ME VS MY BROTHER

ME VS MY BROTHER
Episode 35


__ADS_3

Reiki menunggu cukup lama di dalam mobil, ia cemas apa jangan-jangan Claudia berubah pikiran dan memilih berangkat dengan kakaknya. Hati Reiki berdebar, ia berusaha meyakinkan diri sendiri bahwa tunangannya itu yang minta untuk di jemput jadi mustahil kalau membatalkan semuanya.


Claudia pun berjalan keluar dari rumah, sembari merapikan penampilannya yang acak-acakkan, sebelum melangkah gadis mungil itu menarik nafasnya dalam dan menghembuskannya secara perlahan.


‘Ochitsuite…Subete umaku iku kara…Umaku dekita (tenanglah, semuanya bakalan baik-baik aja, kamu baik-baik aja)’ Claudia bergumam sambil melihat dirinya dari kaca mobil Bram yang masih terparkir.


‘YOSH FIGHTING !!!!’ gadis itu menghilang wajah gelisahnya, ia menarik kedua pipinya dan tersenyum selebar mungkin, dia sudah memutuskan akan menerima Reiki, tidak ada kata mundur lagi dan inilah yang terbaik.


Claudia berjalan kearah mobil Reiki, sedangkan yang punya mobil termenung, entah apa yang di pikirkan pria itu pikir Claudia, sejujurnya gadis itu tidak terlalu peduli, tapi rasanya dia harus lebih waspada pada Reiki, semenjak kasus Icha yang kabur itu, rasanya kakak kesayangan gadis ini, bertindak tidak seperti yang ia ketahui, apapun itu instingnya bilang Claudia harus berhati-hati pada Reiki.


“Kakak….” Claudia mengetuk kaca pintu mobil Reiki, dan pria itu langsung keluar dari mobil.


“Lah ngapain keluar ka?!” tanya Claudia bingung.


“Mau bukain pintu buat kamu…” Reiki tersenyum, ia sangat senang melihat tuan putrinya itu di pagi hari.


“Eleeeeeh emang aku gak bisa buka sendiri apa…” Claudia cemberut, tapi lalu tertawa melihat Reiki yang bersemu malu.


“Di biasain aja Di, kalau nanti kita nikah hal kaya gini mah biasa…”


Claudia memutar bola matanya, ia kadang tidak paham kenapa Reiki membuatnya seperti anak bayi yang tidak bisa melakukan apa-apa. Tapi gadis itu tidak banyak berkomentar, dia pun masuk ke dalam mobil ketika Reiki membukakan pintu.


Reiki pun akhirnya masuk kedalam mobilnya, dan berniat memasangkan seat belt pada Claudia, sebelum gadis itu menaikan kedua tangannya memberi gesture agar Reiki berhenti.


“EEEEEEEIT….stop kak, aku bisa pake seat belt sendiri” Claudia pun langsung memasang sabuk pengamannya, begitu pula Reiki yang masih setia tersenyum pada Claudia.


Reiki tidak berhenti disitu, dia melihat kearah Claudia berkali-kali. Ingin rasanya pria itu membawa Claudia pergi jauh, agar tidak ada yang bisa merebut perempuan yang paling ia cintai itu.


“Kak, tar mata kakak copot kalo liat aku begitu” seru Claudia sambil tersenyum.


Reiki tersadar, dia gelagapan saat Claudia berkata seperti itu, dia tidak bohong karena hatinya benar-benar sangat senang saat ini.


“Kamu cantik Di…”


“Makasih, calon istrinya siapa ya??” tanya Claudia sambil tersenyum.


Sedangkan wajah Reiki menegang, ia tidak percaya dengan apa yang dia dengar, Claudia sungguh berkata seperti itu, dia tidak salah dengar bukan. Tapi ia masih ragu, jangan-jangan setelah ini Claudia akan memukulnya lagi. Ia tidak tahu harus bersikap seperti apa, ditambah setelah kejadian Claudia mengamuk padanya, mereka tidak pernah bicara lagi kemarin malam pujaan hatinya itu mengirim pesan agar Reiki menjemputnya.


Lalu bagaimana dengan Claudia, sebenarnya dia juga tidak nyaman, tapi kalau tidak di biasakan seperti ini akan sulit baginya untuk melupakan Aksa dan menerima Reiki sepenuhnya, setidaknya bagi gadis itu, ini salah satu langkah untuk memberikan pemahaman pada diri sendiri jika Reiki lah yang akan dia nikahi bukan Aksa.

