ME VS MY BROTHER

ME VS MY BROTHER
Episode 15


__ADS_3

Claudia beberapa kali melihat jam, ia tahu sebentar lagi Reiki dan keluarganya akan datang. Beberapa kali ia menggelengkan kepalanya, Claudia berpikir, kalau memang keluarga Reiki mau datang ya sudah biarkan saja, memangnya kenapa, toh ga ada urusan juga sama Claudia.


Sebenarnya itu hanya salah satu cara Claudia untuk menepis rasa tidak nyaman, ia dengan sangat sadar tahu bahwa Reiki pasti ingin melamarnya lagi. Claudia bukannya tidak suka, tapi ia tidak ingin membuat Reiki hanya menjadi sarana agar ia bisa bersama ayahnya kembali. Setidaknya hal itulah yang di ungkapkan oleh Reiki saat terakhir kali bertemu dengannya. Ide gila untuk membuat mereka menjadi sepasang suami istri, supaya Claudia bisa bebas mau melakukan apapun.


"Di, lo kenapa deh? Dari tadi ga fokus gitu?" seru Rima.


"He eh, dari tadi lu kaya ga nyaman, sebenernya kenapa sih Di?" tukas Melvin.


Teman-teman Claudia ternyata menyadari bahwa Claudia sama sekali tidak fokus, mereka bingung gadis cantik itu bertingkah berbeda dari biasanya.


"Hmmmm, sorry....sebenernya.....hari ini gw mau dilamar"


Semua yang ada disana terkejut, Melvin bahkan menjatuhkan ponselnya. Semua jadi jelas, karena Claudia berdandan dan memakai baju yang tidak biasa dipakainya.


"Lah lu serius? Claudia lu jangan canda deh!!!" tukas Shiva dengan wajah super kaget.


"Kamu mau dilamar sama siapa Di?" tanya Icha dengan wajah khawatir.


"Lo kagak di jodohin sama om-om macem kaya di film-film gitu kan, kalo iya ayo kita kabur aja sekarang!?" seru Alif langsung membuka tasnya, berniat membereskan alat musiknya.


"Gaaaaaaa....tunggu dulu Lif, kalian dengerin gw dulu..." celetuk Claudia.


Claudia membuat teman-temannya yang tadi bergegas mengikuti Alif, langsung berhenti. Mereka semua tanpa disuruh kini duduk mengelilingi Claudia.


"Jadi hari ini yang mau ngelamar gw itu ka Reiki..."


Rima, Icha dan Shiva langsung melotot berjemaah, mereka semua yang ada diruangan itu kenal dengan Reiki. Tapi khusus untuk para anak perempuan itu, Reiki punya tempat khusus di hati mereka. Wajah tampan blesteran, karier dan pembawaan Reiki yang lembut, membuat hati para anak gadis ini cenat-cenut.


Mereka sering bertemu dengan Reiki, karena tiap kali lelaki ganteng itu datang saat ada waktu kosong untuk menjemput Claudia, mereka pasti akan di ajak jalan-jalan. Untuk para anak cowo, mereka juga menyukai Reiki, alasannya kalau ada Reiki mereka kenyang, dan juga Reiki termasuk orang yang seru untuk di ajak gaul, walaupun gap umur mereka semua dengan Reiki agak jauh.


"Di, kalo lo dilamar sama bang Iki mah terima aja, coba lo pikir-pikir, naga terbang macem lo siapa coba yang mau, ya gw akuin sih lo cantik, cuman ketutup sama sikap beringas lo itu. Apalagi coba yang lo cari. Bang Iki kan baik, pinter, ganteng, kerjaannya bagus, tajir melintir lagi. Nikmat apa lagi yang kau dustai Claudia Ariadnaaaaaa..." seru Alif yang membuat Claudia langsung menghadiahinya dengan jitakan.


Rima dan Icha hanya bisa geleng-geleng, tapi sebenarnya sebagian besar omongan Alif ada benarnya. Claudia sangat beruntung jika bisa bersama dengan Reiki, karena mereka tahu banyak perempuan di luar sana yang berusaha mendapatkan hati Reiki dengan cara yang baik maupun tidak baik.


