
3 hari setelah kejadian pertunangan itu, kini Claudia sedang duduk ditaman ditemani cahaya bulan, sambil melihat cincin yag ada di jari manisnya itu. Sebuah cincin emas putih dengan berlian kecil ditengahnya, Reiki memang sengaja tidak membeli cincin yang terlalu berlebihan, karena saat ini Claudia masih bersekolah, sehingga desain yang mewah justru akan membuat gadis itu tidak nyaman.
Reiki memang sangat memahami Claudia, mungkin memang ini yang terbaik bagi dirinya, masa depannya dengan Reiki pasti cerah,
"Claudia...Claudia,kenapa juga mesti galau..apa coba kurangnya kak Reiki...ganteng, baik, pinter, pengertian, sayang sama aku, tapi...." Claudia menghela nafasnya dengan pelan.
"Tapi kamu ga cinta kan sama dia..."
Aksa tiba-tiba sudah ada di belakang Claudia, ia pun duduk disamping gadis itu. Tentu saja Claudia kaget, dia sendirian sejak tadi, apalagi ini sudah jam 10 malam, semua orang sudah tidur di rumah itu, jadi siapa yang menyangka Aksa masih terjaga, dan sedari tadi memperhatikan Claudia dari jendela kamarnya.
Oh ya, jangan lupakan bahwa Aksa sebenarnya sudah sembuh dari sakit kakinya itu, dan kemarin dia baru saja melepas Gips di kakinya itu, jadi dengan mudah Aksa bisa berlari dan menganggetkan gadis mungil itu.
Claudia berusaha untuk bersikap biasa, gadis itu tahu Aksa memperhatikan wajahnya dengan pandangan mata yang berbeda, akan tetapi Claudia ingat dengan apa yang dikatakan Reiki sesaat setelah pria itu menyematkan cincin ditangannya. Bagaimana pun Claudia berusaha untuk menyangkal, ia memang harus menghapus benih cinta yang baru ia sadari itu secepatnya.
"Ka Reiki itu baik banget, aku sayang sama dia terus..." seru Claudia sambil menunduk.
"Yang aku tanya kamu cinta ga sama Reiki.." Aksa melihat Claudia dengan wajah serius, tentu saja pemuda ini belum bisa menerima, kenyataan bahwa Claudia telah bertunangan dengan Reiki, hanya dia seharusnya yang boleh memakaikan cincin ditangan gadis muda itu.
"uhm...." Claudia bingung menjawab pertanyaan Aksa, ia sayang Reiki tapi tidak bisa dikatakan, rasa yang ia punya saat ini adalah perasaan cinta.
"Ga bisa jawab kan ? karena kamu ga cinta sama dia, tapi kamu cinta sama aku..." Seru Aksa dengan nada tinggi, pria itu kesal dengan Claudia yang plin plan pada perasaannya sendiri, padahal Aksa yakin jika adik tirinya itu sudah mulai jatuh cinta pada dirinya.
"HAH KATA SIAPA!!!!????"
Aksa langsung menarik gadis mungil itu, ia membawa Claudia masuk ke kedalam rumah, ia langsung memaksa gadis mungil itu masuk kedalam kamarnya. Dengan cepat Aksa mengunci pintu kamarnya.
"Sekarang kita buktiin kamu beneran cinta atau ga sama aku..."
"Ma...mau apa ka...kak...kakaaaaak..." Claudia panik, saat ini Aksa tidak seperti dirinya sendiri, tatapan hangat yang biasanya dia tampakan pada Claudia, berubah menjadi tatapan dingin tak bersahabat, seperti ingin memberi Claudia pelajaran bahwa yang dilakukan oleh gadis itu, adalah suatu kesalahan yang fatal, dengan sangat jelas Aksa tidak senang dengan apa yang dilakukan oleh adik tirinya itu.
"KA LEPASIN AKU, SAKIT KAAAK!!!" teriak Claudia.
"Kamu bisa diem gak? Atau kamu mau semua orang tau kita udah ciuman berkali-kali? Kalo emang itu mau kamu, gak apa-apa teriak aja, biar semua orang bangun, jadi aku bisa nyium kamu di depan mereka semua" Aksa mengancam Claudia, ia tidak main-main dengan ucapannya, dan Claudia sadar soal itu, mau tak mau gadis ini pun hanya bisa mengikuti kakaknya itu.
Mereka kini sudah masuk kedalam kamar Aksa, dengan cepat pria itu mendorong Claudia masuk kedalam kamarnya, Aksa pun menatap adiknya itu dengan dingin, lalu mengunci pintu kamarnya.
Kini Claudia sudah terdesak, punggungnya kini sudah menabrak dinding kamar Aksa, sudah tidak adalagi jalan untuk kabur.
"KA....."
