ME VS MY BROTHER

ME VS MY BROTHER
Episode 58


__ADS_3

“Kamu kenapa Di?...Astagfirullah…” ucap Icha dengan wajah yang sekarang juga jadi pucat. Kedua gadis ini saling bertatapan, tak percaya dengan apa yang mereka lihat.


Gelap, itulah yang di rasakan oleh Claudia beberapa saat setelah melihat video yang dikirimkan oleh seseorang, yang bahkan tidak ia kenal. Gadis ini kebingungan, kenapa ia harus menerima tautan tidak senonoh seperti itu.


Jika saja itu perbuatan orang iseng, mungkin Claudia tidak akan akan sekaget ini. Ia bisa dengan mudah mendelete dan mengabaikan pesan itu. Namun tidak, dia tak bisa lakukan itu saat menyadari bahwa pria yang tengah melakukan adegan di dalam video itu adalah Aksa.


Baru saja Claudia memutuskan untuk bicara kembali dengan pria itu, tapi dalam hitungan menit semua keputusannya hancur berantakan. Dipikirannya ia menyadari seberapa penting Aksa baginya selama mereka berjauhan.


Dengan pasti gadis ini memantapkan hati untuk menyatakan seluruh perasaannya pada Aksa. Tetapi dengan semua yang terjadi, jujur saja ia marah juga kecewa , walaupun hubungan mereka hanyalah sebagai kakak dan adik, namun betapa murkanya Claudia saat menyaksikan apa yang dilakukan Aksa.


Suatu ironi memang, ketika ia ingin jujur bahwa ia membutuhkan Aksa dan setidaknya ingin meluruskan kesalah pahaman mereka, Claudia justru bagai tersambar petir di siang hari.


Icha disisi lain nampaknya merasakan hal yang tak jauh berbeda, gadis polos situ bahkan hampir berteriak, jika bukan karena Claudia menghentikannya Icha pasti histeris.


“Cha…” Claudia menggelengkan kepalanya, meminta Icha untuk tidak panik.


“Tapi Di…ini ka Aksa kan” Icha berucap dengan suara pelan.


Claudia hanya mengangguk, air matanya sudah mengambang. Claudia tidak bisa menahan rasa sakit hatinya, ia sedih dan air matanya sudah hampir jatuh dan Icha harus bergerak cepat untuk menyelamatkan suasana dan juga sahabatnya itu.


Icha lalu berdiri sambil menarik pelan tangan Claudia “Semuanya…aku mau ke toilet dulu ya, ayo Di temenin aku yuk…” seru Icha sambil tersenyum.


“Jangan lama-lama Cha, udah mau masuk…”ucap Alif dengan santai, sepertinya tak ada satu pun dari teman mereka yang menyadari bahwa Claudia menangis. Tentu Icha merasa lega, dengan senyum ceria ia berusaha menutupi temannya.


“Iyaaaaa, ayo Di”


Berlari, ya mereka dua mempercepat langkah jika tak ingin di bilang berlari. Lalu apakah mereka benar ke kamar mandi, tentunya tidak. Kini kedua gadis itu tengah menenangkan diri di taman belakang yang jarang ada orang disana.


“Cha…kenapa jadi kaya gini…” Claudia tak bisa bicara dengan lancar, ia terisak. Di detik ia duduku disaat itu pula lah gadis ini menangis.

__ADS_1


Icha menarik tubuh Claudia dan merangkulnya. Gadis ini menyayangi Claudia bagaikan saudara kandungnya sendiri, jadi jelas diantara teman-temannya yang lain Icha yang paling dekat dengan Claudia. “Claudia….kamu yang kuat, yang tabah…”


“Ini terlalu sakit Cha….aku ga kuat liatnya…”


“Aku tahu ini pasti sulit, sekarang kamu boleh nangis tapi setelah ini kamu harus angkat kepala kamu dan tunjukin kalau kamu itu bisa tegar, aku dan yang lain akan selalu ada buat support kamu…” Icha menepuk pelan lengan Claudia, berusaha menenangkan.


Cukup lama Icha membiarkan sahabatnya itu menangis, baginya ini hal yang tepat, ia tak perlu banyak berkomentar.


“Cha....maafin aku…” ucap Claudia secara tiba-tiba, membuat Icha bingung.


“Buat apa kamu minta maaf Di?” Seingat Icha, Claudia sama sekali tidak punya salah padanya, jadi kenapa sahabatnya itu meminta maaf.


“Maaf karena aku udah nyakitin kamu, aku tahu kamu suka sama ka Reiki….”


Icha menatap sahabatnya itu, bodoh sepertinya jika mengira Claudia tidak akan sadar tentang perasaannya selama ini pada Reiki. Gadis ini sempat terdiam, namun tak berlangsung lama karena ia dengan cepat Icha memasang senyum manis di wajahnya.


“Di…kamu ga perlu minta maaf…aku percaya jodoh itu ada ditangan Tuhan” seru Icha.


