ME VS MY BROTHER

ME VS MY BROTHER
Episode 72


__ADS_3

Cahaya matahari masuk dari sela-sela tirai yang tidak tertutup dengan sempurna, membuat Aksa mengerang karena terpaksa harus bangun dari istirahatnya.


“Ck…jam berapa sih ini?” Aksa kesal, ia memang bukan seseorang yang mudah untuk bangun di pagi hari.


“Jam 9 kak…makanya kalo abis sholat subuh itu jangan tidur lagi…” jawab sebuah suara dengan nada sangat kesal.


Aksa membatu, yang menjawabnya tadi, suara yang paling ia cintai di muka bumi ini. Ia memutar tubuhnya dan menatap kearah suara tersebut.


“Claudia…” ujar Aksa sambil tersenyum lebar.


“Kakak ini kenapa sih males banget bangun pagi” Claudia mengomel sembari membereskan barang-barang Aksa yang tergeletak di lantai, entah tadi malam ada badai apa yang menerjang kamar Aksa hingga berantakan luar biasa.


Omelan Claudia tak berhenti sampai disana, gadis itu masih mengoceh sembari membenahi barang-barang yang berserakan dimana-mana.


Claudia jelas kesal, seharusnya Aksa sudah siap dan mereka tinggal pergi saja sesuai rencana, tapi nampaknya ia sadar kalau kemarin malam Aksa mengalami hal yang sangat sulit. Akan tetapi, Claudia memilih untuk acuh dan berpura-pura tak mengetahui apapun.


“Katanya kemaren mau jalan sama aku, tapi apa liat jam segini masih molor…bikin kesel tau gak…” ucap Claudia marah. Gadis ini merasa Aksa seperti mempermainkannya.


“Hehehe”


Sayangnya Aksa memang senang dimarahi oleh Claudia seperti itu. Ia sama sekali tak keberatan jika harus mendengar omelan dan juga kemarahan gadis itu setiap harinya.


“Dih tawa lagi, udah cepet mandi biar aku yang beresin tempat tidurnya, biar cepet….”


Claudia pun membalikan badannya seraya membereskan baju yang berserakan di lantai. Aksa memperhatikan, ia berusaha mengingat dengan jelas figure gadis yang sangat ia cintai tersebut.


‘Kenapa aku merasa ini adalah terakhir kalinya, aku bisa puas natap punggung kecil kamu juga sosok kamu yang selalu berhasil bikin aku kangen…Semoga semua ini cuma firasat aja’ gumam Aksa dalam hati.


Sedari tadi malam perasaan Aksa tidak enak, sepertinya akan ada badai besar yang menghancurkan semua rencananya bersama dengan Claudia.


Aksa langsung menarik tubuh mungil Claudia dari belakang, hingga membuat gadis itu kini berada di pangkuannya.


“KAAAAAK…” seru Claudia terkejut.


“Kalau kita nikah, aku gak keberatan dengerin omelan kamu tiap hari kaya gini…” aksa memeluk erat Claudia, lalu menciumi pucuk kepala gadis itu beberapa kali.


Iya, ini hari terakhir mereka bisa bertingkah seperti sepasang kekasih, karena untuk menikahi Syakila hanya syarat ini yang diminta oleh Aksa kepada kedua orang tuanya, walaupun mereka berdua juga sudah merencanakan untuk kabur pergi entah kemana, jika pada akhirnya sulit untuk melepaskan satu sama lain.


Claudia hanya bisa diam saat Aksa mengatakan ‘jika mereka menikah’. Jujur perasaannya sangat sedih ketika ia mendengar Aksa dengan nada frustasi menyatakan kemauannya.


Tapi kehidupan ini juga harus tetap berjalan, mereka harus menjalani kehidupan ini untuk menggapai masa depan. Karena itulah Claudia bertekad untuk mendukung apapun rencana Aksa nantinya, soal hubungan mereka.


