ME VS MY BROTHER

ME VS MY BROTHER
Episode 22


__ADS_3

Suasana bandara luar biasa ramai saat ini,


wajar karena ini musim liburan. Seorang pria paruh baya dengan kemeja biru


navynya, keluar dengan membawa koper berwarna hitam.


“Zen…..” teriak seorang pria sambil


mengibaskan tangannya berkali-kali.


Pria itu tersenyum, Zen langsung


melangkahkan kakinya kearah pria tersebut. Rasanya agak aneh menginjakkan


kakinya di negara ini. Terakhir kali ia datang ke Indonesia, adalah saat dia


mengembalikan Claudia kepada Silvana.


“Gilaa, Zen…apa kabar???” Lelaki itu


datang dan memeluk Zen sebentar.


“Bima, sorry ngerepotin lo jadinya…” Zen


lalu berjalan bersama sahabat karibnya semasa masih di sekolah. Bimasatya


Adhitama, namanya familiar? Tentu saja karena pria ini adalah ayah dari si


kembar, Alif dan Icha.


“Santai bro, tapi gw kaget lo tiba-tiba


ngehubungin gw” seru Bima sembari mengecek ponselnya, dia langsung mengirim


pesan kepada supir pribadinya.


“Iya, hmmm tiba-tiba Anna kirim email ke


gw, bilang mau ketemu”


Bima terkejut, dia bahkan sampai melotot.


Apa ga salah Silvana bilang mau bertemu dengan Zen, sepengetahuannya terakhir


kali Zen disini, Silvana bahkan tidak menghadiri sidang perceraian mereka. Zen


juga putus kontak dengan anak dan mantan istrinya itu.


Akan tetapi biarpun begitu, Zen tidak


hilang akal, dia berusaha meminta Bima untuk terus memberikannya informasi


mengenai Claudia. Tanpa diketahui oleh putrinya Claudia, Bima seringkali


meminta Icha untuk mengambil foto Claudia secara diam-diam, dan permintaan Bima


itu di sanggupi oleh putrinya.


“Serius Zen?, tapi lo udah tau kan mantan


bini lo itu udah kawin lagi?” Bima tidak menyangka bahwa pada akhirnya Silvana


duluanlah yang menghubungi Zen. Namun ada keraguan pada diri Bima, dia takut


sahabatnya itu masih berharap pada sang mantan istri, karena sepengetahuan


Bima, Zen memang sangat mencintai mantan istrinya tersebut.


“Hmm…ya udah tau dari nyokap…” jawab Zen


datar.


“Apa gara-gara kejadian beberapa hari yang


lalu ya?, makanya Ana ngehubungin lo?” Bima mendengar cerita dari Alif dan


Icha, jika saat kedua anaknya itu main kerumah Claudia, ternyata saat itu


Claudia mau dilamar orang.


“Kalo maksud lo anak gw mau dilamar sama


Reiki, ya emang ngomongin itu”


“Gila, Claudia kan masih kecil bro, lo


restuin gitu?”


Zen hanya diam sambil menghela nafas,


sejujurnya dia tidak setuju. Tapi sehari sebelum keberangkatannya ke Indonesia,


Satyo menghubunginya. Ia telah menjelaskan bahwa salah satu niat Reiki menikahi


Claudia, adalah agar Claudia bisa bebas bertemu dengan Zen. Sesuatu yang nyaris


tidak mungkin terjadi, selama Claudia masih tinggal bersama ibunya itu.


Dalam kondisi dilematis ini pun, Reiki


juga akhirnya menawarkan sebuah perjanjian pada Zen. Walaupun hubungan mereka


masih ada tali persaudaraan, sebenarnya Zen tidak terlalu suka dengan Reiki,


menurutnya Reiki terlalu pintar menyembunyikan sesuatu, dia memang tau bahwa


keponakannya ini cinta mati pada Claudia, dan itu pulalah yang membuat pria ini


jadi ragu akan lamaran Reiki.


Ketakutan terbesar Zen adalah pria itu


nantinya akan mengontrol secara penuh kehidupan Claudia, bibit seperti itu


sudah ditampakan oleh Reiki, sejak Claudia kecil Reiki mengatur semua hal yang


berhubungan dengan Claudia, mulai dari kapan waktu gadis itu belajar, bermain,


tidur, bahkan makan cemilan dan snack seperti apa yang boleh dimakan Claudia.


