ME VS MY BROTHER

ME VS MY BROTHER
Episode 20


__ADS_3

"Di chan, boleh kita ngobrol berdua?" Reiki mendekati Claudia yang tengah duduk di sendirian, sedangkan anggota keluarga yang lain sedang sibuk mengobrol di meja makan.


Claudia mengangguk, diapun mengikuti Reiki. Pemuda itu dengan mantap menarik tangan Claudia dengan lembut tentunya. Aksa hanya bisa menatap pasrah saja disitu.


Kini mereka berdua sudah berada di taman, suara gemericik air jadi satu-satunya pemecah keheningan saat. Mereka kini duduk di pelataran kolam renang, dari kejauhan Reiki menyadari bahwa Aksa mencoba menguping pembicaraannya dengan Claudia, pria itu menyunggingkan senyumnya.


"Di chan.." seru Reiki


"Hmmm?"


Reiki lalu merapikan rambut Claudia kesamping kupingnya, selanjutnya ia menggenggam tangan Claudia. Ia menatap lekat gadis di depannya itu, dengan sangat sadar Reiki melakukannya agar bisa dilihat oleh Aksa.


Disisi lain Aksa kini semakin mendekat, hingga ia dengan pasti bisa mendengarkan apa yang akan dikatakan oleh Reiki kepada Claudia.


Reiki tidak perduli, toh apa yang akan dikatakannya saat ini pada tunangannya itu, tidak mungkin Aksa mengerti.


"Gomen nasai (Maafkan aku)" Reiki kini menunduk dalam-dalam, ia sungguh meminta maaf dengan tulus.


"Ka Iki..." Claudia meminta Reiki untuk berhenti menunduk. Pria itu pun mengikuti mau Claudia, dan kini mereka berdua terdiam. Reiki pun melirik kembali kearah gadis mungil itu, ia tidak peduli Aksa dengar atau tidak, pada akhirnya ia memang merasa harus menjelaskan pada Claudia.

__ADS_1


"Shōjiki anata ga oniisan ni kisu wo shitano wo mite shitsubou shita ( sejujurnya aku bener-bener kecewa, saat aku bilang aku lihat semuanya, maksud aku adalah aku lihat kamu mencium kakakmu)"


Ding Dong, tebakan Claudia benar. Tapi kapan Reiki melihatnya?, ingatannya buram, apa saat Aksa menyuapinya?, namun saat itu dengan jelas Reiki turun menemui Silvana.


Disisi lain Aksa yang menguping geram, ia sama sekali tidak mengerti dengan semua ucapan Reiki.


'Anjiiir, kenapa tuh manusia ngomongnya mesti pake bahasa Jepang sih, kesel banget gw, jangan-jangan dia lagi jelek-jelekin gw lagi depan Claudia' umpat Aksa dalam hati.


Lalu bagaimana dengan Claudia, yang jelas saat ini gadis itu ketakutan. Dia sangat takut Reiki akan memberitahu bundanya, apa yang akan dipikirkan orang nanti, apalagi Aksa sudah punya calon istri.


"Na...nande sore wo shiteru no? (gimana kakak bisa tau, aku)..." seru Claudia lirih, dia bingung harus bilang apa.


Sejak kecil ia memang menyayangi Claudia, tanpa disadari perasaannya itu pun berkembang menjadi perasaan cinta, mereka pernah jadi jauh saat Reiki fokus untuk ikut beberapa kejuaraan Judo dan olimpiade fisika. Ia terlalu sibuk untuk membagi fokusnya dengan Claudia, walaupun saat itu ia merasa sangat kesal, dia tidak bisa berbuat apa-apa. Semua itu ia persiapkan demi gadis kecilnya itu, ia ingin membuat Claudia hidup dengan makmur di kemudian hari, tentu saja saat bersama dengan dirinya nanti, sebagai istri tentunya.


Reiki kini melihat lembut gadisnya itu, dengan perlahan ia menyentuh pipi milik Claudia, sedangkan tangannya yang lain setia menggenggam tangan sang gadis. Tatapan Reiki perlahan berubah, tak ada senyum yang tersungging di bibirnya, ia mulai melihat Claudia dengan tatapan serius.


