ME VS MY BROTHER

ME VS MY BROTHER
Episode 3


__ADS_3

"ADEEEEE!!!!! BUKA PINTUNYA!!!!" Bunda mengetuk pintu kamar Claudia dengan kencang. Namun Claudia acuh, dia kesal karena tau, pasti bundanya mau memarahinya soal Aksa. Bundanya itu terus menerus mengetuk pintu, tanpa henti, dan mulai berteriak-teriak di depan kamar Claudia.


"ADE BUKA PINTU, YA AMPUN DE ! CEPET BUKA, ADEEEE!!!!, KALO ADE GA BUKA PINTU, BESOK KAMU SEKOLAH GA AKAN BUNDA KASIH UANG JAJAN ! BUKA DE..."


"Sayang, udahlah...ini udah malam, kasian Claudia, udah ga kamu kasih ijin buat pergi ketemu sama temen-temennya, kamu ancem pula kaya gitu, yang ada nanti Claudia makin jauh dari kita, kamu yang lembut ngadepin kerasnya dia"


Papa Bram, suami baru Silvana datang menghampiri, istrinya itu. Ia tahu Claudia masih ingin ayah dan bundanya rujuk, karena itu saat ini Claudia berusaha memberontak. Bram sadar dengan posisinya, dan tak mau mengambil jalan pintas, ia lebih memilih mendekati Claudia dengan perlahan, sampai Claudia membuka hati untuk menerimanya sebagai ayah sambung.


"Tapi mas, liat itu Aksa kakinya bengkak, sampai keluar darah gara-gara Claudia, saya ga suka anak saya jadi beringas begitu, lagipula apa yang Aksa lakuin itu bener mas, kalo tadi ade makin teriak-teriak, bisa jadi ibu kena serangan jantung lagi" Ucap Silvana seraya berjalan menuruni tangga bersama suaminya itu, lalu mulai masuk kedalam kamar mereka dan duduk di ujung ranjang mereka.


"Daripada Claudia, saya malah lebih khawatir sama Aksa, itu anak kok kaya ketemu mainan favoritnya yang udah lama ilang" ujar Bram seraya membuka kacamatanya.


"Maksud kamu mas?"


"Iya saya inget banget dulu waktu dia masih kecil, saya sama Aini pernah beliin dia mainan, dan mainannya itu ilang. Dia suka banget sama mainan itu, sampe mandi, tidur, masuk ke paud pun dia selalu bawa itu robot-robotannya, tapi tiba-tiba itu mainan ga ada. Waktu dia ga bisa nemuin mainan itu, Aksa ga berenti-berentinya nangis, sampe ada fase saya beliin yang baru dan pura-puranya itu mainan dia yang ilang, tapi dia tahu saya sama mamanya bohongin dia" Bram terlihat khawatir dengan Claudia, ia pun memegang tangan istrinya itu, berharap Silvana mengerti maksudnya.


"Akhirnya itu mainan gimana mas nasibnya?"


"Uhm, satu minggu saya di buat stress sama kelakuan dia yang aneh bin ajaib. Setiap jam 12 malem dia muterin rumah sambil ngeberantakin barang, karena pengen nyari itu mainan, saya sampe ngira ada maling, tapi ternyata si Aksa. Yang lebih anehnya lagi, begitu itu mainan ketemu si Aksa malah meretelin mainanya itu terus di umpetin setiap bagiannya di tempat yang beda. Dia kaya ngechallenge diri dia buat nemuin mainannya yang dia udah pretelin bagian kaki, tangan, badan sama kepalanya itu. Pas saya tanya sama Aksa, dia bilang kalau dia mau cari mainannya itu 1 tahun dari sekarang. Saya sempet bilang, kalau Aksa ga nemuin mainan itu gimana, dan dia cuma jawab, dia suka sama mainan itu, tapi dia pengen tau kalo udah rusak, dia masih sayang apa ga sama mainannya" Bram mengingat dan menjelaskan kelakuan Aksa, yang membuat dirinya dan alm istrinya Aini, pusing 7 keliling.


