
Terkadang dalam kehidupan ini, banyak sekali kejadian yang tak pernah di duga-duga. Sebagian dari kita merasa hidup itu seperti lakon dalam drama di televisi, nyatanya setiap perjalanan hidup manusia adalah sebuah lakon yang memang harus di jalani walaupun sangat berat.
Seperti yang di katakan Melvin, hidup manusia selalu menyimpan plot twistnya masing-masing. Tidak peduli latar belakang atau kehidupan seperti apa yang dimiliki oleh orang tersebut. Jika sudah garis takdir memutuskan untuk terus menerus menghandirkan kejutan, mau itu buruk atau pun baik, tak akan ada satu manusia pun dapat mencegahnya.
Kehidupan Aksa, kurang lebih juga tengah menjalani kejadian yang tidak terduga, siapa yang menyangka bahwa Syakila akan menjebaknya demi bisa menikah dengan Aksa.
Kini Aksa dihadapkan dengan desakan keluarga, tentu dari papanya. Entah ini baik atau buruk, Bram sendiri tidak bisa memutuskannya. Ia memang ingin Aksa menikah dengan Syakila tapi siapa yang menyangka, bahwa kejadiaannya malah akan seperti ini.
“Nikahi Syakilla secepatnya…” tutur Bram dengan nada tegas, tak ingin di bantah.
Pria itu rasanya bingung harus apa, satu sisi keinginannya bisa terwujud dengan adanya video itu. Aksa sudah tidak punya hak lagi baginya untuk menolak perintah agar segera menikahi Syakila, tapi di sisi ia kecewa kenapa putranya bisa berbuat hal seperti itu. Ia merasa ini hukum karma baginya, Bram tak bisa memikirkan jalan keluar yang lebih baik.
Bagaimana dengan Aksa? Tentu saja pemuda ini menolak, siapa yang amu menikah dengan perempuan jahat seperti Syakila, ini sudah keterlaluan, ia bahkan tak ingat apapun malam itu.
“Pa…Aksa udah jelasin sama papa, saat itu Aksa bener-bener ga sadar pa…” Aksa kini bersimpuh dilantai, berkali-kali memohon agar papanya tidak memaksa agar ia menikahi mantan pacarnya itu.
Sama halnya dengan Aksa, ibu sambung dari Aksa pun memohon kepada suaminya itu agar memikirkan ulang soal pernikahan antara Aksa dan Syakila.
“Mas, ini bisa aja akal-akalan Syakilla…” Silvana, sedari awal sudah curiga. Ia merasa ada yang tidak beres dengan putra sambungnya di dalam video itu, yang pasti Aksa tidak seperti biasanya.
“Akal-akalan gimana Na, anak ini mabuk gak sadarkan diri….terus berbuat zinah begitu…” Bram menaikan suaranya, ia ingin Silvana berhenti membela Aksa, karena mau sadar atau tidak yang Aksa lakukan itu tetap salah.
“Aksa gak mau pa…Aksa gak mau menikah sama Syakila, gak akan…Aksa gak mau” air mata Aksa mulai mengalir, kenapa ia malah jadi semakin jauh dengan Claudia, apa memang takdir tidak mempersatukan mereka dalam ikatan sebagai pasangan?, semua pertanyaan di benak Aksa saat ini, sungguh sangat menyiksa.
Bram marah, dia tidak ingin dipaksa, sebenarnya ini bukan masalah soal harta lagi, tapi ketakutan kalau video itu menyebar dan nama baik putranya akan tercoreng. Ia takut pada akhirnya seluruh usaha Aksa membangun perusahaannya akan jadi sia-sia, karena aib yang akan sulit untuk di hapus itu.
“AKSA…” bentak Bram pada putranya.
__ADS_1
“Papa tahu dari awal ini juga bukan pertama kalinya Aksa begitu sama Syakila, tapi yang ini Aksa beneran gak sadar. Apa papa tega bikin Aksa terjebak sama perempuan yang bisa menjebak orang lain kaya dia?” air mata Aksa mengalir deras, ia bukannya takut tapi sudah tidak tahu, harus bagaimana meyakinkan papanya itu.
Aksa tidak berbohong, dia memang tidak tahu kenapa bisa ada kejadian seperti ini. Di masa lalu ia memang berbuat kesalahan dengan melakukan kegilaan bersama Syakila, tapi itu sudah masa lalu dan jelas sekali Aksa tidak ingin mengulang kebodohannya itu, mengingat kejadian di masa lampau saja membuat ia bergidik ngeri.
Mendengar pernyataan Aksa dalam hati kecilnya Bram mengerti, ia juga tahu kalau putranya sudah kelewatan dalam berhubungan dengan Syakila, tapi sekarang konteksnya berbeda.
Silvana menggenggam tangan Bram, berusaha menenangkan suaminya itu. “Mas, yang di bilang Aksa itu benar, kita harus cari tahu dulu kebenarannya....”
Bram menatap istrinya itu sambil menghela nafas, ia akan menyelidiki semua kejadian ini, tapi sekarang tidak ada satu pun yang bisa mematahkan keputusannya.
Masih dalam suasana yang tegang diruang keluarga, akan tetapi teriakan panik bi Sumi memecahkan situasi tidak nyaman itu.
“Ibuuu…” seru bi Sumi sambil berlari kearah ruang keluarga, tentu saja dengan reflek semua orang langsung berdiri.
“Ada apa, kok bi Sumi panik begini?” tanya Silvana bingung, sepengetahuannya bi Sumi bukan tipe orang yang mudah panik.
