
Musik jazz yang mengalun, membuat suasana terasa nyaman. Setidaknya begitulah seharusnya atmosfer yang tercipta di sebuah café yang kini tengah didatangi oleh Reiki dan Syakila. Namun sayangnya ketegangan justru sangat terasa diantara kedua orang itu.
Ya, Syakila dengan segala rencana besarnya kini tengah membanggakan hasil kerjanya. Semua rencananya berjalan seperti yang ia inginkan, entah bagaimana bahkan Aksa yang datang sendiri menuju permainannya.
“Jadi gimana…pekerjaan aku rapih kan?” Ujar Syakila sambil memperlihatkan ‘tugasnya’ pada Reiki.
Perempuan ini tersenyum bangga, ia merasa kemenangannya sudah di depan mata, ia sangat senang karena sebentar lagi Aksa akan kembali padanya.
Berbeda dengan Syakila yang dengan rasa bahagia luar biasa mempromosikan apa yang telah ia lakukan, Reiki justru tidak tahan melihatnya. Ia merasa semua yang dilihatnya adalah hal yang paling menjijikan dan kotor.
“Menjijikan…” ucap Reiki sambil menutup laptop yang ada di depannya, tentu dengan ekspresi tidak suka.
Entah bagaimana ia bisa membuat seorang perempuan melakukan hal kotor seperti itu, tapi semua ide gila yang mereka lakukan semata-mata untuk masa depan lebih baik, itulah yang tertanam di pikiran Reiki.
“Awww, yang kamu menjijikan itu malah jadi penolong kamu lho Ki..hahaha” Syakila malah tertawa melihat betapa polosnya Reiki, perempuan ini tahu bahwa Reiki memang menjaga dirinya demi Claudia, sayangnya perempuan yang ia cintai itu malah jatuh cinta pada Aksa.
Sebuah pengorbanan yang sia-sia menurut Syakila, bagi perempuan itu Reiki seharusnya mencari pengalaman agar bisa memuaskan Claudia ketika menikah nanti. Secara praktis mantan kekasih Aksa ini memang semakin gila, apalagi semenjak ia jauh dari Aksa saat kuliah.
Syakila memang berusaha merusak Aksa, itupun diakuinya di hadapan Indah. Selama ini ia memang berusaha agar Aksa tidak dapat melakukan apapun dengan normal, tanpa dirinya tentu saja.
Ia ingin Aksa tunduk dibawah kakinya, sebisa mungkin Aksa harus berada disisinya walaupun ia tahu hatinya tak akan bisa jadi miliknya. Apalagi penyebabnya kalau bukan kehadiran Claudia di hidup Aksa.
Bagi perempuan ini, Claudia adalah ancaman yang benar-benar harus ia hilangkan dengan cara apapun, karena itu saat tahu jika ada seorang lelaki yang sama gilanya dengan dirinya, dan berkeinginan kuat untuk memisahkan Aksa dan Claudia, bagaimana bisa ia menolak tawaran kerja sama yang begitu menggiurkan.
__ADS_1
Bukan hanya bisa mendapatkan Aksa, tapi juga keuntungan lain. Tentu saja Syakila sangat senang, karena Reiki menjanjikan hadiah lainnya jika ia bisa mengurus semua rencana mereka dengan baik. Walaupun jujur saja, tanpa hadiah apapun dia sudah sangat senang, bisa mendapatkan teman yang membantunya memisahkan pria yang ia cintai dengan perempuan bodoh yang ia anggap tak ada bagus-bagusnya sama sekali.
Reiki kemudian mengeluarkan sebuah dokumen, sebuah rumah diluar negeri, yang telah ia siapkan untuk bayaran Syakila, bukan uang tapi property yang dibayarkan untuk segala hal yang dilakukan oleh Syakila.
“Apa ini…” seru Syakila sambil membaca dokumen tersebut, gadis ini tersenyum sinis. Ia tahu maksud Reiki memberinya property ketimbang uang, ia memang akan membutuhkan itu untuk kabur sekiranya ‘video’ itu tersebar kemana-mana, selain pada keluarga Aksa.
“Tambahan bayaran buat kamu, sekarang selesaikan secepatnya…saya cuma pengen kamu cepet-cepet nikah sama Aksa..” seru Reiki dengan tatapan dingin kearah Syakila.
“Ya, boleh juga ini harga yang lumayan pantas buat video panas yang aku buat hahaha”
Reiki menggelengkan kepalanya, perempuan yang ada dihadapannya ini memang sudah gila. Padahal Syakila berasal dari keluarga yang terhormat, entah bagaimana gadis ini jadi liar, memang uang tak bisa membeli segalanya, apalagi kesantunan.
