ME VS MY BROTHER

ME VS MY BROTHER
Episode 51


__ADS_3

A/N 


Di chapter ini akan flashback lagi, sampai episode minggu depan ya readers. Oh iya jangan lupa baca cerita kita yang judulnya 'Tsundere boy & Otaku girl'. 


Selamat membaca semuanya...


 


XOXO MOXYAAL


-------------------------------------------------------


 


 


 


 


Apa yang terjadi pada Aksa?. Pria ini benar-benar kehilangan arah dan tujuan dari hidupnya. Ia teringat semua kenangannya akan Aini dan Bram dimasa lalu, rasa sakitnya bukan karena papa angkatnya itu menghardiknya soal Claudia.


“DASAR GAK TAHU DIRI KAMU, KALAU AKU GAK SETUJU UNTUK AMBIL KAMU DARI PANTI ASUHAN, SEKARANG KAMU ITU BUKAN SIAPA-SIAPA”


Aksa menangis sejadi-jadinya, ia tahu apa yang dikatakan papanya itu memang sebuah kenyataan, ia mungkin tidak akan jadi apapun, jika saja tak di adopsi oleh Bram dan Aini, berkat support dan kasih sayang mereka, Aksa bisa sukses seperti sekarang, belum lagi Silvana yang selalu menjadi penerang di saat Aksa terjebak di masa-masa kelamnya.


Ia teringat saat Silvana pertama kali datang di kehidupannya, setelah Aini meninggal, dan Bram pergi keluar negeri untuk menenangkan dirinya.


 


11 tahun yang lalu…


 


Silvana menerobos masuk kerumah keluarga Bram, sudah 7 bulan sejak Aini meninggal. Kediaman sepupunya itu suram, lampu tidak ada yang di hidupkan, bahkan Bi Sumi pun dilarang oleh Aksa untuk naik kelantai dua.


Selama 5 bulan itulah Syakilla tinggal bersama Aksa, bahkan tidur disatu kamar dengan pemuda itu. Mendengar hal ini Silvana berang, ia mengamuk pada Bram yang dianggapnya sebagai manusia tidak berguna. Bagaimana pun sedihnya dia seharusnya Bram tidak meninggalkan Aksa, apalagi setelah kejadian Aini dirawat di rumah sakit selama hampir setahun dan Indah justru absen hingga keberatan menjadi sandaran bagi cucunya yang baru berusia 17 tahun itu.


Ibu dari Claudia ini tahu benar bahwa mental Aksa sudah hancur-hancuran. Dia terlihat seperti manusia yang tidak punya lagi semangat hidup, dari situ pulalah Silvana tahu kalau Aksa terjerumus ke pergaulan yang salah, parahnya lagi Syakilla yang selama ini dikira Bram bisa menjadi penyemangat putranya itu justru menjadikan Aksa sebagai bonekanya.


Silvana mungkin tidak ada sangkut pautnya dengan keluarga itu, akan tetapi ia merasakan beban moral, bagaimana pun masa lalu mereka Aini tetaplah saudaranya, belum lagi wasiat Aini sebelum wafat.


Perempuan itu pun mengetuk pintu rumah Bram, hari sudah hampir malam saat ia berkunjung.


“Dokter Ana…” seru bi Sumi lalu membukakan pintu.


Silvana tersenyum, ia memang sudah mengenal bi Sumi. Tepatnya saat Aini mulai dirawat intensif di rumah sakit. Bi Sumi ini bertugas untuk membawakan makanan dari rumah untuk Aksa dan Bram, karena kedua orang itu memang bukan tipe orang yang suka makan diluar. Dari situlah Silvana kenal dan dekat dengan bi Sumi, apalagi beberapa kali Silvana memberikan saran untuk masakan yang baik bagi Aini.


“Aksa dimana bi?” tanya Silvana.


Saat ditanya soal Aksa, raut wajah bi Sumi mendadak berubah, ia terlihat ketakutan “Den Aksa lagi di kamarnya dokter, silahkan masuk” Bi Sumi mempersilahkan Silvana untuk masuk kedalam rumah.


“Makasih Bi…saya tadi siang di telepon pihak sekolah, mereka bilang Aksa udah gak masuk sekolah 3 hari ini, dia kenapa bi sakit?” Silvana memang di tunjuk sebagai wali Aksa, hal ini juga atas permintaan mendiang Aini yang merasa umurnya tidak akan lama lagi.


