ME VS MY BROTHER

ME VS MY BROTHER
Episode 90


__ADS_3

Hola amigos...


 


 


 


 


Author mau promosi nih, selain me vs my brother, author juga punya novel lain lho judulnya Tsundere boy and Otaku girl, ceritanya di jamin menghibur !!! terus juga ada LOVE FROM STALKER, semuanya author sajikan cuma untuk pembaca setia dari MOXYAAL.


 


 


 


 


jadi jangan lupa mampir dan vote novel author yang masih satu universe dengan ME VS MY BROTHER YAAAA....


 


 


 


terus author mau minta pendapat kalian nih, ME VS MY BROTHER  draftnya sudah sampai di ujung cerita tapi, kami masih bingung nih enaknya karakter Syakila di apain ya? yuk ikut komentar, kalian maunya karakter antagonis yang paling kalian benci itu enaknya di gimanain ?? hahahaha


 


jangan lupa sekali lagi baca dan vote novel author Tsundere boy and Otaku girl dan LOVE FROM STALKER ya...


 


SELAMAT MEMBACA...


 


 


 


 


 


 


**********


 


 


 


 


 


Kondisi bandara saat ini sangat ramai walaupun sekarang masih pukul 5 pagi, ya ini memang musim liburan jadi tak heran. Untungnya Kakak Sultan a.ka Nico memilih penerbangan kelas bisnis jadilah mereka tidak perlu repot-repot mengantri untuk mengambil bagasi, semuanya sudah di handle oleh pihak maskapai. Mereka tinggal ongkang-ongkang kaki, menunggu sambil minum-minum cantik di dalam lounge.


 


 


Sesuatu yang sangat di syukuri oleh ketiga orang yang kini tengah membesarkan hati Eros. Baik Claudia, Nico dan Hanif sungguh mengkhawtirkan kondisi temannya itu. Eros tiba-tiba menangis, lalu termenung begitu terus hingga sampai bandara.


 


 


Semuanya karena satu pesan dari Icha lewat whatsapp.


 


 


‘Kak maaf apa bisa kita pending dulu pertemuan keluarga? Icha belum bisa memilih dan mengiyakan, Icha butuh waktu’ 


 


 


“Eros semangat dikit kenapa sih..” Hanif menepuk Pundak Eros yang terlihat linglung selama perjalanan.


 


 


“Ka Eros, percaya deh, kekuatan doa itu melebihi apapun…” Claudia meyakinkan Eros, kalau semuanya akan baik-baik saja.


 


 


Rasanya tak tega juga melihat mantan musuh bebuyutannya itu terkulai lemas, ia memang menunjukan bahwa dirinya pantas bersanding dengan Icha, bahkan dalam keadaan terpuruk sekalipun Eros masih sempat untuk beribadah.


 


 


Kalau itu terjadi beberapa tahun yang lalu, Claudia pasti akan mencemoohnya. Ya intinya Eros berubah, menjadi lebih baik.


 


 


Eros mengangguk, ia sudah punya firasat kalau Icha pasti bertemu Reiki. Ketakutan itulah yang membuatnya buru-buru menghubungi seluruh keluarga Icha dan menyampaikan niatnya untuk mempersunting gadis itu.


 


 


Namun sekarang apa? Icha ingin menunda semuanya. Apa ini waktunya untuk mengikhlaskan gadis itu? Toh dari awal Eros juga tau bahwa Icha hanya menganggapnya sebagai sahabat dan saudara, tidak lebih.


 


 


“Jangan mundur sebelum berperang, cemen banget” ucap Nico datar.


 


 


“Tapi ka, lu kan tau Icha gimana…”


 


 


“Terus kenapa? Masalahnya dimana?”


 


 


Sekali lagi Eros terdiam, dia juga tidak tau harus apa.


 


 


“Dengerin gw Ros, kan lo sendiri yang ngasih tau gw, jodoh kita sejak lahir sudah ditentukan oleh Tuhan..kalau emang lo yakin Icha itu adalah jodoh lo yang perjuanginlah..walaupun udah di tentukan oleh Tuhan bukan berarti lo bisa berleha-leha tanpa berjuang…jangan bikin Tuhan kita malu punya hamba kaya lo yang gak mau berusaha untuk mendapatkan ridho-Nya” jelas Nico.


