ME VS MY BROTHER

ME VS MY BROTHER
Episode 73


__ADS_3

“Kak, kamu pulang Syakila baru aja kesini…dia hamil…”


Kalimat itu langsung membuat Aksa pucat pasi, sedangkan Claudia menatap Aksa dengan kebingungan. Tangannya terkulai lemas, hingga ia bahkan tak sempat menutup telepon dari Silvana.


“Kakak??? Kenapa???” tanya Claudia penasaran, Aksa hanya menatap gadis itu dengan ekspresi bingung juga takut.


“Di…aku anterin kamu kerumah om Zen ya…” seru Aksa.


“Lho kok…kakak ga ikut? Tiket pesawat kita besok pagi kan???” ucap Claudia tidak paham.


“Aku jelasin begitu kita sampai di rumah ayah kamu…sekarang ayo masuk dulu ke mobil” Aksa akhirnya meminta agar Claudia masuk kedalam mobil, kalau disuruh menjelaskna sekarang jujur saja Aksa tak akan sanggup.


Lagi pula bagaimana ia bisa menjelaskan kepada Claudia, jika ia sudah menghamili Syakila, terlebih saat kejadian di malam itu ia juga tak yakin telah melakukan apa saja terhadap mantan kekasihnya.


Firasat buruknya sedari tadi akhirnya memang terjadi juga, Aksa sadar ia tidak bisa lari lagi sekarang, mau tak mau kini ia harus menikahi Syakila.


Sepanjang perjalanan kedua orang itu tak saling berbicara, mereka saling mengkhawatirkan satu sama lain. Namun tak bisa mengucapkan sepatah kata pun, Claudia tahu ada yang tidak beres terjadi pada Aksa dan tebakannya juga tepat, karena ia sudah tahu bahwa keanehan yang terjadi terhadap Aksa saat ini pasti disebabkan oleh Syakila.


Permasalahannya ia tak paham apa masalahnya, hingga Aksa yang sepertinya akan membatalkan perjalanan mereka malah memilih untuk memulangkan Claudia kerumah Zen ketimbang kembali bersama-sama ke rumah mereka.


Sesampainya di rumah Zen, ayah dari Claudia itu menyambut mereka dengan ekspresi wajah muram. Sayangnya Aksa tahu benar kenapa pria paruh baya tersebut terlihat tak senang hati.


“Ayah…” seru Claudia lirih.


“Ade, kamu mandi dulu sana….ayah ada yang mau diomongin sama Aksa…” Zen tersenyum berusaha bersikap biasa, ia tak ingin membuat putri kesayangannya itu merasa khawatir secara berlebihan setelah mendengarkan apa yang ia sampaikan pada Aksa.


Claudia mengangguk, ia paham bahwa ayahnya itu secara halus memintanya untuk memberikan waktu berdua saja dengan Aksa.


“Ka, aku naik dulu ke atas ya…”


Aksa mengangguk, ia pun dipersilahkan untuk duduk. Suasana langsung berubah begitu saja menjadi sangat berat.


“Aksa saya rasa kamu tau kenapa Silvana bisa telepon kamu tadi…” jelas Zen tanpa basa-basi lagi.


Aksa terdiam, ya dia tahu alasan kenapa bundanya bisa menghubungi mereka, dan menyatakan agar Aksa dan Claudia membatalkan semua rencana mereka.


“Ya om, saya paham…” ujar Aksa lirih.


“Sebenarnya saya gak ingin memberitahu Silvana, tapi tadi dia telepon saya dengan suara panik. Sebagai seorang ibu, saya rasa dia sudah punya firasat kalau kalian sudah merencanakan untuk kabur bersama-sama”


Zen mengerti bahwa sebenarnya mantan istrinya itu tidak menentang hubungan kedua orang anaknya tersebut, namun situasi yang dialami Aksa sangat memberatkannya untuk memberikan izin agar mereka bisa bersama.


Sebagai seorang ibu tentu Silvana ingin Aksa dan Claudia bahagia, tapi sebagai seorang manusia, perempuan paruh baya itu ingin Aksa bertindak gentle dengan bertanggung jawab atas seluruh perilakunya.

__ADS_1


Termasuk menikahi Syakila terlepas dari ia dijebak atau tidak. Setidaknya itulah ditangkap oleh Zen ketika ia berbicara dengan mantan istrinya tadi.


“Kamu tahu, di awalnya saya memang mendukung hubungan kalian terlepas dari apa yang kamu perbuat, saya cuma ingin kebahagian yang sesungguhnya untuk Claudia. Tapi Silvana pasti sudah kasih tau ke kamu kan perihal kehamilan Syakila?”


Zen menghela nafas kasar, ia tidak ingin menyakiti hati putrinya tapi disisi lain ia harus menegakan keadilan. Bukan karena ingin dianggap sebagai pahlawan, namun ia sama sekali tak ingin putrinya bahagia diatas penderitaan orang lain.


Sebagai seorang ayah ia tahu benar perasaan marah, kecewa, dan sedih bilamana hal itu terjadi pada Claudia, dan jujur saja dirinya sama sekali tidak menginginkan jika Claudia berada di posisi seperti itu.


Jika ia menjadi ayah dari Syakila dengan tangannya sendiri ia pasti akan menyeret Aksa kepelaminan. Maka dari itu ia membeberkan lebih lanjut rencana Aksa dan Claudia.


“Saya minta kamu bertanggung jawab, nikahi perempuan itu dan coba untuk lupakan Claudia, kalian mungkin memang tidak berjodoh, kamu harus terima dan belajar untuk menata hidup kamu kedepannya” jelas Zen.


