
"Huhuhuhuhu bunda, kenapa bunda jahat sama ade....bunda ade kangen ayah, ade mau ayah...ade gak mau tinggal disini, ade...."
Sudah 1 jam Claudia menangis, dia ga ada henti-hentinya menyebut kalimat yang sama. Sedangkan Silvana hanya ada disana, sembari mengelus wajah anaknya. Ia tidak memarahi putrinya itu, hanya diam saja melihat Claudia. Ia mengerti Claudia ingin hidup dengan keluarga utuh, ibu dan ayah kandungnya, tapi terkadang di dunia ini tidak semua hal bisa berjalan sesuai mau kita, ibaratnya setiap manusia punya peranannya sendiri dan Tuhanlah yang mengatur skenarionya.
"Bu, maaf itu ada dokter Reiki dibawah" seru bi Sumi.
"Tolong suruh langsung naik aja bi" jawab Silvana
Bi Sumi langsung turun kembali begitu mendengar jawaban Silvana, sedangkan Claudia masih menggelepar teriak teriak histeris diatas ranjangnya. Sedari tadi Silvana tak menawarkan makanan untuk putrinya, dia tahu itu tak akan ada gunanya, anaknya itu pasti akan menolak untuk makan.
"Prof, Claudia kenapa?" tanya seorang pria bertubuh tinggi dan berwajah tampan itu.
"Masuk Ki, biasa kumat. Bisa tolong kamu cek lagi gak? tante mau turun dulu ambil buburnya Claudia" jawab SIlvana, sembari berdiri dan berjalan keluar dari kamar.
"Iya prof, ini saya sekalian pakein infusnya aja kali ya?" tanya Pria tampan yang memakai kemeja berwarna biru navy itu, ia pun mendekati kasur Claudia dan mulai menyiapkan peralatan untuk infusnya.
"Sip, eh kamu mau minum apa biar dibuatin" seru Silvana yang sudah berada di depan pintu.
"Gak usah repot-repot prof" jawab pria itu segan
"Yaelah kalo dirumah mah panggil aja tante, ga usah panggil prof segala, Reiki kaya sama siapa aja deh"
"Hehehe iya tan"
Reiki Delana Alvaro, pria tampan rebutan perempuan segala umur, tingginya 185cm, umurnya 27 tahun sama seperti Aksa, pekerjaan dokter spesialis anak. Paras tampannya dia dapatkan dari sang ibu yang merupakan sepupu dari ayah Claudia. Pria berdarah Jepang-Kanada-Indonesia ini kenal baik dengan keluarga Silvana, karena walaupun Silvana bercerai dengan Zen ayah dari Claudia, ibu dari Reiki adalah sahabat Silvana sewaktu dia berkuliah.
"Tante buatin teh panas aja kali ya" seru Silvana.
"Makasih tante, maaf ngerepotin" angguk Reiki kepada Silvana.
"Santai aja nak" Silvana pun meninggalkan mereka Reiki.
Reiki saat ini melihat Claudia, dia tersenyum melihat perempuan bertubuh mungil yang saat ini ketiduran karena lelah berteriak-teriak sedari tadi. Ia merapikan rambut Claudia yang berantakan, lalu menyentuh pipinya dengan lembut, namun ternyata itu membangunkan Claudia.
Claudia membuka matanya yang sudah bengkak karena ia terus menangis. Perlahan tapi pasti ia akhirnya terbangun sambil mengerjap-ngerjapkan matanya.
"Kak Reiki.." seru Claudia lirih
"Masih pusing de?" Reiki membantu Claudia untuk sedikit duduk ujung tempat tidur.
"Iya ka, pusing banget" jawab Claudia dengan pelan
"Yaudah ini kakak pasang dulu infusnya ya" Reiki mulai mengusap tangan Claudia dengan alcohol swab.
"Ih ade gak mau di infus" Claudia menarik tangannya.
"Harus di infus, atau kamu mau kakak angkut langsung ke rumah sakit, biar bobo di rumah sakit aja malam ini" seru Reiki yang langsung menggenggam tangan Claudia dengan lembut.
Claudia menggelengkan kepalanya dengan lemah. Di dunia ini hanya ada 2 hal yang paling Claudia takuti, yang pertama jarum suntik dan yang kedua cicak, walaupun dia ngefans sama Godzilla tapi buat makhluk yang masih sodaraan dengan monster kesayangannya itu, Claudia takut plus geli. Tapi saat ini mau tak mau Claudia harus menyerahkan tangannya pada Reiki untuk ditusuk jarum.