"Terus mas? Setelahnya gimana? Aksa bisa nemuin mainan yang dia umpetin itu ga mas?" tanya Silvana penasaran.


"Dari ceritanya Aini, Aksa bisa nemuin mainannya itu. Dia bilang sama mamanya kalo mulai dari hari itu, dia ga akan mainin mainannya, mau dia pajang aja di kamar." Ujar Bram sambil tersenyum kecil.


"Jadi maksudnya mas, sekarang ini Aksa lagi sengaja bikin Claudia benci sama dia?" jelas Silvana, sambil berpikir.


"Iya, saya ngerasanya, si Aksa lagi menantang dirinya sendiri buat bikin Claudia deket sama dia, setelah Claudia sudah benci-bencinya sama Aksa, atau paling gak udah kesel luar biasa sama dia. Intinya, dia mau bikin kondisi dimana dia bisa merubah suatu hal yang negatif jadi ke positif, buat ngebuktiin seberapa sukanya dia sama hal itu. Yang saya takutkan, dia memposisikan Claudia itu jadi mainan barunya, dan saya tahu banget anak itu, Aksa orang yang luar biasa posesif, walau ga kelihatan dari luar. Makanya saya minta kamu jangan terlalu manjain Aksa"


"Gitu ya mas....tapi mas, saya pengen Aksa juga dekat sama saya, makanya apa yang Aksa mau pasti saya turutin"


"Saya seneng kamu begitu, tapi sayang ,kalo kamu terlalu fokus sama Aksa, dan bersikap begini ke Claudia, nantinya itu akan jadi hal yang buruk buat kamu, buat kita semuanya di masa depan" seru Bram sambil membelai punggung istrinya itu.


"Yang Claudia mau itu mas, cuma saya rujuk sama Zen ayahnya Claudia. Tapi ga bisa mas, kamu tau kan? Saya bersikap begini kenapa. Saya juga udah janji sama Aini, udah janji sama mama kamu juga mas, ini ga mudah buat saya, dan kenapa Claudia justru mempersulit ini semua" Silvana menutup kedua matanya, air matanya mulai mengalir


"Saya menikahi kamu bukan karena wasiatnya Aini, sayang ini bukan salah kamu, tapi salah saya sejak awal. Kalau aja kita menikah dari awal sesuai kemauan orang tua kita, ini ga mungkin terjadi, baik kamu maupun Aini ga akan sesakit ini. Saya cinta dan sayang sama kamu, cuma saya telat untuk menyadari semuanya" Bram memeluk erat istrinya.


"Mas, kamu ga salah, gak ada yang salah, ini semua takdir dari tuhan, saat saya merelakan kamu untuk bersama Aini, demi tuhan saya tidak pernah dendam pada kalian, karena saya tau rasa cinta itu datang pada siapa pun yang dikehendakiNya. Dan kenyataan bahwa pada akhirnya kita menikah, itu mungkin juga salah satu kehendak tuhan lainnya. Saya sayang sama Aksa, walaupun dia bukan anak saya" Ujar Silvana yang ikut mempererat pelukannya.


"Iya saya tau kamu sayang, tapi balik lagi manjain Aksa tetep ga bener, saya pengennya kalo kamu emang beneran sayang sama dia, marahin Aksa kalau dia salah. Duh, udah jangan nangis dong, mending kita tidur aja yuk, udah malam besok kamu ada praktek pagi kan" ajak Bram yang mulai mematikan lampu tidurnya dengan remote disampingnya.


Silvana hanya mengangguk pelan seraya merebahkan tubuhnya, ia berusaha untuk tidur, tapi kenangannya tentang sahabatnya Aini menyeruak begitu saja.


