ME VS MY BROTHER

ME VS MY BROTHER
Episode 42


__ADS_3

“Ka, Claudia dimana ya?” Silvana bertanya pada Aksa. Anak gadisnya itu memang tidak terlihat didalam vila. Sedangkan anggota keluarga yang lain lengkap sedang berkumpul kecuali Syakilla, yang sedang mandi di kamarnya.


Lalu Reiki yang mereka kira tengah berada juga dalam kamar, karena tidak kelihatan kapan keluarnya.


“Gak tau bunda, emang kenapa?” Aksa langsung berdiri dari duduknya, dan mendatangi Silvana.


“Ya itu anak belum makan, coba tolong kamu cariin dulu kak..” seru Silvana sambil memberikan piring untuk Bi Sumi cuci, sedangkan Silvana membereskan meja makan.


“Ok bunda” seru Aksa langsung bergegas mencari keberadaan adiknya itu.


‘Dimana lagi si Claudia, udah mana kakinya sakit gitu. Aku bener-bener harus minta maaf sama dia, mumpung gak ada Syakilla’ seru Aksa, hingga dia melihat Reiki dan Claudia duduk bersama.


‘Ngapain lagi tuh si Reiki deket-deket Claudia’ Aksa langsung emosi, melihat adiknya duduk berduan bersama Reiki. Ia pun memutuskan untuk mendekati kedua orang itu.


“Boleh aku cium kamu?” seru Reiki.


Claudia terdiam, dia bingung harus menjawab apa. Aksa sudah berkali-kali menciumnya, tapi tidak pernah meminta ijin dahulu. Ini pertama kalinya ada seseorang yang meminta ijin untuk mencium dirinya.


Reiki menunduk, dia tersenyum sedih. Dia tahu mungkin ini masih sulit dilakukan oleh Claudia. Disisi lain Claudia merasa bersalah, namun melihat reaksi Reiki yang imut seperti itu, Claudia jadi tersenyum.


“Uhm, kalo kamu gak ijinin, gak apa…” belum selesai Reiki bicara, Claudia sudah mencium singkat bibir Reiki.


Wajah Reiki benar-benar memerah, dia tidak menyangka Claudia mengecup bibirnya secara singkat. Jangan tanyakan Claudia, rasanya dia mau masuk lubang dan bersembunyi disana.


“Sekali lagi Di…” seru Reiki, langsung melingkarkan tangannya di pinggang Claudia, dan kembali mencium gadis itu.


Bagi Reiki ini adalah ciuman pertamanya, tidak pernah sekali pun dia mencium perempuan lain, karena seumur hidup dia ingin melakukannya dengan Claudia, tapi Reiki sering membaca mengenai hal-hal seperti ini.


Semuanya terasa berjalan sangat lambat bagi mereka berdua, ya Reiki begitu menikmati momen kebersamaannya bersama dengan Claudia. Mereka melepas pagutan itu dan tersenyum satu sama lain, lalu merenggengkan pelukannya.


BUGGGGGH. Tiba-tiba Reiki sudah tersungkur kesamping, Claudia benar terkejut, Claudia langsung berdiri dan membantu Reiki untuk duduk.


Siapa pelaku pemukulan tersebut?, yasudah pasti Aksa. Dengan jelas dia melihat ketika Claudianya berciuman dengan Reiki. Emosinya memuncak saat melihat kedua orang itu menatap dengan penuh kasih satu sama lain.


“KAKAK APA-APAAN INI” Bentak Claudia, tapi Aksa tidak bereaksi. Dengan cepat Aksa menarik tangan Claudia dan membuat gadis ini jauh dari Reiki.


Tanpa peringatan, Aksa langsung memukuli Reiki tanpa ampun, ia bahkan berkali-kali membuat Reiki terjatuh lalu menarik Reiki untuk bangkit kembali. Melihat kejadian itu Claudia berteriak, tapi sayangnya belum ada satu pun yang datang.


“Gw udah bilang sama lo, jangan deketin Claudia lagi” seru Aksa dengan sangat emosi.


Reiki tersenyum, sejak tadi lelaki ini memang sama sekali tidak membalas semua pukulan dari Aksa, seakan menerima nasib, walaupun sudah babak belur begitu Reiki masih bisa bersikap tenang.


