Menantu Terhebat

Menantu Terhebat
Chapter 88 : Hansen vs Weapon Eagle


__ADS_3

"Mata itu ... , kau nampak seperti Demon Eagle ... Komandan." Weapon Eagle berkata dengan pistol yang diarah ke arah Hansen.


"Bisakah kita bicara baik baik saja?"


"Setidaknya singkirkan dulu kedua pistolmu itu," Hansen berusaha menenangkan Weapon Eagle. Namun karena tubuhnya sedang dikendalikan, Weapon Eagle tak dapat melakukan apapun selain mengambil alih mulutnya sesekali.


"Peluru dari pistol ini akan meledak dalam beberapa detik, kusarankan agar Anda menghindarinya komandan!" Weapon Eagle menjawab dengan tatapan dingin. Dia tak dapat mengontrol ekspresi mata dan wajahnya, hanya mulut saja yang terkadang dapat dia kendalikan.


"Makanya kubilang agar kau tak perlu untuk menembakkan pis ... ," Belum selesai Hansen bicara sembari berusaha menenangkan lawan bicanya, kedua tangan Weapon Eagle malah menekan kedua pelatuk pistolnya.


Darr!! Weapon Eagle menembakkan satu buah peluru dari masing masing pistolnya. Mengejutkan Hansen yang saat itu masih belum mengerti apa maksud dibalik tindakan Weapon Eagle.


Berkat reflek baik Hansen, tentunya kedua tembakan itu bisa dengan mudah dia hindari, namun ....


"Perhatikan bagian belakangmu, komandan!" Weapon Eagle memperingatkan. Hansen segera menoleh dan seketika dua buah ledakan menghancurkan mobil Hansen. Bersamaan dengan itu, gadis berambut merah yang berada tak jauh dari lokasi ledakan segera terpental dan menjerit kesakitan. Beruntungnya dia masih bertahan hidup, hanya saja dengan luka bakar di sekitar wajah, tangan dan kakinya, menyulitkan gadis itu untuk bergerak dari posisinya terbaring saat ini.


"Nona! Kau baik baik saja!" Hansen mungkin tak mengenalnya, tapi tak mungkin baginya untuk mengabaikan seorang yang terluka. Terlebih orang itu dilukai oleh orang yang paling dia percaya.

__ADS_1


Ketika melihat kondisi gadis malang itu, Hansen segera berbalik dan mempertanyakan tindakan gila Weapon Eagle. Alih alih mendapat penjelasan, dia malah mendapati kembali todongan pistol yang di arahkan tepat ke arahnya.


"Kau pikir pistol itu bisa mengenaiku?" Hansen nampak kesal. Tapi Weapon Eagle malah menyeringai dan berkata, "Bukankah sudah ku bilang untuk mengawasi bagian belakangmu?"


Ketenangan Hansen seketika runtuh saat itu. Dia dihadapkan oleh dua pilihan dimana nyawalah yang menjadi taruhannya. Kebanyakan orang yang mencintai kehidupan sendiri, mungkin akan memilih untuk menghindar. Tapi, Hansen tak bisa seperti itu. Dia tak bisa mengabaikan nyawa orang begitu saja hingga mulai memasang kuda kuda dan tatapan yang begitu fokus. Aura permusuhan pun perlahan Hansen tunjukkan pada orang yang sudah lama dia anggap sebagai keluarganya sendiri.


"Tolong menghindarlah Komandan! Aku tak ingin melukaimu!" Weapon Eagle menangis dengan ekspresi dan tindakan yang berlawanan. Matanya menunjukkan permusuhan serta niat membunuh, sementara pistol tangannya nampak jelas di arahkan ke arah Hansen. Satu satunya hal aneh yang membuat Hansen bingung ialah, air mata yang melangalir membasahi pipi kawannya itu. Serta kepalam tangan yang seakan berusaha untuk tidak melakukan hal tersebut.


Darrr! kedua pistol ditembakkan. Meluncurkan peluru yang dapat meledak beberapa detik setelah menyentuh target. Hansen tak menunjukkan tanda tanda menghindar sehingga membuat Weapon Eagle terpukul. Dan berusaha untuk menutup mata, akan tetapi ...


Tap tap! kedua peluru berhasil ditangkap oleh Hansen dengan tangan kosong, dan kemudian dilemparkan ke atas langit setinggi mungkin hingga ledakannya tak dapat menjangkau mereka. Gerakan tersebut Hansen lakukan secara reflek hingga bahkan membuat Hansen masih merasa tak percaya akan kemampuannya.


