ME VS MY BROTHER

ME VS MY BROTHER
Episode 11


__ADS_3

Bram memasuki café dengan tergesa-gesa, dia khawatir Silvana menunggunya.


"Mas" panggil silvana sambil melambaikan tangannya.


Bram berjalan menuju istrinya, lalu memeluk dan mencium pipi Silvana.


"Udah lama nunggunya ?" tanya Bram


"Gak aku baru sampe, aku udah pesenin ice americano"


Suami Silvana itu tersenyum, istrinya memang tau kesukaannya. Tapi ada yang aneh hari ini, kenapa wajah Silvana terlihat gusar, apalagi dia meminta ketemuan dengan Bram diluar. Biasanya jika ada masalah Silvana lebih suka bicara di rumah ketimbang diluar seperti ini.


"Kenapa sayang, gak biasanya kamu nelepon aku minta ketemuan gini..."


"Aku maunya ngobrol di rumah, tapi kayanya ga akan sempet kalo nunggu mas pulang dulu"


Bram menarik alisnya, tidak akan sempat, memangnya ada apa sampai harus buru-buru seperti ini, pikir Bram.


"Yaudah terus?"


"Pertama aku mau kasih tau, nanti malem Keiko sama mas Satyo, mau dateng silahturahmi ke rumah, mas udah tau kan maksud mereka kalo aku udah bilang begini" tanya Silvana pada Bram yang nampaknya tidak kaget sama sekali.


"Mereka mau ngelamar ade? Tapi kan kamu bilang Reiki mau nunggu ade lulus dulu?"


Ayah sambung Claudia ini tau bahwa Reiki memang jatuh cinta pada anak sambungnya itu, tapi dia juga mengerti terlalu dini bagi Claudia untuk menikah, walaupun jika ditanya posisinya sebagai seorang bapak, Bram lebih memilih anak gadisnya itu menikah saja ketimbang pacaran tak tentu, apalagi Reiki punya pekerjaan tetap, dan dia termasuk dokter top di rumah sakit tempatnya bekerja.


"Iya itu dia mas, makanya aku pusing, tadi aku ketemu Keiko dan dia bilang Reiki maksa mereka buat ngelamar Claudia secepatnya"


"Kamu udah kasih tau ade?" tanya Bram sambil menarik americano yang baru saja datang.


"Ya belum dong mas, aku gak mau ngerusak suasana yang udah lumayan aman di rumah, kamu tau sendiri ade kalo udah uring uringan kaya gimana"


Silvana sudah mulai merasa kondisi dirumah tidak seburuk kemarin-kemarin, setidaknya saat ini jauh lebih baik daripada sebelumnya. Aksa dan Claudia sudah mulai akrab, dan dia berharap mereka berdua tetap akan jadi saudara saja bukan lebih dari itu.

__ADS_1


"Ok, terus yang kedua?" tanya Bram tiba-tiba.


"Yang kedua Keiko bilang Zen mau dateng ke Indonesia minggu depan, dan karena masalah ini Keiko minta kita ketemuan berlima"


Bram menghela nafas dengan kasar, ia tahu betapa keras kepalanya Silvana, padahal sejak sebelum menikah, ia memaksa Silvana untuk mempertemukan Claudia dengan ayah kandungnya itu, tapi di tolak mentah mentah. Sekarang Zen datang, dia pasti ingin bertemu dengan Claudia, apalagi Reiki mau melamar anak sambungnya tersebut.


"Sayang, kamu mau dengerin mas ga? Kalo kamu janji mau ikutin yang mas saranin ke kamu, mas mau kasih jalan keluarnya" seru Bram sembari meraih tangan istrinya itu.


"Mas, aku cerita sama kamu ini supaya bisa dapet saran, ya tentu aja aku akan ikutin apapun yang kamu bilang" jawab Silvana dengan wajah serius.


"Ok, untuk masalah pertama dan kedua, jawabannya cuma 1. Hubungin Zen..."


Silvana nampak tak terima, sebenarnya dia mengharapkan saran lain dari suaminya itu, bukan hal yang sama seperti yang di katakan oleh Keiko dan Nesya ibunya.


"Mas..."


"Shhhh kamu tadi udah janji kan..."


"Tapi mas, kalo buat ngehubungin Zen aku berat banget..."


"Akan lebih berat lagi masalahnya, kalau kamu ga ngehubungin ayah kandungnya Claudia, gimana pun perlakuan Zen ke kamu, dia tidak pernah jahat sama Claudia" jawab Bram sambil menatap lurus kea rah Silvana, ia serius dengan ucapannya. Bagi Bram apa yang dilakukan Silvana saat ini, hanya memberikan kenyamanan sesaat dan bukan solusi konkret, ibaratnya sekarang Silvana sedang membuat bom waktu bagi dirinya dan Claudia.


