ME VS MY BROTHER

ME VS MY BROTHER
Episode 31


__ADS_3

Tersenyum, senyuman yang lebar kini menghiasi wajah Bima, 5 menit yang lalu Alif mengabarkan bahwa Icha sudah ketemu dan kini bersama dengan senior mereka Eros.


Nama pemuda itu memang tidak asing di telinga Bima dan Mey, bagaimanapun senior dari anak mereka itu, pernah berbuat onar hingga membuat Icha stress, namun Bima dan Mey pula lah yang membantu Eros dalam merubah sifatnya seperti sekarang. Pendeknya, Bima tau benar anak itu sudah berusaha untuk merubah dirinya menjadi lebih baik.


“Allhamdulillah a’, aku seneng banget dengernya” seru Mey sembari memeluk suaminya.


“Iya darling, aa juga seneng dengernya” jawab Bima dengan canggung. Bukan karena dia tidak suka dengan afeksi yang ditunjukan oleh istri tercintanya itu, akan tetapi pemandangan di depannya ini yang membuatnya tidak nyaman.


Silvana dan Zen yang sekarang sedang berada diruang tamu Adhitama alias rumahnya Bima dan Mey, saling menatap dengan tidak nyaman. Silvana yang melihat kearah Zen dengan tatapan kesal, persis seperti seseorang yang baru saja kalah war di game online karena partnernya noob semua, sedangkan Zen yang menatap Silvana dengan tatapan serba salah, persis anak SMP yang baru kenal cinta.


Bima hanya menggelengkan kepala melihat tingkah kedua orang itu, untung saja ada Nesya yang sedikit mengurangi ketegangan yang ada. Sudah 2 jam kedua orang itu duduk berhadapan dan tidak ada satu katapun yang keluar dari mulut kedua orang itu, bahkan Silvana menolak bersalaman dengan Zen. Hanya Nesya yang berkali-kali mengajak Zen untuk bicara, memang setidaknya itu membantu mencairkan suasana, apalagi Nesya diketahui masih berhubungan baik dengan mantan besannya itu.


Mey yang sudah agak lebih tenang, akhirnya permisi ijin kebelakang untuk mempersiapkan makan malam, karena istri dari Bima ini memang memaksa Silvana dan Zen makan bersama. Melihat Mey yang masih belum terlalu stabil Nesya pun menawarkan diri untuk membantu, walaupun awalnya ditolak oleh si empunya rumah, namun karena Nesya memaksa akhirnya Mey luluh juga, jadilah kedua orang itu beranjak dari ruang tamu menuju ke dapur. Kesempatan itu tidak di sia-siakan oleh Bima, lelaki ini sudah gerah dengan apa yang dia lihat, sepertinya ia memang harus turun tangan.


“Eh gila ini gw sih sebenernya seneng anak gw ketemu, tapi bisa gak hawa-hawa pembunuh lo, dikurang-kurangin Na” seru Bima sambil memijat dahinya.


Silvana yang melihat kearah Bima langsung melotot sembari mengerutkan dahinya. Tak lama langsung membuang muka kearah berlawanan dari Zen dan Bima.


Sedangkan Zen hanya bisa menghela nafas dengan perlahan, ia tahu apa yang dia lakukan dimasa lalu memang tak bisa Silvana maafkan, tapi apa belum cukup Silvana menghukumnya dengan tidak memperbolehkan putri mereka bertemu dengan Zen, selama lebih dari 10 tahun.

__ADS_1


“Bersikaplah dewasa Na, gw gak mau ikut campur sebenernya. Tapi gimanapun posisinya lu berdua itu sahabat gw, anak-anak kita pun berteman dan dekat seperti halnya saudara. Apa gak bisa lo melupakan yang sudah terjadi Na?” pinta Bima dengan nada membujuk.


“Gak bisa semudah itu Bim…” Silvana mulai bicara, sembari menunduk. Sejujurnya dalam hati, ia memang masih mencintai Zen saat meminta Zen untuk bercerai dengannya. Dan juga Silvana tahu, apa yang dilakukan oleh mantan suaminya itu, semata-mata ingin menyadarkan Silvana bahwa keluarga adalah segalanya.