Aneh, tentu saja bukan hal yang wajar bagi anak 12 tahun mengatur sedetail itu,


bahkan Silvana dan Zen saja tidak sekeras itu pada Claudia.


Akan tetapi saat itu Zen dan Silvana tidak


bisa berbuat banyak, keduanya sibuk bekerja diluar, jadi harus diakui bahwa


Reiki memang sangat membantu dalam menjaga Claudia. Namun tetap saja itu tidak


bisa jadi alasan.


Bima nampaknya paham apa yang ada


dipikiran sahabatnya itu, jadi dia hanya menggelengkan kepala saja, lalu lanjut


bicara.


“Gw ga ngerti deh anak-anak jaman sekarang


kebanyakan nonton sinetron apa gimana ya?, ngegampangin banget soal masalah


perkawinan begini. untung anak gw si Icha nurun banget sama si Mey, cuman si


Alif doang ini yang mesti di servis otaknya” mendengar Bima berkata seperti


itu, Zen langsung tertawa.


“Lo bilang si Alif mesti di benerin


otaknya, lah kan elu biangnya Bim, emang dulu lu gak inget pas kita masih SMP


kaya gimana?” seru Zen tertawa sinis.


“Enak aja lo, gini gini kan gw ketua osis


terkece pada masanya hahaha….”

__ADS_1


Zen cuma bisa geleng-geleng melihat


kelakuan sahabatnya yang sedang berpose ala model jadul, ya ternyata Bima masih


absurd malah mungkin semakin aneh, walaupun sudah tua bangka begini, gak heran


Alif sama aja kelakuannya.


“Lo bersyukur Bim, seenggaknya ketua rohis


tercantik angkatan kita mau kawin sama makhluk dari planet Namex kaya lo, udah


gitu lo dapet bonus si Icha lagi, anak perempuan lo itu udah langka banget


jaman sekarang” Zen tertawa melihat kelakuan Bima.


“Iya juga sih ya, makanya gw sayang banget


sama my darling, karena my beloved darling anak gw ada yang waras walaupun


cuman satu” seru Bima serius.


Zen tidak habis pikir bagaimana bisa Bima


bicara seenteng itu soal Alif, tapi memang anak lelaki sahabatnya itu agak


aneh, Zen jadi ingat saat Alif mengejar-ngejar Claudia karena mau mengelap


ingusnya di dress milik putrinya itu, sedangkan Icha saat itu sudah meraung tak


karuan, karena Alif sudah terlebih dahulu mengelap hidungnya yang sedang flu


parah itu ke kerudung milik Icha. Kejadian itu sudah lama, saat mereka masih 3


tahun, tapi memikirkannya cukup membuat Zen kembali terkekeh.


“Si Alif masih suka ngamuk gak?”


Alif memang termasuk anak yang suka


ngambek, dahulu pernah satu waktu dia berguling di lantai mall karena minta di


belikan mainan. Yang lebih parah adalah Bima bukannya menenangkan anaknya, tapi


malah mendorong tubuh anaknya agar lebih jauh berguling di lantai mall. Hal ini


sukses membuat Mey, istri dari Bima mengamuk, setidaknya menurut cerita Bima


dia berhasil membuat Mey tidur terpisah selama 3 hari dengannya. Dari situ Bima


kapok melakukan kejahilan pada Alif, tapi ya kapoknya itu cuma kapok sambal,


lewat 3 bulan gilanya kumat lagi.


“Udah gak, terakhir pas Icha kena dbd, dia


udah ga pernah lagi guling-guling dilantai, karena ngeliat adeknya masih


bantuin my darling biarpun lagi sakit parah gitu. Sekarang sih yang gw


perhatiin, dia lebih tanggung jawab sama Icha, udah ga egois banget kaya dulu,


karena udah makin tuir kali ya itu anak” seru Bima sambil mengelus dagunya.


“Iyalah, mestinya sebagai bapak lo juga


banyak-banyak tobatlah..” Like father like Son, untunglah Zen hanya punya


Claudia pikirnya.


“Sialan lo Zen…hahaha…eh itu mobil gw,


yuk. Ini gw anterin kemana nih?”


Zen agak berpikir saat itu, dia harus


pulang kemana, apa kerumah ibunya, ke apartemen miliknya, atau kerumah yang ia


tempati dulu dengan Silvana dan Claudia.


