ME VS MY BROTHER

ME VS MY BROTHER
Episode 86


__ADS_3

“OHO apa kamu bakal tetep santai kalo aku sampein berita yang aku denger ini?”


Berita ? Berita apa??? Pikir Icha. Gadis ini pun mengerutkan dahinya.


“Kamu tau gak, Ka Reiki mau pulang ke Indonesia !!!”


Tubuh Icha bergetar hebat setelah mendapatkan informasi dari Rima, perihal kepulangan Reiki ke Indonesia.


“Ka...kamu tau darimana ?” Tanya Icha dengan raut wajah gusar.


“Dari Claudia...katanya Ka Reiki ada urusan yang harus di selesein jadi dia pulang deh ke Indonesia...” seru Rima sambil meminum air putihnya.


‘Apa yang mau ka Reiki lakuin disini?, aku bener-bener takut dia melakukan hal yang ga baik lagi...apa jangan-jangan karena surat itu? Makanya ka Reiki balik lagi ke sini...’ gumam Icha dalam hati.


Sungguh Icha khawatir, karena apa yang di sampaikan oleh Eros terakhir kali setelah menyerahkan suratnya, jujur saja bukan kabar yang baik.


Gadis ini banyak pikiran, ia berusaha menyisihkan masalah yang ada di otaknya, dan memilih menyibukan diri.


Tapi kenyataan bahwa Reiki akan pulang, membuatnya teringat kembali atas pembicaraan yang dilakukannya lewat telepon bersama Eros.


Sesaat Icha terdiam, membuatnya terbawa kembali apa yang dikatakan oleh Eros saat itu.


“Cha, aku udah kasih surat kamu ke dia, sesuai dengan yang kamu amanahkan ke aku...” ucap Eros dengan suara lirih.


Jantung Icha berdebar sangat kencang, ia benar-benar ingin tau seperti apa ekspresi Reiki saat menerima suratnya, apakah pria itu marah ? Atau malah sebaliknya.


Yang terpikirkan oleh Icha adalah Reiki akan membuang surat itu begitu saja, pasalnya semenjak Reiki tinggal di Jepang, pemuda itu memblock semua akses komunikasi yang bisa di hubungi olehnya, termasuk media sosial.


“Aku tau, kamu pengen tahu kan apa reaksi ka Reiki waktu terima surat dari kamu itu?” Lanjut Eros.


“Maaf ka...” Icha merasa bersalah, tanpa sadar sepertinya dia telah membuat Eros terluka.


“Gak...gak perlu minta maaf, aku tau kamu penasaran sama kondisi orang itu kan?!” Eros merasa hatinya tercabik-cabik, karena ia sadar betapa Icha mengkhawatirkan Reiki.


“Aku minta maaf ka, kalau aku udah nyakitin perasaan kakak, tapi kakak juga tau kan kalau....”


Belum selesai Icha bicara, Eros langsung memotong omongannya.


“Ya aku tau...aku tau kalo dia sama sekali ga mau berhubungan lagi sama kamu...aku tau itu...dan aku juga tau kamu khawatir sama dia...” Eros menghela nafas kasar setelah menyelesaikan ucapannya.


Sedangkan Icha, gadis ini cuma bisa diam. Ia tahu meminta bantuan Eros untuk memberikan suratnya pada Reiki adalah yang berat.


Namun Icha tidak punya pilihan lain, hanya Eros yang bisa diandalkan oleh gadis itu.


Nyatanya memang Icha kesulitan untuk melancarkan usahanya, agar Reiki mau menghentikan semua kejahatan yang telah ia lakukan.


Satu-satunya akses informasi yang bisa dapatkan soal Reiki, tak lain dan tak bukan adalah dari Claudia sahabatnya.


Perihal informasi soal Reiki juga tak bisa semudah itu di dapatkan oleh Icha, Claudia sangat berhati-hati memberikan informasi mengenai lelaki yang jadi tunangannya tersebut.


