ME VS MY BROTHER

ME VS MY BROTHER
Episode 91


__ADS_3

Konnichiwa minna san...


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


Author mau promosi nih, selain me vs my brother, author juga punya novel lain lho judulnya Tsundere boy and Otaku girl, ceritanya di jamin menghibur !!! terus juga ada LOVE FROM STALKER, semuanya author sajikan cuma untuk pembaca setia dari MOXYAAL.


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


jadi jangan lupa mampir dan vote novel author yang masih satu universe dengan ME VS MY BROTHER YAAAA....


 


 


 


 


 


 


 


 


terus author mau minta pendapat kalian nih, ME VS MY BROTHER  draftnya sudah sampai di ujung cerita tapi, kami masih bingung nih enaknya karakter Syakila di apain ya? yuk ikut komentar, kalian maunya karakter antagonis yang paling kalian benci itu enaknya di gimanain ?? hahahaha


 


 


 


 


jangan lupa sekali lagi baca dan vote novel author Tsundere boy and Otaku girl dan LOVE FROM STALKER ya...


 


 


 


 


SELAMAT MEMBACA...


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


**********


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


“Eyang kata Nico mereka sampe jam berapa?” Tanya Aksa tak sabar.


 


 


Hatinya begitu gembira, berdebar tak karuan saat dirinya mendengar kalau pujaan hatinya kembali ke tanah air.


 


 


 


 


 


 


 


 


2 hari lalu sesampainya Aksa di rumah, selepas pulang kerja.


 


 


 


 


 


 


 


 


 


Hari sudah malam, lebih tepatnya menjelang subuh. Aksa seperti biasa dengan rutinitasnya pulang larut, ia terhuyung kelelahan.


 


 


Kepalanya terasa mau pecah, sungguh ia tahu obat-obatan tak bisa menenangkannya. Ia butuh Claudia, butuh gadisnya.


 


 


“Kamu baru pulang?” Seru suara seorang wanita.


 


 


Aksa terperanjat kaget, melihat sosok putih-putih keluar dari arah dapur. Rumah memang sudah gelap karena semua lampu dimatikan.


 


 


“Astagfirullah...siapa itu ?!” Hardik Aksa.


 


 


Sosok putih-putih itu semakin mendekat, dan ketika jarak mereka tinggal 1 meter lagi, Aksa berteriak merapalkan doa-doa yang terlintas di kepalanya sembari menutup mata sekencang-kencangnya.


 


 


“TIDAAAAK JANGAN MENDEKAT JANGAN GANGGU !!” seru Aksa panik.


 


 


“Kurang asem ya kamu !!! Kamu kira eyang ini apaaaa !!!” Seru Nesya, yang ternyata keluar dengan menggunakan mukena putih.


 


 


Aksa dengan cepat membuka matanya, menyadari kalo di depannya itu adalah sosok eyangnya.


 


 


“Ya ampun eyang !! Aksa kira siapa !!, kata bunda bukannya eyang hari ini sama grup pengajian ke cipanas?! Kok eyang di rumah???” Tanya Aksa bingung.


 


 


Nesya menghela nafas kasar, ingin rasanya ia menjewer Aksa, tapi nanti gimana dengan Hana. Rasanya gak pantas seorang lelaki beranak satu masih di jewer sama eyangnya sendiri, batin Nesya.


 


 


“Dada eyang sakit tadi, dari pada cari penyakit  bagus eyang batalin aja...terus kamu itu ya berkali-kali bunda mu ngomel, papa mu ceramah, mulut eyang juga sama berbusa ngasih tau kamu, tapi kenapa sih masih aja bandel ka? Hana itu kasian tiap malem nungguin kamu...”


 


 


Nesya kesal karena cucunya itu sama sekali tidak membantah, tapi juga tidak mengikuti semua yang dikatakan orang tuanya.


 


 


Kalau terus begini Aksa bisa kena penyakit, apa sih sebenernya yang dicari oleh cucunya itu, Nesya sampai bingung sendiri.


