
“Sekali lagi maaf ya pak sudah tidak sopan, tapi di depan ada orang yang memaksa minta bertemu dengan bapak, katanya urgent…”
“Siapa?” tanya Aksa sembari mulai mengecek file yang masuk ke emailnya.
“Katanya istri bapak…ibu Syakila”
Aksa berlari keluar ruangannya saat tahu bahwa Syakila sudah menunggunya, ia berlari ke ruang tunggu dengan emosi yang memuncak, dan itu bukannya tanpa alasan.
Syakila berkali-kali membuat gaduh kantornya, bahkan berusaha merugikan perusahaan dengan memalsukan hasil dari lelang tender.
Belum cukup sampai disitu, lepas Aksa membawa Hana kembali ke rumah orang tuanya, Syakila membuat keributan dengan membuat drama.
Salah satunya adalah ketika ia datang dan tubuhnya di penuhi memar, disitu ia berteriak meminta keadilan seakan-akan Aksa adalah suami kejam yang suka menyiksanya.
Menyadari bahwa istrinya itu sudah tak waras, keluarga besar Priambudi pun pada akhirnya memutuskan untuk memberikan seluruh saham milik Syakila atas nama Hana, namun karena anaknya itu masih terlalu muda, Aksa bertindak sebagai walinya.
Syakila pun dilarang keras memasuki kantor milik Aksa kembali, tapi hari ini perempuan gila itu melanggarnya.
Aksa akhirnya sampai di tempat Syakila menunggu, melihat Syakila yang tampak tenang justru membuat Aksa curiga, pria ini tau benar kalo perempuan yang ‘sempat’ dinikahinya itu pasti sedang merencanakan sesuatu.
Pria itu mengerutkan dahinya, berbeda dari biasanya Syakila sama sekali tak menampakan kehisterisannya, semua tampak normal.
‘Mau apalagi dia disini ?!’ Gumam Aksa dalam hati.
Aksa pun tanpa basa basi langsung duduk di depan Syakila, tentu dengan ekspresi tak bersahabat.
“Ada urusan apalagi kamu dateng kesini?” Ucap Aksa ketus.
Berbeda dengan Aksa yang jelas menampakan ketidak sukaannya, Syakila justru sebaliknya. Jelas perempuan ini sangat merindukan Aksa.
Bagi Syakila, lebih baik dia dibenci oleh suaminya itu ketimbang dilupakan sepenuhnya, ia tahu benar kalau Aksa tak bisa memaafkan semua yang sudah dilakukannya.
“Kamu apa kabar mas ???” Ucap Syakila sambil tersenyum.
Jujur saja Syakila memang sangat merindukan Aksa, ia sungguh ingin memeluk pria yang dinikahinya itu saat ini juga.
Walaupun selama mereka menikah Aksa tak pernah menyentuhnya dan mereka pun tidur di kamar yang terpisah, tapi setidaknya Syakila masih bisa melihat Aksa setiap harinya.
Alasannya, karena Aksa tetap pulang ke rumah mereka walaupun tak suka, semua karena Hana.
Sayangnya semua kini jadi lebih buruk, bahkan lebih buruk daripada masih ada Claudia di samping suaminya.
Bahkan kini untuk sekedar menanyakan kabar Aksa saja, Syakila harus mendapatkan ekspresi super kesal dari lelaki yang dicintainya itu.
“Aku tanya kamu ada urusan apa kesini?”
Jangan salahkan Aksa, dia sudah muak, benar-benar muak akan apa pun yang berhubungan dengan Syakila. Jadi rasanya tak perlulah berbasa-basi lagi.
Menyadari Aksa tak ingin menjawab pertanyaannya, Syakila tetlihat sedih. Akan tetapi semua hanya sesaat, hingga pada akhirnya Syakila berhasil tersenyum kembali seakan tidak ada apapun.
“Ini...” Perempuan ini mengeluarkan amplop coklat dari tas yang dibawanya, lalu menyodorkannya kepada Aksa.
