
Suasana bandara luar biasa ramai saat ini,
wajar karena ini musim liburan. Seorang pria paruh baya dengan kemeja biru
navynya, keluar dengan membawa koper berwarna hitam.
“Zen…..” teriak seorang pria sambil
mengibaskan tangannya berkali-kali.
Pria itu tersenyum, Zen langsung
melangkahkan kakinya kearah pria tersebut. Rasanya agak aneh menginjakkan
kakinya di negara ini. Terakhir kali ia datang ke Indonesia, adalah saat dia
mengembalikan Claudia kepada Silvana.
“Gilaa, Zen…apa kabar???” Lelaki itu
datang dan memeluk Zen sebentar.
“Bima, sorry ngerepotin lo jadinya…” Zen
lalu berjalan bersama sahabat karibnya semasa masih di sekolah. Bimasatya
Adhitama, namanya familiar? Tentu saja karena pria ini adalah ayah dari si
kembar, Alif dan Icha.
“Santai bro, tapi gw kaget lo tiba-tiba
ngehubungin gw” seru Bima sembari mengecek ponselnya, dia langsung mengirim
pesan kepada supir pribadinya.
“Iya, hmmm tiba-tiba Anna kirim email ke
gw, bilang mau ketemu”
Bima terkejut, dia bahkan sampai melotot.
Apa ga salah Silvana bilang mau bertemu dengan Zen, sepengetahuannya terakhir
kali Zen disini, Silvana bahkan tidak menghadiri sidang perceraian mereka. Zen
juga putus kontak dengan anak dan mantan istrinya itu.
Akan tetapi biarpun begitu, Zen tidak
hilang akal, dia berusaha meminta Bima untuk terus memberikannya informasi
mengenai Claudia. Tanpa diketahui oleh putrinya Claudia, Bima seringkali
meminta Icha untuk mengambil foto Claudia secara diam-diam, dan permintaan Bima
itu di sanggupi oleh putrinya.
“Serius Zen?, tapi lo udah tau kan mantan
bini lo itu udah kawin lagi?” Bima tidak menyangka bahwa pada akhirnya Silvana
duluanlah yang menghubungi Zen. Namun ada keraguan pada diri Bima, dia takut
sahabatnya itu masih berharap pada sang mantan istri, karena sepengetahuan
Bima, Zen memang sangat mencintai mantan istrinya tersebut.
“Hmm…ya udah tau dari nyokap…” jawab Zen
datar.
“Apa gara-gara kejadian beberapa hari yang
lalu ya?, makanya Ana ngehubungin lo?” Bima mendengar cerita dari Alif dan
Icha, jika saat kedua anaknya itu main kerumah Claudia, ternyata saat itu
Claudia mau dilamar orang.
“Kalo maksud lo anak gw mau dilamar sama
Reiki, ya emang ngomongin itu”
“Gila, Claudia kan masih kecil bro, lo
restuin gitu?”
Zen hanya diam sambil menghela nafas,
sejujurnya dia tidak setuju. Tapi sehari sebelum keberangkatannya ke Indonesia,
Satyo menghubunginya. Ia telah menjelaskan bahwa salah satu niat Reiki menikahi
Claudia, adalah agar Claudia bisa bebas bertemu dengan Zen. Sesuatu yang nyaris
tidak mungkin terjadi, selama Claudia masih tinggal bersama ibunya itu.
Dalam kondisi dilematis ini pun, Reiki
juga akhirnya menawarkan sebuah perjanjian pada Zen. Walaupun hubungan mereka
masih ada tali persaudaraan, sebenarnya Zen tidak terlalu suka dengan Reiki,
menurutnya Reiki terlalu pintar menyembunyikan sesuatu, dia memang tau bahwa
keponakannya ini cinta mati pada Claudia, dan itu pulalah yang membuat pria ini
jadi ragu akan lamaran Reiki.
Ketakutan terbesar Zen adalah pria itu
nantinya akan mengontrol secara penuh kehidupan Claudia, bibit seperti itu
sudah ditampakan oleh Reiki, sejak Claudia kecil Reiki mengatur semua hal yang
berhubungan dengan Claudia, mulai dari kapan waktu gadis itu belajar, bermain,
tidur, bahkan makan cemilan dan snack seperti apa yang boleh dimakan Claudia.
