
A/N PENTING TOLONG DI BACA YA
Hai readers, apa kabar semoga sehat selalu ya...
ok kembali lagi bersama admin 😊
jadi banyak yg protes di kolom komentar, "kenapa ga update", "ini jadinya gimana kok ga update"
please banget readers, kita sudah kasih pengumuman kita akan update seminggu sekali. (dan walaupun sudah kita taruh di bagian cerita ini, sepertinya banyak readers yang ttp acuh juga 😭)
terus banyak yg komentar "flash backnya kelamaan", dan sekali lagi kita cuma bisa bilang, readers kami berusaha menjelaskan ttg latar belakang karakter sentral di cerita ini, kalo kalian mau nuntut semua flashback itu disatuin di satu chapter, kalian bakalan pusing bacanya.
ada yg bilang "udah lupa sama ceritanya" dll, ini bikin sedih bgt sih, maksudnya apa ga bs kalo mmg kalian suka ceritanya di baca ulang sebentar? toh kalian kan ga kita tuntut untuk melakukan apapun, pure kita nulis cerita ini buat kalian.
kami tidak akan memaksa kalian untuk baca cerita kami kalo kalian tidak suka, kami juga tidak akan memaksa kalian untuk menunggu update-an, sekali lagi kamu sejujurnya cuma ingin buat cerita yang menyenangkan buat teman-teman yang ingin melepas penat.
oh iya satu lagi, kami minta tolong kerjasamanya soal ngespam atau promosi di cerita kami. Tolong banget ya kami KEBERATAN jika ada yg promosi. kami tidak di bayar oleh siapapun, udah cape" nulis terus berusaha dari 0 banget tiba-tiba pada promosi begitu, bener" bikin kesel karena dari awal kami ga pernah promosi di akun org, balik lagi kami merasa ga sopan melakukan hal itu.
semoga setelah ini banyak readers yang mengerti, menulis itu tidak mudah. Terima kasih semuanya dan mohon maaf bila ada salah kata ♡♡♡
SELAMAT MEMBACA ♡
----------------------------------------------------------------------------------
Hari sudah sore saat Claudia mulai
mengambek, semua ini karena diskusi yang dilakukan oleh Zen, Reiki dan Nesya
saat Claudia sedang tidur siang.
“Aku udah bilang aku gak mau di rayain
kan…kaya anak kecil aja…” Claudia menggelembungkan pipinya, ia protes atas
rencana sepihak dari ayah dan eyangnya.
Iya hari ini memang baik Zen dan Nesya
sedang membahas masalah ulang tahun Claudia, mereka ingin mengadakan pesta,
dimana Zen juga ingin memperkenalkan putri semata wayangnya itu pada khalayak
ramai.
Bagaimana pun hanya Claudia keturunan yang
ia miliki, maka wajar bagi pria itu jika ingin mulai memperkenalkan putri
kecilnya sebagai pewaris.
Diruangan itu semuanya tertawa, namun
hanya Reiki yang memandang Claudia dengan gemas. Bagaimana tidak, kebiasaan
gadis kesayangannya itu saat mengambek tidak berubah sejak masih TK, Claudia
akan menggelembungkan pipinya sambil memicingkan mata. Seakan memberitahu bahwa
dia memang sedang marah.
Reiki tertawa kalau teringat saat-saat
dimana ia masih sering menjaga Claudia “Kamu kan emang masih kecil…” seru Reiki
sambil mencubit pipi gadis kesayanganya itu.
“Ish berarti kakak pedobear, soalnya mau
nikahin anak kecil..” Claudia tak terima jika di bilang anak kecil, ia langsung
menyindir Reiki yang secara terang-terangan mengejarnya.
Reaksi Reiki hanya bisa tertawa, biarkan
saja dia di panggil pedo bear oleh Claudia, umur gadis itu boleh saja mau 17
tahun, tapi terkadang kelakuannya masih seperti anak SD, apalagi kalau disudah
mulai manyun, akan sulit meredakan sifat manjanya itu “Ya kamu liat aja
dikit-dikit cemberut, ngambek…apalagi namanya kalau bukan anak kecil…”
Zen hanya terdiam melihat tingkah kedua
orang muda mudi didepannya itu, ia sebenarnya merasa ada yang janggal dengan
kejadian yang menimpa Reiki dan Aksa. Ada yang tidak beres dan ayah dari
Claudia ini sadar benar akan hal itu.