Malam itu ia memimpikan masa lalunya, iya masa lalu ketika Silvana, dan Bram gagal menikah. Masa ketika Silvana baru berumur 17 tahun dan Bram sudah berumur 20 tahun.


Kamar Silvana saat itu sudah di hias dengan banyak bunga, Silvana juga sudah berias ala pengantin jawa, dan tamu sudah berdatangan, penghulu juga sudah siap, hanya Bram yang tak kelihatan batang hidungnya.


"Na, kamu cantik banget" Seru seorang gadis bertubuh kecil yang masih merupakan sepupunya, Aini Rahmawati. Berbeda dengan Silvana yang tinggi semampai dengan tinggi 170 cm, penampilan Aini tampak kontras ia hanya memiliki tinggi 152 cm.


"Ni, sini masuk. Aku mau ngomong sama kamu" jawab Silvana sambil menepuk-nepuk kasurnya.


"Kamu mau ngomong apa Na?" Aini pun masuk dan duduk di atas kasur persis di samping Silvana.


"Aku mau kamu jujur sama aku, hari ini kesempatan terakhir kamu. Kamu cinta sama mas Bram?, coba kamu jujur sama aku Ni, aku ga akan marah, kamu tau aku sayang sama kalian berdua, buat aku kalian berdua itu penting, tapi kalo kamu ga mau jawab, persis setelah ijab kabul, aku harap kamu jangan pernah temuin lagi Mas Bram, karena secara agama dia sudah sah jadi suami aku" Seru Silvana sambil menatap tajam.


"Na, aku..." Aini menunduk ia hanya menangis mendengar apa yang di katakan sahabatnya itu.


Silvana sebenarnya meradang, ia tidak tahu harus bersikap seperti apa, tepat seminggu sebelum pernikahannya, Silvana melihat Bram memeluk Aini, pelukan itu di barengi dengan pengakuan Bram yang ternyata memendam rasa pada Aini, semenjak pertemuan pertama mereka. Persis ketika Aini baru saja sampai dari Jogja, kampung halaman ibu dari Silvana. Waktu itu ibu dari Aini yang merupakan adik sepupu dari Nesya ibunda Silvana, meninggal dan posisinya Aini sendirian, semua saudara yang ada di kampung halaman mereka, menolak untuk mengurus Aini. Nesya yang mendengar itu langsung turun tangan, mengambil ponakannya itu.


Itu kejadian 3 tahun lalu, berarti Bram sudah menyukai Aini sejak ia berumur 14 tahun, dalam hati sebenarnya ia bertanya, apa yang kurang dari dirinya, banyak laki-laki yang jatuh cinta sampai rela sujud-sujud di depan Silvana, kalau bahasa anak jaman now nge bucin. Tapi apa yang terjadi, Bram malah jatuh cinta pada Aini. Padahal Bram sudah di tunangkan dengan Bram sejak Silvana masih berumur 3 tahun dan Bram 6 tahun.


Silvana tahu, saat Bram memaksa untuk memeluk Aini, ia mati-matian melepas rengkuhan Bram, tapi toh ujung-ujungnya Aini pasrah juga. Ia mengaku juga mencintai Bram dan juga menyayanginya, tapi ia lebih menyayangi Silvana, jika harus memilih lebih baik Aini membunuh perasaannya pada Bram, ketimbang harus di benci oleh Silvana yang sudah sangat baik padanya.


Mendengar semua itu Silvana dengan kupingnya sendiri, Silvana hanya terdiam. Sialnya, Aini melihat Silvana sedang memperhatikan mereka, jadilah Aini melepas pelukan Bram. Saat itu Silvana berlari ia memang kecewa dengan Bram dan Aini, tapi anehnya ia tidak merasakan amarah yang seharusnya ada, karena sejujurnya Aini memang menyukai Bram, secara natural rasa sukanya itu datang, hal wajar karena sejak kecil ayah Silvana sudah mencuci otaknya, bahwa Bram akan menjadi suaminya suatu hari nanti.