“Saya gak peduli soal video panas kalian, yang penting buat saya apa kamu sudah kirim video itu ke om Bram dan Claudia?” tanya Reiki. Pria ini juga sudah mati rasa, dia tidak peduli Bram akan ikut hancur bersama Aksa atau tidak. Yang pasti dia ingin menyingkirkan pria yang selalu mengganggu pikiran calon istrinya itu, dengan cara apapun.
Syakila sekali lagi tertawa, dia tahu kenapa Reiki sangat terburu-buru, sepengetahuannya pesta ulang tahun Claudia sebentar lagi akan dilaksanakan, jika disaat itu Aksa datang entah bagaimana keputusan Claudia untuk menikah dengannya. Ia yakin Aksa bisa saja membuat Claudia membuang Reiki begitu saja.
“Duh, kenapa tiba-tiba kamu ga sabaran gini sih? Apa Reiki Alvaro ketakutan karena Claudia ‘tersayang’ berulah?”
Reiki membelalakan matanya, ia tidak suka dengan ucapan Syakila yang seakan mencemooh gadisnya itu. Tapi ia tak akan berbohong kalau ia memang merasa terganggu.
Kekhawatiran terbesarnya adalah, jika Claudia menyadari bahwa ia memang tak bisa melupakan Aksa. Semua itu karena setelah gadis kesayangannya dan Aksa tinggal berjauhan, Claudia menampakan ketidak nyamanannya. Ia seringkali termenung, bahkan selalu terlihat terkejut hingga ingin menangis, ketika nama Aksa atau apapun yang berhubungan dengan pria itu tak sengaja disebut.
Banyak orang yang bolang, jika jauh dari orang yang disayangi kita baru akan tersadar, betapa pentingnya orang tersebut untuk diri kita. Tentu saja ini terjadi juga pada Claudia, itulah yang membuat Reiki panik dan ingin mempercepat segalanya.
__ADS_1
Reiki berusaha tenang, ia tidak ingin terprovokasi oleh ucapan Syakila, pria ini lalu menatap Syakila dan mulai bicara dengan suara sedikit meninggi, membuat mantan kekasih Aksa itu sedikit bergidik. Ia tahu benar kegilaan apa yang dapat diperbuat Reiki, jika sudah berhubungan dengan Claudia.
“Secepatnya buat Aksa menikahi kamu, saya sudah muak melihat lelaki gak tau diri seperti manusia bejat satu itu, terus menerus membuat Claudia bimbang…Kamu tahu tidak ada satu pun dari kita yang akan diuntungkan, kalau Aksa berhasil meyakinkan Claudia untuk membatalkan pertunangan kami minggu depan..”
Syakila memaksa tersenyum, dalam hati ia ketakutan. Cara Reiki membicarakan Aksa, seperti ia sudah bersiap menyingkarkan kakak tiri dari Claudia itu kapanpun di perlukan.
Perempuan itu berpikir, jika dengan orang yang dicintainya saja Reiki tega membuatnya hancur, apalagi kepada seseorang yang jelas ia benci. Membayangkan instruksi dari Reiki dimalam Syakila melancarkan rencananya saja, sudah cukup membuat perempuan ini merasa terintimidasi.
Pada kenyataannya mereka berdua memang berusaha menjebak Aksa. Di malam Aksa tak pulang kerumah, sebenarnya Aksa menghubungi mantan kekasihnya, mengabatkan bahwa ia akan berkunjung ke apartemen Syakila. Ia ingin menghadapi gadis itu baik-baik dan menghentikan semua sandiwara mereka.
Dan beberapa jam sebelum Aksa bertamu ke kediaman Syakila, perempuan itu langsung menghubungi Reiki. Tentu saja ini adalah kesempatan yang tak mungkin di sia-siakan oleh Reiki.
Tak sampai 1 jam, seorang pria suruhan Reiki datang ke apartemen perempuan tersebut sambil membawa plastik berisi ‘Sildenafil’ atau gampangnya obat perangsang.
Reiki memperintahkan pria itu untuk memasang kamera di kamar Syakila. Semua kejadian itu begitu cepat, mantan kekasih Aksa itu bahkan tidak dapat mengingat semuanya dengan baik, yang ia tahu semuanya sudah di selesaikan oleh Reiki.
Hanya butuh waktu beberapa menit, Reiki menyiapkan rencana tambahan untuknya. Bagaimana dia harus bertindak dan sebagainya, semua itu berasal dari Reiki. Jujur saja ia merasa Reiki seperti kepala mafia yang dengan mudah bisa membuat rencana jahat dalam waktu singkat.
“Saya gak akan pernah memaafkan kesalahan sekecil apapun dalam rencana kita, terlalu banyak yang sudah saya pertaruhkan…kamu paham kan ?”
Syakilla mengangguk, ia baru sadar siapa sebenarnya game master dalam permainan mereka.
__ADS_1