"Shhh, kalau kamu berisik bunda sama papa bisa bangun"
Aksa mendekatkan kepalanya, Claudia yang sudah tahu Aksa mau melakukan apa, langsung menunduk dan kabur kearah tempat tidur Aksa.
"CLAUDIA" teriak Aksa.
"KAKAK MAU APA, JANGAN MACEM-MACEM YA, SEKARANG AKU UDAH JADI CALON ISTRI ORANG LAIN!"
__ADS_1
Claudia mulai melempar semua bantal diatas kasur aksa, hingga tak tersisa apapun, kecuali sebuah boneka, dan ketika ia tanpa sadar mengambil boneka itu, Claudia seperti tersadar.
"Ku...Kumacha...." Claudia memeriksa boneka itu.
Aksa diam, dia memperhatikan gelagat Claudia. Sorot mata pria itu berubah, ada rasa lega karena Claudia tidak lupa pada boneka beruangnya itu.
"Ke..napa....kenapa Kumacha bisa sama kakak?" Claudia melihat bonekanya itu lalu memeluknya, pupil mata Claudia bergetar, ia kehilangan bonekanya ini sudah lama, seingatnya di rumah sakit, tapi ia tidak bisa ingat sama sekali.
"Di..."
"Jawab ka, kenapa kumacha bisa sama kakak?"
"Duduk dulu ayo Di..."
Aksa mengulurkan tangannya, kali ini Claudia tahu bahwa kakaknya sudah kembali seperti semula, setidaknya ia tahu Aksa tidak akan menyakitinya. Kini mereka pun duduk saling berhadapan.
"Kamu pasti udah lupa , tapi hampir 14 tahun yang lalu kamu yang kasih Kumacha ke kakak" jelas Aksa yang tentu saja mengerti bahwa sulit bagi Claudia untuk ingat tentang dirinya, apalagi dengan semua hal yang terjadi sebelumnya.
"Hah, ga mungkin, kumacha itu ilang di rumah sakit, aku ga inget aku pernah kasih kumacha ke orang lain"
"Wajar Di, kamu ketemu sama aku waktu masih umur 3tahun" jawab Aksa sambil pindah untuk duduk disamping Claudia.
"Maksud kakak, kita udah pernah ketemu sebelumnya?" Mata Claudia membelalak, ia tidak percaya bahwa dia pernah bertemu dengan Aksa.
Dengan perlahan Aksa menyentuh wajah Claudia, gadis cantik itu tidak menolak saat disentuh Aksa, sejujurnya Claudia tidak terlalu peduli, apalagi dia lebih penasaran tentang Kumacha yang kini ada dikamar Aksa.
Claudia tidak terima ia harus tau kenapa boneka kesayangannya itu ada di kamar Aksa, lalu kenapa dia tidak ingat tentang dirinya yang memberikan Aksa teddy bear kesayangannya itu, dan juga ada hubungan apa dirinya dengan kakak tirinya itu dimasa lalu.
Gadis itu pun memeluk lengan Aksa, dan tentu saja ini membuat Aksa kaget. Claudia benar-benar penasaran, karena Aksa menyembunyikan sesuatu darinya, dan dia berhak tahu apapun rahasia yang disembunyikan oleh pria itu.
Wajah Aksa memerah, hatinya benar-benar tak karuan, saat ini dia benar-benar ingin memeluk tubuh Claudia, menggendong tubuh mungil gadis itu, dan selanjutnya, lebih tak diteruskan. Aksa tidak ingin membayangkan hal yang membangkitkan hasratnya atas gadis cantik itu.
"Di...lepas...." seru Aksa.
"Kenapa?"
"Aku emang ngancem kamu buat ikutin mau aku, tapi liat sikonnya Di...tadi aku lagi marah banget, tapi sekarang..."
"Maksudnya?"
"Maksud aku ini..." Aksa langsung menaruh tangannya di tengkuk leher Claudia, tanpa basa basi lagi pria itu mencium bibir milik Claudia, dengan perlahan Aksa melumat bibir gadis itu, ciuman Aksa kali ini berbeda dengan biasanya, keinginannya untuk membuat Claudia menjadi miliknya terlalu besar.
Claudia dilain pihak berusaha untuk menolak apa yang dilakukan kakak tirinya itu, bagaimanapun juga ini adalah hal yang tidak benar.
"Ka...." Claudia berusaha melepaskan pagutan Aksa.
"Claudia...aku mau kamu..." Aksa dengan cepat mengangkat tubuh Claudia, dipindahkannya tubuh mungil itu keatas tempat tidurnya, Claudia masih berusaha meronta, tapi lama kelamaan tubuhnya takluk juga. Aksa tidak berhenti menciumi gadis itu. Kini posisi Aksa sudah berada diatas tubuh Claudia, Aksa menggunakan kedua sikunya untuk menopang berat tubuhnya. Sesekali Aksa menatap wajah gadis yang ia cintai itu, Claudia sudah blank, walaupun otaknya memaksa untuk segera kabur dari ruangan itu, namun tubuhnya sudah pasrah.
