
Sepi tanpa ada suara, hanya ada dentingan piranti makan yang bersingunggan satu sama lain. Kenapa semuanya sepi, tentu karena dua orang yang saling tidak bicara itu. Siapa lagi kalau bukan Aksa dan adik tercintanya, Claudia.
Sayangnya hal ini ternyata membuat rasa tidak nyaman anggota keluarga yang lain memuncak. Nesya contohnya, dia merasa kesulitan karena Aksa sama sekali menolak di ajak bicara, sedangkan Claudia enggan memberitahu apa yang terjadi, dan meminta eyangnya itu untuk menunggu.
Kondisinya makin parah sejak Claudia kembali sehabis bertemu ayahnya, dia sama sekali tidak ingin membicarakan apapun yang berhubungan dengan Aksa. Alasannya, karena ada orang yang lebih tahu banyak mengenai kakaknya itu ketimbang dirinya, dan Claudia tidak mood untuk bicara dengan Aksa.
Kakak tiri Claudia ini pun setali tiga uang dengan adiknya, sama-sama bungkam. Apalagi Aksa malah secara terang-terangan juga ikut menjauhi Claudia.
Melihat kondisi seperti itu, akhirnya Bram dan Silvana merencanakan untuk liburan bersama. Hanya saja mereka tidak bisa berpergian jauh karena suami istri itu sibuk, Aksa pun juga sedang mengerjakan proyek besar, lalu Claudia juga baru mulai masuk sekolah.
“Nah papa punya pengumuman, kita bakalan jalan-jalan ke puncak jumat ini” seru Bram tiba-tiba.
Aksa langsung berhenti makan, dia melihat kearah papanya dengan wajah tidak senang. Sekarang ini dia sedang dalam masa membuat Claudia mendekatinya, dia takut jika pergi bersama-sama, ujung-ujungnya dia bisa kebablasan mendekati adik tirinya itu lagi.
“Kok mendadak gitu sih pa?, Aksa lagi sibuk banget di kantor, mana bisa pergi mendadak begini”
“Ya kalo di rencanain malah cuma jadi wacana doang akhirnya, yaudah kalo kamu gak mau ikut ya gak apa-apa” jawab Bram santai.
“Bunda…” seru Claudia pelan.
“Ya sayang?”
“Boleh ade ajak ka Reiki?” tanya Claudia, gadis ini memang sedang berusaha mendekati Reiki, caranya sederhana dia terus menempel dengan kakak sepupunya itu. Alasannya banyak yang bilang cinta karena biasa, mungkin nantinya dia bisa menjadi cinta karena terbiasa.
“HAH YA GAK BOLEH LAH!!!” Aksa marah, sangat marah dia bahkan membanting sendok dan garpunya, membuat semua orang yang ada disitu melihat kearahnya, kecuali Claudia.
Tapi Bram, sama sekali tidak perduli. Dia sudah tahu sedikit banyak anak sulungnya itu punya perasaan lebih pada Claudia. Bodoh jika dia tidak menyadari gelagat anaknya sendiri, bagaimanapun sejak awal dia sudah curiga pada tingkah laku Aksa.
“Boleh-boleh ajak aja, gimana pun dia kan calon suami kamu…” lanjut Bram, sambil kembali melanjutkan makannya.
“PAPA APAAN SIH…INI ACARA KELUARGA NGAPAIN NGAJAK ORANG LUAR?!!” protes Aksa.
“Kamu ajak Syakilla sekalian ka, biar makin rame…nanti papa bilangin sama anaknya” Bram membalas ucapan Aksa, tapi yang shock mendengarnya malah Claudia.
Gadis ini mengingat saat Aksa bergandengan mesra dengan perempuan bernama Syakilla itu, sejujurnya ini sudah benar. Tapi entah kenapa Claudia tidak bisa menerimanya, rasanya sakit.
“APAAN SIH PA, POKOKNYA AKSA GAK MAU AJAK ORANG LAIN” Aksa benar-benar emosi, kenapa harus bawa-bawa Syakilla lagi. Aksa bisa merasakan Claudia benar-benar kesal saat Bram mengucapkan nama Syakilla, gadis itu langsung menaruh sendok dan garpunya di piring, dan menatap tajam kearah Aksa, jelas saja itu ungkappan kemarahan.