Di sisi lain, Aksa sangat kesal dia murka. Rasanya dia ingin sekali mengamuk dan menghancurkan seluruh bagian rumah Syakila, namun hal itu cuma bisa terjadi di dalam pikirannya.


“Aku gak percaya Syakila setega itu sama Claudia…” tutur Aksa dengan suara pelan, sayangnya suara Aksa tidak cukup pelan untuk Icha yang sensitif terhadap bunyi.


“Syakila?” Icha mengerutkan dahinya. Tunggu dulu nama itu tidak asing di telinganya.


Seorang wanita datang dan duduk bersama orang yang ada didepannya. Suara wanita itulah yang membuat Icha terkejut, karena yang diucapkan oleh orang tersebut adalah nama yang familiar di kuping Icha.


“Halo Reiki, saya Syakilla..” seru perempuan itu.


‘Ka Reiki?, uhm…’ gumam Icha penasaran. Tidak biasanya Reiki bertemu dengan perempuan, apalagi wanita yang ia temui ini gaya busananya bukan type Reiki sama sekali. Dengan kemeja biru muda yang sizenya kekecilan, hingga membuat bentuk dada wanita itu benar-benar terlihat, dan juga rok hitam super pendek.

__ADS_1


‘Tunggu dulu bukannya Syakila itu perempuan yang ditemuin sama Ka Reiki tempo hari di mall?’ gumam Icha dalam hati.


“Cha? Kamu kenapa?” tanya Aksa, ia merasa Icha sedikit terguncang setelah mendengar nama Syakila, apa Icha kenal dengan mantan kekasihnya itu? entahlah masih jadi misteri untuknya.


Rasa penasaran baru kali ini menghampiri gadis itu, ia sepertinya harus memastikan adanya korelasi antara Aksa dan Syakila, karena jika benar yang ditemui oleh Reiki adalah seseorang yang dekat dengan Aksa, maka besar kemungkinan bahwa semua yang terjadi ada hubungannya dengan Reiki.


Icha mulai bicara dengan berat hati ia bertanya pada Aksa.“Kak…maaf sebelumnya kalau Icha lancang, tapi Syakilla itu siapanya kakak ya?” tutur Icha sambil menatap Aksa dengan wajah yang tak tenang sama sekali.


Aksa kembali curiga, ia memang baru dekat dengan teman-teman Claudia, tapi ia tahu persis bahwa Icha bukanlah tipe orang yang ingin tahu masalah orang lain, kecuali ada sesuatu yang Aksa sama sekali belum ketahui. Yang pasti butuh alasan kuat untuk Icha, ikut campur urusan orang lain.


Pria itu menarik nafas panjang dan mengeluarkannya secara perlahan, seakan menenangkan pikirannya sebelum menjawab pertanyaan Icha. “Syakila itu mantan pacar aku Cha waktu SMA, tapi kita udah lama putus cuman beberapa bulan terakhir ini kita emang berhubungan lagi…”


Icha memalingkan mukanya, jadi benar yang ia duga, Reiki memang tak main-main dengan apa yang dikatakannya.


Gadis ini merasa patah hati, bukan karena Claudia bisa jadi segera menikah dengan lelaki yang ia cintai, namun hatinya hancur ketika menyadari betapa jauhnya Reiki melangkah dengan menghalalkan segala cara.


Entah bagaimana, kini Reiki yang baik hati, sabar dan penyayang, Reiki yang selama ini di kenalnya, hilang begitu saja bagai air yang menguap. Saat ini Reiki sudah berubah menjadi monster dengan segala obsesinya terhadap Claudia.


Icha semakin yakin untuk mencari tahu kebenarannya, yang ia butuhkan kini adalah bantuan dari Eros, lelaki yang punya banyak koneksi.


Namun, bukan Icha namanya jika tidak berusaha untuk tetap mengusung praduga tak bersalah, ia masih yakin ada kemungkinannya Reiki tak terlibat walaupun sedikit.


‘Kak Reiki, kenapa bisa jadi jahat kaya gini. Tunggu dulu Cha, suudzon begini bisa jadi emang kesalahannya ka Aksa…tapi waktu itu ka Reiki emang nyuruh perempuan itu…” ucap Icha dalam hati, ia masih berusaha berpikiran positif.


“Cha kamu serius gak apa-apa??” seru Aksa menanyakan Icha, karena gadis ini juga sama pucatnya dengan Claudia.


“Iya kak, aku minta maaf ya ka…kayanya aku harus pulang dulu sekarang….permisi kak…” tutur Icha, dia pun pamit dan langsung keluar dari kamar sahabatnya itu.


Icha lalu mengeluarkan ponselnya dan menghubungi Eros, lebih cepat lebih baik pikirnya.

__ADS_1


“Halo, Assalammuaalaikum ka Eros…Iya, uhm Icha mau minta tolong…Ini penting, bisa kita ketemu?....Ok, malam ini ya kak…harus secepatnya karena ini ada hubungannya dengan Reiki Alvaro”


__ADS_2