Aneh, tentu saja bukan hal yang wajar bagi anak 12 tahun mengatur sedetail itu,
bahkan Silvana dan Zen saja tidak sekeras itu pada Claudia.
Akan tetapi saat itu Zen dan Silvana tidak
bisa berbuat banyak, keduanya sibuk bekerja diluar, jadi harus diakui bahwa
Reiki memang sangat membantu dalam menjaga Claudia. Namun tetap saja itu tidak
bisa jadi alasan.
Bima nampaknya paham apa yang ada
dipikiran sahabatnya itu, jadi dia hanya menggelengkan kepala saja, lalu lanjut
bicara.
“Gw ga ngerti deh anak-anak jaman sekarang
kebanyakan nonton sinetron apa gimana ya?, ngegampangin banget soal masalah
perkawinan begini. untung anak gw si Icha nurun banget sama si Mey, cuman si
Alif doang ini yang mesti di servis otaknya” mendengar Bima berkata seperti
itu, Zen langsung tertawa.
“Lo bilang si Alif mesti di benerin
otaknya, lah kan elu biangnya Bim, emang dulu lu gak inget pas kita masih SMP
kaya gimana?” seru Zen tertawa sinis.
“Enak aja lo, gini gini kan gw ketua osis
terkece pada masanya hahaha….”
__ADS_1
Zen cuma bisa geleng-geleng melihat
kelakuan sahabatnya yang sedang berpose ala model jadul, ya ternyata Bima masih
absurd malah mungkin semakin aneh, walaupun sudah tua bangka begini, gak heran
Alif sama aja kelakuannya.
“Lo bersyukur Bim, seenggaknya ketua rohis
tercantik angkatan kita mau kawin sama makhluk dari planet Namex kaya lo, udah
gitu lo dapet bonus si Icha lagi, anak perempuan lo itu udah langka banget
jaman sekarang” Zen tertawa melihat kelakuan Bima.
“Iya juga sih ya, makanya gw sayang banget
sama my darling, karena my beloved darling anak gw ada yang waras walaupun
cuman satu” seru Bima serius.
Zen tidak habis pikir bagaimana bisa Bima
bicara seenteng itu soal Alif, tapi memang anak lelaki sahabatnya itu agak
aneh, Zen jadi ingat saat Alif mengejar-ngejar Claudia karena mau mengelap
ingusnya di dress milik putrinya itu, sedangkan Icha saat itu sudah meraung tak
karuan, karena Alif sudah terlebih dahulu mengelap hidungnya yang sedang flu
parah itu ke kerudung milik Icha. Kejadian itu sudah lama, saat mereka masih 3
tahun, tapi memikirkannya cukup membuat Zen kembali terkekeh.
“Si Alif masih suka ngamuk gak?”
Alif memang termasuk anak yang suka
ngambek, dahulu pernah satu waktu dia berguling di lantai mall karena minta di
belikan mainan. Yang lebih parah adalah Bima bukannya menenangkan anaknya, tapi
malah mendorong tubuh anaknya agar lebih jauh berguling di lantai mall. Hal ini
sukses membuat Mey, istri dari Bima mengamuk, setidaknya menurut cerita Bima
dia berhasil membuat Mey tidur terpisah selama 3 hari dengannya. Dari situ Bima
kapok melakukan kejahilan pada Alif, tapi ya kapoknya itu cuma kapok sambal,
lewat 3 bulan gilanya kumat lagi.
“Udah gak, terakhir pas Icha kena dbd, dia
udah ga pernah lagi guling-guling dilantai, karena ngeliat adeknya masih
bantuin my darling biarpun lagi sakit parah gitu. Sekarang sih yang gw
perhatiin, dia lebih tanggung jawab sama Icha, udah ga egois banget kaya dulu,
karena udah makin tuir kali ya itu anak” seru Bima sambil mengelus dagunya.
“Iyalah, mestinya sebagai bapak lo juga
banyak-banyak tobatlah..” Like father like Son, untunglah Zen hanya punya
Claudia pikirnya.
“Sialan lo Zen…hahaha…eh itu mobil gw,
yuk. Ini gw anterin kemana nih?”
Zen agak berpikir saat itu, dia harus
pulang kemana, apa kerumah ibunya, ke apartemen miliknya, atau kerumah yang ia
tempati dulu dengan Silvana dan Claudia.