Cukup lama Aksa memeluk Claudia, merasakan suhu tubuh gadis mungil yang ia cintai, entah kenapa setiap berada di dekat adik tirinya itu, ia merasakan kentrentaman yang luar biasa, seakan Claudia adalah puzzle yang hilang di dalam hidupnya.


Tapi hal yang dirasakan oleh Aksa justru tak dirasakan oleh Claudia, ia merasa bersalah, merasa menjadi orang yang sangat bodoh, karena terlalu takut untuk mengambil langkah.


Setelah mempertimbangkan banyak hal selama berhari-hari, gadis itu pun akhirnya memutuskan untuk segera menyatakan semua hal yang ia dengar soal Reiki dan Syakila pada Aksa, di pengujung hari. Ia sudah membulatkan tekadnya, dan tidak ingin mundur lagi.


Muram selama beberapa saat, membuat Claudia lupa kalau sekarang mereka harus bergegas. Claudia pun membalikan badannya dan mencubit kedua belah pipi Aksa.


“ADUUUUUUH DI…..SAKIT….” memang benar sakit, Aksa tidak acting, Claudia juga tidak main-main saat mencubit pipi pemuda itu.


“Udah cepet mandi sana…” seru Claudia sambil cemberut.


“SIAP KAPTEN !!!” Aksa langsung melepaskan pelukannya dari Claudia, ia pun mencium pipi gadis itu dan berlalu pergi.


Claudia melihat ke ujung kamar Aksa, lelaki ini memang berniat membawanya pergi. Sebuah koper sudah rapih, membuat gadis ini menghela nafasnya dengan pelan.


‘Apa ini yang terbaik, apa aku terlalu egois untuk ikut merasa senang karena kak Aksa begitu menginginkan aku…tapi gimana dengan ka Reiki…’

__ADS_1


Claudia masih bisa mengingat dengan jelas, apa yang dikatakan Reiki saat ia mencuri dengar.


“Kamu gak akan ngerti Cha, gimana rasanya menunggu dan menjaga seseorang yang kita sayang, tapi orang itu ga menyayangi kita balik. Aku seumur hidup…semua yang aku lakukan hanya untuk Claudia…aku benar-benar mencurahkan seluruh waktu ku hanya untuk menjaga dia…aku benar-benar sayang sama dia dan ga bisa hidup tanpa dia”


Jujur apa yang dikatakan oleh Reiki itu sungguh menusuk kehatinya, ia tahu yang dimaksudkan oleh Reiki sebagai menyayangi balik adalah soal menginginkannya sebagai seorang lelaki.


Tapi perasaan Claudia pada pria itu, sepertinya tak bisa diubah. Bohong jika Claudia bilang tak menyayangi Reiki, selama ini selain ayahnya Reiki adalah salah satu sosok pria yang paling penting di hidupnya.


Rasa sayangnya pada Reiki sungguh besar, itu pula lah alasan terbesarnya tak bisa langsung menyampaikan semua yang ia tahu pada Aksa.


Terkadang Claudia bahkan berharap ia bisa merasakan perasaan yang sama kepada pria itu, namun sayang semakin ia mencoba untuk menerima perasaan Reiki, semakin dalam pula keinginannya untuk kabur dari semua keputusannya, dan lari bersama Aksa.


Ia sayang pada Reiki tapi perasaan itu seperti layaknya seorang adik kepada kakaknya, sangat jauh berbeda dengan apa yang dirasakannya terhadap Aksa.


‘Maafin aku ka Reiki…’ Claudia menutup matanya sembari mencengkram kerah bajunya.


*****


Di hari itu Aksa dan Claudia bersenang-senang, mereka memutuskan untuk pergi ke taman bermain.


“Kaaaak ayo dong, kita main yang itu aja ya…pleeaaaseee !!! ” seru Claudia sambil tersenyum.