Bahkan sahabat-sahabatnya baru mengetahui kalau Claudia tinggal seatap dengan Reiki beberapa bulan terakhir ini. Tentu teman-teman terdekatnya kaget, bahkan Shiva dan Rima marah karena merasa Claudia menyimpan rahasia dari mereka, namun berbeda dengan Icha.


Gadis ini tahu kalau semua itu di lakukan oleh Claudia karena ia tak ingin Aksa menggila, lalu pergi menemui mereka dan melakukan baku hantam dengan Reiki, jadi Icha bisa memahami alasan sahabat terdekatnya itu.


“Icha aku ga mau ngecewain kamu...tapi kamu udah janji sama aku untuk menyerah dan ga ikut campur lagi soal masalah Reiki dan Claudia...”


Eros merasa berhak menagih janji dari Icha, karena memang saat Icha menitipkan suratnya gadis itu bilang akan menyerah untuk membuat Reiki sadar, kalau apa yang di kerjakannya dan juga apa yang diinginkannya selama ini adalah hal yang salah.


“Aku tau kamu bukan perempuan yang ingkar janji...tapi satu hal Cha, yang kamu harus tau. Ka Reiki ga akan berhenti melakukan apa yang dia mulai, bahkan ka Nico yang deket sama dia aja ga bisa menghentikan obsesinya soal Claudia...dan aku mau kamu juga menyadari, bahwa usaha kamu sia-sia Cha...cinta, sayang dan hatinya Reiki itu cuma punya Claudia, ga mungkin berpindah ke orang lain” Eros mengucapkan semua kata-kata itu dengan menahan luapan emosi yang campur aduk.


Sedangkan Icha tersentak saat Eros mengatakan tentang perasaan Reiki terhadap Claudia, Icha langsung menyadari kalau Eros sudah mengetahui perasaannya yang lebih kepada tunangan sahabatnya itu.


“K...ka...aku....” Icha tergagap, ia merasa bersalah sekarang.


‘Icha apa yang kamu lakukan? Kamu udah nyakitin hati ka Eros...’ gumam Icha dalam hati.


Apa yang dipikirkannya, selama ini Eros selalu jujur menyatakan perasaannya pada Icha, pria ini konsisten memberitahu keinginannya untuk meminang Icha, terlebih Eros juga termasuk orang yang sensitif, jadi bagaimana mungkin pria ini tidak menyadari perasaan Icha.


“Ka Eros...tau kalo aku....” Icha tak berani melanjutkan ucapannya, ia merasa sesak yang tak tertahankan.


Suara lirih Eros sesaat tergantikan dengan tawa lemah. Pemuda ini harus berurusan dengan kenyataan bahwa Icha sama sekali tidak menyadari seberapa besar cintanya pada juniornya tersebut.


“Haaaaaaah...Cha, aku sayang banget sama kamu, aku bukan cuma cinta sama kamu...aku selalu memperhatikan semua hal yang kamu lakukan, gimana kamu bisa mikir aku ga akan sadar kalau sebenernya hati kamu tertaut sama Reiki?, walaupun aku tau kamu berusaha lari mati-matian dari perasaan itu...”

__ADS_1


Mata Icha terbelalak, bagaimana bisa Eros tau akan hal itu. Selama bertahun-tahun Icha berusaha membuang jauh-jauh perasaannya pada Reiki, apa semuanya terlihat begitu jelas ?.


“Gimana kakak bisa tau kalo aku....kalo aku berusaha untuk...untuk buang semua perasaan aku sama Ka Reiki?”


“Karena aku tau, kamu mendahulukan kebahagiaan Claudia ketimbang kepentingan kamu sendiri...”


Icha menangis, disaat itu juga air matanya lolos. Eros membuktikan betapa ia memperhatikan gerak geril Icha selama ini, Icha kini merasa begitu bersalah pada seniornya itu, karena meminta pertolongannya.