"Sejujurnya gw setuju dengan yang di bilang Alif, menurut gw mah terima aja Di" seru Melvin.


"Tapi Vin gw ga suka sama kak Reiki..."


"Cinta tuh bisa dipelajarin kok Di, gw bertahun-tahun bucin sama Shiva sekarang Shiva juga suka sama gw" seru Yudha yang di sambut wajah memerah milik Shiva, mereka memang baru saja jadian 3 bulan lalu. "Lagi dari yang gw liat bang Iki tuh budak cinta juga, keliatan banget dia sayang dan cintanya sama lo. Padahal kalo soal cantik, gw yakin pasti banyak perempuan lebih cantik, daripada lo diluar sana yang ngejar-ngejar dia" sambung Yudha.


Apa yang dibilang oleh Yudha membuat Claudia berpikir, apalagi yang dia cari. Reiki memang ingin menikahinya tapi bukan berarti mengekang kebebasannya. Reiki juga tidak pernah melakukan sesuatu yang membuat Claudia kesal, marah atau bahkan sedih. Kenyataannya Claudia tahu, dialah yang sering membuat pria itu bersedih.


Berbanding terbalik dengan Reiki, Aksa malah sering menyakiti hati Claudia. Tapi entah kenapa setiap memikirkan Aksa hati Claudia berdebar dengan sangat cepat. Claudia bingung, ia harus apa dengan perasaannya ini.


"Di, pengorbanan seorang pria yang jatuh cinta itu ga main-main lho, coba lo jangan langsung nolak gitu, gw rasa bang Iki ngelamar lo cepet-cepet gini karena dia takut lo direbut lelaki lain" tukas Yudha yang sadar bahwa Claudia memikirkan apa yang dia ucapkan tadi.

__ADS_1


Saat mereka ingin melanjutkan pembicaraan, mbak Kokom salah satu ART dirumah Claudia, datang dan membuka pintu studio.


"Non, itu tamunya udah dateng. Katanya bapak temen-temen non disuruh ikutan makan malem bareng" sebut mbak Kokom.


"Eh iya mbak...tar Ade kerumah..." jawab Claudia


"Yaudah kalo gitu mbak masuk duluan ya non..." mbak Kokom pun langsung bergegas keluar.


Teman-teman Claudia pun saling memandang satu sama lain, mereka sepertinya tahu lebih baik pulang saja, karena rasanya tidak pantas ada disini, sedangkan keluarga ini sedang ingin membicarakan hal yang penting.


"Di, kita pulang aja ya..." seru Rima


"Lho kok pulang ?? udah makan malem sini aja..." pinta Claudia


"Kita sih sebenernya mau-mau aja Di, tadi kayanya momennya ga cocok dah" Seru Alif.


"Numben lo waras Lif" tukas Melvin.


"Kampretos melawan Thanos, gw emang selalu waras coy" celetuk Alif sambil menoyor kepala Melvin, mereka semua pun tertawa.


Saat mereka sedang membereskan semua alat musik milik mereka, Icha tiba-tiba datang mendekati Claudia.


"Di..." panggil Icha lembut.


"Ya Cha?" jawab Claudia


"Tuhan tidak memberikan suatu ujian apapun kepada umatnya apabila hambanya tidak sanggup. Apa yang dibilang abang aku sama Yudha tadi ada benernya Di, tapi balikin semuanya ke hati kamu. Cinta itu tentang kenyamanan, bukan tentang materi. Cinta itu tentang pengorbanan bukan tentang meyakiti perasaan sendiri"


Claudia membelalakan matanya, ucapan Icha tadi entah kenapa membuatnya ingin menangis.


"Cha....aku mesti gimana, aku tau ka Reiki baik, tapi aku...." Claudia langsung menghambur menangis dipelukan Icha.


"Serahin semua sama yang diatas Di, sekeras apapun kita berusaha kalau bukan jalan kita ga akan pernah berhasil, banyak-banyak berdoa aja minta yang terbaik, minta jodoh yang bisa membimbing kamu menjadi manusia yang lebih baik" jawab Icha sembari mengelus lembut punggung sahabatnya itu.


Rima yang melihat Icha dan Claudia saling berpelukan itupun tersenyum, ia akhirnya keluar dari ruangan studio.