Melihat wahana permainan yang di tunjuk Claudia, Aksa cuma bisa menelan salivanya saja. Sejak baru datang gadis ini tak henti-hentinya menunjukan permainan ekstrem.


“Ah gak mau kakak ga bisa main roller coster, ngeri ah…” Aksa yang melihatnya relnya saja, sudah pusing setengah mati. Dia bisa-bisa pingsan saat naik wahana itu, benar-benar tak bisa Aksa mengakui kalau dia takut.


Lagipula setiap orang punya kesukaan masing-masing kan, dan Aksa bukan tipe orang yang bisa mengatasi rasa takut akan ketinggian dengan baik.


Claudia cemberut, ia mau main permainan itu bersama Aksa, ia juga ingin berteriak sepuas mungkin diatas sana, melepaskan seluruh perasaan negatif yang berada di dirinya.


“Idih cemen banget sih…” ejek Claudia, sambil berharap Aksa akan terpancing hingga mau main bersamanya.


Belum selesai Aksa bicara, Claudia menarik tangan Aksa agar sedikit menunduk, setelahnya tanpa menunggu lagi, ia segera mengecup pipi Aksa. Membuat pria itu membatu.


“Udah aku cium ayo sekarang naik itu….” Ujar Claudia sambil menarik tangan Aksa untuk mengantri di wahana tersebut.


Seperti yang di ramalkan, Aksa K.O. Iabersumpah tak akan naik wahana seperti itu lagi, sungguh tak bagus bagi jantung pikirnya. Tapi kecupan singkat dipipi sepertinya cukup membuat Aksa mampu melakukan apapun, tapi ia masih sangat kesal karena begitu sadar ia sudah duduk disamping Claudia, dan menaiki roller coster.


Melihat wajah Aksa yang sudah tak karuan, Claudia tertawa terbahak-bahak. “Hahahahaha muka kakak gak banget ya ampun” ujar gadis itu.


Aksa ngambek, ia tak mau bicara pada Claudia. Tapi bukannya merasa bersalah Claudia malah semakin tertawa, Aksa pun akhirnya meninggalkan Claudia lalu duduk di sebuah bangku.


Menyadari bahwa dirinya sudah keterlaluan, Claudia pun berhenti tertawa. Namun ia tersenyum, dan mendekati kakak tirinya, Aksa cuma bisa buang muka.


Gadis itu duduk dan berusaha membuat Aksa melihat kearahnya, namun usahanya nihil hasil. Tidak kehilangan ide Claudia kembali melemparkan kecupannya di pipi Aksa, membuat pria itu kembali membatu sekali lagi.


Mau tak mau apa yang dilakukan oleh Claudia membuat Aksa kembali menatap kesayangannya itu.


“Makasih ya ka udah mau naik itu demi aku…” seru Claudia sambil tersenyum.


Aksa langsung berdiri, lalu menggenggam tangan Claudia dan berjalan dengan cepat entah kemana, tentu membuat Claudia bingung.


“Kak kita mau ngapain disini??” tanya Claudia, begitu mereka sampai di tempat yang cukup sepi, namun masih berada di dalam area bermain.


Aksa menatap kedua mata Claudia dengan lekat. “Kalau mau nyium jangan nanggung…” ucapnya.


Claudia tersenyum, ia pun menarik kerah baju Aksa dan mengecup bibir pria tersebut. Aksa tentu saja senang, pria ini langsung memeluk erat Claudia.


“Gimana udah gak nanggung lagi kan?” seru Claudia, sambil mendangakkan kepalanya.

__ADS_1


“Iya…tapi kurang lama, sekali lagi boleh gak?” tanya Aksa serius.


“Gak…nanti aja kita mesra-mesranya…kalo udah sah…” jawab Claudia sembari melepaskan pelukan Aksa.


Mata Aksa membelalak, ia terkejut. “Claudia….jadi keputusan kamu?”