 


 


“Kamu itu kenapa sih ka ? Apa segitu pentingnya harta buat kamu? Sampai kamu ga bisa istirahat atau pulang kerja kaya orang lain?” Ucap Nesya emosi.


 


 

__ADS_1


Aksa cuma tersenyum lemah mendengar ucapan eyangnya, ia lalu menggelengkan kepala.


 


 


“Bukan itu yang Aksa cari eyang...jujur Aksa pun ga tau sebenernya apa yang Aksa lakuin sekarang. Yang Aksa tau cuman Aksa gak bisa hidup tanpa Claudia, Aksa gak sekuat itu ternyata...makin kesini tiap pulang ke rumah cuma bayangan Claudia yang bisa Aksa liat didalam rumah ini”


 


 


Aksa menunduk air matanya lolos begitu saja, hanya di depan Nesya dan Silvana dirinya bisa mencurahkan seluruh perasaan sedih di hati.


 


 


Nesya pun menghela nafasnya, merangkul tubuh Aksa yang bergertar hebat.


 


 


Ia sungguh rindu Claudia, obatnya cuma gadis itu, tujuannya cuma Claudia, dunianya berputar untuk gadisnya. Saat tiba-tiba Claudia pergi darinya, tentu saja hatinya rusak, perasaannya mati, ia tak bisa menerima kenyataan bahwa ia sendirian, tidak bisa mengerti kenapa takdir begitu kejam mempermainkannya.


 


 


“Aksa ga bisa lupain Claudia eyang, sekuat apapun Aksa berusaha membunuh perasaan ini, sekuat itu pula perasaan ini bertambah setiap detiknya. 5 tahun lebih Aksa berusaha belajar hidup tanpa Claudia, tapi setiap harinya seperti di neraka, jasad Aksa memang disini, tapi ruh Aksa benar-benar ingin pergi menjemput Claudia, memaksa ade untuk tinggal dan selalu bersama dengan Aksa...” Aksa menangis menumpahkan semua sedihnya pada Nesya.


 


 


Nesya pun meneteskan air mata, ia begitu sedih melihat kondisi kedua cucunya yang saling mencintai namun sangat sulit untuk bersama.


 


 


“Aksa berkerja keras juga untuk menunjukan, bahwa dengan Aksa berusaha mati-matian, tidak ada satupun yang bisa menghentikan Aksa, untuk apapun keputusan yang akan Aksa ambil nanti eyang”


 


 


Nesya memahami bahwa Aksa ingin memuluskan jalannya apabila ia berjodoh dengan Claudia, ia ingin semua orang mengakui dan mengamini keinginannya untuk bersatu dengan gadis yang begitu ia cintai.


 


 


Tapi tetap saja memforsir diri bukanlah hal yang bijaksana.


 


 


Sesaat Nesya teringat apa yang diucapkan oleh Nico tadi siang.


 


 


“Kalau boleh Nico minta, tolong eyang bawa ka Aksa juga...Nico sungguh sayang sekali sama Claudia, Nico tidak pernah sekalipun menganggap Claudia hanya sebagai sepupu, ade lebih dari itu, bagi Nico dia satu-satunya adik perempuan Nico di dunia ini. Karena itu eyang, Nico gak mau Claudia jadi perempuan lemah yang terus lari dari masalahnya, Nico mau kalau Claudia jujur pada dirinya sendiri juga ka Aksa, mereka berdua ga sepantasnya terjebak dalam kondisi seperti ini, apalagi dengan keadaan dimana mereka saling mencintai juga mengasihi satu sama lain”


 


 


Mungkin memang ada baiknya memberitahu Aksa tentang kepulangan Claudia.


