ME VS MY BROTHER

ME VS MY BROTHER
Episode 48


__ADS_3

Bram terdiam sesaat, apa ia tidak salah dengar mendengar perkataan Aini?


Istrinya itu ingin mengadopsi Aksa, walaupun tahu mamanya benar-benar tidak


suka dengan anak lelaki itu.


Pria ini langsung menatap wajah Aini sambil menggenggam kedua tangan


istrinya itu “Kamu bilang apa tadi???” tanya Bram berusaha kembali memastikan.


Perempuan yang kini ada didepannya itu langsung menjawab bahwa ia ingin


mengadopsi Aksa tidak lebih dan tidak kurang, hanya itu keinginannya.


Sejujurnya di dalam hati Bram pun ingin Aksa tinggal dengan mereka,


namun apa yang akan dikatakan ibunya nanti, ia terus kepikiran dengan istrinya.


Sudah cukup Aini disiksa secara batin oleh mamanya itu, jika Aksa tinggal


bersama mereka bagaimana kedepannya.


Hal ini pulalah yang juga turut membuat Aini membungkam keinginannya


sendiri untuk mengadopsi Aksa selama berbulan-bulan. Namun ia akhirnya


tersadar, hubungan keluarga tidak terjalin hanya karena punya darah yang sama,


bukan itu esensi dari keluarga sebenarnya. “Aku sadar aku gak bisa hamil dan


kasih kamu keturunan kandung. Tapi aku paham kalau keluarga itu gak selalu


harus ada hubungan darah” tukas Aini meyakinkan suaminya yang ragu.


Langkah apa yang harus di ambil oleh Bram? Pertanyaan besar itu


membayanginya. “Tapi sayang…kamu tau kan mami bakalan gimana sama kamu, aku gak


mau kamu disakitin terus sama mami…”


Aini menunduk ia kini memikirkan masa lalunya yang tak jauh berbeda


daripada Aksa. “Mas…kamu kan juga tau nasib ku ga jauh beda sama Aksa. Aku


paham gimana rasanya saat gak ada satu pun orang yang mau nampung aku. Nasibku


bener-bener lebih baik daripada Aksa, setidaknya ada tante Nesya yang masih mau


terima aku, tapi Aksa gak punya siapa-siapa lagi mas…”


Melihat istrinya yang teguh ingin mengadopsi Aksa, Bram hanya bisa


menghela nafas dan kembali mempertanyakan keinginan sang istri. “Kamu yakin?,


ini gak akan mudah buat kita dan juga buat Aksa…”


Bram kenal betul dengan maminya, dengan keluarga besarnya. Mereka semua


mengabdikan diri pada hal yang disebut reputasi, semua yang dilakukan haruslah


selalu membuat mereka di untungkan dalam strata pergaulan atas, lalu apa


jadinya jika kabar Bram mengadopsi anak supir perushaan itu tersebar


kelingkungan pergaulan keluarganya yang di dominasi oleh manusia-manusia


materialistis.


Cemoohan dari mereka mungkin tidak berpengaruh pada Bram, toh sejak


menikah dengan Aini fitnah dan gossip kejam dari orang-orang itu sudah jadi


makanan buat keluarga kecil mereka, namun hal ini jadi berbeda ketika sudah

__ADS_1


menyangkut maminya, Indah.


Bagaimana pun jeleknya Indah, tetap saja dialah yang melahirkan Bram,


pria ini pun tidak ingin membuat ibunya terus melakukan dosa dengan berbuat


dzalim pada istrinya tapi ia tidak berbuat apa-apa, kecuali menghindari pemicu


amarah dari ibunya.


“Iya aku yakin, setidaknya kalau Aksa sama kita, dia bisa bersekolah


dengan layak. Dan mas, aku udah sayang banget sama dia, selama ini aku merasa


aku hidup lagi karena Aksa. Dia itu seperti anak yang udah dikirim Tuhan buat


aku mas” Ucapan Aini membuat Bram membelalakan matanya.


Selama menikah dengan Bram, perempuan ini memang tertekan batinnya.


Belum selesai di cap perebut calon suami saudara sendiri, dan di hujat


habis-habisan oleh keluarga besarnya karena di anggap perempuan tak tahu diri,


datang lagi masalah dari mertuanya, lalu belum juga selesai semua itu datang


pula kabar dia mandul.


Hidup Aini rasanya sudah hancur berantakan sampai Aksa datang dan


mengisi kesahariannya dengan senyuman tulus tanpa niatan buruk apapun.


