ME VS MY BROTHER

ME VS MY BROTHER
Episode 69


__ADS_3

Hening…


Hanya itu yang bisa dirasakan oleh Claudia, ia ingin sekali kabur dari semuanya. Semua hal yang memuakan, menyesekan dada, membakar hati dan menyakiti perasaannya.


Entah ia harus bicara apa, berpikiran apa, dan melakukan apa. Saat ini ia merasa hampa, merasa tak berdaya, merasa tak berguna, masa depannya seperti black hole yang menyeret seluruh cahaya di kehidupannya.


Dalam kurun waktu kurang dari setahun, hidup yang sebelumnya dirasa normal, sebagaimana para remaja pada umumnya, berubah semudah itu. Ya, semudah membalikan jam pasir, ketenangan yang ia rasakan menghilang bagaikan uap.


Bermula dari ibunya yang menikah tanpa ada informasi, punya kakak tiri super menyebalkan lalu jatuh cinta kepadanya, dan Reiki….


Iya, karena pria itu Claudia kini tak bisa berkutik, bahkan walaupun ia tahu kenyataannya, sadar atas semua kebohongannya juga telah mendapatkan bukti kejahatannya, ia masih tak bisa berbuat apa-apa.


“Claudia….” Suara lembut bundanya menyadarkan lamunan Claudia.


Gadis yang sedari tadi termenung sambil menatap balkon kamarnya itu, tidak membalikan tubuhnya, ia tak pula menjawab panggilan dari Silvana.


Yang terjadi adalah Claudia kehilangan semangat hidupnya, ia sebegitu terpukulnya dengan semua yang ia dengar 2 minggu lalu. Ditambah saat ingin mengungkapkan semua fakta yang ia punya, 1 minggu kemudian Syakila datang membawa kabar kehamilannya, padahal saat itu Claudia masih ragu. Ia ragu untuk mengkonfrontasi tunangannya tersebut.


Silvana menghela nafas, sudah dua minggu Claudia bersikap seperti ini, sampai pada akhirnya ia pungsan di saat pergi kesekolah. “Ade, makan dulu yuk…nanti kalo kamu pingsan lagi kaya kemaren gimana?” seru Silvana sambil memeluk putri kesayangannya dari belakang.


Claudia cuma menggelengkan kepala, ia tidak tahu lagi harus apa, bernafas saja terasa sakit baginya, padahal ia harus fokus karena sebentar lagi sudah masuk minggu tenang untuk ujian nasional.


“De, kalau kamu kaya gini terus gak akan mungkin bisa menyelesaikan masalah sayang…” seru Silvana seraya berpindah tempat duduk menjadi ke sebelah Claudia.


Sangat jelas bagi Silvana, jikalau putrinya sedang mengalami hal berat. Dan walaupun ia sangat ingin membantu, Claudia sama sekali tidak membuka jalan untuknya melakukan hal itu.

__ADS_1


Jadilah Silvana hanya bisa memberikan saran dan menjaga putrinya itu, ia mengusahakan yang terbaik untuk memandu Claudia di jalan yang menurutnya benar, setidaknya menjadi depresi saat ini bukanlah opsi terbaik bagi anak gadisnya, apalagi masih banyak tanggung jawab yang masih harus di selesaikan putrinya.


Di sisi lain Claudia kini harus menerima kenyataan bahwa tempatnya berpijak menghilang begitu saja. Ia yang biasanya selalu bisa menceritakan apapun pada Reiki, kini tidak tahu harus berkata apa pada tunangannya itu.


Jika saja ia bisa mencintai Reiki, selayaknya ia menaruh hatinya pada Aksa, mungkin semua hal yang ia rasakan kini tidak akan terjadi. Baik Aksa dan dirinya juga bisa hidup lebih baik.


“Bunda…ade sayang sama ka Reiki, tapi kenapa ade ga bisa ngerasain perasaan yang sama kaya ka Reiki...”


“Seandainya ade ngerasain hal yang sama kaya ka Reiki, mungkin semuanya gak akan separah ini…”


“Sayang, dengerin bunda….” Silvana lalu menarik perlahan putrinya itu kedalaman pelukannya kembali. “Di dunia ini cuma tuhan yang mampu membolak-balikan hati umatnya, semua yang kita jalanin ini cuma sementara, dan lagi gak ada yang tahu masa depan itu seperti apa, kalau memang bukan jodohnya walaupun sudah bersatu pasti akan berpisah, begitu pula sebaliknya nak…”


Contoh nyata dari apa yang dikatakan oleh Silvana itu adalah dirinya sendiri dengan Bram. Wanita ini merasakan benar, bagaimana jatuh bangunnya perasaan yang ia miliki.


