
Saat ini Icha dan ibunya sedang berada didalam salah satu mall, ibunya kebetulan ada jadwal arisan dengan ibu-ibu pengajiannya, sedangkan Alif sedang temu kangen dengan komunitas fotografinya. Icha juga ada keperluan ketoko buku, karena itulah ibunya dan Alif mengajaknya untuk pergi bersama.
“Icha, kamu tunggu di café itu aja ya nak, tunggu abangmu. Ibu pasti lama soalnya” seru Mey pada putrinya itu.
Gadis itu pun mengangguk beberapa kali, ia sepertinya akan merasa nyaman di café itu. Setidaknya dia bisa menunggu ibu dan kakaknya, sambil membaca buku yang baru saja dia beli.
“Iya bu…kita pulangnya nungguin ayah dulu apa gimana bu?” tanya Icha, karena hari itu seharusnya Bima ada acara bersama Mey. Jadi, Icha kira ibunya akan pulang bersama ayahnya.
“Gak, nanti kita pulang bareng Alif aja, kan dia bawa mobil. Nungguin ayah kelamaan nak, dia lagi nganterin sahabatnya dulu itu” jawab Mey, sambil mengecek ponselnya.
“Oh yaudah bu, Icha kesana duluan ya…” Icha pun pamit dan mencium pipi ibunya.
Gadis itu pun memilih tempat yang nyaman untuk membaca, bangku paling pojoklah yang ia pilih. Tak butuh waktu lama bagi Icha untuk memilih makanan, dia langsung memesan menu kesukaannya, pasta carbonara dan lychee ice tea. Setelah pelayan restaurant pergi, ia mulai membuka bungkus plastik dari buku barunya itu.
Semuanya normal, ada seseorang yang duduk di bangku yang berada persis didepannya. Tapi Icha tak peduli, karena dia fokus pada bukunya, namun hal ini tidak bertahan lama. Seorang wanita datang dan duduk bersama orang yang ada didepannya. Suara wanita itulah yang membuat Icha terkejut, karena yang diucapkan oleh orang tersebut adalah nama yang familiar di kuping Icha.
“Halo Reiki, saya Syakilla..” seru perempuan itu.
‘Ka Reiki?, uhm…’ gumam Icha penasaran. Tidak biasanya Reiki bertemu dengan perempuan, apalagi wanita yang ia temui ini gaya busananya bukan type Reiki sama sekali. Dengan kemeja biru muda yang sizenya kekecilan, hingga membuat bentuk dada wanita itu benar-benar terlihat, dan juga rok hitam super pendek.
Perempuan itu sebenarnya tidak ingin ikut campur hingga mereka berdua menyebut nama Aksa dan Claudia. Sangat mustahil bagi Icha untuk tidak campur, bila itu sudah berurusan dengan Claudia. Bagi gadis itu, Claudia sudah seperti saudara perempuannya sendiri, hal ini wajar karena dirinya dan gadis itu sudah bersama sejak lahir. Kedua orang tua mereka juga berteman, jadi secara alami Icha sangat peduli kepada Claudia.
Lalu bagaimana dengan Reiki, seperti yang disebutkan tadi, karena dekat dengan Claudia, Icha pun semasa kecilnya sering bertemu dengan Reiki. Walaupun tidak seakrab Alif, tapi Icha tahu bagaimana sikap Reiki.
Icha terus mendengarkan semuanya, hingga ia sangat terkejut ketika mendengar apa yang dilontarkan oleh Reiki.
“Saya mau…..Aksa…tidur sama kamu…”
Gadis itu tidak percaya dengan apa yang diucapkan oleh pria yang sudah ia kenal sejak ia masih baru bisa berjalan itu. Ia menutup mulutnya dengan kedua tangan, kaget dan terkejut tentu saja itu yang dirasakan oleh Icha. Shock dengan apa yang ia dengar, kepalanya kini dipenuhi pertanyaan, dan yang paling mendasar adalah, sejak kapan Reiki menjadi seseorang yang punya pikiran picik seperti ini.
Pembicaraan kedua orang itu terus berlanjut, kejutan dan demi kejutan di dengarkan oleh Icha, dia sampai menangis karena mendengar rencana jahat kedua orang tersebut. Perasaan seperti ini hal yang baru bagi Icha, yang hidupnya lurus-lurus saja, selama dia hidup dia tak pernah mengerti dan tak pernah melakukan siasat yang aneh-aneh. Sudah cukup Alif saja dan ayahnya yang kelakuannya agak bengkok, itupun bukan dalam artian jahat, karena bengkok versi keluarga mereka, adalah kelakuan super duper absurd dari ayah dan kakaknya.
