
“Udah di pesen semuanya?” tanya Bram.
Aksa mengangguk, saat ini mereka tengah memesan keperluan untuk pernikahan Aksa dengan Syakila.
Gedung, catering dan segala macam hal-hal yang berhubungan dengan pesta tengah mereka urus hari ini.
Sayangnya kebahagian yang pada umumnya dirasakan oleh mempelai pengantin, sama sekali tak tampak diwajah Aksa.
Daripada rasa senang atau antusias, Aksa malah terlihat sangat ogah-ogahan, sama sekali tidak terlihat gembira bahkan sepanjang hari ia terlihat kesal.
Bram tidak berkomentar, ia tahu benar anaknya itu sama sekali tidak ingin menikah. Tapi kini terlambat, hasil positif yang dibawa Syakila dan keluarganya tak terbantahkan lagi. Suka tidak suka, mau tidak mau Aksa harus bertanggung jawab atas anak yang tengah di kandung oleh Syakila.
Bagi pria paruh baya itu, Aksa sudah mau menerima kenyataan untuk menikahi Syakila saja sudah sangat cukup, yang terpenting kini adalah menyelamatkan masa depan Aksa.
Bram teringat beberapa hari lalu, saat ia menyatakan bahwa Aksa harus menikahi Syakila.
“Aksa gak mau pa, kalau disuruh tanggung jawab Aksa bakalan lakuin, anak itu bakalan jadi tanggungan Aksa” seru Aksa kepada Bram.
Kedua orang tuanya enggan berbicara, bagi mereka jalan keluarnya hanya menikahkan kedua orang muda-mudi yang sudah melakukan hal kelewat batas. Satu sisi mereka kasihan pada Aksa, tapi mereka juga tidak sampai hati membiarkan anak yang dikandung Syakila lahir tanpa ayah.
“Bun…Aksa mohon, gak mungkin Aksa gak lepas tanggung jawab sama darah daging sendiri, bunda….” Aksa memohon pada Silvana, meminta bantuan bundanya.
Silvana menatap Aksa dengan wajah sedih, ini bukan kemauannya dan sudah pasti bukan keinginannya juga. Ia berharap bahwa Aksa bisa mendapatkan jodoh yang lebih baik, jika boleh memilih Silvana tidak rela menikahkan putra sambungnya dengan perempuan gila seperti Syakila, namun sekali lagi ada nyawa yang suci di dalam rahim perempuan itu.
Silvana menarik kedua tangan Aksa, wanita ini berusaha membuat putranya lebih menerima konsekuensi dari perilakunya. “Ka, maaf tapi kali ini bunda sama sekali gak bisa bantu. Terlepas dari dugaan kita perihal Syakila memanfaatkan kamu, kenyataannya kamu memang melakukan hubungan badan, terus dia hamil, sama sekali gak terbantahkan nak, kan kamu juga sudah liat hasil pemeriksaan dari rumah sakit. Mau gak mau kamu harus tetep nikahin dia nak, jadilah lelaki yang bertanggung jawab bukan dimulut saja” Silvana menjelaskan, berusaha setenang mungkin, karena ini perkara yang besar bukan cuman masalahnya yang kalau di bawa jalan-jalan bisa hilang.
Iya, Aksa paham maksud bundanya, akan tetapi menikahi Syakila bukan penyelesaian terbaik, terbesit di benak pemuda itu untuk menunggu kelahiran anak yang ada di dalam rahim mantan kekasihnya tersebut, ia belum bisa mempercayai bahwa yang ada di perut Syakila adalah darah dagingnya.
“Tapi bun…”
“Aksa dengerin papa…sekarang gini aja, masalah kamu gak suka sama Syakila dan sebagainya kita kesampingkan dulu, yang harus kamu pikirkan adalah gimana caranya calon anak kamu itu punya keluarga yang lengkap. Seandainya disaat kalian menikah nanti kamu masih gak bisa nerima Syakila sebagai istri kamu, papa ijinkan kamu berpisah. Tapi untuk saat ini menikahlah dulu sama Syakila nak”
Bram serius saat mengatakan Aksa bisa saja menceraikan Syakila jika ingin, tapi untuk sekarang ketimbang memperdebatkan siapa yang salah atau siapa yang berbohong, lebih baik menyelamatlan martabat keluarga.
