Menantu Terhebat

Menantu Terhebat
Chapter 100 : Koridor


__ADS_3

Keluarga besar Jaya Chandra, keluarga mafia yang pernah dianggap paling berbahaya dan ditakuti di dunia bawah.


Seperti layaknya mafia pada umumnya, keluarga Jaya Chandra juga sering melakukan aktifitas ilegal seperti penjualan obat obatan terlarang, penculikan, perdagangan manusia, bahkan hingga penelitian dengan manusia sebagai objeknya. Tentunya mereka melakukan kegiatan tersebut secara rahasia dan tak pernah meninggalkan jejak kejahatan sedikitpun.


Semenjak turun dari kereta futuristik kemudian memasuki salah satu markas bawah tanah milik keluarga Jaya Chandra, Hansen disuguhkan oleh koridor yang panjang dengan ratusan pintu serta tembok kaca tembus pandang yang terkunci rapat di sebelah kanan dan kirinya.


Puluhan dokter di tiap ruangan, nampak sibuk membedah tubuh manusia yang terikat hidup hidup. Teriakan penderitaan para objek penelitian pun tak luput dari telinga semua orang.


Seketika suasana hati semua orang menegang, tak ada satupun orang yang datang bersama Hansen yang tidak terlihat tertekan sembari mengepal kedua tangan mereka. Seakan akan mereka juga sebenarnya tak menyukai apa yang sedang mereka dengar serta lihat.


"Apa perlu menonaktifkan sistem kedap suara dan menunjukkan sesuatu dibalik tembok tembok kaca itu?"


"Sebenarnya apa yang sedang orang itu rencanakan?" gumam salah satu gadis yang berdiri tepat di samping kanan Hansen.

__ADS_1


"Jangan hiraukan yang tak perlu, abaikan dan lanjutkan saja langkah kita! Masih ada ratusan ruangan lagi yang harus kita lewati!" gumam Rose dengan wajah yang nampak terganggu. Tangannya terkepal erat, sementara tubuhnya sedikit bergetar. Nampak jelas bahwa dia juga sebenarnya tak menyukai situasi tersebut.


Hansen diam dan memperhatikan, meski sekilas dia yakin betul bahwa mereka yang mengawalnya tidak sepenuhnya setuju dengan perbuatan keji tersebut.


Sebelumnya keluarga Jaya Chandra memang terkait rumor mengenai penculikan serta penelitian ilegal terhadap tubuh manusia. Tapi tak pernah ada bukti mengenai hal tersebut, karena mereka entah bagaimana begitu pandai menyembunyikan semua itu.


Ada alasan mengapa mereka begitu ditakuti di dunia bawah, yaitu karna mereka bisa melenyapkan kelompok Mafia besar lain hanya dalam hitungan hari.


Meskipun tingkat berbahayanya tak sejauh Law Breaker yang sanggup melenyapkan beberapa negara, keluarga mafia ini masihlah cukup berbahaya.


Meski begitu, entah bagaimana keluarga sebesar itu bisa lenyap tanpa jejak hanya dalam hitungan hari.


'Sebenarnya apa yang membuat keluarga mafia Jaya Chandra ini memilih untuk menjual semua aset mereka kemudian menghilang tanpa jejak?'

__ADS_1


'Apa mungkin mereka menghilang karena Law Breaker? Kelompok itu kan muncul tak lama setelah keluarga ini menghilang?' Hansen berpikir cukup keras sembari mengikuti langkah semua orang.


"To ... tolong hentikan, ini sakit! Siapapun tolong aku!" teriakan salah satu subjek penelitian terdengar cukup nyaring di telinga semua orang. Suaranya terdengar jauh lebih muda dari teriakan teriakan yang lain. Dan benar saja ketika Hansen menengok, ke sumber suara, dia mendapati sosok seorang anak kecil yang sedang dibedah dalam keadaan sadar.


"Dasar monster! Bahkan anak kecil pun mereka jadikan subjek penelitian!!" Hansen nampak menunjukkan mata merahnya dan ingin segera terjun menolong gadis kecil tersebut. Namun Rose menghentikannya dengan menepuk pundak Hansen dan berkata, "Setiap dokter bedah itu adalah petarung tingkat tinggi. Kau yang sekarang tak mungkin bisa menangani mereka. Bukankah sudah kubilang untuk jangan melakukan hal yang tak perlu?"


"Apakah nuranimu sudah tiada?" Hansen bertanya kesal.


"Sama halnya Number yang telah menanakan Chip peledak dalam kepalamu, kami juga memiliki itu di kepala kami. Hanya saja bukan Number yang memasangnya tapi mereka. Jika kau melakukan hal yang tak perlu, Nonaku ... maksudku komandan akan ... ," Rose berusaha menjelaskan melalui bisikan lembut.


"Apa perlu bagimu memberi tahunya?" Suara seorang pria terdengar cukup jelas jauh dari hadapan mereka. Pria itu melangkah dari ujung koridor sembari memakai setelan seorang ilmuan. Pakaian serba putih dengan gunting dan jarum di tangan yang berbeda.


Wajahnya tertutup masker, rambutnya berwarna putih dengan bagian licin yang tak dapat ia tutupi, sementara matanya tertutup kacamata hitam.

__ADS_1


'Gaya rambutnya seperti ilmuan yang sudah berumur, tapi tekanannya tak bisa diremehkan. Siapa sebenarnya dia?' Hansen terdiam kaku.


__ADS_2