
Di sebuah salah satu ruangan khusus tamu di dalam Shelter, Presiden Gibran nampak hendak bersiap siap mengenakan setelan jasnya. Bercermin sembari sesekali menatap ke arah ponsel pintarnya.
"Cih! Sampai kapan aku harus menunggunya untuk mengetahui lokasi pertemuannya? Terakhir kali dia menelpon kalau dia sudah menemui semuanya! Apakah ada sesuatu yang membuatnya begitu lama?" Presiden Gibran bergumam sembari melihat ke arah ponselnya. Di dalam ruangan tersebut selain presiden, tentunya ada puluhan tentara elit yang bertugas baik di dalam ruangan maupun di luar pintu di mana presiden berada.
Empat jam pun terlewati, presiden menjadi semakin kesal karena dibuat menunggu terlalu ama. Sementara dia diminta untuk bersiap sejak lima jam sebelumnya.
Kring!!! kring!!
Sebuah pesan dari nomor telepon yang tak dikenal muncul di layar ponsel presiden. Dia pun segera membuka pesan tersebut.
"Kita sudah mendapatkan koordinatnya! Ayo berangkat!" Presiden segera memasukkan ponselnya ke dalam saku jasnya, kemudian melangkah pergi ketika salah satu bawannya sudah membukakan pintu untuknya dengan reflek.
"Siap pak!" Semuanya memberi hormat sembari ikut melangkah keluar mengelilingi sang presiden.
Di luar ruangan, presiden dibuat bingung oleh banyaknya prajurit yang mengeluh dan membuat keributan ke sana kemari. Saat meminta salah satu orangnya untuk bertanya tentang apa yang terjadi, Presiden segera mengetahui pokok masalahnya.
"Katakan pada jenderal Fahar, orang yang sedang dia cari saat ini sedang dalam kondisi baik baik saja, dan tidak perlu untuk dicari lagi, karena aku akan bertanggung jawab untuk keamanannya!" Setelah menyelesaikan masalah kekhawatiran jenderal Fahar, presiden Gibran segera melanjutkan langkahnya. Kemudian terhenti kembali setelah mengingat hal lain, "Ah ... , jangan lupa katakan pada Hanan dan yang lainnya tentang kondisi tuan X! Jelaskan pada mereka bahwa dia juga sedang berada dalam tanggung jawabku! Tak perlu mencarinya karena mulai sekarang mungkin akan sulit untuk mendapat kabar tentangnya! Jika mereka bertanya sampai kapan, katakan saja bahwa aku juga tidak tahu!"
"Ini ... , apa anda benar benar tidak tahu kapan tepatnya tuan X kembali?" tanya bawahan yang hendak pergi.
"Itu semua tergantung pada kemampuannya, dan keputusan dari adik ke lima!" Gibran membalas dengan dingin.
"Jika mereka terus meminta kejelasan, suruh saja mereka untuk menemuiku! Jangan pernah berani mencoba untuk mengatakan hal lain!" lanjut Gibran sebelum kemudian pergi diikuti para elit yang bertugas mengawalnya.
__ADS_1
'Ah ... andai saja ayah angkat tak terlalu tertarik kepada adik ke lima! Aku mungkin bisa menikmati hidup tanpa harus menjadi presiden boneka!' Gibran mengeluh pergi sembari menghela napasnya.
Di sisi lain, Hansen membuka matanya secara perlahan. Kini tubuhnya sudah diselimuti oleh pakaian hijau yang biaanya dipakai oleh seorang pasien. Kepalanya masih terasa sakit hingga membuatnya secara reflek memegangi kepala dengan kedua tangannya.
"Ackk! Apa ini! Bagaimana bisa ada lubang aneh yang membekas di punggung pergelangan tanganku!" Hansen terkejut saat tak sengaja melihat kondisi punggung tangan kirinya yang kini memiliki sebuah lubang persegi panjang yang berukuran kurang dari 1 Cm.
"Itu lubang untuk memasukkan sebuah micro chip!" Rose menjawab sembari memalingkan wajahnya yang masih memerah.
"Hah! Micro chip? Dan untuk apa tepatnya itu?" tanya Hansen dengan sedikit rasa tak percaya.
"Kau akan tahu setelah menggunakan ini!" Rose menyodorkan sebuah micro chip yang bersimbolkan naga.
".... ," Hansen masih memiliki banyak pertanyaan di benaknya, namun karena melihat Rose bahkan tak mau menatapnya membuatnya yakin bahwa dia tak akan mendapat jawaban yang memuaskan jika tidak menerima micro chip tersebut.