"Ish pelan pelan ka.....hiks...KAAAAA SAKIIIIT" seru Claudia sambil meringis.
"Sabar sayangku, ini udah aku pakein jarum khusus untuk anak bayi, tahan dulu....sebentar ya....nah udah kepasangan" tukas Reiki sembari mengelus tangan Claudia yang sudah dipasangkan jarum infus.
Keheningan terjadi selama beberapa saat, hanya ada suara nafas yang terdengar dari Reiki dan Claudia. Dengan perlahan Reiki masih sama, mengelus tangan perempuan mungil yang ada didepannya, sembari menghapus air mata yang jatuh di pipi Claudia. Reiki sangat dekat dengan Claudia, itu kenapa Silvana langsung meminta Reiki datang kerumahnya, dengan harapan putrinya itu bisa tenang. Seperti yang terlihat, sikap lembut Reiki menunjukan betapa besar rasa cintanya pada Claudia.
"Ka..." seru Claudia
"Hmmm?"
__ADS_1
"Ade kangen sama papa kak...DUH, Kak sakit kaaaa....huwaaaaa" Claudia merasakan tangannya ngilu, wajar karena bukan cuma infus saja yang masuk kedalam pembuluh darahnya, tapi juga obat .
"Shuuut, bentar doang, ini kakak elus kan...tahan sayangku bentar lagi"
"Kakak....hiks....sakit...kaaa...hiks... kak ade mau ketemu papa...." Tangis Claudia, entah saat ini karena sakit atau karena sangat rindu dengan ayahnya.
"Iya iya, nanti kakak bilangin sama om Zen, tapi sekarang kamu sehat dulu. Kalo kaya gini gimana mau ketemu sama papa kamu" jawab Reiki tersenyum sambil mencubit hidung Claudia.
"Huhuhuhuhuhu...ade capek ka..." dengan cepat Claudia memeluk Reiki.
"Udah udah, kakak tau ini berat, tapi ya namanya orang hidup itu pasti ada cobaanya. Kalo gak ada ya ga seru dong, flat gitu aja hidup kamu" ujar Reiki sembari menepuk pelan punggung mungil milik Claudia.
"Tau ka, aku tau kok...tapi...." Claudia menjauhkan pelukannya dari Reiki.
"Di...kamu tau kan kakak ga suka liat kamu sedih gini, apa perlu kakak bilang sama tante Ana buat ngelamar kamu lagi dalam waktu dekat? Jadi kakak ga mesti nunggu kamu selesai sekolah dulu buat kita nikah" seru Reiki dengan wajah serius.
"Tapi ka...."
Claudia tak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Reiki, bagaimana Reiki bisa memberikan opsi seperti itu, dia memang pernah melamar Claudia tapi di tolak karena Claudia masih terlalu muda dan dia masih ingin menikmati masa remajanya, Silvana pun tak menjawab apapun karena semua ia serahkan pada Claudia. Reiki juga hanya bilang ia akan menunggu Claudia sampai ia menyelesaikan sekolahnya.
"Coba pikirin tawaran kakak, tante Ana ga akan kasih kamu ijin ketemu om Zen, tapi kalo kamu udah nikah sama kakak, kapan pun Claudi mau kamu bisa ketemu sama om Zen. Toh, kakak juga gak bakal larang kamu buat kuliah" tukas Reiki sembari menyentuh pipi Claudia.
"Ung aku..."
"Gak usah dipikirin sekarang de, yang penting kakak maunya Claudi bahagia terus, sehat terus. Dan kalo bisa kakak minta Claudi balik ke diri Claudi yang dulu. Claudia yang ramah, ga ngelawan sama bundanya, ga pernah kasar sama orang lain" ujar Reiki.
Tiba tiba Reiki mendekatkan wajahnya kearah Claudia, bibir mereka sudah sangat dekat dan hampir menyentuh satu sama lain. Akan tetapi Claudia malah membayangkan wajah kakak tirinya itu, juga ciumannya tadi malam dengan Aksa, ia pun menunduk hingga bibir Reiki saat ini sudah berada di kening Claudia, Reiki hanya tersenyum dan mengecup singkat kening gadis mungilnya itu.
"Ka....." ujar Claudia kaget karena kecupan dari Reiki itu.
"Uhm, masih ga boleh ya?" Reiki pun menjauhkan dirinya dari Claudia.