 


 


Tentu mendengar Nico berbicara seperti itu membuat Hanif dan Claudia menganga.


 


 


“Subhanallah ok deh kalau begitu kamu lulus jadi calon adik ipar akoh…kerja yang bagus dek Nico!” Hanif mengacungkan jempolnya sambil pura-pura terharu.


 


 


“Apaan sih lo Nif, siapa juga mau jadi adek ipar lu, kampret lu !!!”


 


 


“Unch, unch malu ya kakak Nico, imoet dech..” seru Hanif sambil menggeliat bagai ulat bulu.


 


 


“Najis lu Nif !!!”


 


 


“Eittttzzzzz tunggu akoooh dong qaqaq…”


 


 


Sadar di goda Hanif, wajah Nico memerah ia memilih keluar dari lounge, begitu pula dengan Hanif yang masih mengikutinya.


 


 


“Apa yang di bilang ka Nico itu bener kak, gw rasa lo ga bisa kalah sebelum berperang”


 


 


Claudia menatap Eros, ia tak ingin Icha merasakan apa yang pernah ia rasakan.


 


 


“Setidaknya cobalah, tapi gw cuma minta satu hal dari lo, tolong tau kapan saatnya harus berhenti. Karena banyak hal-hal yang sekeras apapun diusahakan hasilnya tetap sia-sia” ujar Claudia.


 


 


Eros mengangguk, ia paham benar apa yang diucapkan Claudia. Kalau bukan jodohnya, bukan haknya, bukan takdirnya ya tak mungkin dipaksakan, yang ada nanti ia hanya akan menyakiti hati Icha, juga dirinya sendiri.


 


 


“Gw paham kok Di, paham banget” ucap Eros lirih.


 


 


Claudia pun mengangguk, cukup dirinya saja yang punya kisah membingungkan dan menguras emosi, sahabat tersayangnya Icha tak boleh merasakan hal yang sama.


 


 


“Eh guys, kuy koper kita udah pada dateng tuh semuanya…”


 


 


Hanif pun buru-buru meminum tehnya yang masih tersisa di meja, sayang pikirnya.


 


 


Mereka pun bergegas keluar sambil di temani 4 proter yang membawa barang.


 


 


“Gila Nico gw baru sadar belanjaan lo sebanyak itu, apa gak salah?” ucap Hanif.


 


 


“Jangan banyak komen, mingkem bisa? Disitu kan ada barang titipan nyokap, terus belum lagi titipan eyang Nesya” seru Nico sinis.


 


 


“Eleeeh titipan tante Linda kan cuma skin care doang, itu juga aku yang tenteng nih !!” ucap Claudia sambil mengernyitkan dahinya.


 


 


Nico memilih tak bicara, ia tahu pasti akan kalah debat, wong memang kenyataannya ia belanja sampai kena denda cuma untuk Nura.


 


 


“Gak ada tobatnya juga sih kak, susah amat buat ngomong jujur” sindir Claudia.


 


 


Dasar tsundere bangkotan, padahal dia belanja segitu banyak cuma buat Nura, tapi kenapa sih susah banget buat jujur, pikir Claudia.


 


 


“Oh shit…” ucap Hanif tiba-tiba.


 


 


Hanif memang berhenti jalan hingga Claudia menabrak punggung Hanif, gadis ini kebingungan kenapa Hanif mendadak begitu.


 

__ADS_1


 


“Di, kamu siap-siap…” ujar Hanif.


 


 


“Siap-siap apa?” tanya Claudia bingung, dia pun mengintip dari balik punggung Hanif.


 


 


Betapa terkejutnya Claudia begitu melihat siapa yang tengah berdiri sambil tersenyum lebar, dengan sebouqet bunga di tangan.


 


 


Apa Claudia senang tentu tidak, gadis ini langsung melotot, membentak Nico dengan Emosi.


 


 


“KAK NICO !!!” ujar Claudia marah.


 


 


Tapi bukan hanya Claudia saja yang kesal, Hanif juga sama kesalnya. Walaupun ini bukanlah masalahnya, akan tetapi sebagai orang yang kurang lebih terlibat dalam masalah Claudia, Hanif merasa tindakan sahabatnya itu tidak tepat.


