
Apa kamu pernah berpikir, apa tujuan hidup manusia?
Bagi Syakila, tujuan hidupnya adalah bahagia, berbahagia dengan orang yang sangat ia cintai. Baginya ia tak punya batasan salah dan benar, salah kah dia? Kalau salah dibagian mananya??. Dirinya cuma ingin punya kebahagian yang utuh, bersama dengan orang yang ia dambakan seumur hidupnya.
Syakila bertemu dengan Aksa saat dirinya bahkan belum mengerti tentang cinta, yang ia tahu ketika pertama kali bertemu dengan cintanya tersebut, hanyalah Aksa terlihat sangat bersinar. Lelaki itu seperti bintang di hidup Syakila yang terlalu datar, tanpa tantangan sama sekali.
Wajar saja kalau hidup Syakila sangat monoton, sebagai anak perempuan satu-satunya di keluarga kaya raya, semua keinginan dan kebutuhan hidupnya terpenuhi dengan sangat baik, kedua orang tuanya tidak pernah berkata ‘tidak’ pada apa yang dimintanya.
Begitu pula saat dirinya meminta Aksa menemaninya setiap hari, sedangkan Aksa sendiri tidak menolak, entah kenapa dia merasa bahwa Syakila sama kesepiannya dengan dirinya. Dia selalu merasa bahwa Syakila yang hidup dengan segala gemerlap harta, ternyata tidak lebih bahagia daripada dirinya. Disaat itu hubungan Aksa dengan Syakila semakin berkaitan, bahkan ketika Claudia hilang dari hidupnya Syakila yang membantunya mengubur ingatan itu, walaupun caranya sangat salah.
Tapi apakah semua sudah di rencanakan oleh perempuan itu? Syakila tidak segila itu pada awalnya. Ia secara naluriah merasa bahwa Aksa tidak mencintainya, sayangnya Syakila bergaul dengan orang-orang yang salah. Teman-temannya saat itu menyarankan Syakila agar membuat Aksa ketergantungan padanya, caranya? Mengemukakan nafsu yang dimiliki setiap manusia.
Syakila yang awalnya hanya ingin membuat Aksa melupakan Claudia, mulai mengambil jalan yang salah. Ia pergi ke club malam, membiasakan diri dengan pergaulan yang hedonis. Alasannya, agar jika waktunya tiba dia bisa membimbing Aksa untuk melupakan segalanya, dan hanya bergantung padanya, persis seperti apa yang dikatakan oleh sahabat-sahabatnya saat itu.
Masih jelas diingatannya saat pertama kali Aksa memasrahkan dirinya, mengikuti semua yang diminta oleh Syakila, tepat beberapa hari setelah Aini, ibu angkat Aksa wafat. Saat itu Syakila sangat gembira, yang ada dipikirannya Aksa gini telah menjadi miliknya, sepenuhnya. Mereka melakukan banyak hal bersama-sama, dari yang normal hingga tidak sepantasnya dan sewajarnya dilakukan. Terlebih saat Bram menyerah dan pergi meninggalkan Aksa dalam kondisi yang sangat rapuh.
Semua berjalan sesuai dengan apa yang diinginkan oleh Syakila, bahagia? Tentu saja. Tapi perlahan dalam hati kecilnya ia menyadari bahwa semua yang ia dapatkan dulu adalah kebahagiaan semu yang sia-sia. Toh pada akhirnya Aksa tidak bisa menjadi miliknya, bahkan membuat suaminya itu lupa pada cinta pertamanya saja tak bisa, entah karena cinta Aksa terlalu kuat pada Claudia, atau memang Syakila yang tak mampu merubah arah hati pria yang sangat dikasihinya itu.
‘Hampa’ cuma itu yang terpatri jelas di hatinya. Beribu-ribu kali Syakila bertanya pada dirinya sendiri, kenapa semua hal selalu berpihak pada Claudia?. Kenapa nasib membuatnya menjadi menderita?. Seandainya Aksa bisa menerimanya, dan melupakan gadis itu, Syakila tidak perlu menjalani hidup yang penuh dengan kebencian, ia mungkin akan bisa menjadi perempuan yang baik dan mampu menemani Aksa dalam susah maupun senang.
‘Jadi apa yang salah?’
Apa salahnya ketika ia mencintai seseorang dan ingin memiliki bukan cuma tubuh namun juga hatinya?, apa salahnya ketika ia menghalalkan segala cara agar dapat berbahagia, agar bisa tersenyum tulus tanpa harus berpura-pura.
__ADS_1
Sekarang hidupnya sama sekali tidak normal, Syakila setiap harinya semakin tenggelam dalam obsesi dan keinginannya. Kenapa semua tidak ada yang berjalan sesuai dengan harapannya?.
Tapi, tahukah Syakila bahwa korban utamanya bukan Aksa, Claudia, maupun Hana?. Orang yang paling ia sakiti dengan segala macam tingkah lakunya adalah ibunya.
Melinda hanya terdiam dari balik pintu kamar Syakila, menatap putrinya yang kini tengah duduk sendiri menghadap jendela kamar. Perlahan perempuan paruh baya itu berjalan mendekati anaknya. Ruang kamar Syakila yang sangat bagus itu, terasa dingin seakan tidak berpenghuni. Tentu sebagai seorang ibu menatap perubahan putrinya menjadi hancur-hancuran begini, sangat menusuk batinnya.
“Kila…sayang….” Ucap Melinda, sembari duduk di samping Syakila.
“Kalau mama minta aku untuk berhenti, aku ga bisa…” balas Syakila dingin, tanpa melihat kearah mamanya.