Nesya di sisi lain tidak ingin
memperpanjang masalah yang terjadi minggu lalu, baginya kini kenyamanan cucunya
jadi prioritas, ia tidak ingin Claudia tertekan. “Ulang tahun kamu juga kan
ngundang anak-anak yayasan, kamu gak mau mereka dateng apa?” seru Nesya sambil
tersenyum.
Claudia langsung melepaskan cubitan dari
Reiki saat eyangnya mulai ikut berkomentar, “Kalo yang itu sih ade mau eyang,
cuma maksud ade gak usahlah pake tiup-tiup lilin gitu” Claudia hanya ingin ada
acara santunan atau syukuran di mana mereka bersama-sama makan dengan anak-anak
dari yayasan. Baginya acara tiup lilin itu cuma jadi hal sia-sia, toh tidak
tiup lilin juga dia tetap makin tua. Terlebih buat Claudia, ketika ada acara
tiup lilin seperti dan melibatkan anak-anak yatim-piatu, bukannya tidak mungkin
menimbulkan rasa sedih bagi mereka yang menyaksikannya, rasa iri bisa saja
muncul dan itu hal wajar.
“Yaudah kalo gak gini aja, ulang tahun
kamu yang pake acara tiup lilin kita adain antara keluarga aja gimana? Nanti
pestanya baru ajak anak-anak yayasan…” Zen sepertinya sudah tahu pikirin sang
putri, maka dari itu ia memberikan opsi tambahan, karena entah mengapa ia
benar-benar ingin melihat Claudia meniup lilin kue ulang tahun, sama seperti
saat anak gadisnya itu masih kecil.
“Tapi ayah….” Claudia menjawab dengan
ragu.
Nesya menepuk pundak Claudia lalu mengelus
__ADS_1
kepala cucunya dengan lembut “Udah setuju aja, toh kan cuma bareng keluarga,
biarkan ayahmu bahagia de…”
Claudia langsung menatap kearah Zen yang
kini tengah tersenyum, gadis itu cuma bisa menghela nafas melihat ayahnya yang
memang mengharapkan ada acara ulang tahun versi tiup lilin begitu.
Zen langsung memasang wajah sedih, agar
Claudia setuju dengan rencananya dan sang mantan mertua “Iya Ayah juga kan
pengen catch up, anak ayah ini tau-tau udah mau lulus SMA aja, kan ayah jadi
sedih…”
Gadis manis itu hanya bisa menggerakan
kepalanya ke kanan dan ke kiri, sambil cemberut. “Iya deh, tapi keluarga doang
ya sama temen-temen ade…” tukas Claudia sambil mengkerutkan dahinya.
Zen dan Nesya jelas saja setuju, mereka langsung
memulai rencana acara ulang tahun gadis kesayangan mereka itu.
Claudia cuma bisa tersenyum, namun ia baru
teringat soal Aksa. Jika acara ini mengundangan keluarga saja maka Aksa pasti
akan disana, bagaimana pun posisinya mereka masih kakak beradik.
Tidak jauh dari Claudia, Reiki pun turut
memikirkan hal yang sama. Ia sadar bahwa ia harus merancang rencana baru agar
Claudia tidak akan pernah lagi berdekatan dengan Aksa. Reiki langsung putar
otak, sepertinya ini saat yang bagus untuk menjalankan rencananya dan Syakilla.
Reiki menatap kearah Claudia yang kini
tengah menunduk, sedikit banyak pria ini paham jika calon istrinya itu pasti
memikirkan Aksa, selama beberapa hari dia disini ekspresi bingung dan sedih
selalu di tampakan oleh Claudia disaat-saat tertentu, ia yakin bahwa raut wajah
gadis yang ia cintai itu menjadi berubah, semata-mata hanya karena memikirkan
saingan cintanya ‘Aksa’.