“Oook, by the way kenapa kamu sampe mikir buat ngacurin hati gadis kesayanganmu itu?”
Suara perempuan itu menggema di kepala Icha. ‘Menghancurkan? Apa sebegitunya mereka harus bikin Claudia sedih? Terus ada apa soal ka Aksa?, aku udah kira ada yang aneh sama kakak tiri Claudia, tapi aku ga paham kalau sampai seperti ini, aku harus apa sekarang’ gumam Icha dalam hati.
“Karena lebih baik merusak benih hama lebih awal, daripada nanti sudah menjalar. Akan lebih sulit untuk dimusnahkan nantinya”
Ok, that's it. Icha sudah tidak bisa diam saja dan berpura-pura bahwa dia tak mendengar apapun. ‘Bismillah, ya Allah tolong bantu kuat hati Icha’ sebut Icha dalam hatinya sebelum melangkah kearah Reiki.
“Ka Reiki…”
Tubuh Reiki menegang, pria itu hafal suara yang memanggil namanya itu. Dengan perlahan pemuda itu berdiri, wajahnya sudah bisa ditebak. Pucat, dia sadar bahwa Icha sedari duduk di belakangnya.
__ADS_1
“I…Icha…kamu ngapain disini?” seru Reiki berusaha tenang, walaupun itu sia-sia saja, dia tidak bisa menyembunyikan bahwa dirinya sedang panik.
Icha pun tidak mau buang-buang waktu, sudah cukup dia mendengar semua omong kosong yang diucapkan oleh kedua orang itu.
“Ka Reiki maaf, tapi boleh Icha ngobrol sebentar sama ka Reiki?” seru Icha dengan nada tegas namun tetap lembut.
Reiki beberapa kali melihat ke kanan dan ke kiri, seakan mengecek apakah Claudia ikut bersama Icha, ia pun sedikit lega karena tunangannya itu tidak bersama dengan Icha.
Gadis yang kini ada dihadapan Reiki itupun sadar bila pria itu mencari sosok Claudia. Icha hanya menggeleng pelan, kecewa dengan sikap Reiki yang sama sekali jauh dari kata ‘Dewasa’. Icha pun tidak menunggu Reiki untuk setuju, ia berlalu ke sisi lain dari café tersebut.
Icha menarik nafas panjang dan beberapa kali mengeluarkannya dengan kasar, ia sejujurnya bingung apa yang harus ia katakan pada Reiki, dari awal juga menguping bukan hal yang baik, Icha merasa bersalah dengan hal itu, tapi dia juga harus mencegah hal yang tidak baik terjadi.
Di dalam hatinya Icha merapalkan doa berkali-kali, hingga ia merasa lebih tenang.
“Icha dengar semuanya. Semua rencana ka Reiki sama perempuan tadi. Icha dengar dari awal sampai akhir ka” Icha benar-benar ingin menangis sekarang, bagaimana mungkin sosok Reiki yang ia kenal betul baik hati, berubah menjadi seburuk itu.
Reiki hanya diam saja, dia sudah tau Icha mendengar semuanya, tapi ada satu yang membuatnya tidak nyaman, yaitu melihat sudut mata Icha yang kini bersiap mengeluarkan air mata.
Sebenarnya Reiki juga tidak ingin melakukan hal seperti itu, dia tidak ingin bersiasat aneh-aneh, tapi baginya Aksa tak dapat dihentikan. Memikirkan apa yang akan pria itu lakukan pada tunangannya sudah mampu membuat Reiki menggila. Baginya tidak ada jalan keluar yang lebih baik dari apa yang ia rencanakan dengan Syakilla.
“Maafin aku Cha, tapi aku ga ingin kamu ikut campur dalam masalah ini” Reiki membuang muka, dia tidak ingin merasa lebih bersalah lagi dari sebelumnya. Dengan melihat wajah polos Icha, itu sudah cukup membuat dirinya menuai dosa semakin banyak lagi.
Icha tidak percaya dengan apa yang diucapkan oleh Reiki, ini memang bukan urusannya. Tapi hal ini ada kaitannya dengan sahabatnya, sudah barang tentu Icha tidak ingin Claudia sedih.
Reiki terdiam, dia seharusnya marah tapi sekali lagi dia tidak bisa berkata apapun di depan Icha, sorot mata gadis itu pun tidak ada rasa takut sama sekali.
“Kamu wajib dan harus tidak ikut campur, ini semua aku lakuin untuk Claudia” seru Reiki tegas.
Demi Claudia? Omong kosong macam apa ini?!, sudah jelas jika semua rencana yang tadi dikemukakan oleh Reiki berhasil, dampak terburuknya akan dipikul oleh Claudia, jadi kebaikan macam apa yang sedang diungkapkan oleh Reiki.