Aksa tidak punya pilihan, jika Bram sampai mengatakan lebih baik menikah terlebih dahulu, lalu bercerai maka mungkin ia harus menunggu, sembari mencari informasi lebih lanjut tentang kecurigaannya pada Syakila.
“Aksa paham pa, tapi Aksa gak mungkin bisa mencintai Syakila, perasaan Aksa cuma buat Claudia….bunda sama papa paham kan…”
Silvana mengerutkan dahinya, bukannya sama sekali tidak paham akan perasaan putra sambungnya, tapi ada hal yang lebih penting untuk dilakukan sekarang.
“Saat ini bukan waktu yang tepat untuk memikirkan gimana perasaan kamu sama Claudia ka…kamu pikirkan cara untuk menyelesaikan semua masalah yang ada di hadapan kita sekarang” seru Silvana, tidak ingin terbawa perasaan.
__ADS_1
Setelah Silvana yang berbicara, Aksa langsung terdiam. Ia tidak bisa melawan lagi, saat ini pilihannya memang hanya menikahi perempuan itu.
Tepukan pelan di pundak Aksa menyadarkannya dari lamunan, ia langsung membalikan badannya.
“Aksa, ambil ini” seru Bram, menyodorkan sebuah amplop coklat.
“Apa ini pa?” seru Aksa seraya membuka amplop tersebut.
“Draft perjanjian pra-nikah, setelah kamu nikah sama Syakila seluruh perusahaan keluarga akan jadi milik kamu. Hal lain juga sudah ada di list itu, kamu baca lagi aja”
Terus terang, mendengar Bram mengucapkan tentang perusahaan Aksa merasa sedih, ia tahu ini memang bukan kesalahan orang tuanya saat ia harus menikahi seseorang yang tak ia cintai.
Namun dia merasa Bram tetap mengambil kesempatan untuk membuat dirinya menjadi pewaris, sesuatu yang sama sekali tidak dia inginkan. Aksa merasa seperti menukar hidupnya dengan perusahaan.
“Pa!!! Aksa udah bilang kalo Aksa sama sekali ga berminat buat ngewarisin apapun dari keluarga papa!!”
“Dan papa cuma punya kamu nak…” Pria paruh baya tersebut menundukan kepalanya, ia tahu Aksa berpikir jika ia seperti menggadaikan putranya sendiri.
Tapi itu sama sekali tidak benar, ia dari awal hingga akhir, hanya ingin membuat Aksa sebagai pewarisnya, karena walaupun Aksa bukanlah darah dagingnya, ia tetaplah putranya.
Di sisi lain Aksa tersentak, selama ia hidup bersama dengan keluarganya baru kali ini dirinya melihat Bram mengatakan sesuatu seperti itu.
“Iya pa…” jawab Aksa singkat, sambil tersenyum.
Bram tersenyum, kembali menepuk pundak Aksa lalu mengajaknya untuk masuk kedalam mobil, melanjutkan perjalanan mereka.
Di tempat lain, Claudia bersama Eros dan Icha sedang mengobrol, membicarakan perihal rencana Claudia selanjutnya.
Raut wajah Icha sama sekali tidak senang, gadis ini menahan rasa sedihnya. Kalau bisa ia ingin menangis dan menghentikan apapun yang Claudia pikirkan saat ini.
Claudia mengelus pundak sahabatnya itu, meyakinkan bahwa dirinya akan baik-baik saja. “Aku udah pikirin masak-masak Cha…”
“Kamu yakin Di?” tanya Icha sambil menatap wajah Claudia dengan sedih.
Claudia mengangguk, tersenyum lemah membalas pertanyaan sahabatnya itu.
Eros menghela nafas kasar, ia ikut merasa sedih. Pemuda ini tau benar betapa pentingnya Claudia di hidup Icha, posisi mereka benar-benar seperti saudara kandung.