‘Di,mungkin akan sangat menyakiti kamu, tapi aku mohon bersabarlah. Aku akan jadi
tempat kamu bersandar, ini pertama dan terakhir kali aku menyakiti kamu.
Sungguh bukan niat aku untuk membuat kamu hancur, anggaplah apa yang aku
lakukan sebagai ‘asuransi’ dari hubungan
kita kedepannya. Aku bersumpah untuk jadi pelindung kamu di masa depan, maafin
aku sayang’ gumam Reiki dalam
hati, ia menatap Claudia dengan tatapan sedih.
Sedikit yang mereka berdua tahu, bahwa Zen
Melihat dari ekspresi yang ditampakan oleh Reiki sepertinya dia tahu bahwa
keponakannya itu sedang merencanakan sesuatu.
“Om, eyang, Reiki permisi dulu ke kamar
mandi ya” seru Reiki secara tiba-tiba. Baik Zen dan Nesya hanya mengangguk,
mereka masih sibuk memilih tempat untuk ulang tahun Claudia, sedangkan si gadis
yang mau ulang tahun justru malah sibuk main game di handphonenya.
Sesampainya di depan rumah, Reiki
celingak-celinguk memastikan kondisinya aman, ia tidak ingin rencananya
ketahuan lagi sama seperti kejadian waktu Icha.
Dirasa aman, pria ini lantas menghubungi
sekutunya, siapa lagi kalau bukan Syakilla Ramadhani Syarif a.ka si nenek
sihir, setidaknya itu yang ditulis Reiki di handphonenya.
Di lain pihak Zen yang ingin menelepon
kenalannya untuk mereservasi tempat juga pergi ke depan rumah. Belum sampai di
depan ia justru malah mendengar suara Reiki. Anehnya nada bicara keponakannya
itu lain dari biasanya, terkesan sangat dingin dan memerintah.
Ayah dari Claudia ini pun akhirnya
memutuskan untuk menguping, walaupun ia tahu apa yang dia lakukan tidak baik,
tapi nampaknya ia harus melakukan ini semua. Firasatnya mengatakan bahwa Reiki
sedang merencanakan sesuatu di belakang putrinya, dan sebagai seorang ayah
wajib hukumnya bagi Zen untuk melindungi putrinya tersebut.
“Iya, saya minta kamu lakuin apa yang kita
udah rencanakan di awal…gak perlu khawatir, saya akan minta orang-orang saya
buat setting kameranya jadi wajah kamu gak akan keliatan…jaminannya? Jaminannya
kalau sampai video itu kesebar di luar dari target kita, saya akan kasih kamu
saham 15% milik grup Alvaro.” Reiki bicara dengan nada yang sangat serius.
‘Reiki lagi ngomong sama siapa itu, kenapa
harus sembunyi sampai mojok begini, pasti ada yang gak beres’ gumam Zen dalam
hati.
Zen melangkah perlahan mendekati Reiki
yang membelakanginya, rencana ayah Claudia adalah ia ingin langsung menanyakan
rencana Reiki, ia tidak ingin main kucing-kucingan dengan keluarga sendiri.
“Iya, yang penting kamu bikin Aksa itu
__ADS_1
jadi milik kamu secepatnya, saya udah gak mau lagi Claudia mikirin lelaki
lain…..iya kamu bener, yaudah saya tunggu kabar baiknya, Syakilla” Reiki
langsung menutup teleponnya dan berbalik.
Betapa terkejutnya Reiki saat melihat
calon mertuanya sudah berdiri dengan raut wajah datar, untungnya ini masih sore
kalau malam dan gelap mungkin Reiki bakal melompat karena kaget.
“O…o…om Zen ngapain disini???” seru Reiki
tergagap.
“Om baru tau Ki, kalo kamar mandi di rumah
om ini udah pindah ke pekarangan depan, apa kamu sekarang punya hobi buang
hajat sembarangan hah?” Zen masih memasang ekspresi wajah datarnya itu, membuat
Reiki jadi tidak enak hati, kalau tadi dia sedang tidak menghubungi Syakilla
bisa saja saat ini dia tertawa, tapi sekarang lain ceritanya pria muda ini
justru ingin kabur saja secepatnya.