Sepupu dari Silvana itu juga nampaknya sudah memprediksikan, bahwa selepas dia tiada, ada kemungkinan suaminya akan kabur dari kenyataan. Dengan cepat Aini bergerak dan memindahkan seluruh hal-hal yang berkaitan dengan perwalian Aksa atas nama Silvana.


Bi Sumi menghela nafasnya, ia benar-benar terlihat tidak nyaman “Uhm anu itu dokter…den Aksa…”


Silvana bingung, ada apa dengan Aksa. Kalau dia sakit seharusnya dia bilang padanya.

__ADS_1


“Aksa kenapa bi? Tolong cerita sama saya, gimana pun sekarang saya ini walinya Aksa, kalau ada apa-apa sama dia, saya yang bertanggung jawab”


Bi Sumi cuma melihat kearah lantai dua, ini semua membuat Silvana makin bingung. Apa yang dikerjakan anak itu hingga bolos sekolah selama 3 hari, kalau benar dia tidak sakit, itu artinya Silvana memang sudah harus turun tangan.


Silvana melihat kearah lantai dua, entah apa yang sedang terjadi diatas sana, tapi firasatnya mengatakan bahwa semua ini ada hubungannya dengan Syakilla. “Bi…”


Bi Sumi langsung menyadari arah pandangan Silvana “Iya dokter?” jawabnya dengan suara yang ketakutan.


“Diatas… apa ada Syakilla?”


Pertanyaan Silvana hanya dibalas anggukan oleh bi Sumi, perempuan ini menghela nafasnya, ia langsung bergegas naik ke lantai dua.


Sampai didepan pintu kamar Aksa, bau asap rokok sudah tercium. Silvana lantas meminta bi Sumi mengambilkan ember yang sudah diisi es batu dan air. Bi Sumi mengiyakan, wanita itu lantas masuk ke dapur bersih di lantai dua, mengambil semua yang diminta oleh Silvana.


Setelah ember berisi air plus es batu itu sudah berada ditangannya, ia langsung mendobrak masuk dengan kunci cadangan, yang memang di pegangnya sejak acara tahlilan Aini.


Silvana hanya bisa membelalakan matanya, botol minum keras berserakan di lantai dan yang lebih parah Syakilla sedang tidur memeluk Aksa hanya memakai pakaian dalam saja.


Tanpa bicara panjang lebar Silvana langsung mengguyurkan setengah air yang ada di ember, kepada Aksa dan Syakilla.


Sontak saja guyuran air dingin itu membuat kedua orang yang sedang tertidur terbangun karena terkejut.


Aksa dan Syakilla yang melihat kearah Silvana tercengang, bahkan Aksa langsung berteriak.


“DOKTER !!!!” hardik Aksa, tentu saja dia tidak senang karena ada seseorang yang masuk ke dalam kamarnya tanpa ijin, terlebih lagi menyiramnya dengan air dingin pula.


Sekali lagi tanpa banyak bicara Silvana langsung menarik tangan Syakilla dan mendorongnya kelantai.


“Kamu keluar dari sini…” Syakilla hanya bisa terdiam dan kesal, dia langsung mengambil dressnya yang ada di lantai, mengenakannya lalu keluar dari kamar kekasihnya itu.


Kepala Aksa sakit, terang saja begitu. Selama berhari-hari dia mabuk-mabuk kan bersama dengan Syakilla, perempuan itulah yang membawa banyak minuman beralkohol untuk Aksa dan dirinya. Mereka menggila, bahkan rasanya tidak aneh jika tiba-tiba selepas dari sini Aksa harus bertanggung jawab pada Syakilla, kalau kalau perempuan itu hamil, karena dia sama sekali tidak sadar sudah berapa kali melakukan ‘itu’ bersama Syakilla selama tiga hari berturut-turut.


Silvana tertawa sambil mendengus, pertanyaan bodoh macam apa itu, sudah jelas Aksa tahu kenapa dia datang ke sini, padahal sedang sibuk-sibuknya.


“Menurut kamu mau ngapain saya kesini, disaat saya lagi sibuk-sibuknya ngurusin pasien. Pakai otakmu, apa gara-gara Aini meninggal kamu jadi selemah ini hah?!”