 


 


“Ka, eyang mau kasih tau kamu sesuatu...tapi kamu harus janji satu hal sama eyang, apapun yang terjadi kontrol emosi kamu, eyang gak mau dengar kalian berterngkar beras, juga eyang gak mau mendebat, paham? Bisa gak kamu janji itu sama eyang?” Nesya serius, ia tahu benar dengan membawa Aksa menjemput Claudia, berarti membawa badai di sampingnya.


 


 


Kalau Aksa bisa menjaga emosinya, Claudia mengamuk pun tak masalah.


 


 


Aksa mengangguk, setuju. Walaupun jujur saja ia tidak mengerti dengan apa yang di minta oleh Nesya.


 


 


“Aksa janji eyang, bukannya eyang sendiri saksinya kalau Aksa sudah berubah, Aksa gak seperti yang dulu eyang” ucap Aksa serius.


 


 


Iya memang selama 5 tahun terakhir ini Aksa tidak pernah berulah, tapi Nesya tetap khawatir, kalau sudah berurusan dengan Claudia Aksa bisa jadi tidak akan bertindak seperti yang di inginkan.


 


 


“Eyang janji akan bantu kamu Ka, tapi kamu juga harus bantu diri kamu sendiri, perasaan seseorang itu harus dirinya sendiri yang mengatur bukan orang lain” ucap Nesya.


 


 


Aksa semakin bingung, apa sebenarnya yang ingin Nesya bantu.


 


 


“Iya Aksa paham eyang, tapi sebenernya apa korelasi antara semua ini? Kenapa eyang bilang Aksa harus jaga emosi dan sebagainya ?” Aksa mengernyitkan dahinya, bingung.


 


 


Nesya menepuk pundak Aksa pelan.


 


 


“Claudia akan pulang 2 hari lagi, sabtu nanti dia sampai jakarta jam 5 pagi, kamu mau ikut jemput dia ?”


 


 


Mata Aksa membelalak, terkejut.


 


 


 


 


“Eyang pipi Aksa sakit, ini bukan mimpi kan eyang? Yang Aksa denger gak salah kan eyang?” Aksa kembali menangis, tapi kali ini ia bahagia, tangisannya tangisan bahagia.


 


 


Ia tak bisa mengungkapkannya, betapa sekarang ia ingin memeluk dan menciumi Claudia, rasanya ia ingin melompat-lompat kegirangan. Kalau bukan karena ini sudah menjelang pagi Aksa pasti sudah berteriak, ya meneriakan nama gadis yang paling ia cintai.


 


 


“Kamu gak mimpi kok ka, ini nyata kok” seru Nesya tersenyum.


 


 


Dalam beberapa tahun terakhir, baru kali ini ia melihat Aksa sebahagia itu.


 


 


“Eyang Aksa ga sabar, Aksa mau ketemu Claudia !!!”


 


 


“Iya, masih dua hari lagi ka, tapi satu lagi kak, kamu jangan berharap terlalu tinggi”


 


 


Senyum Aksa tiba-tiba menghilang dari wajahnya.


 


 


“Iya eyang, Aksa tau kok...walaupun sulit asal Claudia ada di samping Aksa sekarang ini udah cukup”


 


 


Aksa tidak bodoh, dia tau sedikit banyak Claudia pasti berubah, setiap manusia itu makhluk yang dinamis tidak mungkin gadisnya masih bersikap sama seperti 5 tahun lalu, sedikit banyak pasti ada perubahan.


 


 


“Yaudah kamu mandi sana, terus sholat ini udah mau subuh. Perbaiki pola tidur kamu juga pola makan, biar nanti pas ketemu Claudia kamu makin ganteng...kamu harus tau lho, Claudia itu makin cantik banyak banget lelaki yang nembak dia, minta dia jadi pacar mereka, sampe ada alumni kampusnya dateng ngadap si Zen mau ngelamar ade” seru Nesya.


 


 


“Hah serius eyang?!” Bodoh sekali Aksa, mana mungkin yang suka pada Claudia cuma dirinya dan Reiki, gadisnya begitu menarik dan cantik, baik hati juga mudah bergaul, mustahil tak ada yang jatuh hati padanya.


