Menantu Terhebat

Menantu Terhebat
Bab 25 : Menghadap Jenderal Besar


__ADS_3

Dalam kemiliteran terdapat pangkat yang menjadi acuan untuk membedakan status serta pengaruh seorang prajurit. Dimulai dari prajurit biasa, Bintara, dan seorang perwira. Dalam setiap tingkatan itu, terdapat beberapa tingkatan yang lainnya. Jenderal Fahar dan kedua jenderal yang menyambut kedatangan Hansen sendiri, merupakan jenderal bintang tiga yang termasuk dalam golongan perwira. Umumnya para jenderal bintang tiga dipanggil dengan sebutan Letjen, atau hanya dengan sebutan letnan saja.


Eliza, satu satunya wanita yang masih bertahan dalam posisi seorang Letnan jenderal. Memiliki tubuh yang sangat sempurna, namun terlalu kaku terhadap semua pria. Matanya berwarna biru, sedangkan rambutnya berwarna pirang. Merupakan seorang keturunan campuran antara Indonesia dan Italia. Seorang perfeksionis yang hanya mementingkan misi diatas segalanya.


Balin, pria pendiam yang telah lama bertahan dalam posisinya sebagai seorang Letnan Jenderal.


Kulitnya cukup gelap, bermata coklat, dan hanya bicara jika diperlukan.


Fahar, Jenderal bintang empat yang telah turun pangkat ke bintang tiga hingga sejajar dengan para Letjen. Pangkatnya tak pernah naik sejak empat tahun lalu, dan alasan dibalik penurunan pangkatnya ialah lalai dalam misi. Kelalaiannya sangatlah fatal, hingga kehilanan nyawa seseorng yang harus dia lindungi. Dan orang itu adalah, Adelia Batari, ibu kandung Hansen Pratama.


....


Jenderal Fahar, Letjen Eliza, dan Letjen Balin berjalan mengikuti Hansen yang melangkah mendahului mereka. Suasana Eliza dan Balin masih datar seperti biasanya, sedangkan Fahar berbeda. Dia terlihat cukup tertekan di dalam hatinya, karena merasa tak enak dengan kejadian di masa lalu.


Tok tok tok.


Hansen mengetuk pintu ruangan Jenderal besar.


Lalu perlahan masuk setelah mendengar suara, "Masuklah!"


Ceklak!


Hansen masuk seorang diri, meninggalkan ketiga Letjen yang bertugas menjaga agar tak ada yang dapat mendengar percakapan di dalam ruangan itu.


....

__ADS_1


Saat sudah berada di dalam, Hansen disambut oleh seorang pria paruh baya yang sudah siap dalam posisi hormat. "Selamat datang kembali pak!" Pria tua itu nampak mengenakan pakaian militer lengkap dengan simbol seorang jenderal bintang lima di pundaknya.


"Kau telah menjadi seorang jenderal besar sekarang, kenapa masih memberi hormat padaku?" Hansen menghela napasnya.


"Posisiku saat ini hanyalah kepalsuan. Jika kau tak membiarkan aku merebut prestasi pemberantasan Number, mana mungkin aku akan berada di posisiku sekarang?" pria tua itu menundukkan kepalanya.


"Aku hanyalah seorang mantan jenderal bintang empat, akan buruk bagi reputasimu jika seseorang melihatmu seperti ini!" Hansen menegaskan.


"Lima Jenderal bintang empat telah tiada saat masih berada dalam pengawasanku, puluhan Letnan dan ratusan ribu Bintara telah dilumat habis oleh musuh saat menjalankan misi dariku. Gelar kehormatan ini, tidaklah pantas bagi orang tak berkopeten sepertiku," pria tua itu mencengkram simbol bintang lima di atas pundaknya sembari melukiskan ekspresi kesal di seluruh bagian wajahnya.


" .... " Hansen terdiam setelah mendengar kabar buruk dari pria itu. Ekspresi kesal punmulai timbul di wajahnya, "Apakah mereka semua dihabisi oleh Number?"


"Tidak!"


"Apakah mereka sangat kuat?" Hansen bertanya dengan ekspresi kesal.