“Apa ini?”
Tanpa bicara panjang lebar Aksa langsung membuka amplop tersebut. Ia sangat marah saat melihat isi amplop tersebut.
“SYAKILA APA-APAAN INI???!!!!”
__ADS_1
Di dalam amplop itu terdapat surat pengajuan percerain yang dikirimkan oleh pengadilan agama, namun sudah habis di robek menjadi beberapa bagian.
“Sampai mati pun aku gak akan mau cerai sama kamu, jadi berenti untuk kirim surat gugatan atau bahkan pengacara kamu...” Ekspresi wajah Syakila berubah menjadi sinis. Dia tak mungkin menyerah, kalau bisa seumur hidup dia akan membuat Aksa tidak bisa menikah lagi dengan siapapun.
“Aku sudah talak kamu, pernikahan kita juga udah ga bisa diselamatkan...gak setelah kamu dorong Hana dari lantai 2 !!!”
Di hari Aksa membawa Hana kembali kerumah orang tuanya, dihari itu pula asisten rumah tangga mereka menelepon dan mengabarkan kalau mereka melihat Syakila mendorong Hana dari lantai dua rumah mereka, beruntung saat itu rumah mereka tidak sepi, karena para pekerjanya baru saja pulang dari belanja kebutuhan dapur.
Hana langsung dibawa ke rumah sakit saat itu, beruntung luka yang didapatkannya tidak terlalu parah, tapi itu jadi titik balik dimana Aksa tidak ingin lagi melihat Syakila dekat dengan putrinya.
“Itu semua aku lakuin demi kita mas!!! Anak itu penghalang !!!”
Penghalang? Tentu saja, bagi Syakila yang berkali-kali berusaha untuk menggugurkan Hana karena takut Aksa menceraikannya saat itu, sejak awal pun gadis kecil yang dilahirkannya hanya alat yang seharusnya setelah dipakai bisa dibuang begitu saja.
Tapi pada akhirnya anak itu tetap lahir, walaupun dengan kondisi tubuh yang lemah. Terlebih setelah lahir pun, putri kandungnya itu malah jadi batu sandungan bagi Syakila untuk mendapatkan perhatian suaminya.
“Kalo dia ga lahir semuanya pasti jadi lebih baik, seharusnya dari awal kamu biarin aku bunuh anak itu sebelum lahir!!!, karena dengan begitu aku dan kamu....kita bisa punya anak sendiri...”
Emosi Aksa kian memuncak, beruntung Syakila adalah perempuan dan ibu dari anaknya, kalau tidak ia bisa saja memukuli perempuan yang masih berstatus sebagai istrinya itu dimata negara.
“STOP !!!” Bentak Aksa. Mendengar pria yang dicintainya meninggikan suara Syakila langsung terdiam dan berhenti meracau.
Aksa sudah sangat muak, bisa-bisanya perempuan yang berdiri di depannya ini masih dengan mudahnya menyatakan keinginan untuk melenyapkan Hana tanpa ada rasa bersalah sedikit pun.
Syakila memang sudah terlalu dalam terjebak dalam obsesinya untuk memiliki Aksa, hingga mentalnya sama sekali tak stabil.
Aksa juga sadar akan hal itu. Ia pun menarik nafas panjang dan menghembuskannya perlahan, berusaha menenangkan diri. Ia berpikir mengamuk pada Syakila juga sudah tidak ada gunanya.
“Selama kita menikah aku sempat berpikir untuk jadi suami dan ayah yang baik, walaupun aku tahu Hana itu bukan darah daging aku !!”
Iya, Aksa juga sudah tau kalau Hana bukan anak biologisnya. Tidak aneh bagi Aksa, karena ia sudah mengira.
Setelah itu keputusan tentang pernikahan mereka diserahkan kepada Aksa. Mereka berkali-kali meminta maaf atas perlakuan Syakila, pada intinya kedua orang tua perempuan itu pasrah dan tidak ingin ikut campur lagi.