Malam hari setelah kejadian itu Bram datang berkunjung ke rumah Silvana dengan kondisi kedua keluarga tidak tahu apa yang terjadi, Aini pun turut ikut saat Bram mengajak mereka berdua keluar, ijinnya ke orang tua Silvana karena mau melihat rumah yang sudah disiapkan oleh keluarga Bram untuk mereka selepas ijab kabul nanti.


Silvana ikut saja, di dalam mobil dia hanya diam membisu, hingga Bram masuk ke dalam parkiran café yang biasa mereka datangi berdua.


"Ngapain kita kesini?" tanya Silvana dengan wajah datar


"Kita mesti ngomong de, aku mau jelasin semuanya" jawab Bram dengan lirih


Tanpa banyak mulut, Silvana langsung turun dari mobil tersebut dan masuk lebih dahulu, meninggalkan Aini dan Bram. Ia memilih tempat duduknya, tanpa memedulikan Bram dan Aini yang sedari tadi hanya menunduk. Bram hanya memperhatikan wajah Silvana yang tak punya ekspresi sama sekali, dia sudah hafal perempuan di depannya ini kalau sudah sangat marah atau kesal, Silvana malah justru akan diam saja, menjadi dingin itu tepatnya.


"De, mas disini mau jelasin semua, yang tadi siang itu..."


"Kita batalin aja mas, acara nikahan kita minggu depan"


"De..."


"Na...kamu salah paham, aku ga ada niatan ngerebut mas Bram dari kamu, demi tuhan Na, aku sayang sama mas Bram tapi aku lebih sayang lagi sama kamu, buat aku yang yatim piatu, tante, om apalagi kamu Na, itu segalanya Na, dunia aku ya kalian bukan orang lain"

__ADS_1


"Aku gak mau ngehalangin hubungan kalian berdua"


"De, mas disini ga minta banyak sama kamu, selama ini mas sayang sama kamu, di dalam hidup mas selama ini, mas cuma punya 1 calon istri dan itu kamu"


"Terus yang tadi siang itu apa?, Aku denger semuanya"


"Siang tadi mas sama Aini cuma mau menyudahi semuanya, kami cuma jujur sama perasaan satu sama lain itu aja, setelahnya kami berniat memutus semua perasaan kami satu sama lain"


Silvana berdiri, dia meninggalkan kedua orang itu. Ya ia merasa di khianati saat ini, sejak tadi siang dia mungkin tidak merasakannya namun sekarang ia sadar, ternyata sesakit ini. Baik Bram maupun Aini ikut mengejar Silvana, tapi naas Aini tersandung dan terjatuh, melihat hal itu Bram langsung balik arah dan menghengtikan langkahnya, untuk membantu Aini.


"Mas aku ga apa-apa, kamu kejar Ana aja, cepet mas.."


"Tapi kaki kamu tuh berdarah..."


Bram langsung menggendong Aini masuk kedalam mobilnya, sedangkan Aini berkali-kali memohon pada Bram untuk mengejar Silvana. Tapi tidak digubris oleh Bram, sedangkan Silvana hanya tertawa saja melihat semua itu, dia menyadari di hati Bram tak ada tempat untuknya.


Setelah kejadian terakhir itu, hingga hari pernikahannya, Silvana tidak banyak bicara, namun ia tak bisa tidur, memikirkan bagaimana bersuami seseorang yang tak mencintainya. Hingga akhirnya dia menanyakan kembali pada Aini saat itu, tentang perasaan yang masih ia simpan pada calon suami Silvana.


"Kamu masih cinta kan sama mas Bram?" tanya Silvana sekali lagi pada sahabatnya itu.