“Kerumah gw yang dulu aja Bim..”
diantar pulang kerumah lamanya. Terlalu banyak kenangan dirumah itu, tentu saja
Bima khawatir pada sahabatnya itu.
“Hah lo yakin Zen?”
“Iya, kan masih ada pak Lukman sama
istrinya yang jagain rumah”
“Oh ok deh kalo gitu”
Mereka pun akhirnya berangkat
kerumah Zen, sedangkan Bima terus membicarakan perkembangan anak-anaknya dan
Claudia sepanjang jalan. Ya, tidak akan pernah membosankan bila pergi bersama
Bima.
Dilain tempat, Reiki kini sudah duduk
disebuah café bersama seorang perempuan. Syakilla lebih tepatnya, apa yang
mereka bicarakan?, tentu saja tidak jauh-jauh dari Aksa dan Claudia.
Butuh waktu kurang dari 2 hari untuk
mencari informasi tentang Syakilla, Reiki tidak pernah membuang waktu untuk hal
yang penting. Satu hal yang sama sekali tidak diketahui oleh Claudia, di balik
sikap sempurna dari Reiki, dia punya banyak bawahan yang siap membantunya dalam
melakukan apapun.
Bagaimana pun Reiki bukan hanya dokter
biasa, keluarga Satyo memang keluarga kaya raya, begitupula Keiko, jadi pewaris
tunggal satu-satunya sudah barang tentu membuat pundi-pundi uang Reiki selalu
penuh terisi, tapi dia juga bukan tipe lelaki yang pemalas, dia tidak mau
tunduk pada siapapun.
Karena hal tersebutlah dia berkarir
sebagai dokter, pekerjaannya berjalan mulus, secara garis besar seluruh
kehidupannya berjalan baik, kecuali satu hal, permasalahan cintanya, dan Reiki
yakin ia bisa memuluskan semuanya. Apalagi secara tulus dia memang menyayangi
Claudia, dan tidak ingin menyakitinya. Namun kalau posisinya seperti ini, harus
ada faktor X yang membuat Claudia berpaling pada dirinya. Tentu saat mendengar
Bram menyebutkan Aksa sudah punya calon sendiri, Reiki langsung bertindak
cepat. Ia langsung menggali informasi tanpa disadari oleh Bram.
“Jadi, kamu mau ketemu saya karena kamu
ingin saya bisa bersama dengan mas Aksa?” seru Syakilla sambil tertawa sinis.
“Saya cuma ingin semua hal kembali
ketempatnya seperti semula” Reiki sebenarnya tidak suka pada Syakilla, dari
pembawaan gadis itu, dia sudah tau bahwa perempuan ini akan menghalalkan segala
cara untuk memenangkan hati Aksa. Tanpa terkecuali melakukan kekerasan pada
Claudia, jelas Reiki tak ingin hal itu terjadi.
__ADS_1
“Ok, saya setuju. Kamu bersama dengan
Claudia, dan saya bisa bahagia bersama mas Aksa. Begitukan mau kamu?” seru
Syakilla sambil menunjuk bergantian, kearah dirinya dan Reiki.
Sedangkan Reiki, dia tidak nampak seperti
biasanya, aura dari dirinya benar-benar bukan seperti Reiki yang ramah dan baik
hati. Berbicara dengan Syakilla pun tak membuatnya jadi lebih ramah, dia tetap
menatap Syakilla dengan wajah datar tanpa ekspresi.
“Iya, dan saya ingin kamu lakukan apa yang
saya perintahkan” seru Reiki, sedangkan Syakila menaikan salah satu alisnya
sembari tersenyum. Gadis ini harus tahu apa yang akan ia dapatkan jika menolong
Reiki, dia harus punya jaminan bahwa pria itu akan selalu membantunya, sampai
keinginan mereka berdua tercapai.
“Imbalannya?” seru Syakilla, tersenyum
sinis.
“Imbalannya, saya akan jamin kamu bisa
menikah dengan Aksa ‘SECEPATNYA’ tanpa ada gangguan sama sekali, dan ini” seru
Reiki seraya memberikan sebuah amlop.
Saat Syakilla membukanya, ternyata itu
adalah tiket keliling eropa, dan sudah tentu itu jaminan, bahwa Reiki akan
membantu Syakilla hingga dirinya dan Aksa bisa melaksanakan honeymoon romantis
bersama-sama.