“Walaupun aku tau, aku urungkan niat aku untuk menceraikan kamu saat itu...kamu tau kenapa? Karena aku paham betul rasanya sebatang kara, dan jelas aku ga mau Hana merasakan hal yang sama!!!”
Aksa bisa saja menceraikan Syakila setelah perempuan itu melahirkan, namun hati nurani Aksa merasa bersalah.
Dengan jelas Syakila berkali-kali ketahuan saat ingin menggugurkan kehamilannya, jadi Aksa merasa khawatir akan masa depan anak yang baru lahir tersebut.
Dugaan Aksa pun benar, sejak dari lahir perempuan itu menunjukan rasa bencinya pada Hana, sebagian orang yang tak paham duduk perkara dari permasalahan mereka, menyatakan bahwa hal wajar ketika ibu muda terkena baby blues, sayangnya Aksa tau benar kalau Syakila memang mengkhendaki bayinya lebih baik mati saja.
“Tapi apa yang kamu lakuin ?! Kamu siksa anak kandung kamu sendiri, cuma karena aku perhatiaan sama dia ! Kamu itu bukan cuma gagal sebagai ibu tapi juga udah ga pantas lagi dianggap sebagai manusia !!! “
Tidak ini tidak benar pikir Syakila, seharusnya anak itu mati saja, karena anak itu hubungannya dengan Aksa bukannya membaik tapi malah semakin memburuk.
“Mas !!! Anak sialan itu udah nyuci otak kamu, dia yang udah berusaha ngerebut perhatian kamu buat aku...dia anak yang cuma bawa sial ke pernikahan kita!!!” Syakila mulai histeris, ia mulai meninggikan suaranya.
Beruntung kini mereka bicara di ruangan yang lumayan kedap suara.
“CUKUP!!!...Kamu harusnya ingat kalo bukan karena Hana sampai kiamat pun aku ga akan mau menikah sama kamu...kamu terus eksploitasi dia demi kepentingan kamu sendiri ! Apa ga ada sedikitpun dalam hati kamu rasa sayang buat dia ?! Kamu itu ibu kandungnya !!!”
Aksa menatap wajah perempuan yang sejujurnya pernah menjadi sosok penting dalam hidupnya. Ia berusaha mencari sedikit saja raut penyesalan dari wajah Syakila, tapi apa boleh buat sekali lagi semua nihil.
Yang jelas terlihat di wajah perempuan itu hanyalah amarah, kebencian, rasa dengki dan obsesi yang cukup besar, jelas bagi Aksa tidak ada satu pun ketulusan baik baginya maupun putrinya.
“Pembicaraan ini ga akan ada abisnya...ok kalau kamu ga mau tanda tangan, aku akan kirim gugatannya lagi, kita ketemu di pengadilan, lebih bagus kalau kamu ga datang jadi proses perceraian kita bisa lebih cepat selesai !!!”
__ADS_1
Aksa bangkit dari tempat duduknya, meninggalkan Syakila begitu saja tanpa menoleh sedikit pun.
Kesal Syakila pun mulai histeris, ia berteriak sekeras-kerasnya dan sekuat tenaga.
“GAK....AKU GAK MAU !!! KAMU GAK BISA CERAIKAN AKU GITU AJA !!”
Aksa menghela nafasnya lalu membuka pintu, ia sudah tak ingin lagi berurusan dengan Syakila dan memilih untuk langsung saja memanggil petugas keamanan.
“Tolong panggil security” seru Aksa pada salah seorang karyawan yang lewat.
Hanya butuh waktu kurang dari 2 menit beberapa petugas keamanan datang dan langsung bersiap menerima perintah dari bos mereka itu.
“Bawa perempuan ini keluar dan sekali lagi jangan pernah biarkan dia masuk lagi ke dalam gedung, walau cuma di lobi sekalipun seperti hari ini!!!” Titah Aksa tegas kepada beberapa orang security yang bertugas.
