyandarkan punggungnya di kursi yang ia duduki saat ini. Ia memijat pelan dahinya, karena bukan hanya persoalan Claudia saja yang ingat, tapi juga tentang Aksa.
Suara ketukan pintu membuat pikirannya akan kejadian beberapa hari yang lalu menjadi buyar, ia pun menegakan kembali posisi duduknya.
“Ya masuk” seru Zen.
Penat pria itu langsung berganti saat melihat siapa yang mengetuk pintunya, hanya kepala yang muncul sedikit dari balik balik pintu itu.
“Ayah….hehehe” seru Claudia sambil tersenyum lebar.
“Sayang…” Zen pun berdiri menyambut tuan putrinya itu. Ia melangkah dengan cepat, lalu membuka pintu ruangannya itu dengan lebar.
“AYAAAAAAH…..” Claudia langsung memeluk erat ayahnya itu, tentu saja membuat Zen kaget. Namun tentu saja afeksi yang ditunjukan oleh Claudia membuatnya senang, berapa banyak anak perempuan yang masih mau memeluk ayahnya diusia seperti ini, pikir Zen.
“Ayah ade kangen banget sama ayah…”
“Iya ayah juga kangen banget sama kamu de”
“Gak apa-apa…” jawab Zen sambil mengacak-acak rambut putrinya itu.
Claudia hanya tertawa saja, dia tidak masalah kalau yang mengacak-acak rambutnya itu Zen, dia ingat ayahnya memang sangat senang membuat Claudia kesal, tapi entah kenapa malah sekarang ini dia merindukan semua itu.
“Oh iya Reiki mana, kau dateng sama dia kan…”
“Yup….”
Suara ketukan pintu sekali lagi membuat Zen melangkah, dan membuka pintu ruangannya, disana sudah ada Reiki. Bagi Zen dia tidak kaget melihat perawakan pemuda itu, karena setiap tahun mereka pasti bertemu, semacam pertemuan keluarga, Reiki juga banyak cerita tentang Claudia saat itu.
“Masuk Ki..”
“Iya Om” Seru Reiki sambil menutup pintu. Mereka kini pun duduk di sofa, sambil berbincang ringan.
Hingga Claudia menatap Reiki yang tengah meminum tehnya, Claudia menarik nafasnya dan menghembuskan perlahan, seakan menarik semua keberanian dan membuang semua keraguan di dalam hatinya.
“Uhm Ayah, sebelum kita cerita banyak hal ada yang ade mau diskusiin sama ayah”
Claudia menarik tangan Reiki, dan menggenggamnya. Tentu melihat pemandangan seperti itu Zen mengerutkan dahinya, sejak kapan Claudia mulai berinisiatif untuk menyentuh Reiki lebih dahulu, seingatnya dari cerita Reiki beberapa minggu yang lalu Claudia masih menolak untuk disentuh pria itu.
Sedangkan Reiki, ia juga terkejut hingga tersedak karena sentuh Claudia yang sangat mendadak itu, bagi pria ini dunianya benar-benar jungkir balik hanya dalam waktu kurang dari 24 jam.
“Apa itu de?”
“Uhm ka Reiki..”
Claudia melirik kearah Reiki sebentar, memberi tanda agar pria itu membantunya untuk bicara, setelahnya ia melihat kembali kearah ayahnya.
__ADS_1
“Maaf sebelumnya om, tadi pagi sebelum kesini Reiki sama Claudi udah bicara, kita memutuskan untuk menikah secepatnya” ujar Reiki dengan penuh percaya diri.
Kaget tentu saja, Zen hanya bisa membelalakan matanya. Ia tidak menyangka bahwa Claudia dan Reiki sudah merencanakan sesuatu yang bahkan tak terbayang oleh pria itu.
“Maksud kamu” tanya Zen berusaha untuk tenang.
“Ade mau secepatnya jadi istri ka Reiki ayah, jadi ade bisa tinggal sama ayah nanti, iya kan ka Reiki?” seru Claudia yang di sambut anggukan oleh Reiki.
Ada yang tidak beres, firasat Zen mengatakan hal itu. Dia merasa ada yang membuat Claudia menjadi seperti ini. Mempercepat pernikahan hanya karena ingin tinggal dengan Zen mungkin bisa dipahami, tapi ini tidak semudah itu, ada alasan cukup kompleks yang mendorong Claudia mengambil keputusan besar dalam waktu singkat seperti ini. Semua pikiran itu berkecambuk di dalam kepala Zen.
