
“Bunda, biar ade bareng Aksa, bunda sama eyang bareng pak Asep aja ya?” seru Aksa berlari kearah garasi mobil.
Silvana kini meminta bi Sumi untuk memanggil pak Asep, mereka memutuskan untuk pergi setelah Aksa.
“Iya udah cepet kamu pergi sekarang, bunda nyusul”
“Ok, ayo de cepet” seru Aksa sambil masuk ke dalam mobil.
Claudia berlari dan salim kepada bunda dan eyangnya. Sedikit yang diketahui oleh Claudia, sebenarnya Silvana tidak tenang karena Claudia akan bertemu ayahnya itu, tapi saat ini yang terpenting adalah Icha.
“Bunda, Eyang ade duluan ya”
Silvana dan Nesya pun mengangguk, lalu menyuruh Claudia untuk bergegas. Akhirnya gadis itu pun pergi juga bersama Aksa.
“Tadi apa kata si Alif?” tanya Aksa sambil menyetir mobilnya.
“Icha ga bisa di hubungin dari jam 1, ini udah jam 5 harusnya kalo gak ada apa-apa gak kaya gini” Claudia ketakutan, ia terus mengecek handphonenya. Beberapa kali dia mengecek grup whatsappnya, yang kini sudah ramai karena semuanya panik.
“Tapi bisa aja kan Icha lagi mau sendirian?, apa ga sebaiknya kita tunggu kabar dari dia?” Aksa sepertinya merasa bahwa semua orang berlebihan, mungkin saja Icha memang ingin menenangkan diri, gadis itu bisa saja sedang berusaha mengatur pikirannya.
Beda dengan Aksa, Claudia dan yang lain panik karena sekesal apapun, atau saat ingin sendirian, Icha pasti mengabari ibunya, atau paling tidak Alif, jika tidak pada keluarganya, dia akan menghubungi Claudia. Tapi saat ini tidak ada satupun yang mengetahui keberadaan gadis itu, tentu saja mereka semua panik.
“Icha sama sekali gak pernah gak ngabarin orang lain kalo dia mau pergi, dia selalu berusaha buat bikin orang lain gak khawatir, ini diluar kebiasaan dia, wajar kalo kita semua panik, apalagi Icha kelewat lempeng, takutnya dia di hipnotis atau diapa-apain orang lain…ARGGGGH AKU GAK MAU PIKIRIN YANG ANEH-ANEH!!!”
Claudia menggelengkan kepalanya, sambil menjambak rambutnya. Rasanya ia ingin membenturkan kepalanya, dia pusing dengan keadaan seperti ini, apalagi di grup Rima bilang dia sudah pergi ke masjid tempat biasa Icha menenangkan diri, tapi sekali lagi hasilnya nihil, Icha tidak ada disana. Sedangkan Yudha dan Shiva sudah pergi ke perpustakaan tempat Icha biasa menghabiskan waktu, lagi-lagi gadis itu juga tak ada disana, mereka sudah menanyakan semua orang, tapi tidak ada yang lihat dan tau Icha ada dimana.
Melihat Claudia yang frustasi seperti itu, Aksa menarik Icha kedekatnya, ia mencium pucuk kepala Claudia berkali-kali.
“Tenang sayang, coba kamu tetep hubungin Icha”
“Iya….”
Aksa tersenyum, ia pun menciumi punggung tangan Claudia, hingga gadis yang sedari tadi itu tidak fokus sadar dengan apa yang sedang dilakukan oleh kakaknya itu.
“KAK!!! KESEMPETAN YA, DASAR LELAKI KARDUS…”
Claudia menarik tangannya, lalu mencubit perut Aksa. Gadis itu kesal dengan kelakuan Aksa, yang memanfaatkan kegalauannya untuk menyentuh Claudia.
“Awwww Di, ya ampun maaf khilaf” tukas Aksa sambil memiringkan tubuhnya karena kesakitan di cubit Claudia.
“Khilaf dari perut bumi ?! mana ada orang khilaf lanjut nyium begitu, itu namanya niat” Claudia melepas cubitannya, lalu memukul tangan Aksa.
“Hehehe…yaudah sih, kan akunya juga ga sengaja”
Claudia hanya bisa cemberut, dia kesal tapi sejujurnya juga senang, gadis itu sudah sadar betul bahwa dia menyukai Aksa, tapi tetap saja perasaannya tidak boleh terlalu menggebu-gebu.
