ME VS MY BROTHER

ME VS MY BROTHER
Episode 12


__ADS_3

Silvana dan Bram memasuki rumah, dan melihat yang sedang duduk berbincang akrab dengan Aksa.


Dari yang mereka lihat Aksa dan Syakilla memang pasangan yang serasi, mereka berdua sama-sama enak dipandang, Syakilla yang lembut benar-benar mengimbangi, Aksa yang super dingin pada orang lain selain keluarganya. Aksa pun terlihat cukup terbuka pada Syakilla, tidak heran karena Aksa pernah sangat bergantung pada kehadiran Syakilla dihidupnya. Bisa dibilang Syakilla yang kini berstatus mantan pacar Aksa adalah salah satu orang terdekat dengan Aksa.


Bram tersenyum melihat kedekatan putranya dengan putri sahabat karibnya itu, sejak awal memang Bram ingin melihat anaknya menikah dengan perempuan seperti Syakilla. Anak sahabatnya ini memenuhi kriteria menantu idaman, cantik, pintar, baik hati dan punya background keluarga yang baik. Apalagi Indah ibu dari Bram langsung beda sikap dengan Aksa, ketika mendengar Syakilla dan Aksa berpacaran.


Nampaknya tanpa sadar Bram menaruh harapan besar, jika Aksa di terima oleh keluarganya. Ia cuman punya Aksa saat ini, dan semua kekayaannya nanti akan ia wariskan pada putranya itu. Ia tidak ingin Aksa mendapatkan kesulitan karena keluarga besarnya di masa depan. Menikahkan Syakilla dan Aksa bagi Bram adalah satu jalan keluar paling mudah bagi putranya untuk menghindari kesulitan di masa depan.


"Om..." sambut Syakilla dengan lembut dan langsung berjalan kehadapan Bram dan Silvana untuk salim.


"Lho Killa, kapan sampe?" tanya Bram dengan lembut


"Udah dari tadi om, tante..."


Silvana dan Bram pun duduk dan mulai mengobrol dengan Aksa dan Syakilla.


"Jadi gimana kabar papamu nak?" tanya Bram pada Syakilla.


"Baik om, papa bilang bulan depan papa mau dateng kesini"


"Oh bagus, kalo gitu bilang papamu begitu dia bisa dateng kita adain acara pertunangan kamu sama Aksa"


"PAPA..APA-APAAN SIH..." seru Aksa dengan nada agak tinggi, tapi Bram tidak menggubrisnya.


Aksa dan Silvana terkejut, mata mereka membelalak. Pertunangan apalagi ini, Bram bahkan belum bilang apapun pada Aksa selaku orang yang mau di tunangkan, Aksa sendiri saking terkejutnya sampai berdiri dari duduknya.


Syakilla nampaknya memang benar-benar jatuh cinta pada Aksa, ia bahkan tahu kalau Aksa tidak suka akan ide pertunangan ini. Bisa saja Syakilla mengompori Bram agar ia bisa menikahi Aksa secepatnya, tapi bukan Syakilla namanya jika main kasar begitu, ia lebih memilih memutar jalan yang jauh tapi bisa All in, ketimbang mendapatkan jalan pintas tapi ujung-ujungnya dia akan rugi sendiri. Ia ingin hati dan tubuh Aksa sepenuhnya menjadi miliknya, bukan hanya status tapi Aksa yang benar-benar mencintai dirinya.


"Om, kayanya Killa ga setuju kalau pertunangannya di percepat" jawab Killa sambil tersenyum.


Aksa menatap Syakilla tidak percaya, seharusnya Syakilla gembira dengan apa yang dikatakan oleh Bram, tapi kenapa sekarang ia malah menolak. Aksa yang melihat Killa heran itu pun, akhirnya kembali ke posisi duduknya. Di dalam pikiran Aksa saat ini adalah, Syakilla mungkin memang benar-benar ingin membantunya mendapatkan Claudia.