"Ung..."
Sejak awal mereka dekat, Claudia tak pernah membiarkan Reiki menciumnya. Mereka memang tidak punya status yang jelas, berkali-kali Reiki jujur bahwa ia ingin memiliki Claudia, tapi saat itu pula Claudia akan terdiam. Bukannya kejam, tapi ia tak ingin salah jalan dan sejujurnya ia tak yakin dengan perasaannya sendiri, apalagi bagi Claudia perasaannya saat ini pada Reiki lebih cenderung ke perasaan seorang adik pada kakaknya bukan sebagai kekasih.
"Aku sayang banget sama kamu, kamu taukan Di?" tanya Reiki.
Claudia hanya memandang lurus wajah Reiki, seraya menganggukan kepalanya beberapa kali, hal ini pun di balas senyuman manis oleh pria itu.
Ketukan di pintu kamar Claudia, membuat mereka berdua melihat kearah pintu, ternyata bi Sumi sudah ada di depan dan masuk kedalam.
"Mas maaf ini tehnya, sekalian buburnya non Claudi. Mau saya suapin non?" tanya bi Sumi
"Ga usah bi, biar saya aja" jawab Reiki sembari mengambil mangkuk berisi bubur yang ada di nampan.
"GAK PERLU, BIAR GW AJA YANG NYUAPIN CLAUDI!!!" teriak Aksa dengan kaki yang di gips.
Aksa masuk dibantu oleh pak ujang, ia langsung duduk dan merebut mangkuk yang ada di tangan Reiki.
"MINGGIR, NGAPAIN LO DEKET DEKET ADE GW?!" hardik Aksa kepada Reiki.
"APAAN SIH, DATENG DATENG LO NGAMUK KAYA GITU!" seru Claudia menghardik balik Aksa.
"Udah gak apa-apa Di, kakak kebawah dulu ya" Reiki pun tersenyum dan meninggalkan kamar Claudia.
"Mari saya antar mas" sambut bi Sumi dan pak Ujang yang meninggalkan kamar Claudia.
"HUSH HUSH UDAH SANA" jawab Aksa
__ADS_1
Aksa sebenarnya sudah tau siapa Reiki, dan jelas dia benci pria itu. Lebih benci lagi karena Claudia bersikap sangat lembut pada pria itu sedangkan kepadanya, Claudia seperti ultraman yang bersiap menghabisi Kaijuu. Kesal luar biasa saat ini hanya itu yang dirasakan oleh Aksa, tapi satu sisi ia meresa lega melihat adik tirinya itu sudah lebih baik.
"Buka mulutnya, biar aku suapin" pinta Aksa pada Claudia yang sedari tadi marah dengannya.
"Gak usah, biar gw aja sendiri" tukas Claudia kesal.
Ia tidak suka dengan cara Aksa yang mengusir Reiki seperti itu, bagaimana pun bagi Claudia, Reiki adalah salah satu orang yang dia sayangi. Apalagi Aksa tadi datang dengan raut wajah sangat marah dan seperti bersiap untuk membantai musuh.
"Udah cepet, kamu tinggal buka mulut aja susah banget sih, apa perlu aku kasih tau bunda, kalo kamu sampe begini karena ciuma kita tadi malem?" ujar Aksa sembari mengancam
"EH SI KAMPRET, AWAS AJA LO BERANI KASIH TAU BUNDA!!!!" ancam Claudia.
"Yaudah makanya buka mulutnya, biar aku suapin" Aksa menyuapi Claudia dengan semangat.
Karena ancaman dari Aksa, mau gak mau Claudia makan, tapi sedikit banyak juga karena lapar, sejak kemarin Claudia memang tidak makan apapun. Suasana cukup hening, hanya dentingan sendok yang beradu dengan mangkuk yang terdengar, Aksa pun tersenyum melihat Claudia yang menuruti kemauannya. Hingga ia teringat apa yang tadi dia lihat. Ya Aksa sudah ada sejak Reiki mencoba mencium Claudia, dia benar benar ingin masuk dan mengobrak-ngabrik kamar Claudia tadi, tapi urung ia lakukan saat Claudia menolak di cium oleh Reiki. Ada rasa senang dan lega pada apa yang dilihatnya.
