ME VS MY BROTHER

ME VS MY BROTHER
Episode 49


__ADS_3

A/N PENTING TOLONG DI BACA YA


Hai readers, apa kabar semoga sehat selalu ya...


ok kembali lagi bersama admin 😊


jadi banyak yg protes di kolom komentar, "kenapa ga update", "ini jadinya gimana kok ga update"


please banget readers, kita sudah kasih pengumuman kita akan update seminggu sekali. (dan walaupun sudah kita taruh di bagian cerita ini, sepertinya banyak readers yang ttp acuh juga 😭)


terus banyak yg komentar "flash backnya kelamaan", dan sekali lagi kita cuma bisa bilang, readers kami berusaha menjelaskan ttg latar belakang karakter sentral di cerita ini, kalo kalian mau nuntut semua flashback itu disatuin di satu chapter, kalian bakalan pusing bacanya.


ada yg bilang "udah lupa sama ceritanya" dll, ini bikin sedih bgt sih, maksudnya apa ga bs kalo mmg kalian suka ceritanya di baca ulang sebentar? toh kalian kan ga kita tuntut untuk melakukan apapun, pure kita nulis cerita ini buat kalian.


kami tidak akan memaksa kalian untuk baca cerita kami kalo kalian tidak suka, kami juga tidak akan memaksa kalian untuk menunggu update-an, sekali lagi kamu sejujurnya cuma ingin buat cerita yang menyenangkan buat teman-teman yang ingin melepas penat.


oh iya satu lagi, kami minta tolong kerjasamanya soal ngespam atau promosi di cerita kami. Tolong banget ya kami KEBERATAN jika ada yg promosi. kami tidak di bayar oleh siapapun, udah cape" nulis terus berusaha dari 0 banget tiba-tiba pada promosi begitu, bener" bikin kesel karena dari awal kami ga pernah promosi di akun org, balik lagi kami merasa ga sopan melakukan hal itu.


semoga setelah ini banyak readers yang mengerti, menulis itu tidak mudah. Terima kasih semuanya dan mohon maaf bila ada salah kata ♡♡♡


SELAMAT MEMBACA ♡


----------------------------------------------------------------------------------


Hari sudah sore saat Claudia mulai


mengambek, semua ini karena diskusi yang dilakukan oleh Zen, Reiki dan Nesya


saat Claudia sedang tidur siang.


“Aku udah bilang aku gak mau di rayain


kan…kaya anak kecil aja…” Claudia menggelembungkan pipinya, ia protes atas


rencana sepihak dari ayah dan eyangnya.


Iya hari ini memang baik Zen dan Nesya


sedang membahas masalah ulang tahun Claudia, mereka ingin mengadakan pesta,


dimana Zen juga ingin memperkenalkan putri semata wayangnya itu pada khalayak


ramai.


Bagaimana pun hanya Claudia keturunan yang


ia miliki, maka wajar bagi pria itu jika ingin mulai memperkenalkan putri


kecilnya sebagai pewaris.


Diruangan itu semuanya tertawa, namun


hanya Reiki yang memandang Claudia dengan gemas. Bagaimana tidak, kebiasaan


gadis kesayangannya itu saat mengambek tidak berubah sejak masih TK, Claudia


akan menggelembungkan pipinya sambil memicingkan mata. Seakan memberitahu bahwa


dia memang sedang marah.


Reiki tertawa kalau teringat saat-saat


dimana ia masih sering menjaga Claudia “Kamu kan emang masih kecil…” seru Reiki


sambil mencubit pipi gadis kesayanganya itu.


“Ish berarti kakak pedobear, soalnya mau


nikahin anak kecil..” Claudia tak terima jika di bilang anak kecil, ia langsung


menyindir Reiki yang secara terang-terangan mengejarnya.


Reaksi Reiki hanya bisa tertawa, biarkan


saja dia di panggil pedo bear oleh Claudia, umur gadis itu boleh saja mau 17


tahun, tapi terkadang kelakuannya masih seperti anak SD, apalagi kalau disudah


mulai manyun, akan sulit meredakan sifat manjanya itu “Ya kamu liat aja


dikit-dikit cemberut, ngambek…apalagi namanya kalau bukan anak kecil…”


Zen hanya terdiam melihat tingkah kedua


orang muda mudi didepannya itu, ia sebenarnya merasa ada yang janggal dengan


kejadian yang menimpa Reiki dan Aksa. Ada yang tidak beres dan ayah dari


Claudia ini sadar benar akan hal itu.