“Kerumah gw yang dulu aja Bim..”


diantar pulang kerumah lamanya. Terlalu banyak kenangan dirumah itu, tentu saja


Bima khawatir pada sahabatnya itu.


“Hah lo yakin Zen?”


“Iya, kan masih ada pak Lukman sama


istrinya yang jagain rumah”


“Oh ok deh kalo gitu”


Mereka pun akhirnya berangkat


kerumah Zen, sedangkan Bima terus membicarakan perkembangan anak-anaknya dan


Claudia sepanjang jalan. Ya, tidak akan pernah membosankan bila pergi bersama


Bima.


Dilain tempat, Reiki kini sudah duduk


disebuah café bersama seorang perempuan. Syakilla lebih tepatnya, apa yang


mereka bicarakan?, tentu saja tidak jauh-jauh dari Aksa dan Claudia.


Butuh waktu kurang dari 2 hari untuk


mencari informasi tentang Syakilla, Reiki tidak pernah membuang waktu untuk hal


yang penting. Satu hal yang sama sekali tidak diketahui oleh Claudia, di balik


sikap sempurna dari Reiki, dia punya banyak bawahan yang siap membantunya dalam


melakukan apapun.


Bagaimana pun Reiki bukan hanya dokter


biasa, keluarga Satyo memang keluarga kaya raya, begitupula Keiko, jadi pewaris


tunggal satu-satunya sudah barang tentu membuat pundi-pundi uang Reiki selalu


penuh terisi, tapi dia juga bukan tipe lelaki yang pemalas, dia tidak mau


tunduk pada siapapun.


Karena hal tersebutlah dia berkarir


sebagai dokter, pekerjaannya berjalan mulus, secara garis besar seluruh


kehidupannya berjalan baik, kecuali satu hal, permasalahan cintanya, dan Reiki


yakin ia bisa memuluskan semuanya. Apalagi secara tulus dia memang menyayangi


Claudia, dan tidak ingin menyakitinya. Namun kalau posisinya seperti ini, harus


ada faktor X yang membuat Claudia berpaling pada dirinya. Tentu saat mendengar


Bram menyebutkan Aksa sudah punya calon sendiri, Reiki langsung bertindak


cepat. Ia langsung menggali informasi tanpa disadari oleh Bram.


“Jadi, kamu mau ketemu saya karena kamu


ingin saya bisa bersama dengan mas Aksa?” seru Syakilla sambil tertawa sinis.


“Saya cuma ingin semua hal kembali


ketempatnya seperti semula” Reiki sebenarnya tidak suka pada Syakilla, dari


pembawaan gadis itu, dia sudah tau bahwa perempuan ini akan menghalalkan segala


cara untuk memenangkan hati Aksa. Tanpa terkecuali melakukan kekerasan pada


Claudia, jelas Reiki tak ingin hal itu terjadi.

__ADS_1


“Ok, saya setuju. Kamu bersama dengan


Claudia, dan saya bisa bahagia bersama mas Aksa. Begitukan mau kamu?” seru


Syakilla sambil menunjuk bergantian, kearah dirinya dan Reiki.


Sedangkan Reiki, dia tidak nampak seperti


biasanya, aura dari dirinya benar-benar bukan seperti Reiki yang ramah dan baik


hati. Berbicara dengan Syakilla pun tak membuatnya jadi lebih ramah, dia tetap


menatap Syakilla dengan wajah datar tanpa ekspresi.


“Iya, dan saya ingin kamu lakukan apa yang


saya perintahkan” seru Reiki, sedangkan Syakila menaikan salah satu alisnya


sembari tersenyum. Gadis ini harus tahu apa yang akan ia dapatkan jika menolong


Reiki, dia harus punya jaminan bahwa pria itu akan selalu membantunya, sampai


keinginan mereka berdua tercapai.


“Imbalannya?” seru Syakilla, tersenyum


sinis.


“Imbalannya, saya akan jamin kamu bisa


menikah dengan Aksa ‘SECEPATNYA’ tanpa ada gangguan sama sekali, dan ini” seru


Reiki seraya memberikan sebuah amlop.


Saat Syakilla membukanya, ternyata itu


adalah tiket keliling eropa, dan sudah tentu itu jaminan, bahwa Reiki akan


membantu Syakilla hingga dirinya dan Aksa bisa melaksanakan honeymoon romantis


bersama-sama.