"Sore wa juuyouja nai, taisetsuna koto wa kekkon wo suru yakusoku wo mamoru koto. Ato Oniisan to te wo tsunaidari dakishimetari suru no wo mitakunai. Wakarimasuka? (itu ga penting, yang penting aku harap kamu bisa pegang omongan kamu untuk menikah dengan aku secepatnya. Aku gak mau lihat kamu melakukan hubungan seksual sama dia. Termasuk pelukan dan pegangan tangan, ngertikan?)" Reiki sangat serius saat ini, dia jelas tidak ingin dibantah oleh calon istrinya itu.


"Un...wakatta (iya ngerti)" Claudia hanya menunduk, jelas Claudia takut pada pria di depannya itu.

__ADS_1


Senyum Reiki akhirnya lepas juga, dia memang tidak pernah bisa marah pada gadis mungilnya itu. Reiki pun mendekatkan dirinya dengan Claudia, ia merengkuh tubuh gadis itu dengan erat, sembari beberapa kali menciumi pucuk kepala Claudia.


"Ore wa anata wo hontou ni aishiteru (aku sangat sangat mencintai kamu)..." seru Reiki, dan pernyataannya itu membuat Claudia sedih, entah kenapa hatinya seperti tertusuk saat Reiki menyatakan bahwa betapa dia mencintai Claudia. Tangisan Claudia akhirnya pecah juga, dia menangis sambil memeluk balik Reiki.


"Anata ni ore wo mamotte hoshii, soshite ore mo ii otto ni nareru youni ganbaru yo. (Aku ingin ngelindungin kamu, dan aku bakalan berusaha kerasa untuk jadi suami yang baik buat kamu)" Reiki mengelus pelan punggung Claudia.


Aksa yang jadi saksi mata disitu hanya bisa memberikan tatapan membunuh kepada Reiki.


'Kenapa Claudia nangis, shit, apa yang dilakuin sama lelaki kardus itu...Claudia jangan mau dipeluk sama manusia kaya dia...' gumam Aksa kesal, kenapa Claudia mau aja dipeluk oleh Reiki.


Apes, tanpa sengaja kedua pria itu bertatapan, Reiki menyunggingkan senyum sinisnya.


Aksa benar-benar emosi, siapa yang tidak akan kesal di kondisi seperti ini. Aksa jelas membaca bibir Reiki, ya dan ucapan yang terlontar dari bibir pria yang kini sedang memeluk Claudia itu adalah, "L-O-S-E-R".


'Reiki, lo liat aja apa yang bakalan gw perbuat, lo bakal nyesel udah berusaha ngambil Claudia dari gw' Aksa berusaha tenang, karena ia teringat apa yang di bilang oleh bundanya tentang Reiki, ia tahu saat ini pria itu pasti sedang merencanakan siasat baru untuk membuat dirinya terlihat buruk di depan Claudia dan seluruh anggota keluarga yang lain.


'Lo salah pilih lawan Reiki Delana Alvaro, gw pastikan Claudia ga akan pernah menjadi milik lo. Pikiran, perasaan bahkan tubuhnya cuma gw yang berhak untuk memiliki semua itu' Aksa mengepalkan tangannya kuat-kuat, ia dengan jelas ingin memukul wajah Reiki, tapi saat ini tidak tepat.


Sedangkan Reiki, ya memang benar dia sudah memikirkan apa yang harus dia lakukan kedepannya, saat ini pemuda itu harus mencari tahu tentang gadis yang menjadi tunangan Aksa. Situasi dan keberuntungan nampaknya berada dipihak Reiki saat ini, jika semua hal yang dilakukan olehnya ada kecurangan, maka biarlah, dia meluluskan semuanya demi gadis yang sangat ia cintai. Demi Claudia ia akan melakukan rencana jahat sekalipun, ia hanya ingin gadisnya itu berbahagia dengan dirinya kelak, menjadi ibu dari anak-anaknya dan bersama hingga ajal menjemput. Agar rencana berjalan mulus, berarti tidak boleh adalah rintangan, dan sayangnya Aksa adalah penghalang utama yang harus ia singkirkan segera.

__ADS_1


__ADS_2