“Ka Reiki itu bukan orang luar, dia calon suami aku” seru Claudia dengan nada datar.
__ADS_1
Ini pertama kalinya Claudia membalas ucapan Aksa setelah bilang dia ingin menikah dengan Reiki, tapi tentu saja ucapan gadis itu bukan sesuatu yang ingin di dengar oleh Aksa.
“CLAUDIA”
“Terserah kakak mau terima kenyataan atau gak, dia itu calon suami aku, calon imam aku, calon ayah dari anak-anak aku, dan orang yang bertanggung jawab atas diri aku kelak. Jadi dia itu bukan orang lain…” seru Claudia.
Melihat kondisi sudah tidak kondusif Nesya dan Silvana hanya bisa geleng-geleng saja. Sedangkan Bram, juga terdiam saja tidak berkomentar lagi. Sejujurnya Silvana juga tidak bisa menebak apa yang direncanakan oleh suaminya itu, jadi dia memilih untuk tidak banyak komentar.
“KAMU TUH DIBILANGIN KENAPA SUSAH BANGET SIH, GA USAH AJAK-AJAK REIKI !” Aksa emosi, kenapa Claudia harus mempertegas status Reiki kelak, padahal pria ini percaya jika dialah yang akan jadi suami Claudia nanti.
“Kekanak-kanakan banget sih kak” Claudia membalas ucapan Aksa dengan sinis, kenapa dia harus marah-marah kalau ujung-ujungnya, Aksa juga sudah memilih Syakilla jadi pendamping hidupnya kelak.
“APA!”
“Kakak sendiri, mau lanjutin tunangan kakak sama Syakilla kan?”
Ruang makan langsung menjadi sunyi, Bram, Silvana dan Nesya kali ini benar-benar kaget, mereka sekali lagi melihat kearah Aksa, tidak percaya dengan apa yang mereka dengar.
“Betul itu kak?” seru Bram sambil tersenyum, tentu saja jika Aksa memutuskan untuk bertunangan dengan Syakilla, orang yang paling senang adalah Bram. Ia sudah berusaha mendekatkan putranya itu kembali, dengan perempuan yang masih merupakan keponakannya, namun sayang Aksa selalu menolak.
Jika memang apa yang di dengarnya ini benar, maka satu urusan sudah beres, Bram tidak perlu campur tangan lagi untuk urusan menikahkan Aksa dan Syakilla.
“Kak kok bunda gak tahu?” Silvana beraksi berbeda, ibu sambung Aksa ini tidak senang dengan apa yang ia dengar. Sejak awal Silvana memang tidak suka dengan Syakilla, yang ia nilai sebagai perempuan yang tidak baik.
Mulut manis Syakilla, dan sikapnya anggunnya yang seperti dipaksakan itu tidak mempan membuat ibu sambung Aksa ini luluh, dia tau dengan persis semua hal sudah diperhitungkan oleh gadis itu.
“Kenapa, kakak kok diem bilang dong sama semuanya kalau kakak juga mau nikah sama ‘MANTAN PACAR’ kakak itu” Claudia melihat kearah Aksa dengan kesal.
‘Sialan, kenapa jadi senjata makan tuan gini sih. Claudia bener-bener marah kayanya, tapi aku bisa rasain kalo dia cemburu banget sama Syakilla. Duh gusti aku kudu piye’ gumam Aksa dalam hati.
Tidak adanya jawaban dari Aksa malah membuat Claudia semakin panas, gadis ini kesal melihat Aksa yang tidak mengiyakan namun juga tidak membantah.
‘Dasar lelaki kardus, nyesel aku suka sama kamu ka, emang mendingan aku sama ka Reiki aja dari awal. Kesel banget aku, dasar Kaijuu ga punya perasaan’ Claudia terus bergumam dalam hati, ya dia memang sangat kesal dengan pria yang duduk di depannya itu.