"Aku takut mas kalo nanti Zen bawa Claudia lagi dari aku"


"Dengan kamu berbuat seperti ini, malah akan membuat kamu kehilangan Claudia. Ana... Claudia itu bukan anak kecil lagi, dia udah tau mana yang benar dan mana yang salah" jelas Bram secara lembut pada istrinya itu


"Aku tau mas...aku paham...tapi...ini sulit..." Silvana menangis, ia tidak tahan dengan rasa takutnya itu, tapi ia juga tidak bisa menutup kenyataan, bahwa Claudia butuh ayahnya.


"Anggap aja ini titik balik buat kamu, kamu harus liat Claudia, gimana dia dengan keegoisan kita memaksa pribadinya untuk terima perubahan yang sama sekali ga dia inginkan. Seharusnya kita sebagai orang tuanya, bisa belajar dari Claudia walaupun dia ga terima kondisinya begini, tapi mulai bisa berkompromi dengan diri sendiri juga sekitarnya. Aku yakin Claudia itu sosok yang bijaksana kok, sekarang kamu yang harus menunjukan ke Claudia, kalau bundanya ini juga sosok yang pemaaf"


Silvana yang menangis hanya mengangguk-anggukan kepalanya saja, ia pun mengenggengam erat tangan suaminya itu.


"Aku dan anak-anak selalu ada buat dukung kamu sayang"

__ADS_1


"Makasih mas.." jawab Silvana


"Yaudah yuk kita pulang aja...mesti siap-siap buat nyambut Kei sama Satyo"


Silvana tersenyum, suaminya ini memang paling pengertian.


Waktu sudah menunjukan pukul 5 sore, makanan yang mau dihidangkan juga sudah mau selesai di masak oleh Nesya dan Bi Sumi. Claudia tau itu, tapi dia tidak mau keluar kamar, karena setelah selesai mandi tadi dia melihat Syakilla sedang memeluk Aksa dengan mesra. Syakilla dan Claudia bahkan sempat eye contact, tapi Syakilla malah tersenyum melihat wajah Claudia.


Rasanya Claudia kesal sekali, Aksa memang sudah menipu dirinya. Kalau memang dia dan Syakilla tidak punya hubungan kenapa mereka berpelukan mesra begitu. Claudia langsung masuk ke kamarnya, sampai tadi dia rasanya mau meledak dan memaki-maki Aksa, tapi sebuah pesan masuk ke ponselnya. Saat ia check ternyata Reiki mengirimkan pesan padanya.


Reiki : Di chan... lagi apa?


"Numben kak Reiki manggil aku Di, biasanya ade...kok jadi ga enak gini perasaanku...dulu waktu ka Reiki mau ngelamar aku juga manggilnya gini...jawab apa ya..." Claudia bingung kenapa Reiki memanggilnya dengan cara berbeda, dulu 1 minggu sebelum Reiki datang dan melamar Claudia dia terus memanggil Claudia dengan embel-embel 'chan'. Memang baik Claudia dan Reiki dapat berbahasa Jepang dengan baik, kadang saat Claudia masih kecil dan ingin bicara rahasia dengan Reiki, mereka akan bicara dengan bahasa Jepang, karena Silvana sama sekali tidak paham dengan bahasa mantan ayah mertuanya itu.


Claudia : Lagi mandi, katanya eyang, kakak sama tante Keiko mau main kesini?


Reiki : Iya, nanti malem. Sekalian mama mau bawain oleh-oleh umroh buat tante Ana.


Claudia : Kalau gitu ade ga mesti pake baju formal kaya waktu itu kan ka?


Reiki : Di, kakak nanti mau dateng sama papa dan mama kakak. Udah gitu aja, kamu siap-siap aja.


Claudia : Kok gitu sih ka, kakak kan udah janji sama aku.


Reiki : Nanti malem kakak mau ngomong 4 mata sama kamu. Udah kamu dengerin kakak, pake baju yang rapih.


Claudia melempar pelan ponselnya, ia tidak ingin percaya bahwa Reiki akan melamarnya lagi nanti malam, apa yang sebenarnya membuat Reiki merubah keputusannya. Entahlah kepala Claudia pusing memikirkannya, lebih baik dia merapikan diri sekarang.


"Ah iya, mending ngomong ke anak-anak aja kali ya, kan bisa bilang sama ka Reiki nanti aku ada urusan buat pentas 2 bulan lagi" Claudia langsung lari mengambil ponselnya.


Claudia : Kerumah gw ya sekarang, gw tunggu...


Claudia tertawa dengan senang, mungkin rencana ini akan membantunya untuk terbebas dari acara lamaran yang mencekam.

__ADS_1


 


 


__ADS_2