 


 


“Aksa bakalan berusaha jadi keren”


 


 


“Iya usaha deh kamu biar jadi DUREN, duda keren” jelas Nesya.


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


Nesya tertawa, begitupula denga Aksa. Sayangnya tawa bahagia itu tidak bertahan lama.


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


 


 


 


 


 


“Bi Sumi, Hana tolong jangan di kasih keluar dari kamarnya ya…” ucap Silvana.


 


 


“Hana biar sama ibu aja Na…” Nesya bergegas menggiring Hana yang sudah mengintip penasaran, karena ayahnya sudah berkali-kali berteriak dengan suara yang cukup menggelegar.


 


 


Sivana pun mengangguk, lalu kembali lagi ke ruang tamu.


 


 


Suasananya tidak baik, sekarang semua terlihat tegang, karena di ruang tamu saat ini Nico dengan tenang menjawab semua yang Aksa dan keluarganya tanyakan, bahkan memberitahu semua informasi terakhir soal hubungan Reiki dan Claudia.


 


 


Aksa emosi luar biasa, saat tau kalau bukan hanya tinggal bersama, Reiki pun ternyata sudah berkali-kali berusaha membantu Claudia untuk mengajukan pindah warga negara, tujuannya agar Claudia terputus secara hukum dengan keluarganya di Indonesia.


 


 


Dengan kepindahan Claudia, otomatis hak asuh gadis itu jatuh ketangan Zen yang memang bukan warga negara Indonesia lagi. Intinya Claudia sama sekali tidak berniat untuk tinggal bersama dengan keluarga besarnya kembali.


 


 


Semua di jabarkan secara rinci oleh Nico, ia tak ingin dikemudian hari Aksa dan keluarga Claudia mengetahui kesalahan Reiki dari orang lain. Lebih baik Aksa meledak sekarang lalu belajar memahami kondisi masing-masing, ketimbang nanti harus terseok-seok memaafkan karena dendamnya sudah begitu tertumpuk pada mantan tunangan Claudia itu.


 


 


“Kamu itu bener-bener keterlaluan Claudia, apa gak bisa semuanya kamu diskusikan sama papa terlebih dahulu? Papa gak masalah kalau kamu mau pindah sama ayah Zen, tapi paling tidak kamu bisa diskusikan dulu sama bunda mu” seru Bram yang ikut tersulut emosi mendengar anak gadisnya begitu saja memutuskan sesuatu yang besar, tanpa bertanya dan berdiskusi dengan keluarganya.


 


 


“Pa, Claudia mohon maaf kalau papa tersinggung, tapi ini juga demi kalian…”


 


 


“DEMI KAMI? JANGAN EGOIS KAMU DI ?!” bentak Aksa.


 


 


Claudia merasa sangat di pojokkan, memangnya di pikir Aksa mengurus semua hal tersebut mudah?. Kalau bukan karena Aksa, dia tidak mungkin mau pergi meninggalkan keluarganya.


 


 


“Egois kakak bilang?” Suara Claudia bergetar hebat, air matanya mulai tak bisa dibendung.


 


 


Ia pulang bukan untuk dimarah-marahi seperti ini, jujur ia merasa terjebak.


 


 


“IYA KAMU ITU EGOIS TAU GAK, APA PERNAH KAMU PIKIRIN SEMUA PERASAAN ORANG-ORANG YANG SAYANG SAMA KAMU HAH?!”


 


 


Aksa yang menunjuk-nunjuk Claudia membuat Nico terganggu, ia memang berniat membantai semua masalah adiknya saat ini juga, tapi sebagai seorang kakak ia merasa tak terima kalau semua orang melimpahkan setiap kesalahan terhadap adik sepupunya tersebut.


 


 


“Kak Aksa, aku setuju sama ka Aksa kalau Claudia mungkin egois memutuskan semuanya sendiri, tapi apa kalian juga sudah intropeksi diri?” Nico berdiri menarik pundak Claudia yang duduk dekat dengannya.