Beda Aksa beda Silvana, ia malah curiga parah dengan Syakilla, Silvana tau jika perempuan muda di depannya ini adalah perempuan yang telah terobsesi dengan Aksa. Silvana kenal dengan Syakilla cukup lama, dan walau tidak di ungkapkan Silvana tau anak ini cuku posesif, dan Syakilla semakin parah sejak Aksa masuk kuliah dan Syakilla baru masih SMA, jadi bagaimana mungkin dia mengatakan ketidak setujuannya dengan apa yang dikatakan oleh Bram. Silvana, berpikir bahwa gadis ini menginginkan hal yang lebih.


"Kenapa kamu ga setuju Killa? Bukannya kamu udah apa itu namanya kalo anak jaman sekarang, uhm...Bucinin Aksa dari lama ya?, kayanya aneh deh kalau kamu yang sudah cinta mati sama Aksa, dengan begitu aja nolak pertunangan di percepat!" celetuk Silvana dengan nada super sinis.

__ADS_1


Aksa tertawa, bundanya itu memang paling the best. Rasanya Aksa ingin langsung memeluk bundanya itu saat ini juga, ia sangat senang karena memang dari semua orang yang sekarang dekat dengannya, hanya Silvana yang memang langsung mengerti dengan apa yang Aksa inginkan. Silvana dilain pihak masih memasang senyum palsunya, dan suaminya Bram tidak bisa apa-apa karena sejak awal dia tahu Silvana tidak suka pada Syakilla.


Syakilla yang mendengar perkataan Silvana sebenarnya kaget, tapi dia menanggapi pernyataan Silvana dengan cukup bijaksana. Ia berusaha tenang, apalagi posisinya sekarang memaksanya untuk bersikap seperti seseorang yang berkorban perasaan demi kebahagiaan lelaki yang ia cintai. Semuanya harus terlihat sempurna, bagaimana pun dia juga butuh dukungan Silvana kalau mau pernikahannya dengan Aksa nanti langgeng.


"Tante bener, Killa emang sayang dan cinta sama mas Aksa, tapi kebahagiaannya mas Aksa nomer 1 buat Killa, kalau mas Aksa bahagia Killa juga bahagia kok tante" jawab Syakilla dengan tersenyum.


"Sudah-sudah yang pasti kita disini semua tau kalo Syakilla memang sayang sama Aksa, soal pertunangan kita pending dulu. Terus hari ini kamu nginep dimana Killa?"


"Hari ini Killa nginep di hotel Royal High Om, kebetulan Killa mau ketemu klien dari Australia besok pagi" jawab Killa


"Kebetulan banget dong ya, nanti malem yang punya hotel tempat kamu nginep mau kesini"


"Oh ya om? Wah kebetulan banget om"


"Iya kebetulan nanti malem mereka mau..."


Belum selesai Bram bicara Silvana sudah keburu mencubit tangan suaminya itu. Ia tidak suka Bram membicarakan soal acara keluarganya nanti malam pada orang asing.


"Mas, aku rasa ga perlulah cerita ke Syakilla, dia kan bukan siapa-siapa kita" jawab Silvana dengan penekanan di setiap kalimatnya.


"C-a-l-o-n itu berarti belum pasti mas. Bisa aja Aksa nikah sama orang lain yang lebih baik kan?" jawab Silvana sambil setengah melotot kearah Syakilla tak lupa ia tambahkan senyum di wajahnya.


Aksa yang memperhatikan bundanya itu bergidik ngeri, dia jadi tidak heran darimana sifat pemberani Claudia, ibunya ini tidak gentar dan masih bisa memasang senyum, apalagi bundanya bisa membuat seorang Bram Zaidan Priambudi tak berkutik.


"Aksa setuju sama bunda, gimana pun deketnya kita sama Syakilla pa, Syakilla belum masuk keluarga kita, gak pantes kayanya kalau semuanya kita kasih tau ke dia"


Aksa ingin memancing Syakilla nampaknya, dia belum bisa percaya 100%, apalagi yang dikatakan Silvana sebelumnya membuat Aksa berpikir kembali. Susah bagi Syakilla untuk ikhlas karena dia sudah lama memendam rasa cinta begitu besar pada Aksa.