“Ehm…itu om…hmmm itu tadi Iki…” Reiki
masih tergagap, ia khawatir Zen mendengar semua obrolannya dengan Syakilla.
Ayah dari Claudia itu menghela nafasnya,
dia sudah bisa menebak kejadian di Villa dan semua rentetan rengekan dari
putrinya itu ada hubungannya dengan Reiki, gampangnya penurus keluarga Alvaro
ini adalah biang keladi dari kegundahan putrinya itu.
“Kamu tahu Claudia cuma mencintai Aksa,
kenapa kamu masih memaksa ade buat menerima kamu” seru Zen tanpa basa-basi
lagi.
Reiki terkejut, sejak kapan Zen tahu soal
perasaan calon istrinya itu pada Aksa, apa Claudia cerita semuanya?. Tidak itu
hal yang mustahil, Claudia mungkin terlihat seperti pribadi yang terbuka namun
Reiki tahu benar, jika gadis kesayangannya itu selalu menyimpan semua
perasaannya rapat-rapat.
Gadisnya itu bahkan tak jarang menelan
semua rasa sakitnya sendiri, maka dari itu nampaknya mustashil membicarakan
soal Aksa di depan ayahnya yang notabene baru saja Claudia temui setelah sekian
lama.
Ekspresi wajah Reiki langsung berubah, ia
menatap Zen dengan tatapan dingin “Apa maksud om?”
Zen yang melihat perubahan ekspresi dari
Reiki hanya bisa tertawa, akhirnya kelihatan juga sifat asli Reiki yang selama
ini ia tutupi dari Claudia “Kamu yang paling paham apa yang om maksud, Ki”
Sekarang giliran Reiki yang tersenyum
sinis, pria muda ini lalu melanjutkan ucapannya. “Claudia memilih Reiki, dan
wajar kalau Reiki ingin melindungi Claudia”
Ada yang salah dengan Reiki, ia paham
perasaan keponakannya itu perlahan jadi boomerang sendiri bagi Reiki. Ia jadi
tidak bisa melihat realita dan fokus dengan obsesinya “Dengan asumsi kalau dia
melupakan Aksa terus dia pasti akan jadi milik kamu lahir dan batin begitu?
Kamu terlalu naïf Ki?” seru Zen sambil mengkerutkan dahinya.
Ekspresi Reiki sekali berubah kini ia
tersenyum, tapi raut wajahnya menggelap ia seperti sudah kerasukan sesuatu
pikir Zen.
Reiki tersenyum dan membalas perkataan
omnya itu “Memangnya kenapa kalau Reiki berpikir begitu? Buktinya Claudia yang
meminta Reiki menikahi dirinya, sejak awal semua yang Reiki lakuin semata-mata
cuma buat Claudia. Harta, kehidupan bahkan nyawa Reiki cuma buat Claudia” seru
Reiki sambil tersenyum lebar di depan Zen.
Ayah dari Claudia ini hanya bisa
menggelengkan kepalanya, seraya bergumam sesuatu dalam hati ‘Haaah kenapa anak
ku nasibnya apes banget begini, yang ngejar-ngejar dia semuanya terobsesi sama cinta’
Zen menghela nafasnya kembali, ia lalu
menepuk pundak Reiki “Terserahlah, tapi yang pasti om gak mau Claudia terluka”
Zen lalu berbalik arah dan berjalan membelakangi Reiki.
Namun langkah Zen terhenti, ia lalu membalikan
badannya sekali lagi, pria ini memasang wajah serius sekarang “Saran dari om
cuma satu buat kamu Ki, sesuatu yang di paksakan tidak akan berakhir baik,
camkan itu” Zen kini berlalu pergi meninggalkan Reiki.
Reiki menatap lurus kearah punggung omnya
itu, ia tidak terima apa yang dikatakan oleh Zen, lantas ia pun bicara dalam
hati ‘Om salah, apapun itu Claudia akan jadi milik Reiki sepenuhnya, kita
tinggal lihat hasilnya nanti’ Reiki lalu menyungginkan senyum sinisnya.
‘Kemenangan ini sudah ada ditangan Reiki
__ADS_1
sejak awal om. Aksa bukan tandingan Reiki’