Icha sangat kesal, baru sekali ini rasanya ia ingin berbuat kasar pada seseorang. Dan yang tidak ia sangka, orang pertama yang sangat ia tampar saat ini adalah Reiki. Seorang pria, yang menjadi acuannya dalam mencari seorang suami kelak. Ini benar-benar diluar imajinasi terliar Icha. Bahkan dalam mimpi saja rasanya, gadis ini tidak ingin berhadapan dengan orang seperti pria itu.
“Gak, ini semua kakak lakuin untuk memenangkan keegoisan diri kakak sendiri, bukan demi CLAUDIA!!!” seru Icha dengan suara bergetar, karena menahan amarahnya. Dalam hati, gadis ini tetap beristighfar menyebut nama Tuhannya berkali-kali.
Tepat sasaran, itulah yang terjadi. Apa yang dikatakan oleh Icha saat ini sungguh nyata adanya, bagaimanapun tidak bisa diingkari, egoisme pribadi yang menuntunnya melakukan semua siasat seperti ini. Namun sudah jelas bukan, tidak mungkin Reiki mengakui semuanya. Saat ini walaupun ia sadar bahwa yang dikatakan oleh Icha benar, dia tidak ingin mengakui semua itu.
“ICHA” bentak Reiki.
Icha sedikit terkejut dengan suara Reiki, untunglah sudut café itu kosong tidak ada pengunjung. Jadi tidak ada, orang yang menyadari bahwa Reiki, baru saja menaikan suaranya pada gadis itu.
Namun bukan Icha namanya kalau hanya dengan bentakan saja membuat nyalinya ciut, ia malah semakin membara karena Reiki memang harus disadarkan secepatnya.
Akan tetapi gadis itu berusaha tetap tenang, tidak ada hal baik yang akan terjadi bila kedua orang yang sedang bicara, sama-sama bersumbu pendek dan dipenuhi dengan amarah.
__ADS_1
“Kakak bisa memilih, kenapa harus dengan cara yang ga baik?. Kakak tau apa yang akan terjadi kalau kakak berusaha mendapatkan Claudia, dengan cara yang tidak baik seperti ini, apa kakak pikir setelah Claudia tau semua rencana jahat kakak nantinya, dia masih mau bersanding sama kakak?”
Ok, double kill. Icha menang lagi, dan Reiki tau sesuatu yang mustahil bagi gadis seperti Claudia untuk memaafkan dirinya dimasa depan, saat mendengar semua rencana yang dilakukan oleh Reiki ini. Tapi itu masih nanti, bisa dipikirkan jalan keluarnya di waktu lain, itulah pikir Reiki. Namun saat ini ia hanya bisa melapisi semua rasa bersalahnya dengan emosi, sekali lagi ia membentak Icha.
“ICHA!!!”
Kali ini Icha tidak bisa menahan tangisnya, gadis itu menangis sejadi-jadinya dalam diam. Ia masih berjuang agar ia bisa bicara dengan jelas pada Reiki. Menyadari apa yang ia lakukan itu salah, dengan lirih Reiki memanggil nama gadis itu, cukup pelan hingga Icha tidak dapat mendengarkan apa yang diucapkan oleh Reiki.
Icha yang sempat menunduk setelah dibentak oleh Reiki kedua kalinya, kini mengumpulkan semua keberaniannya, karena dia sadar tidak akan ada kesempatan kedua, untuk bicara pada Reiki. Gadis itu pun kembali menatap mata Reiki, sambil menghapus air matanya.
“Silahkan…kakak bentak Icha, maki-maki Icha, kalau kakak mau sakitin Icha pun terserah. Icha terima, tapi Icha punya kewajiban buat mencegah semua kegilaan ini. Sebagaimana besarnya rasa sayang Icha sama Claudia, sebesar itu pulalah Icha menghormati ka Reiki. Kakak seharusnya tau, tidak akan ada hasil yang baik kalau cara mencapainya dengan keburukan”
Triple kill, lagi-lagi yang dikatakan Icha tembus kehati Reiki. Tapi sekali lagi pria ini tidak mau terima, walaupun kali ini dia tidak menggunakan amarah sebagai kamuflase ketidak berdayaannya.
Reiki langsung menunduk, iapun rasanya ingin menangis. Sebenarnya Reiki juga tidak bisa paham, kenapa dirinya sampai seperti ini, ia ingin berhenti, tapi tidak mungkin, baginya Claudia adalah segalanya. Rasa ketakutannya jika Claudia tidak memilih dirinya sebagai pasangan hidup, membuat dirinya melakukan semua kegilaan ini.