Aksa mengepalkan tangannya, dia kesal karena Silvana menyinggung nama perempuan yang sangat ia sayangi itu.


“Tolong keluar dari sini…” usir Aksa dengan ketus.


Silvana bukannya keluar dari kamar Aksa tapi malah menyiramkan air dingin itu lagi kepada Aksa, lalu melemparkannya dengan keras ke lantai.


“DOKTER!!!” teriak Aksa sekuat tenaga.


Silvana tidak gentar sedikit pun, dia malah melirik Aksa dengan sinis “Apa?! Mau kamu saya siram lagi!!!”


Aksa semakin kesal dengan tingkah Silvana, kenapa juga perempuan ini tahu-tahu datang dan mengatur kehidupannya.


“DOKTER KIRA DOKTER INI SIAPA HAH?!! JANGAN SOK IKUT NGATUR-NGATUR HIDUP SAYA!”


“Kalau kamu gak mau hidup kamu diatur orang lain, jangan bersikap seperti anak kecil yang lagi ngelampiasin tantrumnya ke semua orang”


Aksa sebenarnya sudah berkali-kali di bujuk dan didekati dengan cara yang halus, tapi alih-alih jadi lebih baik, dia malahan semakin menjadi.


Silvana sendiri awalnya tidak ingin terlalu ikut campur, tapi melihat kehidupan Aksa yang berubah drastis selama setengah tahun dan dengan apa yang dilihatnya hari ini, rasanya ia harus turun tangan.


Pemuda itu terdiam, memang dia ingin melampiaskan semua rasa depresinya dan kekesalannya kepada semua orang. Apa yang dikatakan Silvana memang tepat, ia seperti anak kecil yang sedang tantrum.


“Kamu kira hidup kamu yang kaya gini udah bagus hah?! Mabok kaya gini, kamu bahkan ga pantes disebut manusia” Silvana sungguh-sungguh, ia tidak merasa bahwa Aksa benar dalam menjalani hidupnya, dan ingin anak sepupunya itu kembali jadi anak yang baik dan berprestasi seperti sebelumnya.

__ADS_1


“OH YA, TERUS EMANG KENAPA, SAYA HIDUP ATAU GAK BUKAN URUSAN ANDA?!”


Aksa benar, selama ini dia hidup atau tidak yang peduli padanya hanya Aini, sekarang sosoknya itu sudah tidak ada lagi.


Silvana mendekatkan wajahnya ke samping wajah Aksa, dia lalu mengatakan sesuatu “Hahaha kenapa kamu bilang?....Kalau begitu kenapa kamu gak 'mati aja' sekalian biar gak ngerepotin orang lain?” Silvana lalu menjauhkan dirinya dari Aksa sambil tersenyum sinis.


Pupil mata Aksa melebar, selama ini mentalnya memang sedang berada di titik terendah, tapi dia tak pernah berpikir untuk tiada, masih ada seseorang yang harus ia temui, anak perempuan yang selalu mengisi tempat khusus di dalam hatinya, jadi bagaimana bisa dia tiada sebelum bertemu anak itu. “A…Pa….” Aksa tergagap, ia tidak memiliki ekspektasi bahwa Silvana akan menyuruhnya untuk mengakhiri hidupnya sendiri.


Silvana lantas berjalan kearah pintu kamar Aksa, lalu terhenti disana “Mandi sana, saya sebenernya pengen banget nyuruh kamu lompat dari lantai dua sekarang juga, cuma sebagai sesama manusia, saya masih pengen kamu hidup dan berubah jadi lebih baik. Saya tunggu kamu dibawah”


Aksa hanya terdiam sesaat setelah Silvana meninggalkan kamarnya, dia lantas mengikuti perintah Silvana untuk mandi.


Sesampainya di lantai bawah Silvana langsung menemui bi Sumi, da nada Syakilla disana sedang minum teh dengan santainya. Silvana langsung kesal melihat perempuan itu “Bi Sumi tolong beresin kamar Aksa dan kamu beresin barang-barang kamu, mulai sekarang kamu gak perlu lagi dateng kesini…” seru Silvana dengan ketus.


Syakilla yang masih kesal karena ditarik oleh Silvana tadi, akhirnya meledak juga, ia lantas memasang senyum sinis pada Silvana.