Melinda cuma bisa tersenyum tipis, meyakinkan Syakila memang bukan persoalan mudah. Sejak kecil Syakila adalah anak yang keras kepala. Jika menginginkan sesuatu dan tidak di turuti anak perempuannya itu bahkan bisa sampai sakit.
Tapi dalam hatinya Melinda tau, kalau Syakila sebenarnya tidak setangguh itu. Anak perempuannya itu sudah sangat salah jalan, semua karena putrinya sangat mudah terpengaruh dengan hal-hal tidak baik, sehingga memilih jalan hidup yang begitu buruk.
Keinginan Melinda sangatlah sederhana, ia ingin Syakila mengikhlaskan Aksa dan mencari kebahagiaan baru tanpa menyakiti diri sendiri juga orang lain. Ia sudah tidak kuat melihat Syakila dengan semua obsesi tak sehatnya dan gambaran hidup bersama Aksa yang sama sekali tidak masuk akal. Melinda juga sejak awal pernikahan putrinya, sudah menyadari bahwa Aksa sama sekali tidak ingin berumah tangga dengan Syakila, semua dijalani menantunya itu hanya agar kewajibannya terlaksana. Walaupun pada akhirnya, Aksa tetap bersama dengan Syakila, bahkan saat menantunya itu tahu Hana bukanlah putri kandungnya, Aksa tetap bersedia bersama Syakila karena tidak ingin Hana disakiti oleh Syakila, sekali lagi bukanlah karena cinta.
“Ga ada satu orang pun di dunia ini, yang bisa memuaskan hati Kila selain mas Aksa ma, mama tau itu…sejak kecil kalian selalu bilang kalau Aksa itu jodoh Kila, kalian selalu bilang betapa serasinya mas Aksa dan Kila saat bersama…jadi….jadi kenapa Kila harus mengalah, kenapa Kila harus menyerah…”
Melinda terdiam, mungkin apa yang terjadi pada putrinya juga karena dirinya dan keluarga besar suaminya. Betapa mereka membangun istana kaca dalam pikiran Syakila, menghidupkan semua gambaran palsu bahwa sejak awal Aksa adalah milik Syakila dan begitu pula sebaliknya. Melinda tahu, jika semua ini karena keluarga Mario tidak ingin orang luar menguasai harta keluarga mereka, dan kebetulan saat itu Syakila sangat dekat dengan Aksa. Bermodal hal tersebut, mereka mencuci otak Syakila akan semua cerita picisan tentang betapa miripnya kisah Syakila dan Aksa seperti di dalam dongeng yang selalu berakhir happy ending.
Apa Melinda tidak bermasalah dengan hal itu? Tentu saja masalah, jika saja ia tahu kalau semuanya akan berakhir seperti ini. Sejak anaknya dengan dekat dengan Aksa, Melinda pikir Aksa juga punya perasaan yang sama seperti Syakila. Sejak SMP putrinya memang tinggal dengan pengasuh, bukan dengan dirinya. Melinda sibuk mengurus keperluan suaminya, mendampingi Mario kemana pun, sehingga menitipkan putrinya pada pengasuh yang sekaligus masih saudara sepupunya tersebut. Siapa yang menyangka kalau Melinda kecolongan.
“Kila…”
__ADS_1
“Apa salah Kila ma? Apa salah kalo Kila memperjuangkan kebahagiaan Kila?” Syakila memutar badannya, kini menghadap kearah ibunya.
“Gak nak, Kila gak salah…yang salah adalah cara kamu untuk memperjuangkan kebahagiaan kamu…”
Memperjuangkan kebahagiaan memang tidak salah, tapi semua tetap harus ada batasannya.
“Sekarang semua sudah terlanjur, lebih baik kita legowo…berpisahlah dengan Aksa, dan perbaiki hidup kamu. Kakak mu bilang dia mau ajak kamu pindah dan urus perusahaannya di Singapura, kamu mau ya nak…” Melinda berusaha merayu Syakila, meminta anaknya itu memikirkannya dengan serius. Bila pindah, Syakila bisa memulai hidup barunya, tanpa ada cemooh dari orang-orang disekitarnya juga.
Tapi reaksi Syakila sangatlah keras.
“Dan membiarkan orang-orang yang udah merusak kebahagiaan Kila hidup dengan damai?” ucap Syakila dengan sangat emosi.
“Kila…”
“Gak ma, mama harus tau Kila belum kalah ! kalau harus masuk neraka sekali pun, Kila akan bawa orang-orang itu bersama Kila, terutama Claudia !!!” Syakila mengepalkan tangannya dengan sangat kuat, ia teringat apa yang dikatakan oleh Claudia terakhir kali mereka bertemu.
“Posisi kita beda Syakila…” seru Claudia memotong makian dari Syakila.
“Beda?” Syakila mengerutkan dahinya, tak mengerti maksud adik iparnya itu.
“Iya, ka Aksa gak cinta sama kamu, dia gak sayang sama kamu, jadi mudah buat dia buang kamu dari kehidupannya. Tapi gak buat aku, dia cinta sama aku dan juga sayang sama aku. Dia butuh aku dalam hidupnya dan tebak, walaupun dia pasti marah setelah tau kenyataannya, dia gak buang aku ke tempat sampah, layaknya dia ngebuang kamu !” Claudia menutup omongannya dengan senyum sinis.
‘Kita liat Claudia, seberapa bedanya posisi aku sama kamu, aku pastikan hubungan kamu dan Aksa akan rusak dan ga bersisa sama sekali !’ ucap Syakila dalam hati.
__ADS_1
Iya, kalo bahagianya harus hancur, berarti orang yang merusaknya juga harus lebih menderita daripada dirinya.