"Kalau aku boleh jujur iya Na...tapi aku tau kamu juga cinta sama dia, dan aku udah berkali-kali bilang kamu lebih penting daripada dia" jawab Aini dengan lirih


Mereka berdua saat ini hanya terduduk, dan kedua menunduk sambil menangis. Tak lama kemudian, Nesya ibu dari Silvana masuk ke dalam kamar anaknya dengan wajah pucat.


"Kalian berdua sekarang ikut ibu" seru Nesya sembari membanting pintu


"Kita mau kemana bu?" tanya Silvana yang langsung berdiri karena kaget, begitu pula Aini.


"Na, Bram kecelakaan tadi malem, dia tabrakan karena mabuk" jawab Nesya sembari memeluk Silvana


"APA!" Silvana dan Aini kompak berteriak, mereka tidak percaya dengan apa yang baru mereka dengar saat ini.


Aini hanya terdiam, ia terduduk di lantai saat ini, Aini langsung merasa nyawanya terangkat setengah, ia tak percaya dengan apa yang dia dengar. Sedangkan Silvana dia langsung keluar kamar, lalu mencari penghulu.


"Pak saya minta tolong, ikut saya" seru Silvana.


"Lho Na, kenapa kamu nyuruh pak penghulu ikut?" tanya Akbar, ayah Silvana yang sedang bicara dengan pak penghulu.


"Hari ini harus terjadi yah. Harus ada pernikahan walaupun dirumah sakit" ujar Silvana dengan wajah sangat serius


"Kamu serius Na?" Akbar kaget mendengar apa yang dikatakan oleh anaknya.


Silvana hanya mengangguk dan langsung masuk kembali kedalam kamarnya, dengan kasar ia memasukan semua make upnya lalu baju kebaya puti dari lemarinya.


"Bu, Yah Ana pergi dulu kerumah sakit, pak penghulu dan Om Indra ayo ikut Ana. Ibu tadi apa nama rumah sakitnya?"


Silvana langsung meluncur dengan cepat setelah ibunya memberitahu nama rumah sakitnya, sedangkan ia pergi bersama dengan penghulu dan Indra adik dari alm ayah Aini, yang masih saudara dari ayah Silvana. Sesaat mereka sampai, calon mertua Silvana menangis melihat calon menantunya itu.


"Mami, mas Bram dimana?" tanya Silvana kepada Indah, ibu dari Bram


"Didalam Na, dia masih belum sadar" jawab Indah, seraya memeluk Silvana


"Aini ayo masuk" Silvana menaarik tangan Aini untuk masuk kedalam ruangan.


"Aini?" Indah melihat Aini dengan tatapan sangat benci, sambil menahan Aini untuk tidak masuk kedalam ruangan putranya sekarang.


"Mami?" tanya Silvana heran


'PLAAAAAK' sebuah tamparan keras mengarah ke wajah Aini, tamparan yang mebuat Aini tersungkur, saking emosinya Indah dia bahkan tak bisa mengontrol tangannya sendiri.


"OH JADI INI PEREMPUAN SIALAN, YANG SUDAH BUAT ANAKKU SAMPE KAYA GINI, GA TAU DIRI KAMU, SAMPAI KAPAN PUN AKU GA SUDI PUNYA MENANTU KAMU. SAMPAI MATI MENANTU KU CUMA SILVANA, PAHAM KAMU" Teriak Indah histeris, sampai ia di tenangkan oleh banyak para perawat yang ada disitu.


Aini hanya menangis tanpa suara, sedangkan melihat Aini di tampar oleh mami Indah, Silvana langsung membantu Aini untuk berdiri lagi


"Mami mami, udah Ana mohon, ini rumah sakit, biarin Aini masuk mi" Seru Silvana sambil bersujud di depan kaki Indah


Semua yang ada disitu terkejut melihat apa yang Silvana lakukan, bahkan Aini berusaha untuk membangunkan Silvana dari posisi sujudnya itu, tapi tangan Aini di hempas oleh Silvana.