Nesya di sisi lain tidak ingin


memperpanjang masalah yang terjadi minggu lalu, baginya kini kenyamanan cucunya


jadi prioritas, ia tidak ingin Claudia tertekan. “Ulang tahun kamu juga kan


ngundang anak-anak yayasan, kamu gak mau mereka dateng apa?” seru Nesya sambil


tersenyum.


Claudia langsung melepaskan cubitan dari


Reiki saat eyangnya mulai ikut berkomentar, “Kalo yang itu sih ade mau eyang,


cuma maksud ade gak usahlah pake tiup-tiup lilin gitu” Claudia hanya ingin ada


acara santunan atau syukuran di mana mereka bersama-sama makan dengan anak-anak


dari yayasan. Baginya acara tiup lilin itu cuma jadi hal sia-sia, toh tidak


tiup lilin juga dia tetap makin tua. Terlebih buat Claudia, ketika ada acara


tiup lilin seperti dan melibatkan anak-anak yatim-piatu, bukannya tidak mungkin


menimbulkan rasa sedih bagi mereka yang menyaksikannya, rasa iri bisa saja


muncul dan itu hal wajar.


“Yaudah kalo gak gini aja, ulang tahun


kamu yang pake acara tiup lilin kita adain antara keluarga aja gimana? Nanti


pestanya baru ajak anak-anak yayasan…” Zen sepertinya sudah tahu pikirin sang


putri, maka dari itu ia memberikan opsi tambahan, karena entah mengapa ia


benar-benar ingin melihat Claudia meniup lilin kue ulang tahun, sama seperti


saat anak gadisnya itu masih kecil.


“Tapi ayah….” Claudia menjawab dengan


ragu.


Nesya menepuk pundak Claudia lalu mengelus

__ADS_1


kepala cucunya dengan lembut “Udah setuju aja, toh kan cuma bareng keluarga,


biarkan ayahmu bahagia de…”


Claudia langsung menatap kearah Zen yang


kini tengah tersenyum, gadis itu cuma bisa menghela nafas melihat ayahnya yang


memang mengharapkan ada acara ulang tahun versi tiup lilin begitu.


Zen langsung memasang wajah sedih, agar


Claudia setuju dengan rencananya dan sang mantan mertua “Iya Ayah juga kan


pengen catch up, anak ayah ini tau-tau udah mau lulus SMA aja, kan ayah jadi


sedih…”


Gadis manis itu hanya bisa menggerakan


kepalanya ke kanan dan ke kiri, sambil cemberut. “Iya deh, tapi keluarga doang


ya sama temen-temen ade…” tukas Claudia sambil mengkerutkan dahinya.


Zen dan Nesya jelas saja setuju, mereka langsung


memulai rencana acara ulang tahun gadis kesayangan mereka itu.


Claudia cuma bisa tersenyum, namun ia baru


teringat soal Aksa. Jika acara ini mengundangan keluarga saja maka Aksa pasti


akan disana, bagaimana pun posisinya mereka masih kakak beradik.


Tidak jauh dari Claudia, Reiki pun turut


memikirkan hal yang sama. Ia sadar bahwa ia harus merancang rencana baru agar


Claudia tidak akan pernah lagi berdekatan dengan Aksa. Reiki langsung putar


otak, sepertinya ini saat yang bagus untuk menjalankan rencananya dan Syakilla.


Reiki menatap kearah Claudia yang kini


tengah menunduk, sedikit banyak pria ini paham jika calon istrinya itu pasti


memikirkan Aksa, selama beberapa hari dia disini ekspresi bingung dan sedih


selalu di tampakan oleh Claudia disaat-saat tertentu, ia yakin bahwa raut wajah


gadis yang ia cintai itu menjadi berubah, semata-mata hanya karena memikirkan


saingan cintanya ‘Aksa’.