“Aku tau kamu begitu berjuang supaya Reiki bisa berubah baik lagi, semua itu supaya Claudia bahagia...tapi disisi lain aku sadar, mungkin ada di dalam benak kamu sedikit perasaan agar Reiki melihat ke arah kamu...menyadari kalau sebenarnya ada seseorang yang berdoa dan berusaha dengan sekuat tenaga untuk dia...” ucap Eros dengan suara pelan.


Apa yang dirasakan Icha saat ini? Campur aduk, ia tidak bisa berbicara apapun. Karena yang dikatakan Eros ada benarnya. Terkadang ada sebagian kecil dari hatinya ingin Reiki menyadari, bahwa ada dirinya yang selalu menunggu Reiki. Walaupun selalu setelahnya Icha akan membuang pikiran itu jauh-jauh.


Namun Icha juga seorang gadis biasa, munafik jika ia mengatakan bahwa dirinya tak butuh perasaannya bersambut. Hal yang wajar jika manusia punya sisi egoisnya masing-masing.


Tapi, ya Icha selalu berusaha mengontrol perasaannya, selalu.


“Icha aku cinta sama kamu, aku mau kamu lupain Reiki...dan pikirkan lagi baik-baik soal lamaran aku ke kamu...aku serius mau kamu jadi ibu dari anak-anak aku, jadi istri yang akan selalu aku lindungi...soal perasaan aku yakin setelah menikah kamu bisa menerima cinta aku perlahan...kita belajar, seperti aku belajar untuk hijrah dan menjadi lelaki yang pantas buat kamu...pokoknya begitu aku pulang dari Jepang, aku bakalan khitbah kamu”


“.....cha....Icha....”


Rima menepuk pundak Icha beberapa kali, berusaha menyadarkan sahabatnya itu.


“Cha, kamu gak apa-apa?” Tanya Rima dengan ekspresi khawatir.


Icha tersenyum, ia mengangguk dan langsung meminum teh yang di pesannya tadi.


“Eeeeeeyyyyyy....kamu yakin kalo kamu gak apa-apa Cha, kamu pucet banget lho ???!!!” Rima dengan sigap menempelkan tangannya ke dahi Icha, berusaha mengecek suhu tubuh sahabatnya itu.


Icha menghela nafasnya perlahan.


“Sebenernya Ma...” Icha menundukkan kepalanya.


Rima yang memang terkenal paling kepo langsung mengerutkan dahinya, ia penasaran.


“Iyaaaaaaaaaaaaaa???????” Rima langsung mendekatkan tubuhnya ke Icha.


“Sebenernya aku mau di khitbah sama ka Eros”


“WHAT???!!!!” Rima langsung terperanjat mendengar kabar sahabatnya itu akan di khitbah oleh si pembuat onar.


Icha cuma bisa menunduk dan tersenyum kecil.


Beberapa hari kemudian...


Claudia kini duduk berhadapan dengan sepupunya, Nico. Ya, yang terhormat Reynand Nichollas Amzar.


Oh ya jangan lupakan dayang-dayang Nico, Hanif dan Eros.


Kedua pria tak bersalah itu kini merasa bagaikan diujung tanduk kembali, karena suasana disekitar mereka kembali tak kondusif sama seperti halnya saat Nico bertemu dengan Reiki.


Sayangnya, dua orang yang kini tengah duduk sambil bersiap tauran itu, tidak tenang sama sekali.


Untungnya mereka kini berada di kantor milik Zen, jadi jika terjadi baku hantam saat ini, orang tidak ada yang berani bicara.


“Kamu sampe kapan mau ngelawan kakak hah?! Udah kakak bilang, kamu ikut kakak pulang minggu depan sama Hanif juga Eros!!!” Ucap Nico tegas.


Claudia dengan wajah super juteknya mengalihkan pandangannya dari Nico.