“Claudia yang dateng sendiri ke gw, dengan segala hormat lo udah kalah…KAKAK IPAR” ucap Reiki dengan senyum sinis.

__ADS_1


Aksa gelap mata dia terus meninju, menendang bahkan menginjak kepala Reiki. Claudia benar-benar marah melihat Aksa memukuli Reiki. Gadis ini pun dengan tertatih berjalan mendekati Reiki.


“KAKAK UDAH CUKUP KAK…KAAAAAAK” Claudia berteriak dan memeluk Reiki.


Aksa langsung menarik tangan Claudia agar menjauh dari tubuh Reiki, namun Claudia berusaha untuk terus memeluk Reiki yang sudah setengah sadar..


“KAK UDAH CUKUP….AKU MOHON KAK UDAH….” Claudia mulai histeris, dia berusaha meronta dari genggaman Aksa.


“JANGAN PEGANG-PEGANG DIA CLAUDIA, KAMU ITU MILIK AKU BUKAN MILIK BAJINGAN ITU” Bentak Aksa yang langsung membopong Claudia.


Gadis ini benar-benar kesal, dengan sekuat tenaga ia menampar Aksa. Wajah Aksa pun memerah, dia tidak bergerak dari tempatnya karena terkejut Claudia bisa menamparnya seperti ini.


“GAK AKU UDAH MUAK SAMA SIFAT KAKAK YANG KAYA GINI !!!!! LEPASIN AKU” Claudia mendorong Aksa, dan kembali memeluk Reiki.


Aksa terjatuh dia shock berat, karena merasa Claudia benar-benar sudah tidak mungkin jadi miliknya lagi.


Di sisi lain tidak ada yang menyadari apa yang sedang di lakukan Syakilla, ia gadis ini menjadi saksi mata sejak awal Aksa memukuli Reiki.


‘Ckckck Reiki, kamu segitunya ya sama Claudia. Tapi kamu hebat, kalau begini peran kita masing-masing sudah tepat. Mas Aksa, kamu udah gak bisa lolos lagi dari aku. Karena bukan Claudia yang membuang kamu, malam ini kamu sendirilah yang sudah menghancurkan perasaan Claudia sama kamu. Good job my dear, aku gak nyangka malah kamu sendiri yang menyelesaikan stage pertama ini, aku pastikan akan ada happy ending untuk kita berempat’ Syakilla tertawa, melihat apa yang terjadi.


Karena Aksa tidak kunjung kembali, Silvana pun meminta bi Sumi untuk mengecek, tapi yang dilihat wanita 47 tahun itu membuat dia histeris. Bi Sumi berlari masuk kembali kedalam, dan panik karena melihat Aksa memukuli Reiki.


“Astaga….bapak…ibu….den Aksa sama mas Reiki bu”


“Bu tolong bu itu den Aksa sama mas Reiki berantem sampe pukul-pukulan”


“Astagfirullah yang bener bi” Bram yang sedang berada di ruang tv bersama pak Ujang langsung keluar.


Mereka shock melihat Reiki yang sudah terkapar dan Claudia yang sudah menjerit histeris. Silvana dan Nesya juga tidak kalah kagetnya, dia melihat kaos yang Aksa kenakan sudah penuh dengan cipratan darah.


“Ya ampun Aksa apa yang kamu lakuin kak…” Silvana berlari mendekati ketiga orang itu.


“Reiki…Reiki bangun Reiki…” seru Silvana, sambil mengecek denyut nadi dan mata Reiki.


Claudia yang melihat wajah ibunya, tahu kalo ada yang tidak beres pada Reiki, gadis ini pun semakin histeris.


“Bun…bunda…ka Reiki…” seru Claudia sambil terbata-bata.


“Claudia tenang nak…mas tolong siapin mobil…” Silvana berusaha menenangkan anak perempuannya itu.


Tidak ada satupun yang fokus pada Aksa saat itu, Bram sebenarnya ingin marah, tapi kondisi Reiki lumayan parah, kemarahannya bisa di tunda nanti.