Zen hanya terdiam sambil memandangi wajah mantan istrinya itu, Silvana masih cantik, walaupun sudah 1 dekade lebih tidak bertemu, ia masih belum bisa melupakan semua hal tentang Silvana.


“Gak mudah emang, tapi bukan berarti gak mungkin. Dengerin gw Na, gw tidak ingin memihak, tapi disini gw pengen menyadarkan kalian berdua. Turunkan ego kalian, emang kalian gak kasihan sama Claudia?. Kita semua udah jadi orang tua, prioritas kita bukan lagi diri sendiri, tapi anak-anak kita. Apa jadinya begitu Claudia dateng kesini, bunda sama ayahnya mengeluarkan hawa-hawa membunuh begini. Zen lo jangan cuma diem aja, sekarang saatnya lo ngomong semua alasan lo kenapa lo bawa Claudia ke Amerika tanpa ngabarin Ana, dan Ana lo juga STOP playing as a victim, disini korban sesungguhnya itu anak kalian Claudia”


Silvana mengepalkan tangannya, dia kesal tapi tidak bisa melawan apa yang dikatakan oleh Bima, sahabatnya ini memang konyol tapi saat serius, ia memang punya pemikiran yang bijaksana.


“Bima lo gak paham, gw begini karena gw mau yang terbaik buat Claudia” seru Silvana.


Bima mengerutkan dahinya, kenapa sampai akhir Silvana masih saja bersikeras bahwa semua yang ia lakukan, semata-mata hanya untuk kepentingan putri mereka, saat ini Bima hanya menggelengkan kepala, merasa luar biasa karena ternyata 10 tahun tidak cukup untuk membuat Silvana sadar, bahwa dia telah menyakiti putrinya sendiri.


Skak mat, Silvana tidak bisa menjawab. Sejujurnya apa yang dia lakukan lebih banyak menyakiti hati Claudia, ketimbang memberikan kebahagiaan pada anak gadisnya itu.


“Contoh nih, no offense gw blak-blakan aja sama lo Na, pas lo nikah lagi sama Bram, lo mikirin gak gimana perasaan Claudia. Sebagai seorang ibu, lo tidak memberikan kepastian kepada anak lo, bahwa lo tidak akan menikah lagi dengan orang lain, yang lo kasih ke anak lo cuma kalimat, ‘Bunda gak mau berhubungan dengan siapa-siapa dulu, fokus bunda ada dikamu’ itu kan yang selalu lo bilang sama Claudia, sampai sampai Claudia mikir kalau masih ada kemungkinan lo rujuk lagi dengan Zen”


Zen dan Silvana bingung kenapa Bima bisa tahu sampai sedetail itu, jawabannya adalah kebiasaan Icha, anak perempuannya itu selalu menulis diary setiap hari, terkadang Bima akan datang selepas pulang kerja dan mencium kening anak-anaknya sebelum makan malam bersama Mey , beberapa kali dia melihat Icha menangis saat tidur, sambil memeluk diarynya. Memang salah untuk mengintip apa yang ditulis oleh Icha, tapi Bima khawatir pada putrinya itu, jadi wajar jika dia mengintip apa yang ditulis oleh anaknya.

__ADS_1


Dan yang ia temukan adalah, Icha yang menulis semua hal tentang kegelisahan Claudia, dan harapan sahabatnya itu bahwa ia ingin ayah dan bundanya bersatu kembali. Tulisan Icha tentang Claudia selalu berhubungan dengan Zen dan Silvana, terus menerus seperti itu sampai 10 tahun lebih, namun tepat beberapa bulan lalu, tulisannya berubah menjadi rasa depresi yang diutarakan oleh Claudia kepada Icha, apalagi kalau bukan soal Claudia yang merasa dikhianati Silvana, karena baru diketahui Claudia jika bundanya sudah berhubungan dengan Bram lebih dari 5 tahun lalu.