Wanita itu sangat senang dengan apa yang
dilakukan oleh Reiki, melihat namanya tertulis di tiket itu bersama dengan
Aksa, sudah membuatnya memikirkan hal yang tidak-tidak. Syakilla tidak perduli
soal perasaan Aksa, yang terpenting baginya adalah, dia punya hak penuh pada
tubuh Aksa, dan hal itu bisa terjadi bila mereka menikah.
“Hahaha, jadi apa yang harus saya
lakukan?” ujar Syakilla dengan semangat.
“Saya mau…..Aksa…tidur sama kamu…”
Syakilla tersenyum licik, ia senang
mendapatkan sekutu. Ini akan lebih mudah, apalagi Reiki masih ada hubungan
keluarga dengan Silvana.
“Caranya?”
“Saya akan kasih tahu kamu detailnya, tapi
untuk sekarang ini, gimana pun caranya, kamu yakinkan Aksa untuk bisa percaya
sama kamu. Tahan rasa cemburu kamu, dan buat seolah-olah kamu membantu Aksa
mendapatkan hati Claudia.”
“Wah, kita sepemikiran. Tapi itu gak akan
mudah, lawan kita bukan cuma mereka berdua, Aksa dan Claudia, tapi tante
Silvana. Dari yang saya lihat dia ga suka Aksa dekat dengan saya”
Reiki kini mengangkat alis kirinya, ya
tentu saja jika dia jadi Silvana, tak mungkin Reiki setuju anaknya menikah
dengan perempuan gila macam Syakilla, tapi Reiki tidak peduli, toh itu bukan
urusannya. Yang terpenting baginya saat ini adalah, menghindarkan Claudia dari
masalah yang berpotensi menghancurkan hidup gadis itu. Apalagi Reiki tahu benar
bahwa, Bram sama sekali tidak ingin putri sambungnya itu turun pangkat jadi
menantunya. Entah apa alasannya, mungkin lain waktu Reiki akan mencoba mencari
tahu.
“Itu urusan saya, kamu fokus aja dapetin
kepercayaan Aksa, sisanya biar saya yang urus”
“Ooook, by the way kenapa kamu sampe mikir
buat ngacurin hati gadis kesayanganmu itu?”
“Karena lebih baik merusak benih hama
lebih awal, daripada nanti sudah menjalar. Akan lebih sulit untuk dimusnahkan
nantinya”
Syakilla setuju dengan pendapat Reiki,
kini tinggal bagaimana cara Syakilla memanipulasi Aksa. Apakah dia harus
mendekati Claudia, mungkin hal itu bisa jadi opsi terakhir.
“Ka Reiki…”
Reiki terkejut dan segera melihat kearah
belakang, matanya membelalak saat melihat seorang gadis cantik dengan hijab
pink pastelnya. Reiki langsung berdiri, dan mengahadap kearah gadis itu..
Syakilla heran, kenapa Reiki terlihat panik sekarang.
“I…Icha…kamu ngapain disini?”
“Ka Reiki maaf, tapi boleh Icha ngobrol
sebentar sama ka Reiki?” tanya Icha dengan wajah sangat serius.
Reiki bingung, selain Claudia, hanya Icha
yang mampu membuatnya bersikap kebingungan seperti ini. Lain kasus bila dia
bertemu dengan perempuan lain, akan mudah bagi Reiki untuk berbohong. Tapi
tidak dengan Icha, jujur saja Reiki segan dengan gadis muda itu. Pembawaannya
yang lembut dan cara bicaranya yang halus tentu saja membuat Reiki kagum,
jarang bisa menemukan perempuan sedewasa itu di umur yang baru 17 tahun.
“Ayo ka…” Icha tidak menunggu Reiki bilang
iya, dia sudah berpaling terlebih dahulu, dan Reiki entah kenapa ikut saja
dengan apa yang diminta oleh Icha.
Kini mereka berdua sudah sampai di ujung
café yang lumayan luas itu. tanpa dipandu, Icha langsung berbalik menghadap
Reiki dan mengambil nafas panjang sebelum mulai bicara dengan pria itu.
“Icha dengar semuanya. Semua rencana ka
__ADS_1
Reiki sama perempuan tadi. Icha dengar dari awal sampai akhir ka” tukas Icha
dengan wajah ingin menangis.