Dengan wajah murung Claudia hanya bisa menatap keluar jendela, dia berusaha menyibukan diri sendiri dengan menghitung semua mobil yang berwarna biru. Selain masalah Icha, Claudia murung karena Aksa. Umurnya tahun ini baru saja 17 tahun ini, tapi kenapa hidupnya sudah semerawut begini. Claudia bahkan tidak mengira, kalau akan banyak drama yang hinggap di hidupnya.
Aksa memperhatikan Claudia sesekali, dia sepertinya tahu benar kalau adik tirinya ini sedang banyak pikiran, dan sebagian besar karena dirinya. Aksa sadar benar kalau dia membuat hidup Claudia sulit, tapi mau bagaimana lagi memang harus seperti ini prosesnya. Kesulitan ini diharapkan Aksa sebagai proses agar hubungan mereka berdua semakin kuat.
Sulit memang, karena Claudia tidak tertarik untuk mengikuti permainan Aksa, dia gadis yang memiliki pendirian, dan Aksa harus ekstra membujuk dan mematangkan rencananya kalau ingin Claudia jadi miliknya. Gadis itu harus tau seberapa besar rasa cintanya pada Claudia, tapi bagaimana caranya? Sedangkan bayang-bayang Reiki masih setia menyulitkan rencana Aksa, belum lagi masalah Syakilla. Bram tidak akan membiarkan semua keinginan Aksa berjalan mulus.
Hening, cuma itu yang bisa mereka rasakan sekarang, Claudia juga tidak mau melihat kearah Aksa, dia masih saja menatap keluar jendela mobil. Karena masih kesal dengan Aksa juga gadis itu tanpa sadar, menggelembungkan pipinya, suatu kebiasaan yang sudah dilakukan Claudia tanpa sadar sedari kecil, dan tentu saja pria itu mengetahuinya, dia memperhatikan Claudia, dengan wajah kesal saja gadis cantik itu masih tetap imut. Kelakuan Claudia yang agak aneh juga jadi daya tarik tersendiri bagi Aksa, ya Claudia memang masuk jajaran perempuan yang memang harus di perjuangkan.
__ADS_1
‘Claudia, kamu lagi ngambek aja tetep cantik…aku jadi inget waktu kamu ngambek karena Kumacha aku balikin ke kamu, walaupun udah lewat 10 tahun lebih, tapi kamu masih aja bisa membuat hati aku kalang kabut kaya gini’ gumam Aksa.
“Di…” Aksa berusaha membuat Claudia menatap dirinya.
“APA?!”
Claudia hanya menjawab saja, gadis itu malas menatap wajah Aksa. Ia masih setia melihat mobil dan motor yang berlalu lalang di jalanan.
“Claudia…”
“KA BISA DIEM GA, AKU TONJOK NIH”
“hahaha galak banget sih, dasar cewe gorilla”
Claudia akhirnya melihat kearah Aksa dengan tatapan membunuh, rasanya ia ingin memukul Aksa, tapi ia malas. Sungguh jelas, pria itu berusaha untuk menarik perhatian Claudia. Dengan cepat sekali lagi gadis manis itu membuang muka, ia kembali melihat kearah jalan.
“Claudiaaaaa…..Ariadnaaa……Mahendra….”
“APAAN SIH AKSA FARESTA PRIAMBUDI….!!TONJOK BENERAN NIH !!!”
Ok, kesabaran Claudia sudah diambang batas, dia kesal dengan kelakuan Aksa yang terus memanggilnya. Kenapa Aksa ga fokus aja menyetir, dan berhenti mengganggu gadis itu. Dengan marah Claudia kini menatap wajah Aksa, apesnya saat itu lampu merah, jadi Aksa bisa menatap wajah Claudia dengan puas walaupun cuma sebentar
“Aku cinta kamu…” seru Aksa dengan wajah serius, namun senyum tulus di wajahnya tetap ada disana.
Mata Claudia membelalak, kenapa Aksa harus terus memborbardirnya dengan ucapan cinta, kenapa harus sekarang, kenapa tidak disaat yang menurutnya sudah tepat.
“Apaan sih ka bercandanya bisa berenti dulu gak…” jawab Claudia pelan, sambil mengalihkan pandangannya dari Aksa.
“Aku serius Di…aku cinta, aku sayang sama kamu…” Aksa berusaha meraih tangan Claudia, tidak ada perlawanan dengan jelas perempuan itu benar-benar lemah jika berhadapan dengan Aksa versi serius.
“Kak, aku gak mau ngomongin ini semua sekarang…waktunya ga tepat…”
“KAK…” Claudia menarik tangannya yang sedari tadi di genggam oleh kakak tirinya itu.