 


 


Masalahnya Nico sendiri yang bilang kalau eyangnya seminggu lalu baru saja mendapatkan serangan jantung, dan sekarang Nesya berdiri sambil menangis persis di depan Aksa yang tersenyum lebar.


 


 


“Co, lu bener-bener ya!!” hardik Hanif.


 


 


“Gw gak suka kalau adik gw terus-terus lari dari masalahnya”


 


 


Nico menjawab datar sembari menatap Claudia, ia ingin hari ini tugasnya tuntas.


 


 


“Ya tapi gak berarti lo sajiin di depan dia juga…”


 


 


Hanif tau mungkin dipikir Nico, kalau bertemu sekarang semuanya akan selesai, tapi permasalahannya tidak semudah itu, terlebih Claudia sejak awal juga sudah ogah-ogahan untuk pulang. Yang sangat ditakutkan oleh Hanif adalah, Claudia yang tengah kecapean juga moodnya jelek bisa saja meledak.


 


 


Kalau sudah begitu bisa saja Nesya kena serangan Kembali, orang yang punya Riwayat stroke dan jantung memang tidak boleh banyak pikiran, itu tidak baik bagi mereka, karena itulah tindakan Nico dianggap Hanif begitu beresiko bagi Nesya.


 


 


“Claudia, kamu kalo mau mukulin kakak silahkan, tapi jaga sikap kamu Eyang baru aja kena serangan..kalau sampai kena lagi kamu tau endingnya kaya gimana buat Eyang..” Nico serius, ia memang menyayangi Claudia seperti adik kandungnya seperti, tapi ia juga sangat peduli dengan Nesya, ia tak mungkin bisa memaafkan Claudia kalau terjadi apa-apa pada eyangnya.


 


 


 


 


“Eyang” ucap Nico sambil tersenyum lebar, ia pun memeluk tubuh Nesya yang kini tengah menangis.


 


 


“Nico, cucu ku, makasih kamu udah bawa Claudia balik lagi nak…eyang gak tau gimana caranya untuk berterima kasih ke kamu”


 


 


Aksa terdiam walaupun sorot kebahagiaan tak bisa di hilangkan dari wajahnya. Ia begitu terpesona melihat betapa Claudianya itu tak terlalu banyak berubah, hanya dengan polesan make up tipis dan warna rambutnya yang tak lagi berwarna coklat tua, sudah cukup membuat Aksa merasakan jatuh cinta lagi dan lagi.


 


 


Claudia sadar jika Aksa memperhatikannya, ia bahagia bisa bertemu Aksa, namun tak berniat menunjukkannya. Ia sudah bertekad untuk tak Kembali ke masa lalu, itu juga berarti tak menyertakan Aksa didalamnya.


 


 


“Claudia…” ucap Aksa.


 


 


Panggilan itu ditanggapi dengan dingin oleh Claudia, ia hanya merespon dengan mengangguk saja.


 


 


Dengan sikap dinginnya itu, Aksa merasa sedih tapi ini bukan apa-apa penantiannya terbalas, ia harus sekuat tenaga mendekati Claudia lagi. Sebagai lelaki ia akan berjuang mendapatkan cintanya Kembali.


 


 


“Eyang...” Claudia mendekati Nesya, lalu memeluk neneknya itu dengan sangat erat. Air matanya tumpah melihat betapa kurusnya Nesya sekarang, tak sesehat waktu ia pergi meninggalkan keluarganya.


 


 


“De…kamu bener-bener bikin Eyang mau mati aja..kenapa sih kamu susah banget eyang suruh pulang?” Nesya mencubiti pipi Claudia.


 


 


“Eyang kan aku udah disini, eyang jangan nangis lagi ya..” seru Claudia sambil menciumi pipi Nesya.


 


 


 


 


“Uhm, barangnya biar aku bantu bawa De..” seru Aksa sambil tersenyum.


 


 


Sekali lagi ia mencoba untuk berbincang dengan Claudia, tapi responnya masih sama nihil.


 


 


“Makasih kak…” ucap Claudia datar, lalu berjalan mendahului Aksa.