"Na...mami gak mau dia ketemu Bram lagi, kamu kenapa sampai segininya belain perempuan jahat ini. Tolong nak berdiri, mami sayang sama kamu, gam au liat kamu kaya gini" seru Indah yang tak tega pada Silvana


"Mi, aku minta tolong sama mami, sampe mami kasih ijin Aini boleh masuk ke dalam kamar, aku akan terus sujud sama mami. Gimana pun mami tetap mami aku, walaupun aku bukan anaknya mami, aku sayang sama mami dan selalu anggap mami ibu kandung aku" tangisan Silvana pecah saat itu juga.


Bagi mereka berdua, Indah dan Silvana, hari ini akan jadi hari yang berat. Mereka saat ini hanya menangis sambil berpelukan, hingga tak lama Indah membiarkan Aini dan yang lainnya masuk.


"Mas, aku sama Aini datang" ujar Silvana, seraya memberi isyarat pada Aini untuk mendekati Bram.


"Mas Bram" panggil Aini


Hanya 5 menit disitu dan dengan terus memanggil juga menggenggam tangan Bram, Aini mampu membuat Bram sadarkan diri.


"A...a...aini...." Panggil Bram dengan suara seraknya

__ADS_1


"Mas, iya mas aku disini.." Aini mengeratkan tangannya ketika mengdengar suara Bram


Suatu keajaiban yang bahkan Silvana sadari, hanya mampu dilakukan oleh sahabatnya itu dan bukan dirinya. Ana menghapus air matanya dengan kasar.


"Ana...mas Bram bangun Na..." ujar Aini dengan gembira


"Aku panggil mami dulu" Silvana keluar dari ruangan, dengan lunglai. Ia menangis, karena semua ini sebenarnya berat baginya, ia harus membiarkan kedua orang yang ia sayangi itu berbagi waktu bersama.


"Ana, gimana Bram?" seru Indah pada Silvana


"Mami... dengarkan aku kalian semua yang ada disini" ujar Silvana tanpa menjawab pertanyaan Indah


"Aku memutuskan untuk tidak menikah dengan mas Bram, sebagai gantinya, aku ingin Aini yang menikah hari ini dengan mas Bram"


Saat itu ayah dan ibu dari Ana datang, mereka kaget melihat dan mendengar apa yang di katakan oleh Silvana.


"SILVANA GILA KAMU YA?! KAMU MAU BIKIN MALU BAPAKMU INI?" seru Akbar geram, ia tak bisa mengerti jalan pikiran anaknya itu, ia hanya bisa terduduk sambil mengurut kepalanya, yang serasa mau copot.


Sedangkan Aini, yang sedari tadi menunggu Silvana akhirnya memutuskan untuk keluar menghampiri Silvana. Ia kaget mendengar pernyataan Silvana, yang saat ini menahan tangisnya.


"Na...ga aku gam au" jawab Aini


"Ana, kamu serius nak? Bukannya kamu cinta sama Bram?" tanya Nesya sambil memeluk tubuh anaknya yang saat ini berusaha bersikap kuat.


"Ana tolong jangan kaya gini, aku gak mau. Kamu lebih berhak untuk mas Bram ketimbang aku" pinta Aini memelas kepada Silvana


"MAS BRAM BUTUH KAMU! DIA BUTUH KAMU BUKAN AKU!" bentak Silvana. Sedangkan orang-orang yang ada disitu hanya terdiam, karena mereka sangat shock, melihat Silvana yang benar-benar mencintai Bram, hingga berkorban perasaan.


Indah tidak bisa menerimanya, apalagi Bram begini karena Aini. 3 hari sebelum pernikahan, Bram terus menerus pulang dalam keadaan mabuk, ia tak bisa melakukan apa-apa, ia terus meminta ibunya untuk menghentikan pernikahannya.


"SILVANA, MAMI GA MAU PUNYA MENANTU SELAIN KAMU NA" pinta Indah pada Silvana.