“Dengerin aku Di, kamu belum jawab pertanyaan aku tadi …”
“Aku gak mau jawab…”
Aksa kesal, kenapa Claudia tetap tidak menjawab, padahal sudah jelas adik tirinya itu juga cinta, punya perasaan yang sama, kenapa gadis ini membuat semuanya jadi lebih sulit untuk Aksa.
“CLAUDIA!!!” seru Aksa dengan sedikit membentak.
Claudia tidak bergeming, dia berusaha untuk tetap tenang. Dia tahu kakaknya pasti kesal, tapi saat ini tidak ada jawaban yang bisa ia berikan.
“Kakak tau jawaban aku kaya gimana…” jawab gadis itu dengan dingin.
“Claudia, aku cuma cinta sama kamu, dan aku yakin kamu juga ngerasain hal yang sama kaya aku…”
“GAK KAK!!” bentak Claudia kesal. Kenapa Aksa tidak menyerah juga, sadarkah pria ini jika dia sedang mempertaruhkan hubungan banyak orang?.
Aksa tidak bisa melihat hal yang lain selain hubungannya dengan Claudia, jadi kenapa gadis ini harus berhubungan, dengan orang yang mau menang sendiri. Itulah yang menjadi pemberat dalam keputusan Claudia, untuk stay dengan hubungan adik kakak saja.
“CLAUDIA ! SAMPAI KAPAN KAMU MAU BOHONGIN PERASAAN KAMU SENDIRI?!”
Aksa yang membentak adiknya, memang tidak di perkirakan oleh Claudia. Jujur saja gadis itu terkejut, akan tetapi entah kenapa Claudia bisa mengerti, gadis itu hanya berusaha untuk tetap menahan rasa sedihnya, ia mengepalkan tangannya, tanpa tau harus apa kecuali mengontrol emosinya.
“Aku…aku bakal bohongin perasaan aku sendiri sampai semuanya lebih jelas…” seru Claudia sambil menutup matanya.
__ADS_1
Aksa terdiam, ia tau dengan benar gadis ini berusaha untuk tenang, tapi kenapa Aksa tidak bisa melakukan hal yang sama. Tiap kali dia melihat Claudia yang berusaha menolaknya, saat itu juga dia melihat Reiki sebagai penyebabnya.
“Kakak ngomong kaya gini seakan-akan semuanya mudah buat aku, buat kita, apa kakak ga pikirin papa kakak, bunda, terus omanya kakak gimana?” sambung Claudia denga mata berkaca-kaca.
“Aku gak peduli soal itu, aku cuma mau kamu jadi istri aku Di…”
Istri?, jika dalam kondisi normal wanita manapun akan senang jika ada di posisi Claudia, mati-matian di perjuangkan oleh dua pria tampan, mapan dan sayang padanya, tapi tidak. Rasanya gadis ini ingin kabur saja, dia tidak nyaman dengan keadaannya sendiri. Apalagi Aksa, statusnya adalah kakaknya, bagaimana mungkin menikah dengan kakak sendiri, walaupun tidak ada hubungan darah tetap saja, rasanya sulit untuk diterima oleh logika Claudia.
“Kak bisa mikir waras ga?”
Aksa kesal, kenapa Claudia mengiranya tidak memperhitungkan segalanya, lalu menyangka pemuda itu sudah tidak waras. Dengan amarahnya Aksa sekali menaikan nada bicaranya.
“KAMU KIRA KAKAK GILA?”
“IYA AKU PIKIR KAKAK UDAH GILA, UDAH HILANG AKAL!!!”
Akhirnya Claudia menatap Aksa, dia sukses membuat Aksa terdiam dengan bentakkannya. Namun tidak dengan air mata yang ia miliki, pertahanannya bubar juga. Gadis mungil ini akhirnya menangis sejadi-jadinya. Ia sudah terlalu tertekan dengan banyak hal. Ini sulit, sangat sulit bahkan lebih ribet daripada belajar untuk persiapan ujian nasional.
“Claudia…”
“Kakak kira…kakak kira gampang buat aku nolak perasaan sendiri?”
“Di…”
“Kalo kakak udah tau aku cinta sama kakak, terus kakak mau kaya gimana? Kakak mau kita kawin lari terus keluarga kita ancur berantakan gara-gara kita memaksakan kehendak?, apa kakak yakin kalo udah nikah kita ga bakalan cerai?”
Perceraian menjadi momok paling menakutkan bagi Claudia, dia saksi mata dari keretakan hubungan kedua orang tuanya, yang memang masih saling mencintai satu sama lain saat berpisah, tapi ego dan masalah yang membuat cinta Silvana dan Zen akhirnya kandas juga.