“Kamu gak tahu apapun Icha” seru Reiki lirih, masih menunduk.
Hati Icha sangat sakit melihat Reiki didepannya, ia tahu sejak mereka masih kecil Reiki sangat menyayangi Claudia, dan suatu hari tepat saat Claudia kembali ke Indonesia, Reiki hilang kendali. Dari situlah Icha menyimpulkan, bahwa Reiki tidak menganggap Claudia sebagai adik. Rasa kehilangan mungkin sudah merubah posisi Claudia dihati Reiki, dia menjadi sangat posesif pada gadis itu. puncaknya saat Claudia berulang tahun ke 14, Icha menangis melihat Reiki meminta Silvana menunangkan dirinya dengan Claudia.
Reiki bukan pedofil, dia tau benar bahwa pemuda itu hanya mencintai Claudia, hanya gadis itu bukan yang lain.
“Icha paham, kakak mau Claudia jadi milik kakak. Tapi kakak harus sadar, tidak ada satu pun manusia di dunia ini, yang bisa memuaskan ego manusia lainnya, kalau kakak masih egois seperti ini pada akhirnya kakak cuma akan hancurin hidup kakak”
“Tapi aku ga bisa liat Claudia jadi milik orang lain Cha. Bahkan kalau harus membunuh orang lain, buat dapetin Claudia aku bakalan lakuin itu”
Ini sudah keluar jalur terlalu jauh, membunuh apa?!, mungkin Reiki terlalu banyak menonton film kisah cinta antara pemeran utama dan seorang yandere. Selamat Reiki, kamu sudah membuka kotak Pandora milik Icha, karena gadis ini sudah tidak bisa bersikap tenang. Ia harus marah sekarang, dan itu semua karena pikiran melantur yang keluar dari mulut Reiki.
“KALAU BEGITU MINTA KA, MINTA TOLONG SAMA PENCIPTA KITA!”
Mata Reiki membelalak, baru kali ini Icha berteriak dengan emosi seperti itu. Bukan hal yang aneh bila Reiki kaget, karena Icha memang tidak pernah berteriak atau pun memaki seseorang. Bahkan saat masih kecil pun, ketika Alif mengerjainya berkali-kali Icha hanya menangis atau istighfar, persis seperti apa yang diajarkan oleh ibunya. Dia gadis yang limited edition, sama seperti Claudia, mereka berdua seperti magnet yang tarik menarik, itulah mengapa walaupun sifat mereka berbeda, tetap saja mereka bisa sangat akrab.
“Kakak segitu cintanya sama manusia, sampai lupa kalau di dunia ini, sejak kita lahir semuanya udah di tentuin sama yang diatas. Gak semua keinginan kita bisa berjalan sesuai mau kita kak!!!, apa kakak gak malu sama diri kakak sendiri?! Kemana ka Reiki yang selalu bijaksana?!, kemana ka Reiki yang selalu ingetin Claudia, Icha dan bang Alif buat berbuat baik?!, kemana perginya ka Reiki yang punya hati lembut, yang selalu peduli sama orang sekitar kakak?! KEMANA KA?!”
Gadis itu benar-benar kesal, ia sekarang paham kenapa jika marah Claudia sering memukul orang, mungkin ini yang di rasakan sahabatnya itu, karena Icha pun kini benar-benar ingin memukul Reiki, tapi tetap saja ia tidak bisa.
“Icha marah dengan apa yang kakak lakukan, tapi Icha lebih marah lagi sama keputusan kakak yang seperti ini, entah sejak kapan ka Reiki kehilangan akal sehat, Icha bener-bener kecewa sama kakak!!!” Icha yang menangis, langsung berlalu melewati Reiki. Sedangkan pria itu hanya bisa menerima, bahwa dia memang sudah gila. Semua alasan yang sedari tadi ia ulang-ulang untuk membenarkan perbuatannya luntur sudah.
Dengan reflek laki-laki itu menarik lengan Icha, yang belum terlalu jauh. “Icha” seru Reiki yang juga kini menangis. Kedua orang itu saling bertatapan, sebelum dengan kasar Icha melepas genggaman Reiki.
“Jangan pegang-pegang Icha, kita bukan mukhrim” seru Icha sangat marah kepada Reiki, gadis itu berlari segera mengambil tasnya tanpa memperdulikan tatapan aneh dari Syakilla, lalu berjalan ke meja kasir, dan keluar dengan kondisi mental yang sudah tidak karuan, meninggalkan Reiki yang kini, hanya bisa berjongkok sambil menutup wajahnya.
“Maafin aku Cha, tapi aku ga akan berhenti…setidaknya aku ga bisa berhenti sekarang..” seru Reiki dengan tatapan kosong.
__ADS_1