‘Di,mungkin akan sangat menyakiti kamu, tapi aku mohon bersabarlah. Aku akan jadi


tempat kamu bersandar, ini pertama dan terakhir kali aku menyakiti kamu.


Sungguh bukan niat aku untuk membuat kamu hancur, anggaplah apa yang aku


lakukan sebagai  ‘asuransi’ dari hubungan


kita kedepannya. Aku bersumpah untuk jadi pelindung kamu di masa depan, maafin


aku sayang’ gumam Reiki dalam


hati, ia menatap Claudia dengan tatapan sedih.


Sedikit yang mereka berdua tahu, bahwa Zen


Melihat dari ekspresi yang ditampakan oleh Reiki sepertinya dia tahu bahwa


keponakannya itu sedang merencanakan sesuatu.


“Om, eyang, Reiki permisi dulu ke kamar


mandi ya” seru Reiki secara tiba-tiba. Baik Zen dan Nesya hanya mengangguk,


mereka masih sibuk memilih tempat untuk ulang tahun Claudia, sedangkan si gadis


yang mau ulang tahun justru malah sibuk main game di handphonenya.


Sesampainya di depan rumah, Reiki


celingak-celinguk memastikan kondisinya aman, ia tidak ingin rencananya


ketahuan lagi sama seperti kejadian waktu Icha.


Dirasa aman, pria ini lantas menghubungi


sekutunya, siapa lagi kalau bukan Syakilla Ramadhani Syarif a.ka si nenek


sihir, setidaknya itu yang ditulis Reiki di handphonenya.


Di lain pihak Zen yang ingin menelepon


kenalannya untuk mereservasi tempat juga pergi ke depan rumah. Belum sampai di


depan ia justru malah mendengar suara Reiki. Anehnya nada bicara keponakannya


itu lain dari biasanya, terkesan sangat dingin dan memerintah.


Ayah dari Claudia ini pun akhirnya


memutuskan untuk menguping, walaupun ia tahu apa yang dia lakukan tidak baik,


tapi nampaknya ia harus melakukan ini semua. Firasatnya mengatakan bahwa Reiki


sedang merencanakan sesuatu di belakang putrinya, dan sebagai seorang ayah


wajib hukumnya bagi Zen untuk melindungi putrinya tersebut.


“Iya, saya minta kamu lakuin apa yang kita


udah rencanakan di awal…gak perlu khawatir, saya akan minta orang-orang saya


buat setting kameranya jadi wajah kamu gak akan keliatan…jaminannya? Jaminannya


kalau sampai video itu kesebar di luar dari target kita, saya akan kasih kamu


saham 15% milik grup Alvaro.” Reiki bicara dengan nada yang sangat serius.


‘Reiki lagi ngomong sama siapa itu, kenapa


harus sembunyi sampai mojok begini, pasti ada yang gak beres’ gumam Zen dalam


hati.


Zen melangkah perlahan mendekati Reiki


yang membelakanginya, rencana ayah Claudia adalah ia ingin langsung menanyakan


rencana Reiki, ia tidak ingin main kucing-kucingan dengan keluarga sendiri.


“Iya, yang penting kamu bikin Aksa itu

__ADS_1


jadi milik kamu secepatnya, saya udah gak mau lagi Claudia mikirin lelaki


lain…..iya kamu bener, yaudah saya tunggu kabar baiknya, Syakilla” Reiki


langsung menutup teleponnya dan berbalik.


Betapa terkejutnya Reiki saat melihat


calon mertuanya sudah berdiri dengan raut wajah datar, untungnya ini masih sore


kalau malam dan gelap mungkin Reiki bakal melompat karena kaget.


“O…o…om Zen ngapain disini???” seru Reiki


tergagap.


“Om baru tau Ki, kalo kamar mandi di rumah


om ini udah pindah ke pekarangan depan, apa kamu sekarang punya hobi buang


hajat sembarangan hah?” Zen masih memasang ekspresi wajah datarnya itu, membuat


Reiki jadi tidak enak hati, kalau tadi dia sedang tidak menghubungi Syakilla


bisa saja saat ini dia tertawa, tapi sekarang lain ceritanya pria muda ini


justru ingin kabur saja secepatnya.