"Mi, Ana mohon mi, mami ga liat mas Bram" jawab Silvana sambil menangis.


Saat itu semua orang menangis, mereka menyadari Bram sangat mencintai Aini, bahkan pengorbanan Silvana saat ini mungkin tidak akan mengubah perasaan Bram yang memang hanya terpaut pada Aini.


"Cuma dengan disentuh Aini dia udah sadar, apa mami mau mas Bram ga bangun bangun?" ujar Silvana sambil menangis kencang.


Indah akhirnya mengalah, ia hanya bisa menyadari kalau perempuan muda yang berdiri di depannya saat ini 100% benar, dan bagaimana Silvana merendahkan ego-nya agar Bram bisa bahagia, itu membuat Indah malah justru semakin menginginkan Silvana sebagai menantu ketimbang Aini, tapi saat ini yang paling penting adalah keselamatan anak semata wayangnya itu.


Setelah mendapat ijin dari Indah, Silvana langsung masuk ke ruangan Bram, disana Bram sudah lebih stabil. Ia bahkan sudah bisa duduk di ujung ranjang.


"Ana, aku mau minta maaf sama kamu..." ujar Bram sambil menunduk.


"Mas Bram, aku kasih mas Bram waktu sentengah jam. Hari ini mas bakalan nikah sama Aini" belum sempat Bram melanjutkan kalimatnya, Silvana langsung memotong pembicaraan tersebut.


"Hah, de kamu ga salah ??? nikah sama Aini hari ini?" tanya Bram dengan wajah sangat terkejut.


"Aini kamu ikut aku" Silvana langsung menarik tangan Aini dan membawanya keluar ruangan.


Silvana membantu Aini menggunakan kebaya putih yang tadi ia bawa, dan kini ia bahkan memulaskan riasan di wajah Aini.


"Na..."


"Apa?"


"Maafin aku, maafin aku karena aku udah ngancurin hati kamu" seru Aini sambil menunduk.


"Jangan nangis nanti make upnya luntur" jawab Silvana dengan nada datar.


Silvana hanya diam, tak bersuara. Jujur hatinya sakit, tapi ia tak mendendam, semuanya terjadi begitu saja.


Pernikahan Bram dan Aini pun berjalan lancar, sederhana hanya ada penghulu dan saksi, juga orang-orang yang hadir karena mendapat berita tentang kecelakaan Bram.


Belum selesai acara pernikahan itu, Silvana sudah menghilang duluan. Ia sedang duduk di taman depan rumah sakit sambil menangis. Ia tahu ini yang terbaik bagi semua pihak, tapi tetap saja ini tidak mudah bagi dirinya. Satu persatu kenangan manis sejak ia bersama Bram terulang kembali seperti potongan film di dalam pikirannya.


"Ga baik calon pengantin nangis, suami kamu mati atau gimana?" Ujar seorang lelaki yang tiba-tiba duduk disamping Silvana.


"Hah? Urusannya apa sama kamu?"


"Hahaha, ya siapa tau aja kan, kalo kamu janda aku juga ga nolak"


"Gila ya? Saya ga kenal sama anda, stress tau ga"


Silvana berdiri dan meninggalkan pria bermata biru itu, tapi belum sempat ia pergi tangannya langsung ditarik oleh si pria tersebut.


"Kalo ga kenal ya kenalan dong, kenalin nama saya Zen Aramazd Mahendra, umur 20 tahun, anaknya ibu Galina Ariadna Mahendra, temennya ibu kamu. Aku dateng kesini soalnya ku kira orang yang mau di jodohin sama aku dulu jadi nikah, eh ternyata nikahannya gagal. Oh iya salam kenal, anaknya tante Nesya Claudia Gunadhya. Silvana Raihana Gunadhya"


love #teen #teenagers #japan #jepang


 

__ADS_1


 


__ADS_2