Tiba-tiba pria itu teringat dengan Aksa, iya pemuda yang juga sangat mencintai putrinya itu. Ia kembali mengingat apa yang dikatakan oleh Aksa beberapa hari lalu.
“Aksa, kamu tau Claudia mau menikah dengan Reiki kan?, apa yang akan kamu lakuin?”
Aksa terkejut, dia tidak tahu bahwa Zen tipe orang yang tidak suka berbasa-basi, dia akan langsung tembak jika ingin bicara sesuatu. Aksa tertunduk beberapa saat, sembari menutup matanya.
“Saya…..” jawab Aksa pada Zen sambil melihat kearah ayah kandung Claudia itu.
“Saya tahu om, dan saya gak mau bohong sama om. Saya cinta sama Claudia, sejak pertama ketemu Claudi, walaupun awalnya cinta itu cuma cinta platonic, sekarang saya merasa bahwa saya tidak bisa hidup tanpa Claudia”
Zen tahu benar, pria ini serius akan ucapannya. Dia merasakan ketulusan saat mendengar ucapan Aksa. Ekspresi pria itu pun memang menegaskan jika ia bersungguh-sungguh menginginkan Claudia untuk bersamanya.
“Kalau om tanya apa yang akan saya lakuin, saya akan merebut Claudia dari Reiki dengan cara apapun om. Saya tidak minta om membantu saya, saya hanya minta om jangan menghalangi saya” Aksa mengepalkan tangannya, ia benar-benar gugup, tapi ia juga tidak mau jadi pengecut yang tidak jujur pada dirinya sendiri.
Pria ini juga tidak ingin berkata manis, ayah dari Claudia ini berhak tahu apa yang sedang dia pikirkan. Bahkan Aksa sudah bersiap menerima bogem mentah dari Zen.
“Hahaha, semangat kamu itu saya suka, dulu waktu Silvana patah hati sama papamu saya juga begitu kok” seru Zen sambil tertawa.
Tentu saja ini membuat Aksa kebingungan, reaksi yang ditampakan oleh pria itu benar-benar diluar dari ekspektasi Aksa.
“Om…”
“Seperti yang kamu bilang, saya tidak akan membantu kamu, tapi juga tidak akan menghalangi kamu, bersainglah dengan Reiki untuk mendapatkan hati Claudia”
“Terima kasih om…saya akan berusaha sebaik-baiknya” seru Aksa yang mulai berkaca-kaca.
“Tapi Aksa saya peringatkan sama kamu, sekali kamu melukai Claudia. Kamu bakalan berhadapan dengan saya”
Senyum Zen memang menenangkan, akan tetapi dalam sekejap keramahan itu terhenti. Aksa benar-benar merinding, ayah Claudia ini berubah dalam sesaat. Dengan jelas Aksa bisa merasakan intimidasi yang ditunjukan padanya. Tentu saja Aksa hanya bisa mengangguk beberapa kali, setuju dengan ucapan Zen yang kembali tersenyum setelahnya.
“Claudia, kamu tau gak apa yang lagi kamu omongin ini” Zen masih tidak yakin dengan apa yang di jelaskan Claudia tadi.
“Ade tau kok, makanya Ayah ade bolehkan nikah sama Ka Reiki…ka Reiki juga udah setuju kok…Iya kan ka?” Claudia langsung menatap Reiki kembali.
“Iya Om…kalau boleh Reiki bicara, sebenarnya Reiki dan Claudia sudah benar-benar menginginkan hal ini, jadi Reiki memohon ijin dari Om…” seru Reiki dengan sangat serius.
“Biarin om pikirinkan dulu ya Ki…”
“Ayaaaaaah….”
“Claudia sayang, ini masalah masa depan kamu, bukan hal main-main. Tapi yang bisa ayah kasih tahu ke kamu, jalani aja rencana kalian dulu, masalah nanti nikah siri atau gak, bisa kita omongin lagi saat pertemuan keluarga pasca kalian tunangan” Zen menenangkan Claudia yang tidak terima dengan keputusannya, pria ini mengelus kepala Claudia dengan lembut.
“Tapi…”
“Di…om Zen bener, pelan-pelan aja…kakak udah janji kan buat lindungin kamu, jadi jangan khawatir” Reiki tersenyum ia mengeratkan genggaman tangannya.
‘Claudia, kita akan menikah seperti mau kamu, secepatnya’ gumam Reiki dalam hati.
__ADS_1