Mereka dengan sigap langsung mengangguk dan memegang kedua lengan Syakila yang saat ini, masih berteriak memaki-maki Hana.
Walaupun berusaha berontak, tenaga Syakila kalah kuat. Saat ini mereka sudah ada di depan lobi dan Aksa telah bersiap meninggalkan perempuan yang saat ini masih berstatus istrinya itu.
“LEPAS !!!” Teriak Syakila yang tidak ingin seorang pun menghentikan aksi gilanya.
Teriakan Syakila tadi berhasil membuat Aksa menghentikan langkahnya.
“MAS AKSA !!! DENGERIN AKU ! KALAU KAMU MAU CERAI OK ! TAPI HANA IKUT AKU ! AKU IBU KANDUNGNYA DAN KAMU TAU BENAR APA YANG BAKALAN AKU LAKUIN SAMA DIA !” Syakila menjerit, kalau mau hancur dia tak akan mau sendirian. Anak itu harus ikut ke neraka bersamanya.
Ia akan membuat Aksa tak bisa melupakan dirinya seumur hidup, membuat Aksa menderita dan merasa bersalah. Membuat pria yang menjadi obsesinya itu, tak akan bisa berbahagia hingga pada akhirnya seumur hidup Aksa akan sendirian.
Kalau tak bisa ia miliki, maka Aksa tidak boleh jadi milik siapapun, itulah yang ada di benak Syakila saat ini.
Takut ? Hmmm tidak juga, Aksa tau Syakila akan mengancamnya dengan putri kecil mereka. Semenjak kejadian video waktu itu, Aksa menjadi pribadi yang lebih waspada, ia tak punya celah untuk dimanfaatkan oleh orang lain, jadi sebelum Syakila melakukan apapun, pria ini sudah mempersiapkan dirinya dengan semua kemungkinan terburuk yang bisa terjadi.
Aksa berbalik, ia berjalan kearah Syakila dengan wajah tanpa ekspresi.
“Silahkan....hak asuh Hana ga akan mungkin semudah itu jatuh ketangan kamu, kamu mungkin ibu kandungnya, tapi secara hukum Hana itu anak kandung aku, akta kelahirannya pun atas nama aku, mau kamu bawa bukti DNA pun aku sudah punya bukti kamu melakukan tindak kekerasan sama Hana...teruslah mencoba Syakila, tapi kamu harus tau aku ga akan jatuh untuk kedua kalinya ke perangkap kamu !!”
Mata Syakila terbelalak, mendengar semua penjelasan Aksa. Namun, itu hanya sesaat saja.
Dalam sekejap Syakila yang tadinya histeris dan menangis, kini tertawa sekencang-kencangnya.
“HA...HAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHA...”
Syakila memang sudah gila, kalau begini terus nampaknya Aksa tidak bisa memenuhi janjinya kepada kedua mertuanya.
Ya, Aksa berjanji tidak akan menjebloskan istrinya itu kedalam penjara, namun sekarang ketimbang penjara, rasa-rasanya Aksa lebih ingin memasukan Syakila ke dalam rumah sakit jiwa.
“Bawa perempuan ini, kalau dia berulah panggil aja polisi...”
“....Ki.....”
“Apa kamu tau Reiki akan pulang kesini?!” Ucap Syakila sembari tersenyum lebar.
Kali ini mata Aksa yang terbelalak ketika mendengar perkataan Syakila.
Begitu mendengar nama Reiki disebut oleh perempuan yang telah di talaknya itu, Aksa semakin emosi.
Ia tahu benar hidupnya kacau karena perbuatan pria itu, pernikahannya dengan Syakila juga ada campur tangan dari Reiki.
Mudahnya Aksa benci Reiki sampai keubun-ubun. Kalau bukan karena Silvana dan Zen, lelaki ini pasti sudah pergi mencari dimana keberadaan pria yang sudah menghancurkan hidupnya.
__ADS_1
“Apa...apa...kamu bilang tadi?!”