"Tuh mas dengerin Aksa, yaudah Syakilla silahkan balik ke hotel, soalnya kami mau ada acara dirumah ini, cuma buat keluarga aja. Lagipula Killa, kamu tuh cantik masa ga bisa sih move on dari Aksa? Saya sebagai ibu sambungnya aja bisa ngerasain Aksa ga suka sama kamu!" jawab Silvana


"Sayang.."


"Diem mas, kamu udah denger itu anakmu ngomong apa, mending sakit diawal daripada bad ending nantinya, emang kamu lupa kaya gimana saya dulu ?"seru Silvana.


"Sayang tapi ga baik ngomong gitu ke Syakilla"

__ADS_1


"Kan saya ngomongnya juga santai, cuma mau kasih tau negesin ke Syakilla, Aksa tuh ga suka sama dia, ngapain masih pake nyatain perasaan begitu"


Syakilla hampir kehabisan akal, lawan terberatnya malah Silvana bukan Claudia, masalahnya adalah Indah ibu dari Bram, luar biasa menyayangi Silvana. Itu sudah jadi rahasia umum, Indah akan mengabulkan apapun jika Silvana yang memintanya. Dan saat ini dengan jelas Silvana menunjukan rasa tidak sukanya, dan jujur saja Silvana sudah muak dengan Syakilla, ia pun sudah mengambil ancang-ancang untuk pergi dari situ.


"Uhm, maafin Syakilla tante kalau ada salah, Killa bukannya bermaksud kurang sopan, tapi tadi Killa cuma curahin perasaan aja. Killa gak mau jadi pembohong buat perasaan saya ke mas Aksa" jawab Syakilla sambil menunduk.


"Gak apa apa Syakilla, tante Silvana cuma mau kamu jangan terlalu berlebihan aja sama Aksa" jawab Bram.


"Nah iya itu, tante ga suka kok kamu jadi perempuan kaya ga ada harga dirinya, udah sekarang kamu dianterin pak Ujang aja. Mas Bram ayo kita siap-siap"


"Ok sayangku, Syakilla om siap-siap dulu ya, besok kalau mau kesini lagi boleh kok"


"Iya om, maafin Killa ya tante"


Silvana dan Bram pun berlalu masuk ke dalam kamar mereka. Sedangkan Aksa masih duduk di sofa itu, ia menatap tajam kearah Syakilla.


"Mas...mas Aksa percaya kan sama aku?" tanya Syakilla dengan berlinang air mata.


"Aku to the poin aja Killa, aku percaya kamu perempuan baik, tapi untuk percaya 100% kamu mau bantuin aku kayanya sulit"


Syakilla mengepalkan tangannya, sialan kenapa Silvana curiga padanya. Apa begitu keliatan obsesinya pada Aksa, sejak awal memang ia tahu Silvana adalah perempuan yang super sensitive, walaupun Aksa sempat bergantung pada dirinya, tapi Silvanalah yang menarik Aksa dari jurang gelap. Bahkan Aksa berhenti minum-minum dan main perempuan berkat didikan keras Silvana.


"Yaudah aku ga maksa mas Aksa percaya sama aku, tapi tawaran aku tadi masih ada, aku bakal buktiin kalau aku mau bantuin mas Aksa. Aku pamit ya Mas..." Syakilla pun keluar dari rumah Aksa, dan disana Aksa hanya terdiam saja. Jelang beberapa menit ada suara dari luar rumah.


"Apa tamunya papa ya?" Aksa pun berjalan keluar menuju teras. Disana ia menemukan 6 orang remaja yang memakai pakaian rapi sambil membawa alat musik.


"Assallamuaallaikum ka, Claudianya ada?" tanya salah satu anak perempuan dengan hijabnya.


"Waallaikumsallam, ada kok. Masuk aja de" jawab Aksa ramah


"Makasih ka..." jawab mereka secara serempak.


Mereka pun masuk kedalam rumah, dan memakirkan mobil mereka, agak lama karena mereka membawa 2 mobil. Sedangkan Aksa bingung kenapa anak-anak ini ada disini, padahal nanti malam kan ada acara, yasudahlah bukan urusan dia juga.


 

__ADS_1


 


__ADS_2