“Ayo kita pergi ka…walaupun aku masih ragu, tapi ayo kita pergi….”


“Kamu serius?”


“Awalnya kaya yang kakak bilang, kita cuma harus bawa koper masing-masing dan mutusin apa kita harus pergi bersama, tapi…aku sadar kalau aku juga gak bisa kalau gak ada kakak…”


Aksa langsung memeluk kembali gadis yang sangat dicintainya itu, sambil berkali-kali mengucapkan terima kasih kepada Claudia.


Mereka saling bertukar senyum, iya hari ini di pengujung hari mereka akan pergi bersama-sama. Walaupun Claudia masih sedikit ragu, saat ia pergi tadi, bukan berarti dirinya tidak berisap-siap, ia seperti halnya Aksa,juga sudah menaruh kopernya di mobil.


Walaupun judulnya kabur, Claudia tetap mengabari ayahnya. Sehingga pelarian mereka ini mendapatkan bantuan dari Zen.


Mereka pun kembali melakukan apapun yang mereka inginkan. Dari mulai mencoba wahana lain, hingga menonton film.


Kini waktu sudah menunjukan jam 9 malam, mereka baru saja selesai makan dan memutuskan untuk berjalan-jalan sebentar, sebelum pergi ke rumah Zen, untuk keesokan harinya terbang ke luar negeri.


Claudia memeluk lengan Aksa, sambil menatap jalanan yang disekitarnya di kelilingi lampu yang berkelap kelip.


Waktu sungguh berlalu dengan cepat, ia masih ingat seminggu lalu ia meminta Silvana untuk memberikannya ijin agar bisa bersama-sama dengan Claudia selama satu minggu, hingga ia bersedia bersanding dengan Syakila.


Walaupun pada akhirnya, ia dengan sangat terpaksa harus berbohong dan memilih untuk membawa kabur Claudia. Aksa sama sekali tidak menyesali keputusannya ini.


“Di…aku minta maaf” ucap Aksa.


“Kenapa kak???”


“Karena aku kamu jadi gak bisa ikut ujian nasional…maafin aku, tapi aku janji aku akan berusaha sekeras mungkin untuk bahagiain kamu…”


“Aku bisa ulang setahun lagi nanti, begitu kita sampe disana…aku gak masalah kok kak…” Claudia tersenyum menenangkan Aksa.


Aksa tahu, Claudia lebih banyak berkorban ketimbang dirinya, karenanya ia bertekad untuk membahagiakan Claudia.


“Kita pergi sekarang??” tanya Claudia.


Aksa mengangguk, secara bersamaan ada perasaan bahagia dan juga bersalah. Kedua emosi itu sungguh berkecambuk didalam hatinya.


Saat mereka berjalan menuju parkiran mobil Claudia terkejut ketika melihat siapa yang menghubunginya.


“Kak…bunda telepon aku….aku lupa ngeblock bunda tadi…gimana ini….” Ucap Claudia panik.


“Sini kemariin ponsel kamu…”


Claudia memberikan ponselnya kepada Aksa, dengan mengerahkan seluruh keberaniannya ia mengangkat telepon dari Silvana.


“Halo bunda…” seru Aksa pelan.


“Kak, bunda udah tau rencana kalian” ucap Silvana tanpa basa basi.


Tentu Aksa langsung pucat mendengarnya, Silvana pasti memeriksa kamar kedua orang itu selepas pulang kerja, dan menyadari kalau koper keduanya tak berada di kamar masing-masing.


“Bunda..maaf tapi Aksa sama Claudia…”


“Batalin apapun yang kalian rencanain dan dengarkan bunda baik-baik kak…” Suara Silvana sangat serius, dan terdengar panik, bahkan Aksa bisa mendengar jika Silvana menangis.

__ADS_1


“Bunda…” Aksa merasa sangat bersalah, ia jadi bimbang sekarang.


__ADS_2