Fase dari rasa sayang berubah menjadi cinta, lalu merasa di khianati cinta tadi berubah menjadi kebencian, kebencian yang ia rasakan lalu mengalami masa penerimaan, hingga akhirnya berujung pada rasa kasihan dan kembali mencinta sekali lagi. Di hidup ini tidak ada yang tidak mungkin, selama masih bernapas hal-hal tak mungkin bisa jadi kenyataan.


“Kakak lagi pergi sama papa, ngecek gedung buat ijab kabul minggu depan. Mereka mau semuanya serba cepat, kamu tahu kan mereka takut kalau perutnya Syakila makin besar, bakalan susah untuk ditutupin”


Claudia menghela nafas, ia menunduk tak bersemangat, ternyata sesakit ini rasanya, ia bahkan tak pernah membayangkan, kabar yang seharusnya bahagia ternyata bisa membuat jantungnya seakan berhenti berdetak.


Melihat Claudia yang terdiam sembari mengatur nafasnya, Silvana paham bahwa putrinya sangat menderita.


“De….” Ucap Silvana khawatir.


“Ade harus belajar ikhlas kan ?” Claudia berusaha tersenyum, gadis ini harus kuat, hidup terus berjalan apapun kondisinya.

__ADS_1


Silvana merengkuh tubuh mungil putrinya, betapa ia bangga dengan Claudia yang memilih untuk tidak menyerah. “Iya nak, saat ini cuma itu yang bisa kamu lakukan, biarkan takdir yang menentukan”


Ya, biarkan takdir yang bekerja, Claudia cuma bisa pasrah dan ikhlas menghadapi kenyataan.


Ibu dan anak itu saling berpelukan, hingga bi Sumi datang dan mengetuk perlahan pintu kamar Claudia.


“Non, di bawah ada mba Icha, sama den Eros, katanya mau ketemu sama non Claudia”


Mendengar nama kedua orang itu disebut, Claudia langsung berdiri dan berlari keluar kamarnya. Ia tidak bisa membiarkan bundanya tahu apa yang sebenarnya terjadi, hingga ia merasa kehilangan arah sepenuhnya.


“Di…” seru Icha, sahabatnya itu langsung memeluk Claudia dengan erat.


“Cha, kita bisa ngobrol disini, ayo kita pindah ke studio aja…Eros lo juga ikut” Claudia melepas pelukan Icha perlahan, ia pun menggandeng tangan sahabatnya itu, dan berjalan ke luar ruang rumah, menuju studio musiknya.


Ketika mereka sampai disana, selama beberapa saat mereka hanya terdiam. Eros disisi lain terus mengecek ponselnya. Ia seperti sedang menunggu seseorang untuk ikut bergabung bersama mereka.


“Cha, apa ka Reiki ada hubungin kamu setelah kejadian itu?” tanya Claudia tiba-tiba.


Icha mengangguk, memang benar beberapa kali Reiki meneleponnya, menanyakan kondisi Claudia. Tunangan Claudia itu bahkan bereaksi seperti tidak ada apa-apa.


“Di, lebih baik kita fokus sama ujian nasional aja ya, aku dateng kesini bukan untuk membuka luka lama, aku cuma pengen liat kondisi kamu aja…soalnya kemaren abis pulang sekolah kamu pucet banget” Icha khawatir akan kondisi sahabatnya tersebut, sejak beberapa minggu memang kondisi Claudia tidak baik. Ia pucat, tubuhnya juga jadi lebih kurus, bahkan Claudia sangat sering melamun.


“Aku gak apa-apa Cha, cuma butuh istirahat. Aku cuman masih dalam fase tidak bisa menerima kenyataan, apalagi soal ka Reiki.” Claudia tersenyum lemah.


2 minggu yang lalu, Claudia di telepon oleh seseorang yang tidak asing baginya. Hanif Alken Ahmad. Walaupun tidak kenal dekat dengan pemuda itu, Claudia tau Hanif sejak kecil, karena ia sempat tinggal dirumah tantenya selama beberapa tahun.

__ADS_1


Yang lebih mengejutkan lagi, Eros ternyata berteman baik dengan Hanif, bahkan jauh sebelum Eros memperbaiki dirinya.


Mereka bertiga pun akhirnya janjian, untuk bertemu disuatu tempat, awalnya Claudia bingung, namun pada akhirnya ia mengerti. Ini semua berhubungan dengan Reiki.


__ADS_2