“Pokoknya ade mau ajak ka Reiki, kalo gak ada gak mau ikut. Makasih makananya, ade naik duluan” ucap Claudia sambil meninggalkan keluarganya di ruang makan.
Setelah itu mereka masih melanjutkan makan malamnya, tanpa ada satu orang pun yang kembali membicarakan masalah jalan-jalan dan pertunangan Aksa dengan Syakilla.
Malam itu ditempat yang berbeda, Reiki sudah duduk menunggu seseorang, siapa lagi kalau bukan Syakilla.
__ADS_1
“Udah lama nunggu?” Syakilla tersenyum lalu duduk di depan Reiki.
“Gak juga..” jawab Reiki dingin.
Syakilla membolak-balik menu, dia memesan minuman lalu kembali melihat kearah Reiki sambil tersenyum sinis.
“Jadi, mau obrolin apa ?”
Reiki mengeraskan rahangnya, dia teringat Claudia menangis sehabis keluar dari Café tempat mereka berempat bertemu. Tentu saja apa yang terjadi di café itupun sudah di rencanakan oleh Reiki dan Syakilla.
Saat perempuan itu pamit mau menghubungi seseorang sebentar, yang di hubungi oleh Syakilla tidak lain adalah Reiki, gadis ini memberitahu lokasinya ada dimana, lalu membuat semuanya terlihat seperti sebuah ketidak sengajaan.
Akan tetapi walau Reiki tahu tentang rencana ini dan kemungkinan Claudia akan sedih, hati pria ini tetap sakit melihat gadis kesayangannya itu menangis, apalagi karena pria seperti Aksa.
“Syakilla, aku mau kita percepat semuanya..” Reiki bicara dengan sangat serius dengan Syakilla, sedangkan perempuan yang ada didepannya itu malah tertawa melihat Reiki.
“Kenapa mesti buru-buru banget?, permainan kita baru di mulai, gak seru dong kalo langsung game over gitu buat Claudia”
Reiki terkejut mendengar ucapan Syakilla, tapi memang dia tahu bahwa Syakilla pun punya dendam pribadi pada tunangannya itu. Kali ini Reiki masih bisa diam, karena tujuan mereka sama untuk memisahkan Aksa dan Claudia. Tapi Reiki bersumpah, jika dimasa depan Syakilla berusaha menyakiti perempuan yang paling ia cintai itu, jangan harap Syakilla masih bisa melihat matahari di esok hari.
“Claudia minta menikah setelah dia ulang tahun”
Sekarang gantian Syakilla yang terdiam, Claudia meminta Reiki menikahinya secepat itu?, jadi masalahnya ada dimana, kenapa Reiki harus buru-buru menyelesaikan rencana mereka.
“Terus kenapa harus di percepat rencana kita”
“Apa kamu ga bisa liat tampang Aksa waktu itu kaya gimana, selain rencana yang dibuat sama kamu, pasti dia rencanain hal yang lain” seru Reiki marah.
“Iya juga sih ya, tapi kamu santai aja” Syakilla membuka tasnya dan mengambil ponselnya.
“Maksud kamu” Reiki mengangkat alisnya, pria ini agak bingung.
“Karena keberuntungan ada di pihak kita” Syakilla lantas memberikan ponselnya kepada Reiki.
Perempuan ini menunjukkan chat Bram kepadanya, bahwa papa dari Aksa itu mengajak Syakilla untuk ikut pergi liburan bersama keluarga mereka.
Reiki tersenyum senang, dia sangat puas. Jika dia juga di undang, maka semuanya akan berjalan sangat baik.
“Perkiraan aku besok pas kamu anterin Claudia ke sekolah, pasti dia bakalan ajakin kamu untuk ikutan juga”
__ADS_1
“Iya, aku rasa juga begitu…” Reiki tertawa senang, dia juga jadi bisa melihat bagaimana reaksi Aksa nantinya.
“Tenang Reiki, yang perlu kamu lakuin sekarang adalah, bikin Claudia untuk membuat mas Aksa, Depresi lagi…” seru Syakilla sambil tersenyum.