 


 


“Maksud kamu apa Nico?” Silvana yang sedari tadi merasa kecewa atas keputusan putrinya, bingung pada ucapan Nico.


 


 


“Maaf tante Ana, Nico terlalu lancang, tapi ini juga menyangkut adik kecil yang Nico sangat sayangi… kalian menuntut Claudia melakukan semua yang kalian mau, juga mengerti apapun yang kalian lakukan, seperti tante yang maunya Claudia menerima pernikahan tante, bahkan saat tante tidak memberikan informasi apapun soal calon papa baru untuk Claudia…”


 


 


Seperti tertampar, apa yang dikatakan Nico memanglah penyebab utama putrinya itu menderita sekarang. Seandainya dari awal Silvana tidak egois dan membiarkan anak-anaknya tidak terjebak dalam ikatan kakak dan adik, mungkin dirinya akan jadi ibu paling bahagia saat ini.


 


 


Ego selalu menang, seringkali begitu. Walaupun sudah tau kalau dirinya punya andil namun Silvana masih sedikit menolak, ia tahu ini berat tapi ia juga sudah terlanjur berjanji pada sahabatnya Aini.


 


 


“Tapi itu kan…” Silvana berusaha mengelak, bahwa memang ia bersalah namun ia bukanlah pendosa.


 


 


“Terlepas apapun alasannya tante, sebagai anak Claudia juga punya hak untuk mengetahui alasan ibunya menikah lagi, terlebih Claudia masih menginginkan om Zen rujuk dengan tante..begitu kan De?”


 


 


Claudia menganggukan kepalanya, ia akhirnya menangis. Dirumah ini dia tak pernah dibela, selalu saja semua orang memintanya mengerti dan memahami posisi mereka, lalu siapa yang mau memahami dirinya? Kesedihannya? Rasa tak nyaman dan tidak aman yang selalu ia rasakan, siapa yang peduli padanya?. Hampir tidak ada, Aksa memang berbagi dengannya namun baik Claudia dan Aksa lebih banyak terlibat dengan masalah perasaan masing-masing.


 


 


“Lalu maaf Om, sebagai papa barunya Claudia saya sangat yakin om menyanyangi Claudia, tapi apa pernah om mendekati Claudia layaknya seorang ayah kepada putrinya? Jelas disini keterikatan kalian hanya sebatas kertas saja, walaupun saya tahu benar Claudia menaruh hormat yang cukup besar untuk om Bram”


 


 


Bukan cuma kepada Silvana, Nico mulai mengatakan sesuatu yang turut menampar Bram. Pikir Nico punya hak apa Bram melarang Claudia, kalau putri sambungnya di rumah pun kurang perhatian dari dirinya dan Silvana, terlebih secara emosional mereka berdua memang tidak dekat.


 


 


“Saya disini bukannya mau evaluasi kalian satu persatu, punya hak apa saya? Setua apapun umur saya, bagi kalian posisi saya ini tetap anak-anak…tapi seharusnya kalian lebih banyak intropeksi diri, kenapa pada akhirnya Claudia meledak dan memilih kabur dari masalah ketimbang menyelesaikannya secara terbuka dan baik-baik…daripada kalian menyalahkan dan memojokkan Claudia lebih baik kalian sama-sama mengoreksi diri, tidak mungkin suatu hal terjadi kalau tidak ada sebab musababnya”


 


 


Semua orang yang tadinya emosi langsung diam tak mampu berkata apapun, yang dikatakan oleh Nico memang benar adanya.


 


 


“Terus untuk ka Aksa, saya tau kakak begitu mencintai Claudia, tapi apa kakak pernah membahagiakan Claudia? Cinta kalian itu begitu menyiksa satu sama lain, jadi kalau kalian mau bersama Nico harap kakak berubah, bukan cuma di mulut aja…kakak mungkin sudah berubah untuk hal lain, tapi kalau sudah menyangkut soal Claudia, emosi kakak sama sekali gak terkontrol..apa itu yang sudah kakak anggap pengendalian emosi yang lebih baik daripada sebelumnya?”