 


 


Hanif yang sadar kalau Claudia begitu dingin pada kakaknya itu, memberi semangat pada Aksa.


 


 


“Berat kak, tapi jangan menyerah…semangat terus” ujar Hanif singkat.


 


 


“Ya terima kasih Hanif” balas Aksa.


 


 


Hanif pun menepuk Pundak Aksa, lalu berjalan mendahului kakak dari Claudia itu, karena Eros sepertinya masih sangat linglung.


 


 


 


 


Sesampainya di dekat parkiran, Nico langsung angkat bicara, memecah suasana yang kurang nyaman itu.


 


 


“Kita langsung pulang kerumah kamu aja…”


 


 


“Kak Nico?! Aku kan udah…”


 


 


“Eyang, tante Ana sama om Bram udah kangen sama kamu…lagipula pesen om Zen juga gitu kok…”


 


 


Kesal setengah mati Claudia sangat ingin merutuki kakak sepupunya itu, padahal dia sudah mati-matian meminta Nico berjanji untuk tidak membawanya kerumah. Tapi Nico tidak pernah menjawab dan selalu mengelak.


 


 


“Maaf ganggu reuni keluarganya, mobil gw udah dateng nih…” sela Eros dengan suara lirih.


 


 


“Gw nebeng lo ya Ros..”


 


 


Eros mengangguk, ia memang tidak ingin pulang berdua saja dengan supir, untung Hanif mau ikut dengannya.


 


 


“Sorry ya Nif” ujar Nico menyesal, padahal ia ingin melihat wajah bahagia Nura saat tau dia bawa oleh-oleh banyak tapi ia harus memprioritaskan keluarganya dulu, masalah Claudia harus selesai secepatnya, tidak bisa di tunda-tunda lagi.


 


 


“Santai, besok gw tunggu di rumah ya…lo damping aja dulu Claudia”


 


 


Nico mengangguk.


 


 


Hanif dan Eros pun pamit, sembari memasukan tas dan bawaan mereka kedalam mobil.


 


 


 


 


*








 


 

__ADS_1


Selama perjalanan Nico dan Nesya asyik sendiri, mereka berbincang banyak hal, namun tidak dengan Claudia dan Aksa yang sangat canggung satu sama lain.


 


 


Memang Nesya dan Nico sengaja meminta Claudia duduk didepan, ia tau apa yang diinginkan eyangnya itu, jelas sedari tadi Nesya sibuk membanggakan seberapa besar pencapaian Aksa selama beberapa tahun terakhir. Claudia tidak merespon, dia sudah lelah untuk mendebat eyangnya.


 


 


Di sisi lain ia sadar bahwa beberapa kali Aksa mencuri pandang, berniat mengajaknya mengobrol tapi berkali-kali juga diurungkan. Suasana begitu tak nyaman, mungkin benar keputusan untuk pulang ke rumah adalah kesalahan besar.


 


 


“Uhm, kita mau mampir dulu gak ? kamu laper gak de?” ucap Aksa tiba-tiba, berusaha senormal mungkin.


 


 


“Gak kak, makasih…aku mau langsung pulang aja…” ucap Claudia datar.


 


 


Aksa menghela nafas pelan, ia begitu mengharapkan ada sesi kangen antara keduanya, entah Claudia yang membiarkannya menangis lalu memeluknya, dan begitu pula sebaliknya.


 


 


Namun sangat disayangkan, Claudia bahkan tak ingin menatap wajahnya. Hati pria ini begitu sakit mendapatkan perlakuan dingin dari gadis yang paling dicintainya, selayaknya orang asing gadis itu bahkan tak ingin melanjutkan perbincangannya dengan Aksa.


 


 


“De, kamu sejak kapan ngewarnain rambut?” ucap Nesya meraih rambut panjang sepinggang milik Claudia yang ia ikat dengan rapih.


 


 


“Temennya Claudia ada yang buka salon di daerah omotesando, liat nih eyang Nico juga warnain rambut disana, bagus gak?” seru Nico, sambil tersenyum.


 


 


“Eh kalau cucu eyang yang satu ini sih selalu tampan, hahaha…tapi beneran eyang gak sangka kamu mau de di warnain gini, mana dalemnya warna-warni terang gitu lagi…” ucap Nesya.