Hanya Nesya yang tinggal dan Claudia yang shock, tadinya gadis ini ingin ikut, tapi kondisinya juga tidak baik. Memar dan luka di lututnya berdarah lagi, apalagi tangannya juga semakin bengkak, pergelangan kakinya semakin parah karena tadi memaksa untuk sedikit berlari.

__ADS_1


Lalu bagaimana dengan Aksa, pria itu kini duduk tepat dimana Reiki dan Claudia berciuman, rasanya Aksa ingin mati saja. Sekali lagi semangat hidupnya hilang.


Aksa menangis, ia menangis dengan sangat kencang. Jujur saja Nesya miris melihatnya, ia pun berinisiatif menenangkan Aksa yang terlihat sangat frustasi, setelah apa yang terjadi.


“Aksa…” seru Nesya lalu duduk disamping Aksa.


“Eyang…eyang….” Aksa langsung memeluk Nesya dengan erat, ia dia kalah. Kalah dari Reiki, kalah dari rasa cemburunya dan yang paling parah, kalah dari dirinya sendiri.


Malam itu di sudahi dengan Reiki yang babak belur, dan Aksa yang memilih untuk pulang ke Jakarta saat itu juga bersama pak ujang, Syakilla dan Nesya juga bi Sumi.


Sedangkan Claudia, gadis itu tidak ingin melihat Aksa jadi dia memilih untuk langsung pulang bersama dengan Reiki ke rumah Zen. Tentu saja ini jadi rahasia keluarga Priambudi, Reiki berkeras bahwa dia tidak ingin ibu dan ayah mengetahui soal ini.


Zen yang di hubungi oleh Silvana datang menjemput putrinya dan Reiki malam itu juga. Dokter mengatakan Reiki memang babak belur tapi tidak ada luka dalam, jadi dia di perbolehkan untuk pulang.


Selama di perjalanan, Claudia tidak pernah melepas pelukannya dari Reiki, gadis itu senantiasa mengecek kondisi Reiki, berkali-kali menawarinya untuk minum, dan menggenggam erat tangan pria itu.


Namun beda dengan Zen, dia merasa sekali lagi ada yang janggal. Reiki itu sempat menjadi calon atlet judo nasional, seharusnya dia bisa menghalau serangan Aksa, tapi kenapa tidak dilakukannya. Lalu, dalam kondisi babak belur hingga tak sadarkan diri, seharusnya ada beberapa tulang yang patah, tapi kenapa ini tidak, dokter bilang semuanya baik-baik saja.


“Ayah…” seru Claudia.


“Ya nak?”


Claudia melihat kearah Reiki yang kini terlelap di sampingnya. Gadis ini mengeratkan genggaman tangannya, lalu kembali bicara dengan Zen.


“Ade mau ayah setuju sama permintaan ade untuk menikah lebih cepat sama ka Reiki” pinta Claudia dengan lirih.


Zen mengerutkan alisnya, bukan sifat Claudia memaksakan sesuatu seperti ini. Gadis ini cukup patuh pada Zen, jadi cukup aneh ketika putrinya itu mulai merayu Zen kembali, agar diijinkan menikah dengan Reiki.


“De….ayah kan udah bilang…”


“Gak bisa ayah…”


“Claudia sayang…” seru Zen sambil menolehkan kepalanya kearah Claudia.


“Ini semua karena ade…ade gak mau kaya gini terus ayah, lepas ade nikah nanti sama ka Reiki, ade pengen ikut ayah. Jadi ade minta tolong buat urus visa ijin tinggal ade ya ayah, ade mohon…” pinta Claudia


“De…sekarang kamu istirahat, ayah gak mau bicarain ini lagi” Zen menghela nafasnya.


Air mata Claudia berlinang, bagi gadis itu apa yang terjadi hari ini pada Reiki, adalah suatu mimpi buruk, dan jelas Claudia menyalahkan dirinya sendit atas apa yang dilakukan Aksa kepada Reiki.


“Kakak, maafin ade…” seru Claudia sambil mencium pipi Reiki.


 

__ADS_1


Claudia dan Zen tidak tahu, bahwa sejak tadi Reiki tersenyum dengan lebar. Dia senang karena Claudia mulai memaksa Zen, untuk cepat menikah dengannya. Sayangnya tidak ada yang sadar karena mobil sangat gelap.


__ADS_2