"Apa ini efek dari mata merahmu?"


"Mungkinkah Demon Eagle juga bisa melakukan hal ini?" Weapon Eagle terdengar bingung, tapi tangan dan matanya tak menunjukkan hal tersebut. Dia terlihat seperti seorang pembunuh berdarah dingin, yang segera mengisi ulang peluru dari kantong di samping pinggangnya.


Akan tetapi ... Hansen tak membiarkan hal tersebut begitu saja.

__ADS_1


Dia melesat cepat dan menghajar mundur Weapon Eagle sembari mengontrol kekuatannya hingga ke titik yang tak akan meresikokan nyawa kawannya itu.


Bruakkk!! Weapon Eagle terdorong hingga menghantam pohon yang dia tumbangkan. Tubuhnya nampak dipenuhi luka, tapi anehnya luka luka itu perlahan sembuh dan diikuti oleh mata yang perlahan memerah.


"Kau ... kau juga seorang subjek?" Hansen nampak bingung. "Apakah Marsekal yang telah merubah tubuhmu?" Hansen nampak terkejut, sementara Weapon Eagle tak merespon balik. Dia hanya langsung bangkit dan menghancurkan kedua pistol rakitannya. Mematahkan kepala ke kanan dan ke kiri seperti orang yang sedang melakukan pemanasan, dan ....


Wooshh!! Buakkk!! Weapon Eagle melesat maju dengan kecepatan tinggi. Memukul mundur Hansen yang kala itu tetap berdiri kokoh sembari menangkis tendangan Weapon Eagle.


"Tendanganmu keras juga ya, Kawan!" Hansen nampak menggebu gebu dengan tatapan penuh amarah. "Aku tak tahu alasan dibalik tindakanmu ini, yang jelas aku tak bisa menghabiskan waktu lebih lama lagi. Karna ada seseorang yang menunggu untuk aku selamatkan!" iris mata Hansen seketika menjadi semakin merah terang dan perlahan menyala bagaikan sebuah lampu. Genggaman tangannya pun turut menguat berdampingan dengan itu. Menyulitkan Weapon Eagle untuk melepaskan kakinya yang kala itu ditangkap hanya dengan telapak tangan kanannya saja.


"Komandan kau ... benar benar menjadi seorang monster," Weapon Eagle menyeringai senang karena tak berhasil mekukai panutannya. "Cepat lumpuhkan aku dan habisi saja nyawaku."


"Aku tak tahu apa masalahmu, tapi nampaknya kalung hitam inilah yang menyebabkan tindakanmu, bukan begitu?" Hansen menggenggam erat kalung hitam berduri di kaki kanan Weapon Eagle dengan tangan kirinya, dan hendak menghancurkan benda itu, tapi ... tindakannya terhenti setelah suara Adi Jaya tiba tiba saja terdengar di Earpiecenya. Dan suara itu tak dapat dia abaikan karena berbunyi, "Jika aku jadi kau, aku tak akan menghancurkan kalung itu dengan tenaga. Karena jika salah satunya hancur secara fisik, maka yang lainnya akan meleda seketika hingga menghancurkan tubuh pemakainya."


"Ba ... bagaimana kau menghubungiku melalui ... " Hansen bergumam bingung, namun Adi Wijaya segera merespon dengan berkata, "Maaf karena melibatkanmu dalam masalahku, tapi ...." belum sempatAdi Wijaya menyelesaikan kalimatnya terdengar suara asing yang berbunyi, "Are You saying something?"


'Bahasa asing!?' Hansen tersentak sebentar. Sementara Weapon Eagle terus berusaha menyerangnya dengan senjata yang dia sembunyikan di balik saku saku kecilnya. Dimulai dari shuriken kecil yang dapat meledak, hingga jarum jarum beracun dan senjata runcing lainnya. Namun Hansen dapat menangkap semua serangan tersebut hanya dengan menggunakan tangan kirinya. Semua berkat mata merah yang dapat membuatnya melihat semua objek seakan bergerak lambat.

__ADS_1


"Bisakah kau tenang saat seseorang sedang berbicara!?" Hansen menarik kaki Weapon Eagle, lalu memukul keras tubuhnya hingga pingsan tak sadarkan diri.


"Cih! Akan kuminta penjelasan padamu nanti, Marsekal!" gumam Hansen sembari memegangi earpiecenya.


__ADS_2