“Maaf ya tante, tapi atas dasar apa tante ngusir saya dari sini? Ini bukan rumah tante, jadi tante gak bisa…”


“Saya bisa melakukan apapun yang saya mau dirumah ini”


Silvana menatap Syakilla dengan dingin. “Karena mami Indah udah kasih saya ijin, kalau kamu ga percaya silahkan hubungi aja beliau, dan juga Bram sudah tau kelakuan kalian. Seharusnya kalau kamu masih punya harga diri sebagai perempuan, detik ini juga kamu minggat dari sini”


Ucapan Silvana berhasil membuat Syakilla angkat kaki, bagaimana lagi kekasih Aksa ini tahu benar, bahwa Indah sangat menyayangi Silvana jadi tidak mungkin dia bisa menang.


Sekitar 30 menit kemudian, Aksa pun turun dari kamarnya, Silvana yang kini tengah mempersiapkan makanan di meja makan pun menyuruh Aksa untuk duduk.


“Sekarang saya mau tanya sama kamu, selama ini apa yang sudah diajarkan oleh Aini, sampai punya anak ga jelas kaya kamu?” ucap Silvana yang kini turut duduk bersama dengan Aksa di meja makan.


Silvana melanjutkan ucapannya “Kalau kaya gini kasusnya, pantes mami benci setengah mati sama kalian berdua, kalian bener-bener manusia yang ga berguna, ibu sama anak sama aja!”


Seperti yang diduga oleh Silvana, Aksa lantas menggebrak meja makan dengan sekuat tenaga.


“CUKUP Dokter!, anda boleh menghina saya tapi ga dengan mama saya!” ucap Aksa dengan penuh emosi.


Silvana hanya tersenyum sinis dan menatap Aksa dengan tatapan merendahkan.


“Oh ya? Kalau gitu tunjukin sama saya alasan saya ga boleh menghina kalian?”


Pemuda ini terdiam, beberapa bulan terakhir hidupnya memang berantakan, tidak ada satu hal pun yang bisa dibanggakan dari dirinya akhir-akhir ini.


“Apa kenapa diem, gak ada hal positif yang bisa kamu tunjukin kan sama saya?”


Silvana memang sengaja memancing Aksa, dia berpikir jika dengan cara halus tidak bisa menyadarkan anak itu maka mari coba dengan cara lain.


“Saya punya dua peraturan dalam hidup saya. Yang pertama saya tidak akan hancur hanya karena ditinggalkan orang yang saya cintai, kedua saya mencintai untuk membahagiakan diri sendiri, bukan untuk menyakiti diri. Kedua nya berlaku untuk cinta dalam keluarga walaupun lawan jenis. Sayangnya tidak dari kedua hal itu kamu miliki sekarang”


Silvana pun berdiri dari duduknya “Mulai hari ini, saya yang akan urus kamu. Buang sifat lemah kamu, kalau gak mau saya terus menghina Aini, lagi pula kamu sudah tahu dari awal ibu kamu itu merebut ayah kamu dari saya. Jadi buat apa saya bersikap manis di depan kamu”


Silvana sekali menampakan raut wajah merendahkan pada Aksa, “Rasa benci saya terhadap ibu kamu begitu besar sampai tapi tak terbendung, dan sebagaimana saya benci sama ibu kamu, sebenci itu pula saya sama kamu”


Aksa memang sudah tahu masa lalu ketiga orang itu, Aini menceritakan seluruh kisahnya pada Aksa, tentang bagaimana papa dan mamanya menghianati Silvana.


“Lakukan apapun buat balas perkataan saya, tapi saran saya kamu gak akan bisa menjatuhkan saya dengan cara yang negatif, buktikan kalau diri kamu lebih dari apa yang saya bayangkan”


“Tidak ada satu pun manusia yang akan simpati, kalau kamu terus-terusan begini Aksa…”


Aksa cuma bisa terdiam, semua yang di ucapkan Silvana memang benar adanya.


“Sekarang makan setelah itu persiapkan diri kamu untuk mulai sekolah lagi besok, saya udah atur semuanya, jadi bilang besok ke wali kelas kamu kalau kamu memang sakit” Silvana pun meninggalkan Aksa di meja makan sendirian, membiarkan anak itu berpikir.

__ADS_1


__ADS_2