__ADS_1


Gadis itu juga sadar, ekspresi wajah Reiki langsung berubah. Sudah pasti, tapi kedepannya Claudia akan lebih sering bersikap seperti yang seharusnya. Seua memang sewajarnya kembali pada posisi masing-masing. Sejak awal hubungannya dengan Aksa juga salah, terlepas dari dia tahu mengenai janji ibunya pada keluarga Priambudi, hubungan Claudia dan Aksa memang terlalu berat bagi gadis ini.


Claudia pun melihat gerbang rumahnya di buka, Aksa sedang berjalan kearah mobilnya, tentu saja ia berhanti saat melihat Claudia dan Reiki. Tanpa buang-buang waktu lagi Aksa berniat menarik Claudia keluar dari mobil itu, hingga gadis mungil ini sadar niatan kakaknya, dengan cepat Claudia langsung mencium pipi Reiki.


“Nah, calon suami, bisa kita berangkat sekarang, karena calon istri udah telat ini…” seru Claudia sambil mencubit pipi Reiki dengan gemas.


Reiki tersenyum lebar, dia langsung menghidupkan mobilnya, meninggalkan Aksa yang membatu melihat apa yang terjadi barusan.


“BRENGSEK !!!!” teriak Aksa sambil membanting pintu mobilnya. Rasanya dia ingin membunuh Reiki. Di dalam mobil otak Aksa sudah tidak bisa berpikiran lurus, otaknya itu bahkan kini sudah di penuhi rencana untuk membuat Reiki menjauhi Claudia.


‘Kalau gw gak bisa ngerebut Claudia dari lo, jangan panggil gw Aksa Faresta, dengan cara apapun Claudia akan menikah sama gw bukan sama lo.’ Gumam Aksa.


“Ijinin aku buat bantu mas supaya Claudia sadar sama perasaannya sendiri. Kalau kamu yang terlalu frontal deketin Claudia, om Bram bisa ngamuk nantinya, tapi kalau Claudia yang datang ke kamu, om Bram bisa apa?”


Aksa teringat tentang Syakilla yang pernah menawarkan bantuannya, agar dia bisa mendapatkan gadis yang ia cintai selama lebih dari 12 tahun itu.


‘Syakilla….iya dia bisa bantu aku buat dapetin Claudia. Kalau dia cemburu, dengan sendirinya Claudia pasti bakalan dateng sendiri ke aku’ Aksa langsung mengambil ponselnya, dia menelepon mantan pacarnya itu. Secara singkat ia meminta bertemu, setelahnya langsung memutus panggilannya.


Aksa bergegas, setiap menitnya berharga, dia tidak bisa membiarkan Claudia jatuh ketangan Reiki. Ia pun memacu mobilnya dengan kencang, berharap semua ini bisa berhasil.


Sekarang bagaimana dengan Reiki dan Claudia, Reiki masih curi-curi pandang pada gadis yang sedang bernyanyi dengan riang di sampingnya. Ini masih terasa aneh, semua sikap Claudia kepadanya tadi terlalu mendadak, perubahannya drastic, jadi dia tidak bisa menjelaskan apa yang kini sedang terjadi, terlebih Claudia juga tidak banyak bicara.


“Kok dimatiin Di…” tanya Reiki masih fokus mengemudi.


“Kakak gak suka ya kalau aku bersikap kaya tadi?” Claudia menatap wajah Reiki sambil menunduk.


Reiki terdiam, saat itu kebetulan sedang lampu merah, jadi dengan jelas ia bisa melihat ekspresi wajah Claudia yang sedih. Pria ini pun akhirnya teringat dengan ucapan Claudia.


“Kakak gak paham, walaupun aku ngerasain itu, ngerasain perasaan cinta yang menggebu-gebu sama ka Aksa. Aku tetep lebih memilih kakak untuk jadi calon suami aku. Jujur aku emang takut atas ancaman kakak, tapi apa kakak pikir aku tipe perempuan yang bisa semudah itu ditindas?, apa kakak ga berpikir gimana perasaan aku, pengorbanan aku buat kakak?”


Argh, kenapa ia bodoh sekali, Claudia sudah memutuskan untuk memilihnya, dan gadis ini sekarang sedang berusaha untuk bersikap setulus hati padanya. Reiki langsung menggenggam tangan Claudia.