Gadis ini sama sekali tak ingin pulang, ia ingin menjalani hidup berdua saja dulu dengan ayahnya, terlebih dua hari yang lalu Reiki sudah kembali ke tanah air.


Tapi tiba-tiba Nico datang ke rumah mereka, lalu meneror Claudia untuk pulang bersama dengannya. Semua ini pasti hasil sponsor dari eyangnya.


Masalahnya kalau cuma satu dua kali di teror Claudia tak akan ambil pusing, tapi tiba-tiba kakak sepupunya itu membawa semua barang bawaannya dan memutuskan untuk tinggal di rumah mereka.


Jadilah tiap pagi, siang, sore dan malam bahkan dalam kondisi apapun, baik bangung tidur, sarapan, gosok gigi, memasak, saat mau tidur kembali, bahkan saat di kamar mandi sekali pun Nico akan berteriak-teriak meminta Claudia ikut pulang bersamanya.


Yang lebih mengganggu lagi adalah ucapan Nico diulang berkali-kali oleh pemuda itu.


Claudia bahkan sampai hafal...


‘Jangan jadi cucu durhaka, yang cuma diminta pulang aja banyak gaya...sadar banyak-banyak istighfar, nanti kamu menyesal kalau udah di azab Tuhan, karena Eyang murka, ga ridho dunia akhirat...ga akan bahagia hidup kamu di dunia yang cuma sementara ini’


Begitulah ucapan Nico saat meneror Claudia.

__ADS_1


“Kak Nico kalau mau pulang ya pulang aja, kenapa repot amat sih?!” Seru Claudia kesal.


Claudia yang begitu keras kepala membuat Nico murka, perang mulut ini nampaknya tak akan berkesudahan.


“HEH OTAK UNDUR-UNDUR !!! NGERTI GAK SIH KALO ORANG-ORANG ITU SEMUA KHAWATIR SAMA KAMU !!!” Nico berdiri sambil menunjuk-nunjuk Claudia dengan emosi.


Tak terima di bilang otak undur-undur Claudia kini juga bangkit dari duduknya, ia langsung berteriak membalasa perkataan Nico.


“APA KAKAK BILANG TADI ? OTAK UNDUR-UNDUR?! HEH TSUNDERE BANGKOTAN, KALO NGOMONG ITU BISA GA DI FILTER DULU ?!”


Ya, Nico memang lelaki tsundere. Sayangnya walaupun itu kenyataan Nico paling benci kalo di bilang tsundere, jadilah kakak sepupu Claudia ini makin murka.


“WOY ONCOM !!! KAMU KALO DI KASIH TAU SAMA ORANG YANG LEBIH TUA JANGAN NGELAWAN BISA GAK ?!! TERUS SIAPA YANG KAMU BILANG TSUNDERE BANGKOTAN HAH !!! OTAK UNDUR-UNDUR?!” Teriak Nico sekuat tenaga.


Apalagi sekarang?! Oncom ?! Apa gak sekalian aja Nico memanggil Claudia dengan sebutan yang lain. Kesal Claudia pun mulai ikut-ikutan menunjuk-nunjuk Nico.


“YA ALLAH TANTE LINDA HAMILNYA NGIDAM APA SIH PUNYA ANAK MACEM BUZZER BAYARAN GINI !!! ISSSSSSH PANTES NURA GAK MAU JADIAN SAMA KAKAK, MULUT KAKAK TUH LUAR BIASA YA COMBERANNYA, SEGAMPANG ITU NGATA-NGATAIN ORANG !!! TOBAT KAK NANTI KETIBAN METEOR BARU TAU ANDA!!!” Seru Claudia dengan penuh emosi.


Saking fokusnya kedua orang itu adu mulut, Zen masuk pun baik Nico ataupun Claudia sama sekali tak sadar. Mereka terlalu fokus dengan adu mulut yang tengah mereka lakukan saat ini.


