
Bram terdiam sesaat, apa ia tidak salah dengar mendengar perkataan Aini?
Istrinya itu ingin mengadopsi Aksa, walaupun tahu mamanya benar-benar tidak
suka dengan anak lelaki itu.
Pria ini langsung menatap wajah Aini sambil menggenggam kedua tangan
istrinya itu “Kamu bilang apa tadi???” tanya Bram berusaha kembali memastikan.
Perempuan yang kini ada didepannya itu langsung menjawab bahwa ia ingin
mengadopsi Aksa tidak lebih dan tidak kurang, hanya itu keinginannya.
Sejujurnya di dalam hati Bram pun ingin Aksa tinggal dengan mereka,
namun apa yang akan dikatakan ibunya nanti, ia terus kepikiran dengan istrinya.
Sudah cukup Aini disiksa secara batin oleh mamanya itu, jika Aksa tinggal
bersama mereka bagaimana kedepannya.
Hal ini pulalah yang juga turut membuat Aini membungkam keinginannya
sendiri untuk mengadopsi Aksa selama berbulan-bulan. Namun ia akhirnya
tersadar, hubungan keluarga tidak terjalin hanya karena punya darah yang sama,
bukan itu esensi dari keluarga sebenarnya. “Aku sadar aku gak bisa hamil dan
kasih kamu keturunan kandung. Tapi aku paham kalau keluarga itu gak selalu
harus ada hubungan darah” tukas Aini meyakinkan suaminya yang ragu.
Langkah apa yang harus di ambil oleh Bram? Pertanyaan besar itu
membayanginya. “Tapi sayang…kamu tau kan mami bakalan gimana sama kamu, aku gak
mau kamu disakitin terus sama mami…”
Aini menunduk ia kini memikirkan masa lalunya yang tak jauh berbeda
daripada Aksa. “Mas…kamu kan juga tau nasib ku ga jauh beda sama Aksa. Aku
paham gimana rasanya saat gak ada satu pun orang yang mau nampung aku. Nasibku
bener-bener lebih baik daripada Aksa, setidaknya ada tante Nesya yang masih mau
terima aku, tapi Aksa gak punya siapa-siapa lagi mas…”
Melihat istrinya yang teguh ingin mengadopsi Aksa, Bram hanya bisa
menghela nafas dan kembali mempertanyakan keinginan sang istri. “Kamu yakin?,
ini gak akan mudah buat kita dan juga buat Aksa…”
Bram kenal betul dengan maminya, dengan keluarga besarnya. Mereka semua
mengabdikan diri pada hal yang disebut reputasi, semua yang dilakukan haruslah
selalu membuat mereka di untungkan dalam strata pergaulan atas, lalu apa
jadinya jika kabar Bram mengadopsi anak supir perushaan itu tersebar
kelingkungan pergaulan keluarganya yang di dominasi oleh manusia-manusia
materialistis.
Cemoohan dari mereka mungkin tidak berpengaruh pada Bram, toh sejak
menikah dengan Aini fitnah dan gossip kejam dari orang-orang itu sudah jadi
makanan buat keluarga kecil mereka, namun hal ini jadi berbeda ketika sudah
__ADS_1
menyangkut maminya, Indah.
Bagaimana pun jeleknya Indah, tetap saja dialah yang melahirkan Bram,
pria ini pun tidak ingin membuat ibunya terus melakukan dosa dengan berbuat
dzalim pada istrinya tapi ia tidak berbuat apa-apa, kecuali menghindari pemicu
amarah dari ibunya.
“Iya aku yakin, setidaknya kalau Aksa sama kita, dia bisa bersekolah
dengan layak. Dan mas, aku udah sayang banget sama dia, selama ini aku merasa
aku hidup lagi karena Aksa. Dia itu seperti anak yang udah dikirim Tuhan buat
aku mas” Ucapan Aini membuat Bram membelalakan matanya.
Selama menikah dengan Bram, perempuan ini memang tertekan batinnya.
Belum selesai di cap perebut calon suami saudara sendiri, dan di hujat
habis-habisan oleh keluarga besarnya karena di anggap perempuan tak tahu diri,
datang lagi masalah dari mertuanya, lalu belum juga selesai semua itu datang
pula kabar dia mandul.
Hidup Aini rasanya sudah hancur berantakan sampai Aksa datang dan
mengisi kesahariannya dengan senyuman tulus tanpa niatan buruk apapun.