 


 


Jujur saja sebagai eyang yang merawat Claudia sejak kecil ada rasa terkejut dengan perubahan cucunya itu, ia tidak menyangka kalau Claudia akan merubah penampilan dan juga cara berpakaiannya.


 


 


Kalau dulu Claudia yang dikenalnya akan sembarang memakai baju, gadis itu juga sangat anti memakai rok. Tapi sekarang gadis yang ada didepannya itu berbeda, Claudia memakai dress tanpa lengan berwarna biru muda dan panjang selutut, cardigan tipis berwarna putih yang tak lupa menutupi lengannya, belum lagi sepatu dengan heels, jelas gadis kesayangannya itu kini tampak lebih feminim.


 


 


“Eyang suka?” tanya Claudia sambil memutar badannya, melihat kearah Nesya.


 


 


“Suka, bagus kok, atasnya warna apa ini?” Nesya tersenyum, ia memegangi terus rambut Claudia.


 


 


“Platinum blonde eyang, kata orang salonnya ini dibilang mermaid hair…”Claudia tersenyum, untung eyangnya suka, kalau tidak terpaksa besok dia harus kesalon untuk mewarnai ulang rambutnya.


 


 


“Oh iya, pinter kamu milih warnanya de…”


 


 


“Bukan aku yang milih, tapi ka Reiki…”


 


 


Mobil yang di kendarai Aksa tiba-tiba ngerem mendadak, untungnya jalanan masih sangat sepi, dengan cepat Aksa pun mengarahkan mobilnya ke pinggir jalan tol. Ia begitu terkejut mendengar nama Reiki disebut, apa-apaan ini sepengetahuannya Reiki kuliah S3 di Jerman bukan di Jepang, apa dia salah dengar? Tapi tidak mungkin.


 


 


“Kamu bilang apa tadi Di? Reiki yang pilih?” seru Aksa sambil melotot, ia benar-benar terkejut.


 


 


Claudia menghela nafasnya kasar, ia tidak ingin berdebat dengan kakaknya, sungguh dirinya tak punya lagi tenaga untuk itu.


 


 


“Aku bilang, yang pilihin warna rambut aku itu ka Reiki, yang anterin aku kesana juga ka Reiki dan yang bayarin juga ka Reiki…” Claudia menatap Aksa dengan tatapan dingin.


 


 


“Maksud kamu apa?!” Aksa meninggikan suaranya, ia merasa seperti orang bodoh. Apa gunanya selama ini ia membayar orang untuk mencari tahu informasi soal Claudia, ujung-ujungnya ia tetap kedahuluan Reiki.


 


 


Claudai terkekeh seperti mengejek Aksa, ia merasa sangat terluka saat tahu kalau Aksa memata-matainya.


 


 


“Emangnya kakak gak tau? Selama ini bukannya kakak kirim orang buat mata-matain aku hah?”


 


 


Gadis ini merasa Aksa sama sekali tidak mempercayainya, ketimbang mengirim mata-mata kenapa dia tidak pergi saja sendiri kalau sebegitu ingin tahunya soal Claudia.


 


 


Tapi sudahlah itu pikiran bodoh juga, Claudia tak berharap didatangi oleh Aksa, namun mengirim mata-mata? Memangnya Claudia ini apa? Penjahat?. Tentu gadis ini tersinggung.


 


 


Wajah Aksa memucat, ia tidak menyangka sama sekali kalau pujaan hatinya itu mengetahui perihal ia mencari informasi soal Claudia.


 


 


“Sekarang aku jelasin sama kakak, mumpung ada eyang sama ka Nico juga disini..”


 


 


“Claudia kita tunggu sampe rumah dulu baru kita bicarakan…” ujar Nesya, ia tidak ingin ada perkelahian sama sekali. Ini masih pagi dan tak bisa bertengkar.


 


 


“De bisa ga ngomongnya ditunda dulu? kamu itu…”


 


 


Nico marah pada Claudia ia tidak ingin masalah ini dibahas di jalan, namun belum selesai Nico bicara Claudia sudah memotong omongannya duluan.


 


 


“Supaya kalian semua bisa bersama-sama untuk  menekan aku?”