"Cukup kuat hingga bisa menghancurkan para elit kami," Jenderal besar Hanan enggan mengangkat wajahnya.


"Apakah kau sudah meminta bantuan Oliver dan yang lainnya?" Hansen memastikan.


"Mereka menghilang tanpa jejak, persis seperti dirimu. Baik pemerintah maupun pihak pengelola data, tak ada yang menyimpan data asli dari identitas kalian. Semuanya tersembunyi secara rapih, dan hanya menyisakan identitas palsu kalian sebagai seorang pasukan khusus tim Red Eagle."


"Jika bukan karena kau yang menelepon lebih dulu, mungkin kami tak akan bisa menemukanmu," Jenderal Besar Hanan tak mengetahui bahwa Jenderal Fahar pernah bertugas melindungi keluarga Hansen. Semua karena, misinya tergolong rahasia, dan hanya diketahui oleh beberapa orang saja. Dan orang yang mengetahui misi itu, tidak lain adalah presiden, Hansen Pratama dan jenderal Fahar sendiri. Saking rahasianya misi tersebut, bahkan keluarga Hansen pun tak mengetahuinya.


'Nampaknya tuan presiden dan jenderal Fahar memegang janjinya terhadapku,' Hansen tersenyum tipis sejenak, lalu berkata, "Tolong angkat jabatan Letjen Fahar ke jenderal bintang empat. Jika ada yang bertanya alasan kenaikannya, katakan saja untuk mengisi tempat para jenderal bintang empat yang gugur saat menjalankan misi,"

__ADS_1


"Baiklah pak," Jenderal besar Hanan adalah teman seperjuangan Hansen sebagai jenderal bintang empat dimasa lalu. Meski terpaut umur yang jauh, dia selalu menghormati teman seprofesinya itu, karena tak pernah gagal dalam misi yang tersulit sekalipun. Rasa hormatnya terhadap Hansen menjadi semakin tinggi setelah membaca pesan singkat dari Hansen melalui nomor ponsel lamanya.


'Aku sudah lelah dalam pekerjaan ini, tolong urus semuanya untukku dan jangan mencoba untuk mencari cari identitasku. Jika kau masih menghormatiku tolong patuhi permintaanku, dan ambil alih saja prestasi pembasmian Number untukku. Tertanda, Tuan X'


.....


"Kau nampak tampan jika tanpa masker, Tuan X," Jenderal besar Hanan tersenyum.


'Mendengar pria tua sepertinya memanggilku dengan sebutan tampan, entah mengapa rasanya menjijikan,' Hansen hanya tersenyum sembari menyembunyikan rasa jijiknya.


....


"Ibu telah mengacaukan pesta kita tadi malam, kak Herry pasti sangat kesal!"


"Kenapa sih ibu harus datang mengacau seperti pria tak berguna itu!"


"Padahal pria itu sudah tak disini, mengapa masih ada saja yang mengganggu kesempatan kakakku untuk dekat dengan kak Herry sih!?" Amelia Wisnu membereskan botol minuman keras dengan tampang kesal. Dia masih dalam pengaruh minuman, hingga mengoceh tak jelas meski Andini tak meresponnya.


'Berhentilah mengatur hidupku, dan ingatlah baik baik bahwa kau hanyalah pria yang kubayar untuk menjalin pernikahan kontrak denganku!' Andini mengingat keburukannya di pesta sebelumnya. Mengingat sebetapa kacaunya Hansen saat itu, dan betapa buruknya dia memperlakukannya.


'Padahal sebelum pesta itu digelar, aku sudah berpikir untuk meminta maaf kepadanya.'


'Kenapa aku harus mengatakan hal bodoh seperti itu sih!?' Andini nampak menyesal akan kejadian tempo lalu, namun gengsinya yang tinggi tak mengijinkannya untuk berinisiatif menghubungi atau berkunjung ke tempat yang mungkin Hansen datangi. Ditambah hasutan Amelia Wisnu yang terus mengomporinya agar tak mencari ataupun mencoba menghubungi Hansen.


"Ughh, menyebalkan!" Amelia Wisnu berteriak kesal.

__ADS_1


__ADS_2