"Jalanin semuanya dengan berani Di, kalo lo takut semua yang buruk malah bakalan dateng ke hidup lo nanti, tapi kalo lo berani dalam mengambil keputusan di hidup lo, yakin aja ini semua pembelajaran dalam hidup. Kita masih muda kalo salah ambil opsi dalem hidup mah wajar, proses pendewasaan" seru Rima sambil ikut mengelus punggung Claudia.


Claudia dan teman-temannya pun akhirnya masuk kedalam rumah, dari dalam mereka mendengar suara tertawa, dan obrolan yang penuh canda. Claudia ketakutan, badannya gemetar, dengan cepat Shiva dan Icha langsung menggandeng tangan kanan dan kiri milik Claudia. Mereka semua pun akhirnya masuk kedalam ruangan untuk pamit pulang.


"Assallammuallaikum" seru mereka semua yang ada disitu


Reiki yang sudah duduk disamping ibunya itupun melihat kearah sumber suara.


"Waallaikumsallam" jawab semua yang ada diruang tamu.

__ADS_1


"Lho kalian ada disini?" tanya Reiki langsung berdiri sambil tersenyum, ia pun menyalami Yudha, Alif dan Melvin. Sedangkan teman-teman Claudia yang perempuan juga ikut menyalami kecuali Icha yang hanya mengangguk saja.


"Kalian ikutan makan malem aja yuk sekalian, biar seru rame-rame disini" seru Silvana


"Duh tante sebenernya kita pengen, tapi ga bisa tan. Udah di telepon mami nih hehehe" jawab Alif


"Iya saya juga tante" seru yang lainnya.


"Ya gitu ya, yaudah kalo gitu, ati-ati di jalan ya nak..." seru Silvana


Pada akhirnya teman-teman Claudia pun menyalami semua orang yang ada disana, termaksud Aksa yang dengan lunglai menuruni tangga.


Beberapa saat kemudian Claudia pun meminta ijin untuk ke kamarnya sebentar, dan langsung di iyakan oleh bundanya.


Silvana yang melihat anak lelakinya itu berjalan gontai, langsung berdiri dan menyeret Aksa untuk memberikan salam kepada Keiko dan Satyo. Aksa pun menyalami mereka dengan tersenyum dan tak lupa berjabat tangan dengan Reiki.


"Kei, mas Satyo, kenalin ini Aksa Faresta Priambudi. Panggilannya Aksa, kakaknya Claudia"


"Duh gantengnya, Aksa kayanya seumuran ya sama Reiki?"


"Iya Kei, Aksa lebih tua 3 bulan dari Reiki" jawab Silvana.


"Na, ade kok lama ya?" tanya Nesya


Aksa pun langsung bergerak, namun dihentikan oleh Silvana, karena pada saat itu Reiki juga berdiri dan langsung meminta ijin.


"Biar Iki aja yang samperin Claudia" seru Reiki sambil permisi kepada Nesya dan Silvana.


"Oh iya iya..."


Aksa sangat kesal saat itu, tapi dia ingat dengan perkataan bundanya tadi untuk sabar.


Disisi lain Claudia pun keluar dari kamarnya, tapi tidak langsung turun. Ia merapalkan doa didalam hatinya. Baru saja ia ingin turun, sekarang Reiki sudah berjalan di depannya.


"Ka Reiki..." seru Claudia.


Reiki mendatanginya dengan tersenyum, ia langsung menggampai tangan gadis mungil itu.


"Ayo kita turun" seru Reiki sambil menggandeng tangan Claudia.


Claudia pun hanya mengukuti saja dari belakang, sambil masih membiarkan tangannya di gandeng oleh Reiki, hingga turun kebawah. Melihat mereka berdua Keiko, Satyo, dan Bram tersenyum, tapi tidak dengan Silvana, Nesya apalagi Aksa.


"Aduh calon mantu aku, mesranya..." tukas Keiko, yang membuat Aksa ingin meninju Reiki saat ini juga.


Akhirnya mereka berdua pun duduk di bangku dengan masih bergandengan. Reiki memandang mesra kearah Claudia, sedangkan gadis itu hanya tertunduk malu.

__ADS_1


 


 


__ADS_2