“Maafin aku Di…aku terlalu bodoh untuk menyadari kalau kamu sekarang sedang berusaha menerima aku…” Reiki menyentuh pipi gadis yang ada didepannya itu, berusaha membuat Claudia agar berhenti menunduk, ia benar-benar malu karena bersikap buruk hingga membuat usaha Claudia terlihat sia-sia.


Claudia menggelengkan kepalanya, dia menarik tangan Reiki dari pipinya dan menggenggam tangan pria itu dengan erat. “Aku yang harusnya minta maaf ka, selama ini aku udah egois dan bikin kakak sedih, seharusnya aku bersikap seperti seharusnya” Claudia menangis, dia memang merasa bersalah pada Reiki, tapi air matanya ini juga jadi pertanda bahwa ia harus memulai kehidupannya yang baru.


Reiki mencium punggung tangan Claudia, dia sangat senang hingga air matanya pun menetes. Untuk seseorang yang punya harga diri tinggi seperti Reiki, adalah hal yang sulit untuk menangis di depan seseorang, tapi pada akhirnya dia jadi seseorang yang cengeng jika berhadapan dengan Claudia.


“Kak….”

__ADS_1


“Iya Di” jawab Reiki sambil memacu mobilnya kembali.


“Nanti sore pas ketemuan sama ayah aku mau ngomong sesuatu…” Claudia tiba-tiba mengeratkan genggaman tangannya pada Reiki.


“Mau ngomongin apa? Kakak kira kamu cuma mau ngobrol sama om Zen” seru Reiki melihat Claudia sambil tersenyum, lalu kembali melihat kearah jalan.


“Iya, mau ngobrol, tapi aku mau ngobrolin yang lain juga ka”


“Terus???”


“Hmmm aku gak bisa diskusiin ini sama ayah sebelum tanya kakak…”


“Emangnya ada hubungannya sama kakak??”


“Iya, ada hubungannya sama ka Reiki…”


Reiki pun meminggirkan mobilnya sebentar, sepertinya dia tidak akan fokus mengemudi.


“Ok kakak dengerin” jantung Reiki berdebar dengan sangat kencang, apa yang ingin gadis ini bicarakan tentangnya, padahal keluarga mereka sudah berjanji akan membahas lamaran tepat 1 minggu setelah Claudia berulang tahun. Jelas bagi Reiki agenda hari ini hanya jadi kamuflase agar gadisnya bisa berbincang hingga puas dengan pamannya itu.


Yang paling Reiki takutkan adalah Claudia meminta lamarannya di undur, tentu akan jadi pekerjaan tambahan bagi Reiki, karena sudah pasti Aksa tidak akan menyianyiakan kesempatan sekecil apapun untuk merebut Claudia darinya.


“Aku mau tanya sama kakak, tapi kakak jangan marah” Claudia menatap mata Reiki dengan sungguh-sungguh, dan pria itu langsung tau jika ini permasalahan serius.


“Kakak mendengarkan Di…kamu mau tanya apa”


Ada jeda sekitar 1 menit, dan Reiki merasa tangannya mulai dingin. ‘Claudia, kalau kamu mau bilang pengen undur acara lamaran kita, maaf aku gak akan anterin kamu sampai sekolah Di, saat ini juga aku akan bawa kamu pergi, menjauh dari semua orang yang berusaha mengganggu hubungan kita’ gumam Reiki di dalam hati.


“Aku….Aku mau kita nikah secepatnya kak”


“Hah….maaf Di, bisa kamu ulang ?” Reiki tersenyum sepertinya dia salah dengar.


Claudia menunduk, tangannya juga sama dinginnya dengan Reiki, dia benar-benar gugup, karena apa yang dia katakan terkesan seperti seseorang yang ingin memaksa untuk menikah.


“Aku mau kita nikah siri setelah aku ulang tahun kak, aku pengen secepetnya tinggal sama kakak”


Reiki terkejut, apa dia sedang bermimpi, tidak ini bukan mimpi. Tapi hal seperti ini juga sangat tidak mungkin terjadi, dia tahu Claudia mulai menerimanya tapi tidak menyangka bahwa akan seekstrim ini.


“Claudia?”

__ADS_1


“Aku mau kita percepat pernikahan kita….segera”


__ADS_2