Bram tidak bisa menolak lagi, dia hanya ingin memberikan kebahgiaan pada


istrinya itu, dan jika semua itu bisa diwujudkan oleh Aksa, maka ia akan


menyanggupi permintaan Aini. “Ya sudah kalo kamu yakin dan bisa janji mau


jalani semua konsekuensinya bareng aku, besok kita urus surat-surat adopsinya


Aini hanya bisa menangis bahagia, ia memeluk erat tubuh suaminya sambil


mengucapkan terima kasih berkali-kali kepada Bram.


✴︎ ✴︎✴︎✴︎✴︎


Keesokan harinya, Bram langsung menghubungi ibunya dan menyampaikan


berita tentang dirinya yang akan mengadopsi Aksa. Jangan tanya bagaimana respon


dari Indah. Perempuan ini mengamuk, berteriak lewat telepon pada Bram.


“APA?!!! UDAH SINTING KAMU BRAM…” seru Indah tak terima dengan


penjelasan Bram diawal.


“Mami…”


“KAMU MAU APA TADI…MAU ADOPSI ANAKNYA SI SUPIR ITU….ASTAGA BRAM MAU DI


TARUH DIMANA MUKA MAMI NANTI…”


“Mi udah ya ini hidup Bram, yang pasti sebagai anak Bram cuma mau kasih


tau aja kalau Bram mau adopsi anak itu” Bram langsung menutup teleponnya,


bahkan sebelum ibu kandungnya itu menyelesaikan apa yang ingin dikatakannya.


Bram menghela nafas, rasanya badai besar akan segera datang ke


kehidupannya yang bahkan sudah di ujung tanduk, tapi entahlah ia akan mengikuti


semua skenario yang telah Tuhan siapkan untuknya.

__ADS_1


Hari berganti minggu, dan minggu berganti bulan. Selama waktu itu Bram


mondar-mandir ke panti asuhan dan pengadilan mengurus proses pengadopsian Aksa.


Hingga akhirnya tibalah putusan dari hakim, dan Aksa kini resmi menjadi anak


dari Bram dan Aini.


Aini terus menitikan airmatanya, ia sangat bahagia dengan hasil yang


mereka terima, kini Aksa bisa terus berada dipelukannya, menjadi anaknya yang


bisa ia urus hingga dewasa nanti.


Mereka pun tak lupa menambahkan nama keluarga Bram pada nama belakang


Aksa.


“Aksa Faresta Priambudi?” ucap Aksa sambil


memegang akte


kelahiran pengganti yang menyebutkan status anak sebagai anak angkat orangtua


yang mengadopsi dari pengadilan.


Aini menatap Bram yang juga turut tersenyum, perempuan ini lantas


menunjuk nama Aksa yang ada di kertas “Iya nama Aksa sekarang tambah satu tuh


dibelakang…”


“Ung….” Aksa melihat kearah kedua orang tua barunya itu sambil


memiringkan kepalanya.


Bram tersenyum melihat tingkah Aksa yang kebingungan, ia pun lalu mulai


bicara pada Aksa. “Aksa apa boleh om sama tante tanya sesuatu ke kamu?”


Aksa  hanya mengangguk, ia melihat


kearah Aini dan Bram dengan ragu. Ia masih terlalu kecil untuk mengerti semua


kejadian yang kini ia alami.


Bram pun mengajak Aksa untuk duduk, lalu memegang pundak Aksa dengan


lembut. Aini terus tersenyum karena sudah tahu apa yang akan dikatakan oleh


suaminya itu.


“Apa boleh kami jadi orang tua kamu? kami sayang Aksa, tapi kalo Aksa


gak bolehin gpp, om sama tante akan selalu ada buat Aksa…” Bram mengucapkan


semua kalimat itu dengan penuh pengharapan.


Aksa terdiam atas apa yang dia dengar, rasanya bagi anak itu dunianya


langsung kembali berwarna, ia bahkan tak ingat kapan ia pernah sesenang ini,


dengan lantang ia langsung menangis sambil berteriak. “HUWAAAAAAAAAAA Aksa


mau…”.


Aini dan Bram turut terharu, mereka kini saling berpelukan, rasanya ini


adalah hari yang paling bahagia bagi mereka semua. “Mulai sekarang panggil kami


papa dan mama ya nak…” seru Bram yang di angguki oleh Aksa berkali-kali sambil


menangis.

__ADS_1


“Iya..” jawab Aksa yang kini tengah terisak.


__ADS_2