__ADS_1
Melihat Claudia yang kini sudah tak berdaya, membuat Aksa tersenyum, ia bahkan ingin membuat Claudia lebih mabuk kepayang lagi dengan sentuhan darinya. Ciuman Aksa kini berpindah ke tengkuk gadis itu, erangan pelan lolos dengan mudah dari bibir mungil milik Claudia. Tangan Aksa bahkan kini sudah menjelajah, ia tidak bisa menahan hasratnya lagi, dengan perlahan Aksa membuka kaitan di belakang punggung Claudia, entah kenapa saat melakukan hal itu tangan Aksa gemetaran, dirinya sendiri bingung kenapa bisa begitu, padahal biasanya dulu dia tidak pernah seperti ini.
"kakak......jangan...." seru Claudia lirih.
"Gak Di, kakak ga akan macem-macem. Kamu tenang aja..." Aksa mulai memasukan tangannya kedalam piyama milik Claudia, dengan pasti ia tubuh Claudia kini hanya berbalut piyamanya saja, Aksa pun menyingkirkan dalaman gadis itu.
Berbeda dengan Reiki, Aksa memang bukan pria polos. Bermain dengan banyak perempuan adalah rutinitas Aksa dahulu, dan perkara melucuti baju dan dalaman perempuan juga bukan hal yang sulit, bisa di bilang Aksa sangat handal memuaskan pasangan kencannya.
Tapi semuanya berbeda jika berhubungan dengan Claudia, ciuman, sentuhan bahkan suara Claudia mampu membuat Aksa seperti orang gila, dia terkadang tidak mampu menyentuh gadis mungil itu, tapi dilain kesempatan dia melakukannya tapi tetap dengan batasan, ia tidak ingin merusak Claudia.
"Ka...."
Aksa terus mengecup bibir gadis itu, bagai candu Aksa tidak bisa melepasnya, sedangkan kini tangannya sibuk meremas milik Claudia. Erangan demi erangan kembali lolos dari bibir mungil gadis itu. Dengan rakus Aksa menghirup aroma tubuh Claudia.
'Gak cuman wajah dan bibir kamu yang manis sayangku, wangi tubuh kamu pun begitu manis, benar-benar menggugah hasratku, vanilla dan strawberry. Ga buruk juga ternyata' gumam Aksa dalam hati.
"Panggil nama aku sayang..." pinta Aksa, yang dengan aktif masih mencumbu leher milik Claudia, sembari menghisap dan mengigit lembut agar semua yang dilakukannya hari ini akan berbekas hingga beberapa hari kedepan. Kulit Claudia yang putih, membantu tanda yang di berikan Aksa semakin terlihat, tentunya ini membuat Aksa puas.
Dengan mudah erangan Claudia kini berubah dengan nama Aksa, gadis yang benar-benar awam juga tidak paham dengan segala kegiatan seksual apapun ini, benar-benar sudah hilang akal. Apalagi saat ini tangan dan bibir Aksa sudah ada diatas dadanya, walaupun Aksa tidak membiarkan Claudia tanpa sehelai benangpun, namun setidaknya itu sudah cukup membuat gadis tanpa pengalaman ini menggila.
"Kaaa Aksaaa.....u...u...udah kaaak..." seru Claudia berusaha menghentikan hisapan Aksa di dadanya itu, gadis itu sudah bergerak tak tentu. Dia merasa sangat lemah, hingga kepalanya berkunang-kunang, Claudia sepertinya sudah tak tahan lagi, tubuhnya bergerak tanpa kendali.
Ia saking menggilanya, sekarang Claudia....
"Di...Claudia...ya ampun Claudia...."
Ya, Claudia pingsan. Dia tak terbangun sama sekali. Lalu bagaimana dengan Aksa?. Lelaki itu tertawa, ia menciumi pucuk kepala gadis itu, lalu beralih ke dahi.
Aksa tersenyum, sebelum membenarkan posisi tubuh Claudia. Ia dengan mudah mengangkat tubuh gadis itu, lalu menyelimutinya.
"Tetap seperti ini Claudia, sampai aku jadi suamimu tetaplah jadi gadis manis yang polos. Biarkan aku yang mewarnai semuanya, bukan laki-laki brengsek itu atau siapapun" Aksa kini berbaring di samping gadis itu.
"Mimpi indah calon istriku..."
Dan malam itu Aksa merasakan tidur paling nyenyak selama 14 tahun terakhir, tentunya dengan Claudia yang kini ada dipelukannya.
__ADS_1