Jadi bagaimana jika suatu hubungan yang diawali dengan pemaksaan kehendak bisa bertahan lama, kalau yang direstui saja bisa berakhir dengan begitu mengenaskan, Claudia rasanya tidak sanggup, dia tahu jika Aksa masih seperti ini, bukan tidak mungkin mereka bersama hanya untuk berpisah.
“Kok kamu ngomongnya gitu Di, aku ga suka kamu ngomong gitu…”
“Aku lebih gak suka kalo kakak gak realistis kaya gini, sekarang kakak pikirin baik-baik. Liat ini…di jari aku udah ada tanda kalo aku udah tunangan sama ka Reiki, terus tanya sama papa gimana reaksinya kalo anaknya sendiri ngehianatin dia, aku tau segimananya papa sayang sama kakak, dia juga udah punya jodoh sendiri buat kakak, kenapa kakak maksain sesuatu yang udah pasti gagal di masa depan”
Aksa sekali lagi diam, yang dibilang Claudia memang benar, dia tahu Bram memang akan memaksa dirinya menikah Syakilla dengan cara apapun, walaupun berkali-kali Aksa menolak, gadis itu tetap disodorkan padanya, sampai suatu hari dia melakukan hal yang tidak pantas dengan Syakilla. Hal itu terus berulang, hingga Syakilla semakin terobsesi padanya, apalagi ada satu masa dimana Bram menjadi saksi mata, betapa lihainya perempuan itu mengurus semua keperluan keluarga Priambudi.
Perempuan itu tinggal di rumah Aksa hingga lebih dari 8 bulan, sesuatu yang tidak bisa di bantah adalah Syakilla yang secara terang-terangan memposisikan dirinya sebagai nyonya rumah dan Aksa sebagai tuan rumahnya. Bram yang absen cukup lama karena pergi ke luar negeri untuk menenangkan diri pasca kepergian Istrinya Aini, memperparah keadaan. Secara mental dan jasmani Aksa mencari pelarian, dan yang ada disana hanya Syakilla.
Mereka hidup selama 8 bulan selayaknya pasangan suami istri, sampai pada suatu hari Silvana datang, dan membuat hidup Aksa menjadi lebih baik dan normal. Apalagi setelah dirinya mengetahui bahwa cahaya hidupnya, adalah anak kandung dari Silvana. Apalagi setelah mendapatkan semua syarat dari Nesya dan kekasih ayahnya saat itu Silvana, hidup Aksa semakin lebih baik. Dia punya tujuan hidup yang pasti, menjadi pria yang mapan dan bisa berdiri di kakinya sendiri, semuanya untuk gadis yang kini duduk disampingnya itu, Claudia.
“Aku akan lakuin apapun supaya kita bakal bisa bersama. Aku ga takut akan apapun, bahkan kalau aku dibuang dari keluarga Priambudi aku gak masalah sama sekali, selama aku bisa hidup bersama kamu Di”
“Coba aja, tapi aku gak mau ka” Claudia menggelengkan kepalanya, kemudian memejamkan matanya. Kepalanya pusing.
“Claudia….sebenernya perasaan kamu ke aku tuh gimana sih…Kenapa susah banget buat kamu, untuk setuju sama aku, padahal aku tau kamu juga cinta sama aku”
Menghembuskan nafas dengan kasar berkali-kali, nampaknya tidak cukup untuk membuat Claudia lebih tenang, dia sangat tidak senang dengan Aksa bersikap seperti anak-anak yang terjebak dalam buku dongeng, dengan ending ‘Happily ever After’ yang selalu tersaji dengan epic di dongeng-dongeng yang terkenal.
“Kak, Cinta itu ga bisa di jadikan barometer orang sukses berumah tangga, dukungan keluarga juga di butuhkan, emang kakak kira gampang berumah tangga saat semua keluarga kita doain kita yang buruk-buruk”
“Tinggal kita buktiin kalo kita bisa awet”
“Kakak mau buktiin ke siapa?! Kakak mau kasih tau semua orang kalo kakak udah sukses jadi penghancur keluarga gitu?, udah kak aku gak mau bahas semua ini, kalo kakak masih bahas ini juga, aku turun!!! Mending aku cari ojek onlen deh!”
Untuk yang terakhir ini Aksa tidak membalas perkataan Claudia, dia diam karena Claudia sudah bersiap untuk lompat dari mobil itu. Sedangkan tanpa Aksa ketahui, di dalam hatinya Claudia sudah hancur berantakan.
‘Maafin aku kak, aku bahkan belum siap untuk terima perasaan aku, perasaan yang sebenarnya gak salah, kalau aja kita bukan kakak adik…aku pasti bisa bilang ini dengan mudah…’
__ADS_1
“Aksa aku jatuh cinta padamu…”