“Saya paham om, tapi jujur saya gak yakin kalau yang ada di kandungan Syakila itu adalah anak saya om…”


“Aksa, saya tahu kamu belum yakin soal itu, tapi tidak ada hal yang meringankan kamu juga. Permasalahannya adalah kamu memang melakukan hubungan badan dengan perempuan itu” Zen juga tahu, kalau dibalik ruwetnya permasalahan Aksa dan Claudia, ada campur tangan dari Reiki. Akan tetapi dia tidak bisa semena-mena menuduh keponakannya itu begitu saja, tanpa adanya bukti konkret.


“Sekarang lebih baik kamu pulang ke rumah, selesaikan maslaah ini dengan kepala dingin. Saran saya kalau kamu memang tidak percaya itu anak kamu, silahkan kamu tes DNA. Yang terpenting saat ini adalah kamu tidak kabur begitu saja dari masalah” jelas Zen.


Aksa tertunduk, ia tahu bahwa dirinya tidak bisa lari lagi dan harus segera bertanggung jawab.


Tangisnya pecah disaat itu juga, masa depannya bersama dengan Claudia hancur sudah. Ia mungkin tak ingin menyerah tapi kondisi memaksanya harus begitu.


Zen merasa kasihan pada Aksa, tapi ia juga tak bisa berbuat banyak. Berani berbuat maka harus berani bertanggung jawab.


Iya, itu kejadian beberapa minggu lalu…


Sekarang Aksa sudah berada di depan kaca, dengan setelan jas yang rapih.


Beberapa saat lagi ia akan resmi jadi suami dari Syakila, setidaknya itu yang sudah di rencanakan oleh seluruh keluarga besarnya.


Ia tidak focus, selama beberapa hari terakhir ia bahkan tidak bisa tertidur sama sekali, memejamkan mata saja sudah sangat sulit baginya.


Bukan hanya untuknya, Claudia juga merasakan hal yang sama. Keputusannya untuk pergi memang belum ia beritahu pada Aksa, sejujurnya ia berusaha untuk menghindari kakak tirinya tersebut.


Claudia kini berdiri di hadapan pintu kamar Aksa, gadis ini beniat untuk pamit. Karena setelah proses ijab Kabul, gadis ini akan langsung terbang keluar negeri bersama dengan ayahnya.


Walaupun ragu ia tetap mengetuk pintu kamar Aksa. Di sisi lain pemuda itu pun lalu berdiri dan membukakan pintu.


“Kak…” seru Claudia, ia berjuang untuk bersikap senormal mungkin.


“Claudia…”


“Boleh aku masuk???” tanya Claudia sambil tersenyum.

__ADS_1


Aksa tak menjawab, ia hanya bergeser dari tempatnya dan membiarkan gadis yang di cintainya itu masuk.


“Waaah aku gak tau kamar kakak yang biasanya berantakan bisa jadi serapih ini…keren juga orang yang ngedekor…” Claudia tertawa kecil, ia tidak punya niatan untuk terlihat muram di depan Aksa.


Apapun yang terjadi pada mereka, masing-masing harus terus menjalankan hidupnya, mereka tak mungkin berhenti untuk hidup hanya karena tidak dapat bersama.


Tapi berbeda dengan Claudia, Aksa tidak bisa bersikap biasa. Emosinya campur aduk, sulit untuk di jabarkan.


“Kamu cuma mau komentar doang soal kamar aku??” tanya Aksa lirih.


Claudia yang berdiri membelakangi Aksa mengatur nafasnya, ia ingin menangis namun tak bisa. Jika dia melakukannya Claudia yakin Aksa akan semakin sulit untuk move on.


Dengan cepat Claudia membalikan badannya sambil tersenyum dengan sangat lebar.


“Ya gak dong…aku cuma mau bilang ke kakak supaya jangan males bangun pagi lagi…sekalian aku mau pamit, mungkin kakak gak akan sempet ketemu sama aku lagi nanti…flight aku jam 5 sore soalnya…”


Mata Aksa terbelalak, penerbangan kemana pikirnya. Ia tidak tahu menahu soal rencana gadis yang dicintainya itu.


“Ka…kakak harus belajar untuk bahagia, aku udah move on kakak pun juga harus begitu ok?” ucap Claudia.


Aksa menitikan air matanya, bagaimana bisa ia menerima Claudia pergi jauh darinya.


“Di…aku gak bisa…” ucap Aksa sambil menarik Claudia dalam pelukannya.


“Kakak bisa dan kakak harus…” Claudia memeluk balik Aksa dengan sangat erat. Iya ini yang terakhir dalam benak Claudia.


“Gak Di aku gak mau…”


“Kak…aku mau kakak kuat…kakak gak sendirian, ada bunda sama papa yang akan selalu support kakak…” Claudia lalu melepaskan dekapan pria itu.


“Aku pamit ya kak….” Ucap Claudia, sambil berbalik dan berjalan kearah pintu meninggalkan Aksa yang membatu disana.


“Claudia…”


Claudia membalikan badannya, menatap aksa yang berusaha untuk tersenyum.


“Kamu bahagia?” tanya Aksa dengan lirih.


Claudia mengangguk, ia berusaha untuk tetap tersenyum walaupun sangat sulit baginya.


“Kalau kakak???” tanya Claudia.


Aksa menunduk sesaat, ini akhirnya. Ia mengangkat kepalanya lalu menatap mata Claudia, dan berusaha tersenyum. “Aku bahagia kalau kamu juga bahagia…”

__ADS_1


__ADS_2