“Di depan ada temen-temennya non Claudia…”
Begitu nama Claudia tersebut, Silvana dan Aksa langsung yakin ada yang tak beres pada gadis itu, dengan sigap mereka langsung berlari kearah depan, Bram pun turut menghampiri putri sambungnya.
“Melvin, Rima, ada apa ini, Claudia dimana?…” tanya Silvana, berusaha tenang.
Melvin menaruh tas Claudia dan kemudian memberi salam, begitu juga dengan Rima. “Tante maaf, di dalem mobil ada Claudia sama Icha, kita ijin pulang duluan anterin Claudia….”
Aksa dengan cepat membuka pintu mobil milik Melvin, ia melihat gadis kesayangannya itu benar-benar pucat.
“Claudia kenapa Vin? Kok bisa sampai seperti ini???” Bram pun bertanya pada Melvin, ia khawatir pada putri sambungnya.
Melvin pun kini membantu mengeluarkan Claudia dari mobil “Tadi abis pelajaran ke 5 Claudia pingsan om, saya udah coba hubungin bang Reiki tapi nomernya sibuk”
Saat Melvin yang mau menggendong Claudia, Aksa langsung menepuk pelan pundak sahabat adik tirinya itu, ia meminta agar dia saja yang membawa Claudia kedalam rumah “Biar aku yang gendong…” ucap Aksa.
__ADS_1
“Bawa ke kamarnya ayo kak…” Silvana langsung mengarahkan semuanya masuk ke kamar Claudia.
Dengan perlahan Aksa membaringkan gadis kesayangannya itu, tidak lupa ia melepas sepatu dan kaos kaki yang dikenakan oleh Claudia.
“Kenapa Claudia bisa sampai pingsan begini, apa dari pagi dia emang udah ga sehat?” Aksa kesal, apa gunanya Reiki jadi dokter kalau menyadari Claudia kurang sehat saja tidak bisa.
Dalam hati tidak ada kurang-kurangnya Aksa menyumpahi Reiki, tahu begini sejak awal Aksa akan datang dan memohon agar Claudia kembali ke rumah. Peduli amatlah dengan kemarahan Claudia padanya, ia tahu pasti kesayangannya itu tak bisa marah lama-lama terhadap dirinya.
Rima menggeleng, ia yakin benar bahwa Claudia baik-baik saja saat masuk sekolah tadi, memang sahabatnya itu sedikit lesu, tapi ia tidak yakin kalau sejak awal Claudia memang sudah sakit. “Tadi abis istirahat Claudia pucet kak, sebelumnya udah kita tawarin buat ke klinik, tapi Claudia gak mau, terus tadi pas disuruh maju ke depan kelas tiba-tiba dia pingsan…”
Silvana kini memeriksa anak gadisnya, ia tahu bahwa Claudia pasti stress. Kebiasaan lamanya muncul kembali, demam yang tiba-tiba datang dan berujung pingsan.
Dari kecil, jika ada sesuatu yang tidak berjalan sesuai harapan Claudia, dan dalam hati gadis itu sukar menerimanya, ia akan sakit seperti ini. Namun setelah pulang dari Amerika, gejala seperti itu tidak pernah lagi muncul.
“Ayo kita keluar dulu…biar Claudia istirahat....” seru Bram.
“Bunda Aksa masih mau disini…” Aksa menatap wajah Claudia dengan wajah sedih, tentu saja awalnya Bram mau protes. Namun Silvana langsung mencubit pinggang suaminya itu.
Icha juga masih ingin bersama dengan Claudia, maka pada akhirnya Bram memilih keluar dari kamar putrinya itu tanpa banyak protes.
Aksa menempelkan gel kompres demam di dahi Claudia, ia sangat sedih melihat gadis kesayangannya jadi sekurus ini. Padahal belum hitungan bulan, tapi Claudia nampak sangat menderita, kantung mata juga terlihat jelas. Sungguh membuat hati Aksa bagai tersayat. “Claudia sayang, kenapa jadi kaya gini…..”
Icha menghela nafas, sebenarnya anak ini bimbang. Ia ingin sekali memberitahu perihal Reiki yang membuat rencana jahat untuk Aksa, tapi berkali-kali di pikir rasanya ia tak sanggup.
“Claudia liat video kakak tadi….sama perempuan…” seru Icha pelan, ia masih berharap bahwa yang dilihatnya itu bukan Aksa, tapi orang yang mirip saja.
Mata Aksa membelalak, ia mengepalkan tangannya. Syakila memang sudah sangat gila, bagaimana mungkin dia mengirimkan video itu pada Claudia.
Melihat dari gerak-gerik Aksa dengan mudah Icha mengetahui bahwa memang benar adanya, pria dalam video itu adalah kakak tiri dari Claudia. Kecewa, tentu saja, Icha tidak pernah menyangka bahwa Aksa bisa melakukan hal seperti itu.
‘Jadi itu bener ka Aksa, ya ampun Claudia, ujian kamu berat banget’ gumam Icha, dalam hati ia berjanji akan selalu ada untuk sahabatnya itu.
__ADS_1
“Tadi pas udah mau bell masuk, Claudia dapet kiriman video. Pertama aku ga tahu dia kenapa, tapi emang Claudia langsung pucet pas cek handphonenya. Jadi akhirnya aku pindah kesamping Claudia, dan dia nunjukin apa yang dia liat…” seru Icha, sambil menunduk.
Sedangkan Aksa kini mengutuk Syakila, ia akan buat perhitungan dengan permpuan itu. Tidak ada lagi Aksa yang masih berusaha menghormati mantan kekasihnya, ia harus membuat Syakila menyesal karena sudah menyakiti Claudia.