"Memuat .... ! Selamat datang pengguna 0020! Apakah anda ingin menjalankan mode demo?" Sebuah suara gadis yang tak dikenal terdengar jelas di kepala Hansen. Mengejutkan dirinya hingga bertanya, "A ... apakah kau mendengar suara seorang gadis tadi!?"
"Memangnya kau pikir siapa yang ada di hadapanmu!" Rose salah paham akan sesuatu.
"Bukan suaramu, itu terdengar seperti A.I. komputer, masa sih kau tak mendengarnya!" Hansen bertanya sembari memegangi kepalanya yang mulai kembali terasa sakit.
"Memulai mode Demo!" suara asing kembali terdengar, diikuti oleh rasa sakit yang luar biasa yang menyambar dari kepala hingga menuju ke matanya.
"X Ray mode!" Mata Hansen Seketika menghijau dan mengeluarkan gelombang semu yang secara otomatis mengscan area yang sangat luas. Meski tak melihatnya secara langsung melalui matanya, gambaran mengenai struktur bangunan, benda benda mati, serta setiap makhluk hidup yang berada dalam radius tiga kilo meter dari tempatnya berdiri, baik di sisi atas bawah maupun sisi lainnya di kirimkan langsung ke dalam otaknya.
__ADS_1
'Puluhan dokter yang menyebar di berbagai ruang percobaan, ratusan korban yang dijadikan subjek percobaan, bahkan rekan tim Rose yang berada di lantai atas. Apa apaan ini! Bagaimana bisa aku melihat semua itu!' pikir Hansen sembari memegangi kepalanya yang sakit.
"Otomatis menghentikan mode demo dan akan melanjutkan saat kondisi pengguna memungkinkan!" suara asing kembali terdengar.
"Ack!! sebenarnya apa yang terjadi terhadap tubuhku! Bisakah kau jelaskan!" Hansen bertanya sembari memegangi kepala yang terus menerus terasa sakit.
"Anda telah menjadi manusia tingkat lanjut tuan, meski secara fisik nampak tak berubah selain lubang chip itu, namun nyatanya anda kini telah menjadi seorang setengah cyborg! Dan mulai dari sekarang tuan besar akan mengirim orang orang dari pusat untuk melatih sekaligus menilai kelayakanmu atas Dragon chip, jika kau tak masuk kualifikasi maka micro chip itu akan kembali di sita. Oleh karena itu, cobalah untuk segera membiasakan diri atas kondisi fisikmu saat ini!" Rose melangkah pergi sembari bergumam, "Jadilah kuat, dan tolong kami nanti!"
"Sebelum itu, bisakah kau pertemukan aku dengan Savior Eagle?"
"Aku memerlukan bantuannya untuk ... ," Hansen hendak menyelesaikan kalimatnya namun Rose segera melanjutkan , "Adikmu?"
"Ba ... bagaimana kau tahu itu!?" Hansen tersentak kaget.
"Asal anda tahu saja, komandan tak pernah berhenti untuk mengamatimu! Soal kenapa dia tidak segera bertindak dan menolong adikmu, pikirkan saja sendiri!" Rose melangkah pergi dengan emosi.
"Sebenarnya mimpi apa aku semalam! Sampai sampai bisa terlibat dalam situasi rumit seperti ini! Kuharap kondisi adikku tak memburuk selagi aku menghabiskan waktuku di sini!" Hansen tak dapat berbuat apapun karena sudah terjebak dalam situasi yang merepotkan. Apalagi satu satunya orang yang mungkin bisa menyelamatkan adiknya kini sedang berada di bawah kendali orang lain.
Di sisi lain, Presiden nampak sedang berhadapan dengan Hendra Pratama yang segera menyambutnya dengan hangat sembari mempertemukannya dengan sepuluh orang veteran perang yang telah lama pensiun karena alasan khusus yang tidak jauh berbeda dari pada Hendra Pratama.
'Di mana saja selama ini mereka bersembunyi! Apa mereka melakukan pelatihan khusus atau semacamnya! Bagaimana bisa aku merasa tertekan hanya karena melihat mata mereka saja!' Gibran Jaya Chandra melangkah mundur secara reflek.
"Bisakah kalian turunkan tekanan kalian? Meski aku juga sama tak sukanya kepada dirinya karena masih terlibat dengan keluarga lama kita, dia tetaplah mantan kakakku yang juga kebetulan mengetahui lokasi orang yang mungkin bisa memulihkan kondisi putriku," sambung Hendra Pratama dengan mata yang membiru.
__ADS_1
'Dengan kata lain, kalau aku berbohong soal Saviour Eagle kau juga tak ragu untuk menyerangku hah!' Gibran menghela napas sembari berpikiran demikian.