Bram tidak bisa menolak lagi, dia hanya ingin memberikan kebahgiaan pada
istrinya itu, dan jika semua itu bisa diwujudkan oleh Aksa, maka ia akan
menyanggupi permintaan Aini. “Ya sudah kalo kamu yakin dan bisa janji mau
jalani semua konsekuensinya bareng aku, besok kita urus surat-surat adopsinya
Aini hanya bisa menangis bahagia, ia memeluk erat tubuh suaminya sambil
mengucapkan terima kasih berkali-kali kepada Bram.
✴︎ ✴︎✴︎✴︎✴︎
Keesokan harinya, Bram langsung menghubungi ibunya dan menyampaikan
berita tentang dirinya yang akan mengadopsi Aksa. Jangan tanya bagaimana respon
dari Indah. Perempuan ini mengamuk, berteriak lewat telepon pada Bram.
“APA?!!! UDAH SINTING KAMU BRAM…” seru Indah tak terima dengan
penjelasan Bram diawal.
“Mami…”
“KAMU MAU APA TADI…MAU ADOPSI ANAKNYA SI SUPIR ITU….ASTAGA BRAM MAU DI
TARUH DIMANA MUKA MAMI NANTI…”
“Mi udah ya ini hidup Bram, yang pasti sebagai anak Bram cuma mau kasih
tau aja kalau Bram mau adopsi anak itu” Bram langsung menutup teleponnya,
bahkan sebelum ibu kandungnya itu menyelesaikan apa yang ingin dikatakannya.
Bram menghela nafas, rasanya badai besar akan segera datang ke
kehidupannya yang bahkan sudah di ujung tanduk, tapi entahlah ia akan mengikuti
semua skenario yang telah Tuhan siapkan untuknya.
__ADS_1
Hari berganti minggu, dan minggu berganti bulan. Selama waktu itu Bram
mondar-mandir ke panti asuhan dan pengadilan mengurus proses pengadopsian Aksa.
Hingga akhirnya tibalah putusan dari hakim, dan Aksa kini resmi menjadi anak
dari Bram dan Aini.
Aini terus menitikan airmatanya, ia sangat bahagia dengan hasil yang
mereka terima, kini Aksa bisa terus berada dipelukannya, menjadi anaknya yang
bisa ia urus hingga dewasa nanti.
Mereka pun tak lupa menambahkan nama keluarga Bram pada nama belakang
Aksa.
“Aksa Faresta Priambudi?” ucap Aksa sambil
memegang akte
kelahiran pengganti yang menyebutkan status anak sebagai anak angkat orangtua
yang mengadopsi dari pengadilan.
Aini menatap Bram yang juga turut tersenyum, perempuan ini lantas
menunjuk nama Aksa yang ada di kertas “Iya nama Aksa sekarang tambah satu tuh
dibelakang…”
“Ung….” Aksa melihat kearah kedua orang tua barunya itu sambil
memiringkan kepalanya.
Bram tersenyum melihat tingkah Aksa yang kebingungan, ia pun lalu mulai
bicara pada Aksa. “Aksa apa boleh om sama tante tanya sesuatu ke kamu?”
Aksa hanya mengangguk, ia melihat
kearah Aini dan Bram dengan ragu. Ia masih terlalu kecil untuk mengerti semua
kejadian yang kini ia alami.
Bram pun mengajak Aksa untuk duduk, lalu memegang pundak Aksa dengan
lembut. Aini terus tersenyum karena sudah tahu apa yang akan dikatakan oleh
suaminya itu.
“Apa boleh kami jadi orang tua kamu? kami sayang Aksa, tapi kalo Aksa
gak bolehin gpp, om sama tante akan selalu ada buat Aksa…” Bram mengucapkan
semua kalimat itu dengan penuh pengharapan.
Aksa terdiam atas apa yang dia dengar, rasanya bagi anak itu dunianya
langsung kembali berwarna, ia bahkan tak ingat kapan ia pernah sesenang ini,
dengan lantang ia langsung menangis sambil berteriak. “HUWAAAAAAAAAAA Aksa
mau…”.
Aini dan Bram turut terharu, mereka kini saling berpelukan, rasanya ini
adalah hari yang paling bahagia bagi mereka semua. “Mulai sekarang panggil kami
papa dan mama ya nak…” seru Bram yang di angguki oleh Aksa berkali-kali sambil
menangis.
__ADS_1
“Iya..” jawab Aksa yang kini tengah terisak.