Disisi lain, Hanif dan Eros merasa sangat gembira ketika Zen masuk kedalam ruangan. Bagaikan seorang saint, kedatangan pria itu memang sudah sangat di tunggu-tunggu.


“Om Zen...” seru Hanif.


Zen cuma tersenyum sambil memberikan Hanif dan Eros cemilan untuk disantap.


“Udah masuk ronde berapa?” Tanya Zen santai sambil memakan potato chips yang ada di hadapannya.


“Tadi udah sempet istirahat, ini baru mulai lagi” ujar Hanif.


Zen mengangguk, ayah dari Claudia ini sangat santai memang. Bukan karena ia ingin melihat Claudia bertengkar dengan Nico, namun sejak kecil Zen tau tabiat Nico dan Claudia sama-sama keras, percuma menengahi mereka.


Adu mulut begini akan selesai kalau salah satu dari mereka lelah dan akhirnya menyerah, setelah sama sama mengamuk, mereka kemudian akan bersikap seperti tidak ada apa-apa dan kembali rukun, layaknya saudara kandung.


Posisi Nico memang sedikit berbeda dengan Reiki, yang di dalam hidup Claudia adalah sosok kakak yang penuh rasa kasih dan lembut.


Kalau Nico lebih mirip sosok kakak yang jadi teman gulat adiknya, begitulah perbandingan antara Reiki dan Nico.


“Uhm anu maaf bang Hanif, Om Zen...”


“Ini ga ada niatan mau berentiin ka Nico sama Claudia apa ya ??? Jujur saya ga enak ini dari tadi...mau pergi juga takut ga sopan...”


“Oh iya juga ya...menurut kamu gimana Nif?”


“Kalo menurut Hanif berentiin aja Om, Nico sama Nura udah tinggal itung mundur itu...bentar lagi pasti baku hantam beneran...Nico kan kalo ngamuk sama Claudia masih sering nyubit pahanya Claudia kaya waktu masih kecil, nanti kalo udah di tonjok sama ade takutnya jadi perang badar Om...”


“Hmmm bener juga, yaudah deh...” Zen langsung berdiri lalu menepukan tangannya beberapa kali.


“Ok Nico, Claudia...kita sudahi dulu sampai sini....” Zen tersenyum lebar, membuat kedua orang yang tengah bertikai itu terdiam.


Tapi nampaknya Nico belum puas, ia merasa masih harus membuat adiknya itu setuju untuk pulang ke Indonesia. “Om ga bs gitu, Claudia mesti....” omongan Nico tidak selesai karena langsung di potong oleh Zen.


“Pulang kan ?” lanjut Zen.


Nico pun dengan wajah serius menganggukkan kepalanya. Ia sudah berjanji pada eyangnya bahwa dirinya akan membawa Claudia pulang, walaupun cuma sebentar.


“Ok, Claudia kamu ikut Nico minggu depan...abis itu kamu balik lagi kesini ok...”


Nico tersenyum lebar, wajahnya sumeringah mendengar keputusan dari Zen. Tapi tidak dengan Claudia yang langsung cemberut.


“Hah?! Ade gak mau ayah !!!” ujar Claudia sambil mengerutkan dahinya.


“Ade mau bantah ayah juga?” tanya Zen sambil mengelus pucuk kepala Claudia.


Claudia ingin menangis rasanya, ia tidak ingin pulang. Kehidupannya sudah lebih baik disini kenapa dia harus dipaksa untuk pulang?.


“Tapi ayah nanti gimana?” seru Claudia sambil menunduk.


“Santai, nanti ayah nyusul ok...” Zen langsung memeluk tubuh mungil milik Claudia.


-----------------


*((Khitbah adalah sebuah permintaan atau pernyataan dari laki-laki kepada pihak perempuan untuk mengawininya, baik dilakukan oleh laki-laki secara langsung maupun dengan perantara pihak lain yang dipercayai sesuai dengan ketentuan agama islam))

__ADS_1


__ADS_2