 


 


Claudia dengan emosi melepas seat beltnya. Ia sudah sangat sangat muak, semua emosi yang ditumpuknya saat ini sudah memuncak, ia tidak tahu lagi harus berbuat apa, bingung dan capek. Saat ini ia cuma ingin mengeluarkan uneg-unegnya, bukankah itu yang diinginkan oleh Nico.


 


 


“Udah cukup aku ikutin semua permainan kalian, aku capek…kenapa sih kalian ga bisa membiarkan aku buat milih kehidupan aku sendiri?…”


 


 


Claudia, mulai menangis. Ia tahu bahwa salah mengutarakan perasaannya, apalagi di depan eyangnya. Namun, Claudia sadar benar jika eyangnya berusaha mendekatkan lagi Aksa dengannya.


 


 


Kalau posisinya Claudia tidak tahu bahwa Aksa sudah menggugat cerai Syakila, ia bisa saja mengimplementasikan usaha eyangnya itu sebagai cara untuk mendekatkan dirinya dalam ikatan persaudaraan dengan Aksa, namun jelas bukan itu tujuan Nesya.


 


 


Selama perjalanan berkali-kali Nesya menyebutkan, soal jodoh orang tidak ada yang tahu dan juga kalau menunggu seseorang yang dicintai itu adalah pengorbanan yang besar.


 


 


Tapi tidak, walaupun sampai detik ini Claudia masih sangat mencintai Aksa, dirinya tidak pernah menginginkan kakaknya itu terus menunggunya.


 


 


“De, maksud eyang gak gitu nak…”


 


 


“Ade tau eyang, tapi mau gimana pun posisinya yang eyang usahakan ini salah…ka Aksa itu statusnya masih suami orang, secinta apapun Claudia sama ka Aksa, atau sebesar apapun kasih sayang ka Aksa kepada ade itu tetep gak bener eyang…ade sama sekali tidak mau dan tidak sudi berdiri di tengah pernikahan orang lain yang sudah sah di mata agama…”


 


 


Nesya terdiam, cucunya itu sudah dewasa sekarang, Claudia tidak hanya menyuarakan perasaannya, tapi menegaskan martabatnya sebagai seorang wanita, ia tidak ingin jadi duri dalam daging bagi pernikahan kakaknya. Setidaknya walaupun sudah tau kemana hati Aksa berlabuh, Claudia tidak ingin menjadi orang yang menenggelamkan bahtera rumah tangga kakaknya.


 


 


“Dan kamu kak, kenapa gak kakak tanya aja sama orang yang kakak sewa..dia kasih kakak info yang salah kan? Mau tau kenapa? Karena aku yang sewa orang lain buat jadi sumber informasi informan kakak? Kamu mau tahu alasannya? Itu semua karena aku mau hidup tenang…”


 


 


“Claudia, kamu salah paham kakak cuma mau tau kondisi kamu gak lebih..”


 


 


“Dan mengamuk setelah kakak tau selama 5 tahun terakhir ini aku satu atap sama ka Reiki?”


 


 


DEG, Aksa terdiam. Apa yang dikatakan Claudia ada benarnya, hanya dengan mendengar nama Reiki saja tadi kecemburuannya sudah membabi buta, bagaimana kalau sampai ia tahu bahwasannya Claudia tiggal satu rumah dengan orang yang sangat dibencinya itu.


 


 


“Aku tau kakak pasti akan langsung samperin aku terus ribut begitu, aku udah muak sama semua ini, apa gak bisa kalian ikhlasin aku untuk punya kehidupan lain yang ga berpusat sama kalian semua?”


 


 


Baik Aksa, Nesya bahkan Nico kini terdiam, mereka seperti tertampar. Claudia selama ini selalu diam, tapi bukan berarti ia tidak memikirkan masalahnya.


 


 


Aksa pun menghidupkan kembali mesin mobilnya, melaju di jalan tol yang masih belum terlalu ramai, kali ini tanpa usaha untuk mengajak adiknya itu berbincang, begitu pula dengan Nesya dan Nico, keduanya terdiam merasa bersalah.


 


 


Lalu bagaimana dengan Claudia? Gadis ini berkali-kali menghapus air matanya, ia menangis tanpa suara.


 


 

__ADS_1


__ADS_2