Tapi yang dikemukakan oleh Claudia tadi mungkin adalah pilihan yang paling aman dan masuk akal untuk semua pihak. Jadi walaupun sulit bagi Icha Eros ingin mendukung keputusan juniornya tersebut.“Gw setuju sama keputusan lo” ujar Eros.
“Ka Eros….” Icha mulai tak bisa menahan tangisnya, ia kesal pada Eros yang justru malah mendukung Claudia, bukan membantunya menghentikan sahabatnya itu.
__ADS_1
“Cha, disatu sisi Reiki mungkin salah, tapi disisi lain niatannya itu tulus ke Claudia, caranya aja yang gak bener…” Eros mungkin tidak setuju dengan cara Reiki dalam melindungi Claudia, tapi ia paham benar rasanya mencintai tapi tak disambut, lagipula Reiki selama ini tak pernah menyentuh gadis itu tanpa seijin Claudia sendiri.
[if !supportLineBreakNewLine]
[endif]
Jika niatan Reiki memang ingin mengukung Claudia agar terjebak dengannya, bukankah lebih mudah untuk melakukan apa yang Aksa dan Syakila lakukan, ketimbang membuat rencana seribet ini demi memenangkan hati Claudia?. Atas dasar itulah Eros bisa menilai, bahwa sesungguhnya cinta Reiki pada Claudia tulus, hanya nafsunya untuk mengklaim Claudia adalah miliknyalah yang mendorong dirinya untuk melakukan siasat jahat.
“Icha, ini yang terbaik…lagipula aku juga harus move on kan?, ka Aksa juga bentar lagi nikah sama Syakila”
Claudia menundukan kepalanya sebentar lalu menatap Icha seraya tersenyum, ia berusaha menampakan wajah tegar.
Sayangnya Icha paham benar gerak-gerik sahabatnya dan ia sadar kalau Claudia tengah berusaha agar Icha tidak mengkhawatirkan dirinya.
Berita akan kehamilan Syakila memang jadi pukulan telak bagi Claudia, gadis ini sudah tidak bisa lari kemana-mana lagi dengan Aksa, ketika tahu mantan tunangan kakaknya itu tengah berbadan dua.
“Di kita sama-sama tau kalau semua itu rencananya ka Reiki sama Syakila, seharusnya kita ungkap aja semuanya…” Icha ingin keadilan bagi sahabatnya itu, ia tidak sanggup melihat Claudia terus bersedih.
“Dan menambah konflik lagi? Cha aku udah capek sama semuanya…sekarang aku pasrahin aja sama yang kuasa…” Claudia sudah lelah, ia sudah tidak memiliki keinginan lagi untuk memperjuangkan cintanya dengan Aksa.
Sejak awal apa yang mereka perjuangkan juga sudah sia-sia, Claudia pikir mereka tidak berjodoh, maka dari itu ia harus ikhlas dan mulai menata hidupnya kembali.
Icha menangis, gadis berhijab itu langsung memeluk erat sahabatnya. Ia merasakan benar, betapa Claudia terpuruk akan kondisi yang ia alami. Mungkin Icha juga harus menerima keputusan sahabat baiknya itu.
“Maafin aku, seharusnya aku gak ragu buat cerita sama kamu dari awal” Icha terisak menyesali keputusannya diawal untuk tidak ikut campur.
“Hmmm gak Cha, ini bukan salah kamu…ini yang terbaik…” Claudia merenggangkan pelukan mereka berdua, lalu menghapus air mata yang jatuh di pipi Icha sambil tersenyum.
“Jadi kapan lo berangkat Di?” tanya Eros sambil menyeruput minumannya.
“2 minggu setelah ka Aksa resepsi”
2 minggu setelah Aksa menikah ? itu terlalu cepat pikir Icha. Disaat itu bahkan ijazah Claudia belum keluar, kenapa harus secepat itu pikir Icha.
“Di kamu beneran yakin ini yang terbaik?” tanya Icha cemas.
“Iya Cha, keputusan aku buat pindah dan ikut ayahku adalah keputusan terbaik yang bisa aku pikirin saat ini” seru Claudia dengan yakin.
__ADS_1