Wanita itu sangat senang dengan apa yang


dilakukan oleh Reiki, melihat namanya tertulis di tiket itu bersama dengan


Aksa, sudah membuatnya memikirkan hal yang tidak-tidak. Syakilla tidak perduli


soal perasaan Aksa, yang terpenting baginya adalah, dia punya hak penuh pada


tubuh Aksa, dan hal itu bisa terjadi bila mereka menikah.


“Hahaha, jadi apa yang harus saya


lakukan?” ujar Syakilla dengan semangat.


“Saya mau…..Aksa…tidur sama kamu…”


Syakilla tersenyum licik, ia senang


mendapatkan sekutu. Ini akan lebih mudah, apalagi Reiki masih ada hubungan


keluarga dengan Silvana.


“Caranya?”


“Saya akan kasih tahu kamu detailnya, tapi


untuk sekarang ini, gimana pun caranya, kamu yakinkan Aksa untuk bisa percaya


sama kamu. Tahan rasa cemburu kamu, dan buat seolah-olah kamu membantu Aksa


mendapatkan hati Claudia.”


“Wah, kita sepemikiran. Tapi itu gak akan


mudah, lawan kita bukan cuma mereka berdua, Aksa dan Claudia, tapi tante


Silvana. Dari yang saya lihat dia ga suka Aksa dekat dengan saya”


Reiki kini mengangkat alis kirinya, ya


tentu saja jika dia jadi Silvana, tak mungkin Reiki setuju anaknya menikah


dengan perempuan gila macam Syakilla, tapi Reiki tidak peduli, toh itu bukan


urusannya. Yang terpenting baginya saat ini adalah, menghindarkan Claudia dari


masalah yang berpotensi menghancurkan hidup gadis itu. Apalagi Reiki tahu benar


bahwa, Bram sama sekali tidak ingin putri sambungnya itu turun pangkat jadi


menantunya. Entah apa alasannya, mungkin lain waktu Reiki akan mencoba mencari


tahu.


“Itu urusan saya, kamu fokus aja dapetin


kepercayaan Aksa, sisanya biar saya yang urus”


“Ooook, by the way kenapa kamu sampe mikir


buat ngacurin hati gadis kesayanganmu itu?”


“Karena lebih baik merusak benih hama


lebih awal, daripada nanti sudah menjalar. Akan lebih sulit untuk dimusnahkan


nantinya”


Syakilla setuju dengan pendapat Reiki,


kini tinggal bagaimana cara Syakilla memanipulasi Aksa. Apakah dia harus


mendekati Claudia, mungkin hal itu bisa jadi opsi terakhir.


“Ka Reiki…”


Reiki terkejut dan segera melihat kearah


belakang, matanya membelalak saat melihat seorang gadis cantik dengan hijab


pink pastelnya. Reiki langsung berdiri, dan mengahadap kearah gadis itu..


Syakilla heran, kenapa Reiki terlihat panik sekarang.


“I…Icha…kamu ngapain disini?”


“Ka Reiki maaf, tapi boleh Icha ngobrol


sebentar sama ka Reiki?” tanya Icha dengan wajah sangat serius.


Reiki bingung, selain Claudia, hanya Icha


yang mampu membuatnya bersikap kebingungan seperti ini. Lain kasus bila dia


bertemu dengan perempuan lain, akan mudah bagi Reiki untuk berbohong. Tapi


tidak dengan Icha, jujur saja Reiki segan dengan gadis muda itu. Pembawaannya


yang lembut dan cara bicaranya yang halus tentu saja membuat Reiki kagum,


jarang bisa menemukan perempuan sedewasa itu di umur yang baru 17 tahun.


“Ayo ka…” Icha tidak menunggu Reiki bilang


iya, dia sudah berpaling terlebih dahulu, dan Reiki entah kenapa ikut saja


dengan apa yang diminta oleh Icha.


Kini mereka berdua sudah sampai di ujung


café yang lumayan luas itu. tanpa dipandu, Icha langsung berbalik menghadap


Reiki dan mengambil nafas panjang sebelum mulai bicara dengan pria itu.


“Icha dengar semuanya. Semua rencana ka

__ADS_1


Reiki sama perempuan tadi. Icha dengar dari awal sampai akhir ka” tukas Icha


dengan wajah ingin menangis.


__ADS_2