 


 


Toxic, ya Aksa tau kalau dia terus-terusan begini, hubungannya dengan Claudia hanya akan jadi racun yang membuat gadisnya tersiksa. Selama ia menginginkan adiknya itu, ia harus berubah bukan hanya demi Claudia tapi demi dirinya sendiri.


 


 


Merasa cukup untuk mengeluarkan pendapatnya, Nico pun beranjak dari duduknya, setelah itu mengulurkan tangannya kepada Claudia, yang tentunya disambut baik oleh gadis manis tersebut.


 


 


“Hari ini Claudia biar nginep di rumah Nico aja tante, lusa kalau kalian ga ada acara mama mau undang kalian makan siang bareng, siapa tau disaat itu kalian semua sudah lebih tenang, terutama ka Aksa..”


 


 


Semua diam, tidak ada yang berani menentang keinginan Claudia lagi. Mungkin ini yang terbaik, sementara mereka memikirkan semua kesalahan yang pernah mereka lakukan, Claudia disisi lain juga bisa jadi lebih tenang.


 


 


“Ayo de, kita ke tempatnya eyang dulu, pamit…”


 


 


Tanpa sepatah kata apapun Claudia pergi meninggalkan keluarganya yang ada diruang tamu, mereka menuju ke bagian lain dari rumah besar yang sempat di tinggali Claudia itu.


 


 


Nico memperhatikan adik sepupunya dengan seksama, mungkin gadis itu terlihat sangat kuat di luar namun dalamnya dia sangat rapuh, selama ini Claudia tidak pernah menampakan bahwa dirinya sangat butuh sosok yang bisa menyokongnya dengan seluruh hati.


 


 


Claudia masih menangis, tak munafik kalau ia sangat sedih mendapatkan penghakiman dari seluruh anggota keluarganya, mereka tanpa bertanya alasan mengapa ia melakukan semua keputusan besar dan tidak melibatkan satu pun anggota keluarganya.


 


 


“Berenti nangisnya, bukan begini perempuan dari keluarga besar kita, tunjukin kalau kamu itu setegar tembok beton yang gak runtuh walaupun di terjang badai” Nico sambil mengelap air mata adiknya dengan sapu tangannya.


 


 


Gadis itu menatap lekat wajah kakak sepupunya, hari ini pria yang selalu jadi lawan bertengkarnya sejak masih kecil itu membuatnya terkejut. Tak pernah dalam bayangannya Nico akan pasang badan untuk membelanya, walaupun di awal Claudia kesal karena Nico memberitahu semua hal yang ingin disimpannya rapat-rapat, namun sekarang ia paham, menyimpan masalah lama-lama itu tidak baik.


 


 


“Aku gak mau jadi tembok beton, tar kaku kaya kak Nico, jauh jodoh” ucap Claudia sambil mencebikkan bibirnya.


 


 


“Dasar gak bersyukur, udah di khawatirin juga” Nico mencubit pipi Claudia, ia tidak marah. Dalam hati dia tau kalau adiknya itu juga sayang padanya, cuman bersikap manja sepertinya tidak cocok untuk hubungan keduanya.


 


 


“Hehehe makasih kak, aku kira kakak ga bakal belain aku…” Claudia tersenyum lalu memeluk lengan Nico yang masih sibuk menghapus air matanya.


 


 


“Kakak tuh sayang sama kamu, cuma aja kamu tuh oon, otakmu tuh gak berfungsi dengan semestinya”


 


 


“Itu mah Nura kali…”


 


 


“Sama aja kamu sama dia 11: 12 sama-sama gak peka…”


 


Mereka berdua menatap sinis satu lama lain, sampai akhirnya tertawa bersama.

__ADS_1


 


 


__ADS_2