“Lo tau gak, Claudia stress berat setelah tau lo nikah gak bilang-bilang sama dia Na, sejujurnya pas gw denger kabar lo nikah lagi gw jadi mikir, emang mendingan Claudia tinggal sama bapaknya ketimbang sama lo” Bima kesal, dia juga menyayangi Claudia seperti keponakan sendiri, selama Zen absen sosok ayah bagi Claudia, memang diisi olehnya, bahkan saat Claudia ulang tahun dan ibunya sibuk, maka Mey dan Bima akan menyiapkan pesta kejutan untuk Claudia. Walaupun tidak sedarah, bukan berarti tidak bisa menjadi keluarga, karena keluarga bukanlah sesuatu yang hanya berdasarkan dari ikatan darah, tapi dari rasa kasih sayang dan perhatian dari satu individu ke individu lainnya, itulah yang Bima yakini selama ini.


“Nah diem kan lo Na, sekarang mau argumentasi apalagi lo?, lo ngomong deh berdua, intinya kalian berdua salah, sama-sama korban juga, kalian masih ada waktu sejam lah sampe Claudia dateng kesini, gunain baik-baik dan tunjukin kalau kalian itu orang dewasa, masa kalah sama Claudia yang banyak nahan perasaannya supaya kalian berdua sama-sama nyaman, kebalik tau gak, kok anak yang ngelindungin orang tua bukan sebaliknya. Udah gw ciao dulu mau bantuin bini gw” Bima beranjak dari sofa dan berjalan kearah dapur. Didalam hati Bima berharap bahwa Zen dan Silvana bisa berdamai.


Air mata mengalir dari mata Silvana, apa yang dikatakan Bima menjadi tamparan keras baginya. Melihat keadaan Silvana, mata Zen sendu, dia langsung berjalan kearah mantan istrinya itu, lalu berjongkok di depan Silvana.


“Maafin aku…” pinta Zen sambil menghapus air mata Silvana.


Zen memang seorang pria yang lembut, selama menikah dengan Silvana tidak pernah sekalipun, Zen menyakiti hati mantan istrinya tersebut, sampai kejadian Zen membawa kabur Claudia, itulah yang membuat Silvana shock, jujur itu melukai harga dirinya, karena wanita itu merasa bahwa tidak mungkin Zen membuatnya bersedih, emosi, egoisme pribadi dan kecewa itulah yang menghancurkan keluarga mereka, dengan sadar Silvana tahu itu salahnya.


“Jangan nangis Na, aku gak mau lihat kamu nangis. Maafin aku…” Zen pun menangis, dalam 10 tahun lebih tidak pernah ia bayangkan, bahwa dirinya akan bertemu lagi dengan Silvana dalam kondisi baik-baik seperti ini.


“G…ga….gak…Z…Zen…ini semua salah aku…” ucap Silvana dengan terbata-bata.


Dengan reflek Zen menggenggam tangan Silvana, setidaknya saat ini ia ingin Silvana tahu bahwa rasa cintanya pada mantan istrinya itu tidak pernah padam, walaupun harapan untuk bersama lagi tidak mungkin terjadi, kini Silvana sudah jadi milik orang lain.


“Ana…” ujar Zen pelan.

__ADS_1


“Aku tau, aku salah…aku paham tapi ego aku bilang kamu yang salah, setelah kita kehilangan adiknya Claudia, aku ga pernah mau ngakuin bahwa itu salah aku, tapi aku paham itu memang perbuatan aku sendiri, aku tahu bahaya buat anak kita, tapi aku juga gak bisa liat Aini pergi selamanya….Aku jahat Zen, gak seharusnya kamu menderita karena aku…”


Zen menatap wajah Silvana, ia menyeka air mata wanita yang sangat ia sayangi itu, tanpa mereka ketahui Claudia ada tepat di depan pintu rumah Bima, dan mencuri dengar semuanya.


__ADS_2