“Ehm…itu om…hmmm itu tadi Iki…” Reiki


masih tergagap, ia khawatir Zen mendengar semua obrolannya dengan Syakilla.


Ayah dari Claudia itu menghela nafasnya,


dia sudah bisa menebak kejadian di Villa dan semua rentetan rengekan dari


putrinya itu ada hubungannya dengan Reiki, gampangnya penurus keluarga Alvaro


ini adalah biang keladi dari kegundahan putrinya itu.


“Kamu tahu Claudia cuma mencintai Aksa,


kenapa kamu masih memaksa ade buat menerima kamu” seru Zen tanpa basa-basi


lagi.


Reiki terkejut, sejak kapan Zen tahu soal


perasaan calon istrinya itu pada Aksa, apa Claudia cerita semuanya?. Tidak itu


hal yang mustahil, Claudia mungkin terlihat seperti pribadi yang terbuka namun


Reiki tahu benar, jika gadis kesayangannya itu selalu menyimpan semua


perasaannya rapat-rapat.


Gadisnya itu bahkan tak jarang menelan


semua rasa sakitnya sendiri, maka dari itu nampaknya mustashil membicarakan


soal Aksa di depan ayahnya yang notabene baru saja Claudia temui setelah sekian


lama.


Ekspresi wajah Reiki langsung berubah, ia


menatap Zen dengan tatapan dingin “Apa maksud om?”


Zen yang melihat perubahan ekspresi dari


Reiki hanya bisa tertawa, akhirnya kelihatan juga sifat asli Reiki yang selama


ini ia tutupi dari Claudia “Kamu yang paling paham apa yang om maksud, Ki”


Sekarang giliran Reiki yang tersenyum


sinis, pria muda ini lalu melanjutkan ucapannya. “Claudia memilih Reiki, dan


wajar kalau Reiki ingin melindungi Claudia”


Ada yang salah dengan Reiki, ia paham


perasaan keponakannya itu perlahan jadi boomerang sendiri bagi Reiki. Ia jadi


tidak bisa melihat realita dan fokus dengan obsesinya “Dengan asumsi kalau dia


melupakan Aksa terus dia pasti akan jadi milik kamu lahir dan batin begitu?


Kamu terlalu naïf Ki?” seru Zen sambil mengkerutkan dahinya.


Ekspresi Reiki sekali berubah kini ia


tersenyum, tapi raut wajahnya menggelap ia seperti sudah kerasukan sesuatu


pikir Zen.


Reiki tersenyum dan membalas perkataan


omnya itu “Memangnya kenapa kalau Reiki berpikir begitu? Buktinya Claudia yang


meminta Reiki menikahi dirinya, sejak awal semua yang Reiki lakuin semata-mata


cuma buat Claudia. Harta, kehidupan bahkan nyawa Reiki cuma buat Claudia” seru


Reiki sambil tersenyum lebar di depan Zen.


Ayah dari Claudia ini hanya bisa


menggelengkan kepalanya, seraya bergumam sesuatu dalam hati ‘Haaah kenapa anak


ku nasibnya apes banget begini, yang ngejar-ngejar dia semuanya terobsesi sama cinta’


Zen menghela nafasnya kembali, ia lalu


menepuk pundak Reiki “Terserahlah, tapi yang pasti om gak mau Claudia terluka”


Zen lalu berbalik arah dan berjalan membelakangi Reiki.


Namun langkah Zen terhenti, ia lalu membalikan


badannya sekali lagi, pria ini memasang wajah serius sekarang “Saran dari om


cuma satu buat kamu Ki, sesuatu yang di paksakan tidak akan berakhir baik,


camkan itu” Zen kini berlalu pergi meninggalkan Reiki.


Reiki menatap lurus kearah punggung omnya


itu, ia tidak terima apa yang dikatakan oleh Zen, lantas ia pun bicara dalam


hati ‘Om salah, apapun itu Claudia akan jadi milik Reiki sepenuhnya, kita


tinggal lihat hasilnya nanti’ Reiki lalu menyungginkan senyum sinisnya.


‘Kemenangan ini sudah ada ditangan Reiki

__ADS_1


sejak awal om. Aksa bukan tandingan Reiki’


__ADS_2