"Kenapa sih kamu giliran ke aku aja juteknya minta ampun, sampe tuh mata udah kaya Cyclops aja ngeluarin cahaya pemusnah, berasa bolong badan aku tuh kamu liatin. Giliran sama tuh dokter rese kamu malah mau di peluk peluk dia" tanya Aksa pada Claudia yang sedang meminum air hangatnya.
"Yeeeeee yah bedalah, ka Reiki mah baik, ga kaya lo mesum, rese, nyebelin, udah gitu...."
Belum selesai Claudia bicara, Aksa dengan cepat mengecup bibir Claudia, lalu menyentuh bibir tipis milik adik tirinya itu dengan ibu jarinya. Merasa belum puas sekali lagi Aksa mencium bibir Claudia, kali ini Claudia menutup matanya, dan mengikuti permainan Aksa. Cukup lama Claudia ikut memagut bibir Aksa, hingga dengan mudah Aksa bisa melakukan French kiss. Perlahan Aksa melepas pagutannya, tertawa kecil lalu menyentuh bibir Claudia sekali lagi. Ia kemudian kembali menyuapi adik tirinya itu.
"Udah gitu apa??? Lanjutin dong" tanya Aksa sambil tertawa dengan puas.
Claudia hanya menunduk, ia tambah pusing dengan apa yang baru saja mereka lakukan, walau pun terlihat beringas, Claudia sama sekali nol soal percintaan, hanya ada satu lelaki yang dekat dengannya secara emosional dan itu cuma Reiki yang dianggap sebagai kakaknya.
Jujur Claudia ingin menolak setiap sentuhan Aksa, tapi kenapa tubuh dan pikirannya malah tidak sejalan, rasanya ia ingin mengeluarkan otaknya, lalu di bawa ke tempat laundy dan di dry cleaning supaya bisa sinkron dengan apa yang dia inginkan.
Hal yang sangat berbeda dengan Aksa, setiap kali ia menyentuh tubuh Claudia, seaakan ia mendamba dan ada rasa rindu cukup besar, yang seolah tersampaikan tiap kali mereka bersentuhan satu sama lain.
"Ya seenggaknya bibir kamu yang kebiasaan julid itu cuma aku yang bisa bikin diem kan. Nah buka mulutnya lagi....sekarang makan yang banyak" seru Aksa memecah lamunan Claudia
Dengan malu malu, Claudia membuka mulut dan tetap memakan bubur yang Aksa suapkan ke mulutnya. Hingga ia tersadar, bahwa kaki Aksa di gips.
"Eh itu kaki kenapa?" tanya Claudia sambil mengunyah
"Retak" jawab Aksa singkat
"Kok bisa?" seru Claudia
"Kemaren ada Godzilla yang nginjek kaki aku pake heels" jawab Aksa santai
"Oh....."
Ada jarak beberapa detik sebelum Claudia sadar yang dimaksud Aksa Godzilla itu adalah dirinya.
"LAH YANG INJEK KAKI LO KEMAREN KAN GW, DASAAAAAR AKSA JELEEEEEEK!!!!" teriak Claudia sembari memukul Aksa dengan bonekanya.
"Duh ampun dong, gila ini aku udah bela-belain semuanya buat kamu. parah banget...udaaaah aku juga lagi sakit tau....CLAUDIAAAAA!!!"
Aksa pun menarik tangan Claudia dan mendaratkan tubuh perempuan mungil itu ke dada bidangnya, ia lalu memeluk erat Claudia.
"Jangan kaya gitu, nanti buburnya tumpah" bisik Aksa dengan suara seraknya.
Claudia hanya bisa terdiam didalam dekapan Aksa, anehnya dia merasa nyaman, dan hatinya terasa hangat. Sebenarnya Aksa tidak semenyebalkan itu, kalau saja dia mau tetap bersikap manis kepada Claudia.
Didepan pintu ternyata ada Reiki yang sekarang jadi saksi mata dari Ciuman Aksa dan Claudia. Dia tadinya ingin mengambil handphonenya yang tertinggal di kamar Claudia, tapi begitu ia ingin masuk, betapa kagetnya ia saat mendapati Aksa dengan jelas mencium Claudia, dan dari pihak perempuan mungil itu pun tak ada penolakan. Melihat hal itu Reiki hanya mengepalkan tangannya, saking kuatnya ia mengepalkan tangannya buku buku tangannya memucat. Seperti halnya Aksa yang ingin langsung meninju Reiki, hal itu pula yang Reiki rasakan saat ini.
"Claudia..."panggil Reiki lirih.
__ADS_1